<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273</id><updated>2011-11-09T12:25:02.078-08:00</updated><title type='text'>Edisi Khusus</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-6752902753637295821</id><published>2009-04-20T21:07:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T21:19:42.055-07:00</updated><title type='text'>PRAM: Buku yang tak Pernah Selesai Dibaca</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se1IgK_QpTI/AAAAAAAAAWU/WnATGXcjsfc/s1600-h/Pramoedya+Ananta+Toer.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se1IgK_QpTI/AAAAAAAAAWU/WnATGXcjsfc/s320/Pramoedya+Ananta+Toer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326993651791865138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;“Buku dan pengarangnya adalah sebuah negara tersendiri”&lt;/i&gt; -- Alexander Solzhenitsyn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAMOEDYA ANANTA TOER adalah buku. Buku yang seutuh-utuhnya buku. Karena ia buku yang besar, meluas, dan berwibawa, maka ia abadi: scripta manent verba volant (tulisan itu abadi, sementara lisan cepat berlalu bersama derai angin). Pram memang telah berangkat dengan kereta api pagi pada Ahad (30/4/2006, 08.55) tiga tahun yang lampau—dua hari setelah hari pergi penyair Chairil Anwar—di usia 81 tahun 84 hari. Tapi Pram sangat yakin bahwa ia akan abadi. &lt;span class="fullpost"&gt;Dan keyakinan itu sudah ia tuliskan dalam sebuah artefak utuh tanpa ragu di halaman 356 kuartet keempat Buru, Rumah Kaca: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulislah, jika tak menulis, maka kamu akan ditinggalkan sejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang bukanlah buku yang biasa. Buku yang datang tergesa-gesa, cepat, dan setelah itu dilupakan orang. Pram juga bukan buku cengeng, picisan, dan penuh cekikikan. Sebab hidup Pram adalah hidup yang selalu sepi, sunyi, disiakan, sekaligus keras dan berjelaga. Nasib dan respons kehidupan yang tak memanjakan membawanya menjadi buku yang selalu tegak menantang cadas atau apa pun yang mengganggu otonomi tubuh dan pikiran dan ideologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kesadaran melawan yang berkobar itu tetap ia perlihatkan hingga ajalnya menjemput. Bagaimana Pram seusai lolos dari maut yang datang menggerayanginya di ICU St Carolus Jakarta pada Sabtu sore (29 April 2006 pukul 16.37)—16 jam sebelum keberangkatannya—ia langsung meminta pulang dan berusaha melepaskan semua selang-selang infus yang meliliti tubuhnya dan menusuk-nusuk kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa pun usaha dokter dan keluarga mencegahnya, tetap saja tak berhasil. Dan itulah Pram. Ia akan menolak apa pun yang asing baginya, yang mengisap dan mencucupi keyakinannya. Ia adalah Pramis; individu yang percaya akan kemampuannya dan karena itu ia lampaui otoritas dari siapa pun. Termasuk dokter dan rumah sakit. Sebab yang tahu diri manusia itu adalah dirinya sendiri. Pram sungguh sadar dengan konsepsi itu. “Bahkan dengan Tuhan pun aku tak mau meminta,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, karena sikap konsistensi yang bertumpu pada diri sendiri itu, ia kerap disalahpahami sebagai buku yang kaku, keras, dan sama sekali tak menarik. Mochtar Lubis, lawan politik sastranya, berkata tatkala ditanyai tentang kesannya dengan Bumi Manusia oleh Denny JA: “Buku apaan itu. Datar. Tak menarik. Hanya dua halaman saya tahan membacanya.” Ajib Rosyidi berkata: “Jangan harap karya Pram ada adegan seks yang menegangkan. Membaca percintaan antara Minke dan Annelis saya sama sekali tak terangsang. Malah lucu menurut saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang bukan buku yang lemah, gemulai, dan menebar senyum. Ia adalah buku yang tegak menantang siapa pun. Tapi ia berdiri tidak dengan segerombolan serdadu dengan samurai terhunus, tapi menantang dengan senjata bernama buku. Tak ada apa pun selain itu. Pram sendiri kita tahu adalah pribadi yang introvert, tak gaul, dan rendah diri. Bukulah yang membuatnya menyala. Serupa api yang menjilat-jilat. Dan ia datang memang untuk membakar dan melecut semangat perlawanan kalangan muda dan juga dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pram, menulis adalah melawan. Dan Pram yakin bahwa perlawanan itu bisa dilakukan dengan menulis buku, seperti halnya ia lakukan. Bagi Pram, buku adalah visi, sekaligus sikap. Perjuangan tanpa visi adalah perjuangan yang hanya menanti mati disalip kekuasaan pragmatis setelah riuh pasar malam perjuangan usai diteriakkan. Bukulah yang membuat Pram tidak menjadi massa atau gabus yang dipermainkan ombak di tengah samudera sejarah dan setelah itu takluk terhempas jadi sampah di pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah obor, sekaligus kemudi bagi sejarah. Lihatlah, dengan buku Pram menawarkan sejarah yang dipahaminya. Celakanya, sejarah yang dikandung buku Pram adalah sejarah yang selalu bertabrakan muka dengan sejarah resmi yang dikreasi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan buku pula, Pram kemudian membangun presepsi yang sama sekali baru tentang apa arti Indonesia, Nusantara, peradaban-peradabannya, serta sejarah orang-orang yang bergolak di dalamnya yang bertarung dalam pusaran sejarah. Terutama sejarah anonim dari orang-orang yang dilindas sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, lewat buku Pram menawarkan dunia. Dunia yang diyakininya benar. Dunia orang-orang yang disepelekan sejarah. Orang-orang menyebut usaha ini adalah usaha penulisan sejarah senyap. Yakni, sejarah orang-orang tak terdengarkan. Jika saja bukan usaha Pram menuliskan kembali biografi Tirto Adhi Surjo, mungkin tokoh sentral lahirnya kelompok cendekia yang menulis di awal abad 20-an akan terhapus dari sejarah. Lalu kisah orang-orang anonim, tapi penting dalam proses pembentukan kota, peradaban, dan karakter-karakter yang dikandungnya dibasahi Pram dalam bentuk karya imajinasi. Jadilah dunia dalam buku Pram menjadi dunia tersendiri, merdeka, dan sekaligus merangsang pikiran untuk mendudukkan Indonesia dalam konteks yang lebih khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara menulis buku itulah Pram menawarkan Indonesia kepada dunia. Tak ada yang lain cara efektif yang dipahami Pram selain dengan buku. Terlalu serak dan pendek umur ucapan sebuah pidato atau semua teriakan. Buku yang punya usia memanjang. Buku adalah arsip. Dan arsip adalah nyawa sebuah bangsa, lengkap dengan segerbong kisah-kisah kemenangan dan kekalahannya. Karena itu novelis eksil Ceko, Milan Kundera, menjadi benar ketika berseru: “Untuk menghancurkan sebuah bangsa, bumihangus buku-bukunya. Niscaya bangsa itu akan lupa. Dan saat itulah ia akan hancur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, dengan buku itu pula Pram memperkenalkan sekaligus memaklumkan dirinya di hadapan publik dunia. Bagi peradaban maju, usaha-usaha yang dilakukan pribadi-pribadi seperti Pram ini mendapat apresiasi dan kedudukan yang sangat tinggi. Oleh karena peradaban disebut tinggi tatkala masyarakatnya menghormati kerja-kerja arsip dan penulisan. Kerja-kerja itu adalah kerja pengabadian ingatan. Dan Pram melakukan itu dengan tekun dan sungguh-sungguh. Lalu menjelmalah ia menjadi suara lain Indonesia; suara yang tak seragam sebagaimana yang diyakini rezim yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang berambisi besar menjelaskan Indonesia secara tuntas. Maka dia baca buku-buku sejarah, lalu dia tafsir, dan tafsirnya itu berbuah novel. Namanya novel sejarah. Pram juga tak berkutat pada novel untuk menjelaskan Indonesia. Lalu ia memilih menggunting koran sebagai sebuah kegiatan untuk merangkum Indonesia dalam dunia paling pribadi dan intim Pram. Ia membuat kronik, ia membuat ensiklopedia yang mencitrakan kawasan Indonesia yang beragam, indah, dan kaya tetapi diperintah oleh penguasa-penguasa yang bebal dan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan menulis buku yang setebal-tebal bantal itu dilakukan Pram bukan usaha angin-anginan atau iseng-isengan untuk kebutuhan diri sendiri, tapi diniatkan sebagai tugas nasional. Secara pribadi dan tanpa disokong serta diperhatikan pemerintah, ia bekerja sendiri melakukan itu. Ia bangun sendiri koleksinya, ia rancang sendiri waktu kerjanya dengan kedisiplinan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semangat kerja yang dingin, sepi sunyi, dan sendirian itu ia menjadi terlihat sangat individualis dan sekaligus menjadi buku polemis. Sebab ia tak mau menurut dengan asumsi umum yang lazim karena memang masyarakat umum dan pemerintah tak mau tahu dengan dirinya. Dan karakter Pram seperti itu yang menjadikan karakter bukunya menjadi keras dan ofensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat serapi-rapinya bagaimana sikap Pram yang tak mau tunduk kepada aliran kawan-kawan yang dulunya seperjuangan di Gelanggang Merdeka yang juga di sana ia pernah berperan. Ketika ia ditunjuk untuk menjadi pengasuh Lentera, lembar kebudayaan Harian Bintang Timoer yang berafiliasi secara sikap dan mata ideologi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), ia gigih melakukan polemik dan menantang siapa pun di luar posisi dan sikap yang dibangunnya. Salah satu esainya yang keras, panas, dan menantang: “Jang Dibabat dan Jang Tumbuh”, adalah bukti dari mendidihnya polemik. Dan Pram adalah buku yang berada di titik bara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam menulis saya harus menciptakan kebebasan diri sendiri,” tegasnya. Dan kebebasan itu memang ia ambil. Tak tanggung-tanggung kata-katanya yang ofensif menyeru-nyerukan serangan kepada setiap kelembekan sikap dan ketakjelasan posisi yang itu bisa menghalau jalannya revolusi yang diyakininya membawa Indonesia ke jalur yang benar. Benar atau salah sikap yang diambil Pram dalam irama politik yang menghentak dan meraung-raung waktu itu, Pram dengan kebebasannya sudah memilih posisi dan sikap. Dan pilihan itu mengantarkannya dalam penderitaan yang panjang dan melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara bedah buku Pram pada 2003, ziarawan Taufik Rahzen mengandaikan tiga tali simpul dari karya-karya Pramoedya. Simpul kesatu adalah kebenaran. Kebenaran bukan kekuasaan. Kebenaran menuntun sementara kekuasaan memerintah. Kebenaran seperti halnya traktat sejarah adalah tempat orang melanglangi dunia. Kebenaran adalah asas adalah lentera ke mana seseorang melangkah. Dengan kebenaran seseorang jadi tahu dari mana ia berangkat dan mengikuti ke mana pendulum tujuannya bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpul kedua adalah keadilan. Kebenaran harus ditabrakkan dengan kenyataan sosial dalam sirkulasi yang dialektis. Kebenaran yang tidak menyata dan memperjuangkan keadilan bukanlah ajaran, melainkan penjara langit. Di simpul keadilan ini kebenaran diuji dalam golak sejarah, baik di ranah struktural (kekuasaan politik) maupun kultural (strategi kebudayaan). Pertautan antara kebenaran dan keadilan itu yang melahirkan simpul ketiga, yakni keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan yang dipahami Pramoedya tidak sama dengan keindahan yang dikonsepsikan oleh kalangan Balai Pustaka dan pewarisnya, yakni kemahiran mengutak-atik bahasa. Bagi Pramoedya, keindahan terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun dituduh komunis karena “keindahan” yang diyakininya itu. Dengan simpul keyakinan berkaryanya Pram menjadi buku yang mengambil sikap menolak tuduhan sebagai komunis walau ada beberapa sikap kesastraannya bertemu secara khusus, seperti menulis bukanlah kerja salon para pesolek yang bersunyi-sunyi ria bahasa sastranya, tapi kerja dalam pusaran perikehidupan rakyat banyak yang tertindas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya pun bisa disamakan dengan John Steinbeck. Steinbeck adalah pengarang yang memperjuangkan nasib buruh tani di California dengan melukiskan kesengsaraan mereka. Seperti halnya Pram, ia menuliskan keadaan manusia yang dilupakan, yang ditindas, atau dianggap sampah oleh masyarakat. Karyanya The Graps of Wrath sempat menimbulkan reaksi dari masyarakat termasuk anggota Konggres AS. Dan tak main-main, buku ini mengantarkan Steinbeck menyandang stigma sebagai “komunis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pram juga bernasib sama; hanya karena ia dan buku-bukunya menyeru, menyeru, menyeru, karena revolusi menghendaki semua-mua pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram adalah buku yang sendiri yang secara kebetulan atau tidak memang condong ke kiri. Mengacu pada ucapan Njoto, salah seorang otak teks Manifesto Kebudayaan Wiratmo Sukito mengatakan bahwa Pram termasuk orang paling berbahaya, kekiri-kirian, dan akan datang masanya menjadi marabahaya bagi organisasi (Lekra atau lebih luas PKI). Pram bukannya tak sadar dengan ucapan Njoto itu dengan bukti sejumlah sinisme yang dilontarkan lewat Pojok Harian Rakjat, yang memang hanya diketahui oleh kalangan internal dalam jumlah terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama Lekra mengucilkan Pram dengan sejumlah prakarsanya yang tak pernah ditanggapi, bahkan diterima dengan dingin, yang sebenarnya terlalu banyak untuk diperinci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram juga merasa mulai tersudut dalam organisasi ketika Lekra merasa perlu menempatkan tenaga dari Jawa Tengah untuk “membantu” kerjaan Pram yang Pram tahu betul sosok itu tak lain daripada melakukan tugas sebagai anjing pelacak, sedang di luar kehadiran Pram, “pembantu” itu melancarkan propaganda yang mendiskreditkannya. Bahkan ketika Pram berada dalam tahanan Salemba di Jakarta. “Ini merupakan kesadaran terlambat yang sungguh-sungguh pahit, mengingat, bahwa saya bersedia menerima pengangkatan jadi anggota pimpinan Lekra untuk diajar berorganisasi, dididik. Apa yang saya harapkan tidak pernah terpenuhi. Sampai sekarang tetap seorang individualis, dan pengalaman-pengalaman besar belakangan semakin memperkuat individualisme saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Pram memang buku yang kukuh dengan sikap individualitasnya yang menjulang. Ia ingin merangkum segalanya dalam dirinya. Termasuk persepsi tentang negara, pemerintah, perilaku pembesar-pembesarnya, erangan manusia-manusia yang dibekuk olokan sebagai sampah-sampah dalam masyarakat. Ia adalah buku yang bersikap, mandiri, dan konsisten. Jasad Pram telah turun ke liang gelap. Pram tiada. Tapi bukunya tetap hadir. Pikirannya gentayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga pun mungkin tak ada buat Pram, sebab ia memang tak hadir di sana. Pram hadir dan tertinggal di setiap nadi pembacanya yang mencintai sepenuhnya sosok-sosok yang mengembara dalam buku Pram; bahkan pembaca-pembaca terjauh yang tak pernah Pram bayangkan sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hati jutaan pembacanya itulah surga terindah Pram. Dan di surga itu, Pram hadir dan suaranya menggema serta terus menyeru, menyeru, menyeru: “Angkatan muda harus bisa melahirkan pemimpin dan jangan jadi ternak saja yang sibuk mengurus diri sendiri. Angkatan muda harus bekerja dan berproduksi. Jangan jadi pengonsumsi. Negara ini sudah terpuruk karena konsumsi terus-terusan. Bahkan tusuk gigi pun harus diimpor. Memalukan.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-6752902753637295821?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/6752902753637295821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=6752902753637295821' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/6752902753637295821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/6752902753637295821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pram-buku-yang-tak-pernah-selesai.html' title='PRAM: Buku yang tak Pernah Selesai Dibaca'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se1IgK_QpTI/AAAAAAAAAWU/WnATGXcjsfc/s72-c/Pramoedya+Ananta+Toer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-679853452351643443</id><published>2009-04-20T21:02:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T21:06:03.385-07:00</updated><title type='text'>Pram, Angkatan Muda, dan Revolusi</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angkatan muda harus punya keberanian. Kalau tidak punya, sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;--Pramoedya Ananta Toer&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suara itu tak bisa dipenjarakan/ di sana bersemayam kemerdekaan/ apabila engkau memaksa diam/ aku siapkan untukmu: pemberontakan!”&lt;br /&gt;--Wiji Thukul, Sajak Suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hayat menjadi mayat, siapa kalangan yang paling dirindukan Pramoedya Ananta Toer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga? Bukan! Pram merindukan angkatan muda yang harus terlahir dan mengisi perut sejarah. Kerinduan yang tentu saja tak mengada-ada—sebagaimana Bung Karno pernah meretorikakan bahwa dengan hanya 100 angkatan muda di sekelilingnya ia bisa melakukan apa pun, bahkan menggeser gunung yang kokoh sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ditancapkan Pram hasrat kerinduan itu dalam karya tulisnya dan juga pengalaman pahitnya mereguk nyinyirnya pekat derita. “Apa yang tidak dirampas dari saya. Naskah saya. Hidup saya. Masa muda saya yang kreatif. Semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kerinduan akan kemudaan yang wajar. Sebab dalam diri angkatan muda telah terpacak dan tersemayamkan ruh heroisme, gairah yang meletup, dan kreativitas yang tak terbatas. Tapi rezim-rezim diktator umumnya tidak suka dengan heroisme itu, letupan gairah itu, kreativitas itu. Hubungan hambar keduanya tergambar dengan apik dalam bait puisi Thukul, “Bunga dan Tembok”: “Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki tumbuh/ Engkau lebih suka membangun/ Rumah dan merampas tanah// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki adanya/ Engkau lebih suka membangun/ Jalan raya dan pagar besi// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang/ Dirontokkan di bumi kami sendiri// Jika kami bunga/ Engkau adalah tembok/ Tapi di tubuh tembok itu/ Telah kami sebar biji-biji/ Suatu saat kami akan tumbuh bersama/ Dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ Dalam keyakinan kami/ Di mana pun tirani harus tumbang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan segala kekuatan aparatusnya, rezim diktator hampir selalu “berhasil” menyumpal keberingasan angkatan muda dan mencampakkan “bunga yang tak dikehendaki” itu ke tong-tong sampah kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyumpalan itu, bila berhasil, biasanya melahirkan angkatan muda yang kerdil, ngambang, omongnya banyak isi otaknya sedikit, tahunya hanya obat-obatan terlarang, dan kreativitasnya hanya melulu di selangkangan. Generasi seperti itu sebetulnya yang diinginkan oleh rezim diktator di mana pun. Adapun generasi yang berpartisipasi membangun negeri dengan pikiran cerdas dan kritisnya dianggap sebagai parasit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dianggap parasit, mereka pun wajib basmi. Pada akhirnya, jangankan berharap menjadi pahlawan, mereka sebaliknya dipandang tak ubahnya bromocorah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada yang peduli di tanah air kita ini… dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa menjadi bintang. Sekarang, bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan,” ujar Pram dalam sebuah perbincangan dengan penyair Eka Budianta. (Temanku Pujangga, 1986: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram adalah salah satu bintang yang dipadamkan itu. Hampir separuh hidupnya terpaksa ia habiskan dalam gelap pekatnya penjara—sebuah wajah semesta paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru tanpa proses pengadilan. Walaupun pada 21 Desember 1979 Pram mendapat sepucuk surat pembebasan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S/PKI, toh ia tetap dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara, hingga 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi sosok Pram memang sengketa. Sosok yang berlumur noda bagi lawan-lawan politik berkeseniannya. Tapi keyakinan Pram akan kedahsyatan angkatan muda memutar turbin sejarah tak pernah surut. Di halaman-halaman ceritanya keyakinan itu kita baca dengan lugasnya. Tetralogi Pulau Buru, khususnya Rumah Kaca (2000: 145-146, 149), keyakinan itu sudah terpancang dalam-dalam: “Salamku pada Raden Mas Minke. Pada kalian aku berpesan, hendaknya ia jangan dilupakan. Dialah sang pemula, karena dialah orang pertama-tama yang menyuluhi bangsanya dan memimpin kalian… belum pernah dalam seratus tahun ini seorang pribumi karena kepribadiannya, kemauan baik, dan pengetahuannya dapat mempersatukan ribuan orang tanpa mengatasnamakan raja, nabi, wali, tokoh, wayang atau iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minke adalah tokoh utama novel itu. Seorang anak muda terpelajar yang sadar akan posisi politik bangsanya di pusaran politik dunia. Di pundak anak muda ini juga feodalisme dicungkil sedemikian rupa yang menjadi salah satu akar-sebab mengapa manusia nusantara sekian abad berjiwa jajahan, jongos, babu, dan hamba. Menurut Pram, punahnya manusia berjiwa merdeka disebabkan oleh keyakinan feodal bahwa di alam ini hanya ada satu matahari, satu bulan, satu bumi, satu raja, satu bangsa, yakni bangsa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengangkat sembah sebagaimana aku lihat dilakukan punggawa terhadap terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu.... Sembah—pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” (Bumi Manusia, 2000: 132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Angkatan Muda dan Pembajakan Revolusi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkatan muda dan revolusi adalah dua mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Dalam kacamata para ideolog maupun sosiolog, revolusi selalu berarti manifestasi perubahan sosial yang paling spektakuler. Menyambangi kutipan dari pelbagai teori perubahan sosial, Jalaluddin Rakhmat dalam Rekayasa Sosial (2000: 199-201) memetakan secara simplifikatif namun cerdas definisi revolusi dalam tiga kelompok cara pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kesatu melihat revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Inti revolusi terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan. Meliputi segala bidang. Di sini, revolusi yang biasanya bersifat “sudden” dan “radical” menjadi lawan dari reformasi yang biasanya “slow” dan “partial”. Perubahan yang gradual, setahap demi setahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua  mendefinisikan revolusi dengan titik berat pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Di sini revolusi adalah lawan dari evolusi. Dan kelompok ketiga mencoba menggabungkan kedua definisi ini. Revolusi terpahami sebagai “perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik, struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan” (Huntington, 1968: 264); “transformasi yang cepat, mendasar dari keadaan masyarakat dan struktur kelas… disertai atau sebagian dilakukan melalui pemberontakan dari bawah, berdasarkan kepentingan kelas” (Skockpol, 1979: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selain perubahan yang fundamental, komprehensif, dan menyeluruh, revolusi juga melibatkan mobilitas massa yang bergerak secara revolusioner. Dan umumnya disertai dengan koersi atau kekerasan. Untuk ciri yang terakhir ini kita bisa menampiknya dengan contoh lain. Sebab ada revolusi, walau tidak banyak jenisnya, sama sekali tidak memakai jalan kekerasan, seperti Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semangat perubahan yang bergolak-golak itu hanya bisa ditampung dalam jiwa angkatan muda dan bukan angkatan tua. “Angkatan mudalah yang membuat revolusi,” yakin Pram. Dan tentu saja dengan segala pengorbanan yang dikehendakinya, sebagaimana termaktub dalam sepenggal kalimat tokoh muda Samaän di Keluarga Gerilya (2004: 254): “Revolusi menghendaki segala-galanya… menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini… jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu… agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram tidak sedang berangan-angan. Sebab sejarah membuktikan, bahwa hampir semua babakan perubahan sejarah yang terjadi di negeri ini diinisiatifi oleh angkatan muda—walaupun di kemudian hari kita ketahui sejarah itu (selalu) dibajak dan dikemplang oleh pihak-pihak di luar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1904 muncul Syarekat Priyayi yang menjadi perintis pergerakan dengan membawa setumpuk proposal awal kebangkitan kesadaran nasional. Motor utamanya adalah Tirto Adhi Surjo, seorang aktivis dan jurnalis muda, yang disebut Pram sebagai “Sang Pemula yang pertama-tama di garis terdepan dan sendirian menyuluhi bangsanya dan sekaligus memimpinnya”. Di situlah revolusi pertama bermula, yakni revolusi kebudayaan dengan menitikberatkan pada isu-isu pendidikan dan keinsyafan kemanusiaan di kalangan priyayi, ulama, dan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada 1928. Menyatunya kesadaran berbangsa angkatan muda yang kemudian melahirkan sumpah pemuda merupakan buah dari tersatukannya kekuatan kebudayaan yang terserak dari pelbagai daerah dan etnik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun sebelum 1945, aktivis-aktivis muda telah mempersiapkan sedini mungkin kemerdekaan bangsa dengan memunculkan GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia). Mereka membuat Kongres Indonesia Raya atau Indonesia berparlemen yang diselenggarakan di Bandung pada 1938. Yang terjadi sepanjang 1939-1945 itu sebetulnya revolusi politik yang kemudian melahirkan revolusi militer atau yang kita sebut dengan revolusi kemerdekaan. Tapi pada akhirnya revolusi yang digerakkan angkatan muda itu dibajak. Di situ angkatan muda dianggap sebagai tokoh-tokoh yang tak diperhitungkan, tokoh-tokoh anonim yang cenderung disepelekan. Yang keluar bukanlah angkatan muda, tapi agen-agen yang dikuasai militer, dalam hal ini Angkatan Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang hampir sama terjadi lagi pada 1968. Walaupun  pada 1966 angkatan muda terlihat bergerak, tapi pergerakan mereka adalah pergerakan yang bimbang. Arus besar yang massif itu adalah arus “pesanan”. Ada Angkatan Darat yang menyetir dan menggembalakan gerakan angkatan muda ’66 itu. Akibatnya, seusai peralihan licik kekuasaan dilakukan, roda pemerintahan kembali dikuasai oleh militer. Tapi militer yang muncul—meminjam jargon kurator politik, Mochtar Pabotinggi—adalah militer yang berdagang dan bukan militer yang ksatria. Militer yang berdagang adalah militer yang tak pernah menang perang, dan hanya bisa menghantam dan menembak rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada 1998, tentara yang berdagang ini pada akhirnya juga jatuh oleh soal ekonomi. Bom atom krisis ekonomi yang terjadi 1997 dan meletuskan revolusi angkatan muda 1998 menjatuhkan rezim militer yang berdagang ini. Tapi lagi-lagi sejarah itu dibajak. Angkatan muda lagi-lagi terbenam di pusaran tanah ketiadaan peran. Kunci-kunci penting jalannya roda pemerintahan kembali jatuh ke tangan—kali ini bukan militer—tapi angkatan-angkatan tua yang korup yang dulunya kebanyakan disuapi oleh orde “militer yang berdagang”. Fenomena yang menggenapi sebutan ironis bahwa negeri ini benar-benar negeri para tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara kasar sedikit galak, Pram pada akhirnya jatuh pada kesimpulan bahwa angkatan tua-lah yang sebetulnya menjadi biang kerok kehancuran zaman yang kemarin-kemarin itu dan hari ini. Dalam novel Larasati (2003: 22) Pram menulis, “Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi.” Dalam novel Anak Semua Bangsa (2000: 66) Pram menulis, “Semua percuma kalau toh harus diperintah Angkatan Tua yang bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma, Tuan. Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di usia tuanya yang sepi, di atas kursi sandarnya sambil mengisap dalam-dalam rokok kretek favoritnya, matanya kerap menerawang. Bertanya-tanya, ke mana saja anak muda itu kini. Kenapa revolusi terganti oleh reformasi yang pada akhirnya mandek.&lt;br /&gt;Namun barangkali ia tak usah terlampau sewot dengan pembajakan dan pengemplangan revolusi itu. Sebab berulangnya peristiwa itu sudah sejak awal diketahuinya lewat informasi dari timbunan arsip sejarah di perpustakaan pribadinya yang kemudian dituangkannya dalam lembar-lembar kisah novelnya. Bukankah pembajakan dan pengemplangan awal sudah terjadi bahkan sejak zaman Arok di abad 12 dan akan terus berulang entah sampai kapan akhirnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Angkatan Muda dan Proposal Indonesia Muda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah sudah dan sedang berlangsung. Tak ada satu pun kekuatan yang menghentikan lajunya. Manusia-manusia di dalamnya terus bergerak. Terus bergegas. Revolusi datang dan pergi tanpa pernah terduga. Melenyapkan tiran dan melahirkan tiran-tiran baru. Angkatan muda terus bermunculan tanpa henti dari rahim-rahim sejarah ibundanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan dan penggantian itu seperti hukum alam yang tak bisa ditampik. Cuma, di tengah setiap kelahiran tiran dan berkuasanya angkatan tua yang korup itu, tampaknya angkatan muda memerlukan lentera yang bisa terus menyulut obor semangat mereka merawat asa untuk terus waspada dengan pergerakan dan perubahan zaman dari caplokan tangan angkatan tua yang pragmatis dan tak tahu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik ini Pram telah menunaikan tugasnya. Tulisan-tulisannya yang tak pernah terkubur oleh lupa yang disusuk mesin kuasa, akan selalu memanggil-manggil semangat kemudaan itu. “Jangan lupakan anak muda. Mereka sedang melahirkan sejarah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu hendak meneguhkan kredo bahwa proposal perubahan masa depan selalu berada di tangan angkatan muda. Sebagai kekuatan yang menggerakkan, angkatan ini bangkit menjadi pemutar baling-baling sejarah masa depan. Di jiwa merekalah terteken sebuah kehidupan yang baru. Sebuah Indonesia Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi angkatan muda yang diharapkan Pram untuk melahirkan Indonesia Muda adalah angkatan muda yang kreatif, bangga diri karena punya semangat untuk bekerja dan berkarya, dan memiliki keberanian hidup. Sebagaimana kegigihan dan keberanian yang telah ditampilkan sederetan tokoh-tokoh dalam novelnya: Minke, Saäman, Midah, Gadis Pantai, Farid, Larasati, Galeng-Idayu, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mati dengan berani. Kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada—itulah sebabnya semua bangsa asing bisa jajah kita.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-679853452351643443?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/679853452351643443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=679853452351643443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/679853452351643443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/679853452351643443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pram-angkatan-muda-dan-revolusi.html' title='Pram, Angkatan Muda, dan Revolusi'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4428231495397265698</id><published>2009-04-20T20:39:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:43:07.905-07:00</updated><title type='text'>9 Karya Pram Pilihan Indonesia Buku</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Editor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bagus, ada yang buruk. Ada yang kualitasnya menjulang langit, ada yang datar-datar saja. Dari sekira 40 judul karya Pramoedya, Indonesia Buku memilih 9 yang terbaik. Barangkali Anda tak setuju. Tak apa. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BUMI MANUSIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama dari Kuartet  Buru. Bumi Manusia bisa kita sebut saja sebagai periode penyemaian dan kegelisahan. Dalam Bumi Manusia, Minke, sang aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka. Dengan jalan apa? Dengan jalan pendidikan. Pendidikan, oleh Minke, menjadi senjata dengan mata mengarah pada dua titik utama. Mata pertama mengarah pada usaha menusuk jantung kepriyayian dan kejawaannya biar mampus dan kedua membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANAK SEMUA BANGSA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua dari Kuartet Buru. Anak Semua Bangsa adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RUMAH KACA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir dari Kuartet Buru. Rumah Kaca agak unik dibandingkan dengan tiga seri sebelumnya yang memberi porsi kepada Minke untuk bergerak leluasa. Pada bagian ini, tokoh utamanya adalah peranakan Belanda yang bernama Pangemanann. Di dalamnya terlukis bagaimana sistem pengarsipan ditujukan untuk meninjau semua sudut pergerakan manusia-manusia Indonesia. Dan Rumah Kaca pun menjadi metafora pascakolonial bagaimana kita dikuasai sampai ke tulang sumsum oleh konspirasi internasional hingga tak ada lagi disembunyikan. Di titik ini, para aktivis pergerakan hanya termangu menanti bui dan ajal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BUKAN PASAR MALAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut Romo Mangunwidjaya, inilah novel Pram yang paling menonjol dan paling disukainya. Sebabnya sederhana: belum tersentuh oleh tangan-tangan politik penulisnya. Novel ini pun sangat manis dan liris karena ia mengangkat hal-ihwal sehari-hari dan jauh dari tema besar bergebyar-gebyar. Sejatinya novel ini adalah novel biografis penulisnya di hari-hari jelang ayahnya wafat di Blora. Ia mampu menyajikan dialog-dialog yang menyentuh. Juga tentang renungan soal hakikat hidup dan kematian manusia yang bukan seperti pasar malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CERITA DARI BLORA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin melihat kehidupan keluarga Pram di kampung, bacalah buku ini. Buku ini memotret dengan jeli bagaimana kehidupan keluarga Pram: hiruk-pikuk karena anak-anak yang hadir sangat banyak di zaman ketika perlawanan disusun. Juga getirnya keluarga ini ketika bangkrut. Ke-11 cerita dari Blora ini sekaligus potret paling sederhana bagaimana sebuah keluarga mempertahankan martabatnya yang dilibas derita dan nasib suram. Cerita tentang manusia Indonesia yang telah membayar kemerdekaan dengan mahal sekali dalam dunia yang penuh ketakadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ARUS BALIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Inilah epos besar yang berkisah tentang sisa perjuangan manusia Nusantara menghalau datangnya kekuatan-kekuatan Utara (Eropa) yang hendak merayah dan mem-bedung setiap butir pasir Nusantara pada warsa-warsa awal abad 16. Pada saat itu, Nusantara yang terkenal karena kemegahan baharinya, seperti kena gulung badai dari semua penjuru laut peradaban. Kemerosotan menggumpal di mana-mana, menghantam apa saja yang tersisa. Kemerosotan itu ditandai dengan tergusurnya pemikiran tentang kelautan sebagai basis kekuatan ekonomi dan politik oleh armada darat. Dan semuanya rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GADIS PANTAI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gadis Pantai adalah novel yang tak selesai (unfinished). Sejatinya, roman ini merupakan trilogi. Disebabkan vandalisme rezim, dua novel berikutnya lenyap. Inilah roman yang mengambil kisah kehidupan nenek Pram sendiri yang selama hidupnya tak pernah ia kenal namanya. Karena itulah dinamainya Gadis Pantai. Roman ini sungguh indah dan mempesona. Ia membongkar—setidaknya memperlihatkan—kontradiksi negatif praktik feodalisme Jawa yang tak memiliki sedikit pun adab dan jiwa kemanusiaan. Roman ini menusuk feodalisme Jawa tepat langsung di jantungnya yang paling dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SANG PEMULA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam lipatan lusuh sejarah Republik, nama Tirto Adhi Surjo memang sempat hilang dan terkubur dalam ingatan kolektif masyarakat. Padahal di pergantian abad, nama ini tampil sebagai pribumi pertama yang membebaskan diri dari manusia yang hanya menjadi budak administrasi kekuasaan kolonial. Lewat tulisannya dan perjuangan yang dilakukannya lewat lembaran koran yang diciptakannya, Medan Prijaji, disuluhnya bangsanya. Dititipkannya rasa mardika dalam hati pribumi serta digerakannya hati itu dalam mesin organisasi modern. Pram dengan kegigihannya menampilkan tokoh “anonim” ini ke pentas sejarah nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PERBURUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pram, novel Perburuan adalah novel pertamanya yang ditulis dengan perasaan mistis yang sulit dilupakan. Dan inilah novel yang diganjar hadiah oleh bangsanya sendiri pada tahun 50-an; satu-satunya penghargaan bangsanya hingga wafatnya datang (di luar piagam penghargaan PRD). Ditulis dalam penjara, novel ini mengambil seting cerita ketika Indonesia dalam pendudukan brutal Jepang selama Perang Dunia ke-II. Sebuah ramuan cinta eksplosif, pengkhianatan, kolaborasi, dan balas dendam. Tapi bukan aksi kemenangan militer dalam arti politik. Ia lebih merupakan kisah kontemplatif sekaligus garis kaidah untuk diri sendiri dan bagi orang lain di mana setiap hidup dan perbuatan harus diuji.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4428231495397265698?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4428231495397265698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4428231495397265698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4428231495397265698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4428231495397265698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/9-karya-pram-pilihan-indonesia-buku.html' title='9 Karya Pram Pilihan Indonesia Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-3339455327701607416</id><published>2009-04-20T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:39:24.178-07:00</updated><title type='text'>Pengembaraan Anak-anak Ruhani Pram</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Editor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anak-anak rohaninya &lt;br /&gt;merayap hidup tak bertepi &lt;br /&gt;cerca nista fitnah durhaka &lt;br /&gt;hadir bak menawar harga &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;-- Ben Bela, “Itulah Ia”, 9 Desember 1998&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tak mengenalnya secara intens dan dekat, Pramoedya Ananta Toer memang terkesan sebagai pribadi yang dingin. Apalagi jika ditanyakan hal-ihwal perpustakaannya yang dibakar militer, sontak wajahnya yang tadinya sumringah akan memerah. Dan dari pita suara tuanya, keluar getaran yang terpatah-terpata. Serupa amarah yang tertahan sekian lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga diartikan bahwa itu erangan yang tak sampai, tapi tetap ia pelihara dalam ingatan lalu dikeluhkannya kepada mereka yang hadir di depannya. Kapan pun, di mana pun. Itulah strategi Pram mengingatkan pembacanya sebuah episode di mana tempat persemaian anak-anak ruhaninya dijarah oleh tangan-tangan vandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pentingnya perpustakaan itu bagi Pram. Di sana bukan hanya mengendap buku koleksi-koleksinya yang dia bangun bertahun-tahun, tapi juga di sana ada keintiman dan serangkaian memori panjang tentang penciptaan. Pengarang adalah seorang pencipta. Pencipta semesta. Serupa betul dengan Tuhan. Jika Tuhan punya semesta, maka pengarang punya perpustakaan sebagai semesta persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pram, karya-karyanya adalah anak-anak ruhaninya. Dan anak-anak itu dilahirkannya dalam perpustakaannya. Perpustakaan Pram tak hanya di rumah dalam pengertiannya secara harfiah, tapi juga dalam reruntuhan perang maupun comberan penjara (baca: Buku, Perang, dan Penjara). Di suasana perpustakaan yang demikianlah terekam dengan baik bagaimana persalinan itu terjadi. Bagaimana Pram dengan pertaruhan nyawa, erangan, sakit tak terkira, dan was-was melahirkan ratusan anak ruhani, baik yang terbit maupun yang masih berserak. Dan Pram sadar bahwa anak-anak ruhani itu berlain-lainan wataknya. Oleh sebab itu, Pram membagi cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada yang buruk, tak ada yang bagus. Semuanya anak-anak ruhani saya. Saya perlakukan semuanya sama,” kata pram berkali-kali ketika berkali-kali orang-orang menanyakan yang manakah karya yang paling disukainya. Dan sebagai orang tua yang baik bagi anak-anaknya Pram selalu menjawabnya dengan diplomatis. “Semua karya saya punya sejarah hidup masing-masing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram hendak memastikan bahwa anak-anak ruhaninya ada yang lahir di rumah yang teduh, di medan perang, penjara, maupun kamp kerjapaksa. Maka dari itu wajar wataknya juga beda-beda. Ada yang bengal, keras kepala, sopan, romantik, militan, maupun datar-datar saja. Dan anak-anak ruhani yang berlain-lainan itu telah mengembara memutari hampir seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-3339455327701607416?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/3339455327701607416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=3339455327701607416' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/3339455327701607416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/3339455327701607416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pengembaraan-anak-anak-ruhani-pram.html' title='Pengembaraan Anak-anak Ruhani Pram'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4443110689121928335</id><published>2009-04-20T20:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:54:47.630-07:00</updated><title type='text'>Yang Terancam Karena Anak-Ruhani Pram</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jangan takut untuk maju dan bicarakan ide-ide kamu. Sekali kamu &lt;br /&gt;takut, kamu kalah."&lt;br /&gt;-- Pramoedya Ananta Toer&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, aktivitas membaca anak-anak ruhani Pram serupa dengan kerja menghisap ganja. Tak bisa dilakukan terang-terangan karena memang terlarang. Anak-ruhani Pram adalah barang tabu kelas-A. Membawanya harus hati-hati dan “kreatif”. Mengonsumsinya apalagi. Mesti sembunyi-sembunyi. Dan memang, anak ruhani Pram tak beda dengan ganja. Membuat pemakainya kecanduan. Membacanya seperti tak mau berhenti-berhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bumi Manusia saya baca semalam suntuk,” aku pendiri Partai Rakyat Demokratik Budiman Soedjatmiko yang saat itu duduk di bangku SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya harus menyiapkan waktu dua hari cuti dari kantor untuk menyelesaikan novel Arus Balik. Sehari untuk baca, sehari untuk tidur,” kata pengamat politik Eep Saefulloh Fatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelis muda Eka Kurniawan bahkan memilih di jalur sastra karena kecanduan dengan karya Pram. “Saya hampir memutuskan berhenti di sastra. Tapi setelah membaca karya Pram membuat saya seperti diinsyafkan bahwa sastra itu bagus dan menulisnya punya guna,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena serupa candu, maka transaksi novel-novel Pram harus ekstra waspada. Sebab hampir semua mata aparat diletakkan di semua sudut pelosok Indonesia. Terutama di kampus-kampus tempat para aktivis berkumpul. Buku yang beredar pun hampir tak ada yang asli. Semuanya fotokopi dan kebanyakan tak bersampul. Ia tak aman dibawa terus-terusan dalam tas. Jika ada yang berminat, maka buat dulu janjian ketemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak syak lagi, karya Pram menjadi semacam bacaan wajib aktivis dan simbol perlawanan aktivis yang hidup 1980-an. Mereka biasa menghidupkan pelbagai forum diskusi dan kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di UGM misalnya, berserakan kelompok diskusi mahasiswa kritis. Yang terkenal di antaranya Kelompok Studi Sosial Palagan, Dasakung, maupun Teknosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelompok-kelompok ini anak-ruhani Pram hadir dan hidup. Saat itu menjual karya pram adalah aktivitas heroik, dan sekaligus subversif. Apalagi Kejaksaan Agung RI sudah mengeluarkan SK pelarangan atas semua karya Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditangkapnya tiga aktivis Yogyakarta pada 1989 menjadi jejak paling gelap bagi mereka yang keras kepala membaca dan menyebarkan anak-ruhani Pram. Ketiganya adalah Bambang Subono, Bambang Isti Nugroho, dan Bonar Tigor Naispospos. Mereka dibui dengan dakwaan melakukan tindak pidana subversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonar Naispospos mendapatkan hukuman paling berat karena dituduh sebagai aktor intelektual dalam pengedaran buku-buku Pram. Aneh bin ajaib, ia tak pernah tertangkap tangan aparat memegang langsung karya Pram. Bahkan di rumah kosnya sekalipun tatkala digeledah. Yang justru menyeretnya adalah fotokopi diktat kuliah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, tentang pemikiran Karl Marx. Diktat yang teronggok di kosnya itu ditulis Franz Magnis-Suseno. Tak pelak lagi Bonar pun dijerat pasal subversif 8 tahun 6 bulan penjara dengan delik penyebaran paham yang bertentangan dengan Pancasila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Bambang Subono yang ditangkap ketika masih aktif sebagai Ketua Kelompok Studi Sosial Palagan (KSSP) Yogyakarta. Ia terbukti dan sah membaca dan mengedarkan tetralogi Pram yang masih dalam bentuk fotokopi ketikan naskah aslinya. Ia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara dengan delik yang sama dengan Bonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Bambang Isti Nugroho kedapatan membawa novel Rumah Kaca dalam tasnya dalam sebuah razia. Ia pun digelandang dalam bui. Menurut Bambang Isti sebagaimana dikutip Kompas, tahun 1985 adalah tahun-tahun puncak bagaimana mereka kejar-kejaran dengan aparat. Apalagi hampir seluruh aktivis di Yogya, Bandung, dan Surabaya membaca dan memiliki tetralogi Pram. Lebih lanjut Isti Nugroho mengatakan yang digambarkan Pram dalam Rumah Kaca sangat mirip dengan suasana ketakutan aktivis penentang Soeharto seperti dirinya yang waktu itu disatroni atau dalam istilah Pram di-rumahkaca-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-ruhani Pram memang memiliki laci tersendiri dalam ingatan kolektif pembaca buku di Indonesia. Ia, dalam istilah mantan aktivis pers kampus Balairung UGM, M Thoriq, adalah simpul yang bisa mempersatukan aktivis anti-Soeharto. Sekarang pun, anak-anak ruhani Pram pun masih bergaung, walau tak semenakutkan ketika berada dalam masa represi Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, membaca karya Pram menjadi prasyarat untuk masuk dalam kelompok tertentu. Ziarawan Taufik Rahzen misalnya. Untuk menerima calon karyawan di kantornya, ia cukup menanyai apakah sang calon itu sudah membaca karya Pram dan judul apa yang dibacanya itu. Jika sudah membaca dan bisa menjelaskan bacaan hasilnya, otomatis diloloskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang dilakukan Didik Supriyanto, salah satu senior di situs detik.com. Wartawan muda yang direkrutnya akan ditanyai tentang buku Pram. Pram pun menjadi standar dari sebuah kemajuan penguasaan wacana. Pram adalah simbol. Tak hanya keseksian wacana, tapi juga keluasan akses bacaan. Dan anak-ruhani Pram menyediakan kebutuhan itu. Membaca karya Pram sudah separuh jalan melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ini, membaca karya-karya Pram kini menjadi aktivitas yang kian seksi. Dan yang pasti, walau akses atas anak-anak-ruhani Pram itu kian mudah, masih menginspirasi banyak anak muda, mulai dari anak-anak SMU, aktivis, penyanyi, hingga artis film dan sinetron.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4443110689121928335?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4443110689121928335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4443110689121928335' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4443110689121928335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4443110689121928335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/yang-terancam-karena-anak-ruhani-pram.html' title='Yang Terancam Karena Anak-Ruhani Pram'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1335264529027139633</id><published>2009-04-20T20:31:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:33:39.428-07:00</updated><title type='text'>Mata Pusaran: Yang Cacat, Yang Kembali</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahanan-alam Buru, Mata Pusaran lahir. Ia adalah trilogi kedua dari sekuel novel jatuh bangunnya kejayaan dan martabat Nusantara. Jika sekuel pertama Arok Dedes dan sekuel ketiga Arus Balik hidup tanpa cacat fisik, maka sekuel kedua Mata Pusaran lahir dengan kecacatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak hanya cacat, tapi juga pernah bertahun-tahun dinyatakan sebagai anak-ruhani Pram yang hilang tanpa harapan akan ditemukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini si anak hilang itu telah ditemukan sekitar medio 1990 oleh seorang berkebangsaan Belanda di pasar buku loak Kwitang, Jakarta. Kisah Astuti Ananta Toer, kopi ketik Mata Pusaran bersama tujuh saudaranya yang lain disimpan oleh Kapten Heri di kesatuan Angkatan Laut yang kebetulan bertugas di Buru. Adapun master ketiknya dirampas Angkatan Darat dan sekarang lenyap. Tapi Kapten Heri pun tak bisa lolos dari teror. Keluarganya akan “diapa-apakan” jika tak segera menyerahkan delapan anak-ruhani Pram dalam waktu 1x24 jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sesore itu, tutur Astuti Ananta Toer, mereka beramai-ramai mengopi naskah itu di beberapa fotokopi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Hingga pagi hari, hanya tujuh naskah yang selesai. Adapun Mata Pusaran “diikhlaskan” Pram dan keluarga lalu diambil kembali Kapten Heri untuk seterusnya pagi itu diserahkan ke pemerintah.&lt;br /&gt;Hingga bertahun-tahun kemudian, anak yang terampas itu terdampar di Kwitang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi fisiknya sudah terlampau memprihatinkan dan kurus jika dibandingkan dua saudaranya yang lain yang jauh lebih gemuk. Bukan karena Pram malas menuliskannya, tapi Mata Pusaran terlalu lama tersiksa di jalanan kota jahanam dan hidup tanpa kasih dan perhatian orangtuanya karena direnggut paksa. Wajar kalau ia kembali dengan cacat bawaan yang abadi. Separuh tubuh halamannya hilang entah. Yang ada tinggal 130 halaman. Mulai dari halaman 232-362. Jadi, cerita awal dan akhir entah masih terselip di mana atau sudah terkubur mati dan tak bakal kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan penuh kasih Pram lalu membedung anak-ruhani yang cacat tubuh itu dengan selapis selimut tebal. Dan siapa pun yang melihat motif kain bedungan anak cacat itu bakal tersenyum miris. Maklum, anak-ruhani yang hilang itu “hanya” bermantel pembungkus rokok Bentoel Royal Filter berwarna campuran kuning dan cokelat muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas mantel sederhana itu kemudian tertulis judul dari coretan tangan: “II - Mata Pusaran”. Nama yang bertahun-tahun membikin penasaran ribuan pembaca karya Pram.&lt;br /&gt;Tampangnya memang tak elegan sebagaiman buku-buku keluaran cetak mesin. Isinya masih ketik manual 1 spasi dengan kertas tipis seperti yang sering dipakai di kelurahan kalau lagi mengurus KTP atau surat pindah keluarga. Tapi ukurannya sudah seperti buku. Kertas kwarto dibagi dua, sebagaimana Pram selalu mengetik naskahnya. Header yang berisi judul buku dan nama pengarang serta nomor halaman pun sudah tertulis rapi di setiap halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena naskah itu sudah berumur puluhan tahun, tinta ketikannya pun sudah aus dan kabur. Membacanya, mata mesti melotot awas di setiap baris ketikan dan perlu ekstrasabar untuk memamahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Mata Pusaran “yang kembali” ini, hanya ada lima bab. Di mulai dari bab 10 sampai 14. Bab 10 bertitel “Arus dari Utara II” (232-262 hal), Bab 11: “Perang  Lidah” (263-286 hal), Bab 12: “Bara Didalam Hati” (287-310 hal), Bab 13: “Arus dari Utara III” (311-336 hal), dan Bab 14: “Tuban” (337-362).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak sempurna dan tak laik untuk mengambil kesimpulan apa sejatinya isi novel ini. Lagi pula sebetulnya tak ada keterangan resmi bahwa novel ini kelanjutan dari Arok Dedes dan/atau novel sebelum Arus Balik selain di mantelnya tertulis: “II – Mata Pusaran”. Tapi dengan manuskrip yang cacat ini kita bisa merabai bahwa novel ini adalah sekuel kedua dengan mempertautkannya dengan urut-urutan periode sejarah Nusantara: Tumapel-Singasari (Arok Dedes), Majapahit (Mata Pusaran), dan Demak-Mataram (Arus Balik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam empat bab yang tersisa digambarkan saat-saat terakhir Majapahit meregang nyawa. Negeri yang berkuasa sangat luas bahkan sampai Burma itu harus megap-megap menahan serangan dari Utara hingga tumbang tak bersisa. Kalaupun tersisa, apa boleh buat, tinggal candi-candi yang hanya berguna untuk disembah-sembah sebagai bentuk pelarian dari kekerdilan diri yang terampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Arus Balik, Pram secara mengesankan berkisah bagaimana laut harus dikuasai jika ingin mengembalikan kejayaan. Sebagaimana dalam Arus Balik, maka di Mata Pusaran, Pram sudah terlihat sangat antusias membahas laut sebagai kekuatan utama menahan serangan Utara. Laut, laut, dan laut. Singasari bisa jaya dan mampu memukul armada Cina karena mampu menguasai laut. Bahkan membikin dua benteng laut yang kokoh yang kelak dinamai Dipantara. Laut, lain tidak. Laut kata kunci karena hanya dengan itu Majapahit bisa mempertahankan kejayaan leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat itu bisa kita baca dengan jelas di lembar ketiga bab 10 Mata Pusaran, setelah Pram membinasakan tokoh Indung Mangil sang Penyihir oleh Saetu; karena irasionalitas memang harus ditumbangkan dari dalam kalau ingin menghadapi rasionalitas yang dibawa Utara dari semua jurusan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para prajawan tak mengerti, adakah negara akan bisa bangkit kembali setelah perang lima tahun belakangan ini. Kekuasaan laut Majapahit telah ambyar bersama dengan busa. Bajak dan perompak dalam rombongan kecil merajalela di seluruh pantai. Sedang bajak dan perompak besar bergabung dengan armada pengiring dari Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keamanan laut yang tak menentu membikin perdagangan sendat. Sisa angkatan laut yang tak seberapa dengan Laksamana Suradi ditarik untuk mempertahankan Kerajaan Majapahit atas kepulauan rempah-rempah karena dengan hilangnya kekuasaan atasnya akan berarti matinya perjuangan, matinya Gresik, dan akan membikin Majapahit kembali jadi negeri pertanian seperti pada awal berdirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Mata Pusaran adalah tafsir lain dan segar dari sejarah akhir jatuhnya Majapahit dan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang tak disangka-sangka justru Pram memilih pusat setting pergolakan di Tuban sebagaimana kita baca di Arus Balik. Jawaban memilih Tuban itu mungkin kita dapatkan andai Mata Pusaran dibaca utuh. Tapi melihat pada bab 14 yang bertitel “Tuban” sekilas bisa memberi arah bahwa Tuban memang sudah menjadi pertimbangan pergeseran kekuasaan. Paling tidak pertahanan terakhir, walau hanya secauk pasir kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai bagian tubuh Mata Pusaran itu tak ada harapan bisa kembali, tampaknya tak ada salahnya bila manuskrip yang “apa adanya” ini bisa diterbitkan. Tentu pembaca bisa memaklumi kecacatannya yang heroik dan historik ini. Inilah buku yang secara fisik dan ruhaniah digencet dan disiksa habis-habisan, sebagaimana nasib kelam yang dialami penulisnya sendiri. Tapi yakinlah, buku tak pernah bisa dihabisi oleh kekuatan zalim apa pun. Bahkan, dalam kecacatan akut seperti itu, Mata Pusaran masih sanggup memberi sejumput pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1335264529027139633?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1335264529027139633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1335264529027139633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1335264529027139633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1335264529027139633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/mata-pusaran-yang-cacat-yang-kembali.html' title='Mata Pusaran: Yang Cacat, Yang Kembali'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8933838933994490453</id><published>2009-04-20T20:30:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:31:13.328-07:00</updated><title type='text'>Yang Cantik Yang Tak Mudah (Di)Takluk(kan)</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer dan Orde Harto ibarat air dan minyak. Bukan saja keduanya saling mendelik dingin, tapi juga melahirkan ketegangan yang rantah yang mengantarkan Pramoedya ke penjara selama 14 tahun. Tidak hanya fisiknya yang divandalisasi Orde Harto, tapi juga karya-karyanya coba dihapus dari ingatan sejarah dan publik sastra Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karyanya yang terlupa itu adalah Midah Simanis Bergigi Mas. Tidak seperti novel-novelnya yang lain yang sarat beban dan jalinan sejarah yang kukuh dan golak revolusi, Midah adalah novel ringan, novel remaja yang saya kira sangat pas dan uaaapik untuk dibacai murid-murid SMP dan SMU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini ditulis Pramoedya Ananta Toer pada warsa 50-an dengan mengambil seting tempat: DJAKARTA. Novel ini—seperti nafas novel-novel lainnya—menjadikan perempuan sebagai tokoh utamanya. Nama tokoh utama itu Midah. Pendek sekali namanya. Hanya Midah. Kulitnya kuning. Wajahnya agak bulat. Kalau tersenyum, ih manisnya. Cantik parasnya, lentik suaranya, kuat hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Midah dilahirkan di tengah keluarga yang to’at beragama. Hadji Abdul nama bapaknya. Fanatik terhadap musik-musik berbau Arab. Umi Kalsum yang menjadi penyanyi favoritnya. Sampai ketika usia 9 tahun kehidupan Midah sangat enak. Ia dimanja dan dipangku-pangku. Karena memang ia anak tunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi berubah ketika Midah mempunyai adik yang mulai membanyak. Di rumah ia sudah mulai disepelekan. Perhatian bapaknya sudah sepenuhnya kepada adik-adiknya. Ia tak lagi dipangku-pangku. Ia tak lagi ditemani ayahnya untuk mendengarkan lagu Umi Kalsum. Midah sekarang seperti terkucil di rumahnya. Adik-adiknya telah merampas semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak betah, Midah sering keluar rumah dan biasanya pulang sore atau bahkan malam hari. Begitu seterusnya. Tapi bapaknya cuek saja. Apalagi ibunya. Situasi tidak berubah sama sekali. Ini makin membetahkan Midah untuk bermain-main di jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalanan itulah Midah kena pikat dengan pengamen keliling. Terutama lagu-lagu kroncong yang mereka bawakan. Midah senang sekali dengan keroncong. Ia ternyata sudah bosan dengan Umi Kalsum. Dibelinya beberapa piringan hitam kroncong. Sesingkat itu, Midah sudah hafal semua isinya. Saat itulah ia kepergok bapaknya. Ia dihajar habis-habisan gara-gara mendengarkan lagu haram di rumah. Di antara rasa takut berkecamuk di hati, Midah menyimpan benci kepada ayahnya ini. Ibunya juga tak bisa berbuat apa-apa. Di hadapan bapaknya, ibunya tak memiliki kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah suatu hari ketika ayahnya ingin menikahkan Midah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Dan syaratnya: selain laki-laki itu berasal dari Cibatok, desa ayahnya, juga berharta dan to’at kepada agama. Setelah tiga bulan perkawinan, Midah lari dari lakinya, Hadji Terbus, dengan membawa beban hamil karena (ke)tahu(an) Hadji Terbus memiliki banyak bini. Ia terseret di tengah rimba kejam jalanan kota Jakarta tahun 50-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fase pelarian inilah Pramoedya menggambarkan perempuan muda usia ini berjuang sekeras-kerasnya dan sekuat-kuatnya untuk bertahan hidup. Midah dituturkan sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup; walaupun ia hanya menjadi penyanyi dengan panggilan “simanis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto yang lain, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kandungan (hasil perkawinannya dengan Hadji Terbus) yang makin membesar dari hari ke hari, Midah memang tampak kelelahan. Lelah sangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan kita tahu Midah memang kalah (secara moral: ia menjadi penyanyi + pelacur kelas elite) dalam pertaruhan hidup itu dengan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram, lewat novel ringan ini, memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang humanis dan moralis. Di satu sisi  Pram ingin menegaskan kekuatan seorang perempuan berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan. Seorang perempuan yang tak mudah ditaklukkan oleh apa pun. Perempuan yang melela mengarungi hidup dengan segenap keyakinan yang penuh sungguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sisi lain Pramoedya juga ingin memperlihatkan kebusukan kaum moralis—lewat tokoh Hadji Trebus dan Hadji Abdul—yang hanya rajin zikir tapi miskin citarasa kemanusiaan. Dan juga serakahnya tak ketulungan. Walaupun novel ini ringan dan tipis, tapi tidak picisan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8933838933994490453?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8933838933994490453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8933838933994490453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8933838933994490453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8933838933994490453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/yang-cantik-yang-tak-mudah-ditaklukkan.html' title='Yang Cantik Yang Tak Mudah (Di)Takluk(kan)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4497916194640511341</id><published>2009-04-20T20:25:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T20:30:09.593-07:00</updated><title type='text'>Pram, Srikandi, dan Seks</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek dan ibu saya menjiwai karakter semua perempuan kuat dalam tulisan-tulisan saya. Dan mereka menjiwai semua orang yang berjuang menjadi diri sendiri.” -- Pramoedya Ananta Toer&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir separuh hidupnya, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan sepuh yang namanya berkali-kali masuk dalam kandidat pemenang nobel sastra, sangat dipengaruhi oleh perempuan. Betapa tidak, sepenuturannya dalam pelbagai forum diskusi dan bedah bukunya, nenek dan ibunyalah yang sangat memengaruhi etalase kepribadian dan kesadarannya. “Dari merekalah saya temukan arti harfiah dari kata pahlawan, yakni pribadi—tak perlu seorang yang besar, tapi hanya pribadi biasa—yang hidupnya bermanfaat bagi orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari neneknya Pramoedya belajar bagaimana tegar menghadapi hidup walaupun kekalahan terus membayangi. Kekecewaan yang datang bertubi-tubi dan menumpuk selama bertahun-tahun mungkin mampu menghancurkan seseorang, tapi tidak neneknya. Dia adalah pribadi yang tidak bergantung pada orang lain, walaupun itu anak atau cucunya sendiri. Dia bergantung hanya dengan dirinya sendiri. Dan neneknya ini memang kalah dalam artinya yang sangat pahit: mati di tengah jalan, sendiri dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan sikap neneknya itu kemudian terwaris dalam alam kesadaran ibunda Pramoedya. Dalam kenangan Pramoedya, ibunya tumbuh berkembang dengan keyakinan nasionalis yang kuat. Kemandirian untuk menjadi tuan di rumah dan di negeri sendiri menjadi seruannya. Di sisi lain dia hanyalah seorang yang harus berkuasa atas nasib dia sendiri, sehingga harus menjadi individu yang mengontrol kehidupannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah yang mendorong Pramoedya untuk unggul di sekolah (ibunya jualah yang selalu menyemangati si sulung itu untuk tetap bertahan ketika ia ingin berhenti sekolah karena malu setelah 8 tahun selalu mendapatkan angka jeblok), hingga kelar, agar bisa mendaftar di Institut Kejuruan (semacam STM sekarang ini) di Surabaya di mana Pramoedya bisa belajar menjadi seorang operator radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunyalah yang mengajarkan Pramoedya untuk mencintai pekerjaan apa pun yang dikerjakan selama kita tidak melakukannya untuk kepentingan kolonial karena itu sama saja dengan bekerja sama untuk menjajah bangsa sendiri. “Jangan pernah mengemis,” begitu ibunya menekankan, “jangan pernah mengemiskan sesuatu yang bukan hakmu, walau hanya sebuah buku tulis. Mencari dengan jerih-payahmu sendiri lebih baik daripada hasil pemberian.” Itulah yang mendorong Pramoedya berpikir untuk mencukupi kebutuhannya sendiri: dengan uang hasil panen yang ia jual ke pasar, ia membeli beberapa ekor ayam. Telur-telurnya lalu ia jual dan uangnya ia belikan beberapa ekor kambing. Dalam suluhan ibunya itulah Pramoedya bisa mandiri dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pengaruh perempuan dalam kesehariannya itulah yang barangkali menarik Pramoedya menampilkan sosok perempuan di titik pusat karya-karyanya, sebarisan srikandi yang berenang dan bertarung dengan kekuatan sejarah. Para srikandi ini, di tangan Pramoedya menjadi kekuatan anonim yang dengan kekuatan individu yang dipunyainya coba berdiri tegar di zaman yang penuh daya dera yang menggilas, walaupun pada akhirnya mereka kalah dalam pertarungan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah empat jilid roman Tetralogi Buru. Di sana kita dapati sebarisan srikandi yang dengan segala sungguh mengibarkan panji-panji perjuangan dan heroisme dalam arus sejarah. Sanikem, yang kemudian kita kenal dengan Nyai Ontosoroh, adalah salah satu srikandi yang kuat itu. Ia dijual oleh ayahnya sendiri yang kebelet naik pangkat dengan seorang administratur pabrik gula Sidoarjo, Herman Mellema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu ia menjadi korban tindasan sistem pergundikan mahakejam, menjadi nyai dari laki Belanda tanpa ada ikatan hukum apa pun. Namun dengan segala kegigihannya, ia berusaha sekuat-kuatnya meloloskan diri untuk tidak menjadi gundik tolol, yang serelanya menjadi jongos seksual laki-laki. Dengan menggunakan—tepatnya mencuri—pengetahuan suaminya (Barat), ia mengisi kekosongan otaknya dengan pengetahuan: belajar membaca dan menulis, berwicara dengan bahasa Belanda, menulis dengan bahasa Belanda, terampil dalam ilmu pembukuan, dan sejingkat demi sejingkat belajar mengelola perusahaan susu sambil perlahan-lahan mengumpulkan modal sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setting dialog dengan Nyai Ontosoroh ini, Minke, sang protagonis dalam roman ini, tak lebih hanya seorang pemuda lugu. Minke seakan tenggelam dalam kecerdasan alamiah dan bayang-bayang perbawa perempuan kuat dengan segudang pengetahuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan lain adalah Bunda, ibu Minke sendiri. Perempuan ini adalah perpaduan antara sikap lemah dan naif dengan kedalaman filosofi hidup yang tercerap dalam jejalan pengalaman yang luar biasa. Di satu sisi ia selalu memperingatkan Minke untuk selalu menghormati dan memberikan sumpah-sembah kepada ayahnya yang haus akan jabatan dan kekuasaan, tapi di sisi lain ia bisa mengerti dan menerima kehendak anaknya yang “emoh” menjadi bupati melainkan bersikukuh menjadi jurnalis, manusia mardika yang menyuluhi bangsanya dengan pena di jalan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain adalah Ang San Mei, seorang aktivis yang dengan keteguhan hatinya dan cintanya kepada tanah airnya Tiongkok, telah menariknya ke dalam pasang-surut pergerakan dan terlabuh dalam kelupaan akan kepentingan pada diri sendiri: kepentingan merawat tubuh dan bersolek sebagaimana perempuan lazimnya. Bersama Minke, ia terlibat dalam percintaan yang aneh selama lima tahun—sangat jarang berkumpul karena Ang Mei tiap malam harus keluar menghadiri rapat-rapat pergerakan bawah tanah, sementara Minke sibuk kuliah dan mengurus korannya. Karena didera oleh penyakit, Mei pun meninggal. Hadirnya tokoh ini memberi romantika tersendiri dalam roman jilid ketiga ini (Jejak Langkah) yang sarat dengan gagasan politik besar dan isu-isu pergerakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan antara Minke dan Mei terlukis rasa cinta yang tak sepenuhnya saling memahami, tapi penuh kepercayaan satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srikandi yang lain yang berwatak sama dengan Ang Mei adalah Siti Soendari, kawan sesekolahan Minke yang tinggal di Pemalang. Dari perempuan ini tergambar sebersit tekad bagaimana seorang manusia yang selama ini direndahkan oleh adat feodal Jawa untuk kawin diusia muda berhasil menampik permintaan ayahnya untuk segera menikah dan memilih menjadi perempuan mardika yang bekerja demi cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula Prinses van Kasiruta, seorang gadis maluku yang cantik yang kilauan mata birunya berhasil merebut hati sang pemimpin redaksi Medan Prijaji, Minke, dan mereka pun menikah. Prinses dibesarkan dalam keluarga pergerakan, berpendidikan, dan mahir bercakap dalam bahasa Sunda dan Belanda. Tidak cuma itu, ia juga terlatih secara fisik: menunggang kuda dan menembak. Dari perempuan inilah kita menemukan perpaduan manusia yang kuat dalam otak maupun otot. Nantinya, perempuan ini yang dengan keras melindungi Minke dari beberapa kali usaha percobaan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain roman Tetralogi Buru, dalam karya Pramoedya yang mengagumkan yang lain, seperti Gadis Pantai, Midah Simanis Bergigi Emas, dan Larasati, para srikandi juga menjadi sentrum penceritaan dalam bergelut dengan kelindan peristiwa-peristiwa besar dan kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Pantai disebut-sebut roman paling indah menggambarkan perlawanan seorang perempuan papah menguliti jahatnya sistem perbudakan yang diselimuti feodalisme Jawa plus dibungkusi oleh praktik agama yang disalahpahami. Dikisahkan bahwa Gadis Pantai adalah perempuan asal kampung nelayan di Jawa Tengah yang masuk dalam lingkup pemerintahan Kabupaten Rembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah gadis manis yang dengan kecantikan alamiah perempuan Jawa cukup ampuh untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Dia diambil istri oleh pembesar tersebut dan menjadi apa yang dikenal dengan Mas Nganten atau Bendoro Putri. Perempuan yang melayani “kebutuhan” seks laki-laki sampai kemudian dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas dan sederajat dengannya. Dia tidur dengan pembesar itu. Membantu mengurus dan memerintah di kompleks keresidenan, paviliun, kandang-kandang, dan bahkan sebuah masjid. Perkawinan itu memberikan prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang memilikinya, tega membuangnya—setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergulatan Midah juga serupa, melawan keangkuhan dan kekuasaan patriarki seorang ayah. Ia berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ia lari ke jalanan dan berusaha menaklukkan hawa jalanan yang ganas semampu ia bisa walaupun akhir-akhirnya harus kalah. Di novel ini para lelaki tak ubahnya sosok-sosok lemah yang wajah aslinya dipampangkan sedemikian vulgar: sosok-sosok yang buta matabatinnya dalam segala anotasi kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Ara dalam Larasati juga demikian. Ara merupakan representasi dari keteguhan seorang perempuan dalam golak revolusi yang dipenuhi oleh segerombolan laki-laki bersenjata dari pelbagai watak: dari yang kasar hingga yang paling gombal dan hidung belang. Dari kisah dirinya terpotret sepenggalan sejarah hiruk-pikuk revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik adalah terjadinya pergeseran komposisi teknik literair dari percakapan antar tokoh-tokoh perempuan dan tokoh laki-laki. Entah mengapa, perbincangan antara Minke dan tokoh perempuan selalu menyenangkan yang di setiap barik kalimatnya terlontar dan tercetak ruas ajaran dan kedalaman hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks seakan berjalan sendiri tanpa rencana hingga menjumpai sendiri batas estetiknya. Simaklah percakapan antara Ontosoroh dan Minke—atau yang lebih indah antara Minke dan Bunda—kita akan menemukan kilatan-kilatan teks yang indah, sebagaimana tersurat dalam salah satu paragraf di Bumi Manusia (nasihat Ontosoroh kepada Minke): “Cerita, Nyo, selamanya bicara tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia…. Nyo, jangan sekali-kali menganggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Gadis Pantai, komposisi literair dari percakapan yang memikat juga bisa kita temukan. Setting percakapan yang paling indah dalam roman ini adalah di kamar Kadipaten yang dingin antara Gadis Pantai dengan Simbok. Tidak ada kelebatan teori-teori besar tersebar dari sini. Sebab Gadis Pantai hanya anak pantai yang lugu dan selalu ingin tahu, sedangkan Simbok hanya seorang bujang Kadipaten dan masih sempat menyaksikan sisa-sisa terakhir pemberontakan Dipanegara yang gagal itu. Tapi di sinilah dengan cara perlahan-lahan, kebuasan feodalisme disingkap. Sangat lambat memang, tapi membuat kita menahan nafas membacanya. Saya kira, dari percakapan dengan Simbok-lah yang kemudian memunculkan kata-kata Gadis Pantai yang sangat tajam, pedas, dan mengena yang senatiasa diingat-ingat oleh pembaca roman ini: “Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menjadi lain struktur teknik ketika tokoh-tokoh protagonis berbicara dengan laki-laki. Roman Tetralogi Buru adalah contoh yang paling pas dari gambaran perubahan komposisi struktur literair itu. Hampir-hampir diskusi yang berlangsung bersama segerombolan laki-laki terkesan sangat kering dan verbal. Renungan-renungan Pangemanann (dengan dua n) tak ubahnya filsafat politik dan catatan perbandingan dua kebudayaan (Jawa dan Belanda), dua moralitas (Pribumi dan Penjajah), dan dua hukum (Islam dan Barat). Perbincangan Gubernur Jenderal Van Heutz dan Minke mirip notulensi politik dan laporan jurnalistik. Dan dari percakapan Minke dengan ayahnya yang tercuap hanya melulu soal kekuasaan dan sembah-sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Arus Balik percakapan yang datar dan verbal juga kita temukan di antara deretan lelaki, misalnya antara Galeng dengan Syahbandar Tuban, Tholib Sungkar, atau dengan Adipati Tuban Arya Teja Wilwatikta. Betapa sangat berbeda percakapan antara Galeng dengan sang kamaratih Tuban, Idayu; atau keduanya (Galeng-Idayu) dengan Rama Cluring, begawan misterius, yang walaupun hanya dalam sekilatan cerita (tak sampai 10 halaman), menjadi sangat kuat dan meninggalkan kesan bagi pembaca ketimbang gelontoran kalimat pengisahan dan jubelan tokoh yang datang-pergi dalam 700 halaman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan Bendoro dalam Gadis Pantai. Percakapan melulu berputar soal agama, jabatan, acungan telunjuk perintah dan keangkuhan khas elite Jawa yang berkuasa atas rakyatnya. Demikian pula percakapan antara Midah dengan Hadji Abdul, ayahnya, (atau Ahmad, polisi yang lari dari tanggung jawab setelah menghamilinya di jalanan) yang hampir-hampir tanpa sentuhan emosi yang humanis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya—sebagaimana pernah ditanyakan Ignas Kleden dalam esainya yang bagus—mengapa ketika alur cerita berjumpa dengan sebarisan srikandi, cerita menjadi literair dan pengarang menjadi pencerita narasi yang mahir; sementara ketika alur bertemu dengan segerombolan laki-laki, cerita menjadi autorial dan pengarang menjadi komentator atas ceritanya sendiri (sebagaimana terbaca dalam Tetralogi Buru, Arus Balik, Gadis Pantai, Larasati, maupun Midah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali salah satu sebabnya adalah karena ketika betemu dengan sebarisan srikandi, dialog yang terjadi antara dua pribadi atau beberapa pribadi (Minke dengan Annelis, Ontosoroh, Bunda, Ang Mei, Prinses van Kasiruta; Gadis Pantai dengan Simbok; Galang dengan Idayu, Siti Aisah dengan Patih Unus; Midah dengan Ibunda dan Bibi Riah [bujang di rumah Midah]). Sebaliknya, dalam dialog dengan lelaki, pembicaraan berlangsung antara dua gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir yang memburu kemudian adalah di mana letak seks dalam sederet karya Pramoedya Ananta Toer dengan sebarisan srikandi yang dihadirkannya di panggung cerita? Untuk menjawab pertanyaan itu baiknya kita kutipkan pendapat Taufik Rahzen dalam peluncuran buku “edisi perempuan” dan dialog bersama Pramoedya Ananta Toer yang dimoderatori Edy A. Effendi, 12 Agustus 2003 di Jakarta. Rahzen mengandaikan adanya tiga tali simpul dari karya-karya Pramoedya. Simpul kesatu adalah kebenaran. Kebenaran bukan kekuasaan. Kebenaran menuntun, sementara kekuasaan memerintah. Kebenaran, seperti halnya traktat sejarah, adalah tempat orang melanglangi dunia. Kebenaran adalah asas adalah lentera ke mana seseorang melangkah. Dengan kebenaran seseorang jadi tahu dari mana ia berangkat dan mengikuti ke mana pendulum tujuannya bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpul kedua adalah keadilan. Kebenaran harus ditabrakkan dengan kenyataan sosial dalam sirkulasi yang dialektis. Kebenaran yang tidak menyata dan memerjuangkan keadilan bukanlah ajaran, melainkan penjara langit. Di simpul keadilan ini kebenaran diuji dalam golak sejarah, baik di ranah struktural (kekuasan politik) maupun kultural (strategi kebudayaan). Pertautan antara kebenaran dan keadilan itu yang melahirkan simpul ketiga, yakni keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan yang dipahami Pramoedya tidak sama dengan keindahan yang dikonsepsikan oleh sastrawan Balai Pustaka dan para pewarisnya, yakni kemahiran mengutak-atik bahasa. Bagi Pramoedya, keindahan terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini menjadi jelas bahwa cita-cita pembebasan adalah muara segala nafas cerita yang dikoreoscriptakan Pramoedya, termasuk anggitan dan gerak-gerik watak tokohnya. Maka seks (yang vulgar) menjadi sesuatu yang “tabu” dalam gulungan cita-cita pembebasan. Sebab seks vulgar di mana pertemuan dua jenis bibir anak manusia jadi tujuan dari setiap pergulatan, tegas Pramoedya dalam Realisme-Sosialis dan Sastra Indonesia, adalah khas “sastra ngak-ngik-ngok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun seks kita temukan, maka jangan bayangkan pendetailannya sevulgar Ayu Utami dalam Saman dan Larung-nya yang dikomentari Pramoedya sebagai novel yang isinya seks melulu. Bacalah “making love” Minke dengan si Bunga Akhir Abad, Annelis, dalam Bumi Manusia yang mirip ritual penyembuhan dari sakit Annelis yang alih-alih membuat pembaca terangsang, malahan membuat kita tertawa dan menganggap pengarangnya sama sekali buta dengan soal-soal seks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kisah dalam Bumi Manusia itu, praktis kita kesulitan menemukan adanya seks yang romantis; yang banyak tersurat adalah adegan kekerasan seksual sebagaimana terbaca dalam Arus Balik ketika Idayu diperkosa Tholib Sungkar ataupun kisah-kisah gadis yang keperawanannya direnggut paksa oleh tentara-tentara Jepang dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Bagi Pramoedya, kekerasan seksual terhadap perempuan menjadi salah satu mandat yang harus dibela dan diatasi dalam visi besar pembebasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pungkasnya, seks dalam wacana karya-karya Pramoedya diletakkan dan disimpan rapat-rapat dalam peti ideologi dan cita-cita besar untuk menyuluhi nasionnya. Karena memang tugas mengarang bagi Pramoedya adalah semacam mandat nasional yang mau tidak mau harus bisa mencerahkan kesadaran (politik dan humanisme) masyarakatnya. Maka pahamlah kita mengapa Pramoedya dengan cukup dominan meletakkan kehendak bebas dan perjuangan sebarisan srikandi—dan bukan seks (yang vulgar)—dalam setiap halaman karyanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4497916194640511341?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4497916194640511341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4497916194640511341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4497916194640511341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4497916194640511341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pram-srikandi-dan-seks.html' title='Pram, Srikandi, dan Seks'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5167895052394569836</id><published>2009-04-20T20:22:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T20:24:55.185-07:00</updated><title type='text'>Ensiklopedia Kawasan Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki perpustakaan Pram di lantai tiga rumahnya yang asri di Bojong Gede, Bogor, kita langsung dihadang sebarisan klipingan berkelok-kelok. Seperti tentara, semua klipingan itu berdiri seragam dengan mantel oranye yang menyala di atas almari buku. Tak ada satu pun tercecer dalam barisan. Rapi. Bersih. Tegap.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan itulah yang selalu menjadi impian Pram sejak 1982. “Bung, bagus mana namanya: Ensiklopedi Citrawi Indonesia atau Ensiklopedi Kawasan Indonesia,“ kata Pram kepada sahabat dekatnya Mujib Hermani pada suatu hari memilih judul yang tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang memiliki impian untuk bisa memandang Indonesia seutuhnya. Maka dikerjakannya proyek yang hampir mustahil itu seorang diri. “Ini saya kerjakan sebagai konsekwensi pandangan saya sendiri: untuk dapat mencintai tanahair dan bangsa secara wajar orang dituntut untuk tahu tentang yang dicintainya, tanahair dari sosio-geografinya, bangsa dari sejarahnya. Kalau tidak cintanya terhenti pada cinta monyet. Dari pengalaman selama 4 tahun ini saya jadinya bisa banyak bercerita yang aneh-aneh tentang tanahair ini. Memang belum saya bikin catatan, masih tersimpan di kepala, namun tetap tak teragukan keorisinalannya,” tulis Pram dalam suratnya kepada sosiolog Ariel Heryanto yang bertanggal 23 Maret 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya: setiap hari ia akan menggunting koran. Ada Kompas, Pelita, Media Indonesia, dan sebagainya. Tapi Pram hanya menggunting yang terkait dengan geografi Indonesia: desa, gunung, laut, kebudayaan, dan sebagainya. Dan itu dilakukan dengan sangat disiplin. Pram akan menggunting pada jam 8 pagi setelah kerja-badan dan akan mengelem pada malam harinya. Jika tak sedang di rumah, ia akan selalu membawa gunting, lem, pena, dan dibelinya koran-koran di jalan. Demikian dilakukannya kegiatan itu selama puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukannya Pram tak pernah disundut jenuh. Kadang ia mengeluh. “Telah hampir 4 tahun ini saya mengerjakan kamus sosio-geografi Indonesia. Tanpa pernah mengenal hari libur. Untuk itu saja 10 jam setiap hari. Beberapa jam lainnya untuk pekerjaan lain-lain. Dalam sebulan itu belum lagi mampu menyelesaikan 4 kabupaten. Soalnya orang Aceh—Aceh sebagai kesatuan administratif, bukan etnis—betul-betul tidak kreatif. Nama desanya merupakan ulangan-ulangan yang melelahkan, sama halnya dengan nama desa orang Jawa. Maka saya hentikan dan beralih pada Kab. Gorontalo. Suatu kesegaran tersendiri. Soalnya: hampir tak ada nama desa kembar di sini. Maka saya nilai kreatif. Pekerjaan ini mungkin memakan waktu 12 tahun lagi. Mengingat, mungkin dalam waktu itu saya sudah mati, maka pekerjaan saya batasi sedemikian rupa, hingga hanya menggarap bahan dasar. Agar kelak orang dapat meneruskan bila toh tubuh tak dapat dipertahan lagi. Tadinya memang saya anggap dapat diselesaikan 2-3 tahun. Itu karena pengaruh Ensiklopedi Hindia Belanda, yang melihat dunia kekuasaannya berhenti sampai di distrik. Pandangan saya sebaliknya dari bawah, desa sebagai unit administrasi terkecil, ke atas, sampai propinsi dan negara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram pun kadang berandai sekiranya menang Nobel, uangnya untuk membiayai impian terakhir hidupnya itu. Ia ingin menjadi penyedia pengetahuan yang berarti untuk masyarakat tentang apa arti ribuan pulau Indonesia yang besar dan luas ini. Andaian itu kadang terdengar melankolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya ingin mempercepat selesainya. Tapi dengan catatan saya dibantu paling tidak 10 orang. Dan itu bisa dilakukan selama 2 tahun. Tapi uang darimana saya dapatkan untuk menggaji orang-orang ini,” keluh Pram setelah 23 tahun menggunting bahan dari koran yang terbit tiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tahu Pram tak pernah memenangkan Nobel yang dinazarkannya untuk ensiklopedia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar dengan itu, tak lantas ia patah arang. Sebab bukan itu perkaranya. Ini soal cinta. Maka ia bekerja terus dengan cara-cara yang jauh dari cara kerja teknologi yang serbacepat seperti mengundu dari internet. Ia serupa dengan para rahib yang tetap bertahan di gulungan waktu. Maka senjata utama Pram hanyalah koran, gunting, lem, kertas, dan mesin tik Olympus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkakas manual itu, sekian tahun Pram telah menyempurnakan beberapa bagian. Terutama dasar-dasar entri ensiklopedia, semisal nama desa dan kota. Namun keterangan tentang entri dasar itu masih belum tersusun. Keterangan itu berpencar dalam 81 barisan guntingan koran yang tersusun rapi berkelok-kelok yang tebalnya kurang lebih 16 meter. Masing-masing volume sudah diberi nama entri, misalnya: Ampibabo-Aosale Ds, Harto-Hutan, IAIN-Iyukecil, Jakarta-Jalak Bali, Mahato Ds-Mamuju, Sarabua-Semanggi, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entri paling banyak adalah Timor Timur dan Aceh. Khusus Aceh, ini mungkin sebagai permohonan maaf Pram atas ulah manusia Jawa menginvasi Aceh. Kata Pram: “Saya merasa berutang pada Aceh. Ratusan tahun Jawa mengirim pembunuh bayaran ke Aceh. Sejak zaman kumpeni Aceh punya keberanian individu, Jawa punya keberanian kelompok. Beda sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling sulit bagi Pram—dan karena itu terkumpul sedikit—adalah entri U, V, W, Y, dan Z. Entri X bahkan tak ada sama sekali. Jika tak direnggut batas hayat, mungkin Pram tak akan berhenti mengumpul bahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadi takjub. Mungkin malu. Bagaimana bisa dengan kebebasan yang sangat terbatas dan minimal serta memakai cara-cara manual itu, Pram seorang diri bisa membangun sebuah proyek yang hampir mustahil dilakukan dengan hanya mengandalkan dua tangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya adalah kecintaan yang berlebih atas tanah air dan bangsa. Kecintaan itu mengabaikan semua halangan dan serbaketakmungkinan. Cinta yang begitu melahirkan asketisme. Asketisme tak berbicara uang, walau itu penting. Asketisme adalah sebuah sikap mandiri, konsisten, dan sendiri menerobos waktu untuk mencari renik demi renik pengetahuan. Dan Pram bukannya tak tahu diri, tak tahu batas. Karena itu, ia hanya menunjukkan jejak. Para pewarisnya yang bertugas melanjutkan pekerjaan raksasa yang ditinggalkannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan sebelum berangkat, Pram masih menggunting untuk ensiklopedi impiannya. Tapi ia sudah tak setangguh seperti sediakala. Dan entah kebetulan atau tidak, entri terakhir yang diguntingnya justru adalah kerusuhan freeport di Abepura, Papua; propinsi paling timur Nusantara. “Untuk baca satu artikel Papua saja, Pram beberapa kali terbaring. Tahu kekuatannya hampir habis, Pram lalu menulis: PAPUA. Selesai. Sampai di situ saja klipingannya,” kenang Astuti Ananta Toer, puteri keempatnya.&lt;br /&gt;Hah, 23 tahun Pram menjejaki Nusantara dengan koran, gunting, dan lem. Ia masuki satu demi satu dusunnya. Dan ia tahu juga bahwa perjalanan harus berakhir. Bukan di Jakarta, tapi di Abepura, Papua. Di Papua, Saudara!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5167895052394569836?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5167895052394569836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5167895052394569836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5167895052394569836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5167895052394569836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/ensiklopedia-kawasan-indonesia.html' title='Ensiklopedia Kawasan Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4859076102265905543</id><published>2009-04-20T20:21:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T21:02:41.020-07:00</updated><title type='text'>Menggelinding: Pram yang Berkobar-kobar</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku gemuk ini terbit setelah usia Pram berumur sewindu. Judulnya aneh: Menggelinding. Menurut penerbitnya, Lentera Dipantara, Pram yang memberinya judul demikian.&lt;span class="fullpost"&gt; Buku itu bukan buku utuh. Lebih tepatnya gado-gado. Terdiri dari sajak, esai, cerita pendek, serta beberapa lagi pamflet dan tulisan remeh-temeh. Disusun berdasarkan tahun-tahun kapan tulisan itu dibuat di antara rentang tahun 1947 sampai 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini seperti rambu petunjuk melihat sisi lain Pram di usia kepengarangannya yang masih muda. Membaca buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa Pram adalah manusia-manusia penulis muda pada umumnya. Macam-macam minatnya. Bahkan tanpa diketahui banyak kalangan, Pram juga ternyata menulis beberapa puisi (hanya 3 biji, sic!), walau sebelumnya itu tak diakuinya. Sebab katanya, “Puisi sama sekali tak bisa mengenyangkan perut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca karya-karya awal Pram, pastilah kita akan menemukan pribadi yang putih, polos, apa adanya, dan belum terbebani oleh pesan-pesan ideologi tertentu. Ia bahkan menjadi pemuda yang minder. Bahkan di depan HB Jassin ia mengaku tak ubahnya katak yang mengibakan hujan (baca: Pecahnya Kongsi Timah Guru-Murid). Tatkala orang-orang Lekra dan Gelanggang mulai saling “melirik”, Pram, sebagaimana kita baca  dalam salah satu esainya, masih kukuh memosisikan dirinya sebagai seorang penonton bebas dan bukan pemain utama dalam laga saling kemplang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat-saat kreasi awal ini boleh dibilang Pram tak ubahnya pengarang yang menggelinding digiring kehendak muda yang meraung-raungkan cita-cita dalam pencarian arah hidup. Di sini terlihat betul Pram menulis dengan gelora muda. Ia adalah seorang anak muda peramu isu yang lihai. Juga seorang dokumentator yang tekun serta pembaca dunia yang haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran di usia kepengarangan yang dini ini Pram telah mengenal banyak nama-nama pengarang dunia. Sebut saja antara lain Victor Hugo, Jose Rizal, Zola, Tolstoy, Gogol, Mayakovsky, Gorky, Nikolai Ostrovsky, Vsevolod Ivanov, Mikhail Sholokhov, Fyoder Gladkov, Isakovsky, Valentin Katayev, Ilya Ihrenburg, Leonid Leonov, John Steinbeck, Dostoyevsky,  maupun Iganzio Silone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan bahasa tulisnya yang khas yang memang garang, meledak-ledak, dan cenderung tidak bertele-tele, ia menggugat banyak hal yang menurutnya tidak beres dan harus diluruskan. Salah satu yang menjadi keprihatinannya, tentu saja tugas-tugas kepengarangan yang menjauh dari masyarakat. Sejak usia kepengarangan dini, Pram sudah disadarkan lewat perkenalannya dengan karya sastra dunia bahwa pengarang adalah anak kandung masyarakat. Maka, patokan sastra pun mau tak mau bertumpu dan bersangkut dengan arus masyarakat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram tidak ingin mematokkan diri pada definisi kesusastraan tertentu yang menurutnya membekukkan. Biarlah pembaca yang menentukan sendiri apa definisinya. Karena setiap karangan adalah proyek yang sesungguhnya penuh retak, sesuatu yang belum selesai. Dan pembaca melalui imajinasinyalah yang menyambung-nyambung retak itu dan menyelesaikannya. Sebab pada dasarnya tugas penulis hanya menulis. Tak lain tak bukan dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Pram seperti tidak dibebani apa pun menulis apa saja yang menurutnya perlu dituliskan. Tentang nasionalisme. Tentang dunia tentara. Tentang masa depan sastra yang diimpikannya. Tentang bahasa Indonesia. Tentang anak muda dan dunianya. Tentang romansa cinta lelaki introvert pemalu yang kandas. Tentang Tuhan. Tentang Jakarta yang kumuh. Tentang dunia cabul dan seks yang dihindari sedemikian rupa oleh Pram walau ketika berkeluarga, Pram adalah sosok yang doyan bikin anak (anaknya 9 orang. Masya Allah!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Pram berbicara tentang buku. Tentang dunia kolonial. Tentang pemerintahan yang awut-awutan. Tentang dunia pengarang yang memprihatinkan lantaran oleh penerbit dan pemerintah yang tak tahu diri dikemplang honorariumnya dan dikenai pajak yang sangat tinggi. Dan salah satu pengemplang hebat itu bernama Balai Pustaka. “Bagi pengarang yang hanya hidup dari kepengarangan, Balai Pustaka adalah penerbit yang benar-benar dihindari karena membangkrutkan pengarang,” raung Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, Pram menulis segala hal dan apa pun yang dilihatnya, dicerapnya, dibacanya, didengarnya, atau yang diimpikannya. Semuanya dituliskannya. Sebab Pram punya prinsip bahwa, “Semuanya harus dituliskan. Apa pun… jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau dengan itu, kawan-kawannya seperti Idrus, M Balfas, mengatainya bahwa ia sudah gila, bahwa ia tidak lagi menulis, melainkan berak. Seorang broodschrijver, penulis yang menulis untuk sesuap nasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumlah, ia adalah sejenis pengarang yang tidak pernah punya waktu istirahat. Di mana pun ia berada ia bekerja, apakah sewaktu menonton di bioskop, sewaktu bertukang kayu, sewaktu duduk termenung terantuk-antuk seorang diri, sewaktu sedang makan, mandi, juga sewaktu ia mimpi dalam tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal lagi, Pram tak pernah menyepelekan hasil karya yang pernah dituliskannya. Seremeh temeh apa pun itu karya. Ia akan merawatnya dan mendokumentasikannya sebaik-baiknya serapi-rapinya. Bisa Anda bayangkan, bahkan tulisan yang mirip sepotong iklan anjuran minum susu dan selebaran masih sempat-sempatnya ia kliping. Sebab baginya, semuanya adalah anak-anak ruhaninya yang patut mendapatkan perhatian dan kasih yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia kepengarangan muda ini kemudian lahir novel-novel awalnya yang mendapat apresiasi di jagat sastra Indonesia. Sebut saja: Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Mereka yang Dilumpuhkan, dan sebagainya. Umumnya karya-karya itu lahir dari riak perang dan lembabnya lantai penjara (baca: Buku, Perang, dan Penjara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan Pram kemudian mendidih dan ganas ketika ia menjadi pengasuh rubrik “Lentera”, suplemen Harian Bintang Timur yang memiliki afiliasi kepada Soekarno. Artikel-artikelnya ofensif menyerang kalangan yang disebutnya para penyerimpung revolusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel-artikel ofensif itu terepresentasi oleh dua artikel Pram yang memang menyeramkan: “Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun” (10 Agustus, 1 September, 7 September, 12 Oktober 1962) dan juga “Tahun 1965: Tahun Pembabatan Total” (9 Mei 1965). Ibarat permainan sepak bola, Pram merangkum dua gaya sepakbola sekaligus: membangun kuat-kuat benteng pertahanan (Cattenacio Italia) sekaligus menyerang total (Total Football Belanda) lawan-lawan politik sastranya yang saat itu ia beri sebutan “Manikebu” (akronim dari Manifesto Kebudayaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana politik “banting stir” dan “vivere colosso” seperti ini Pram mengeluarkan sebuah novelet Sekali Peristiwa di Banteng Selatan yang oleh banyak kalangan disebut karya yang gagal. Mirip dengan iklan gotong-royong. Garing dan melenceng jauh dari gaya penulisan novel Pram sebelumnya yang liris, empatik, dan humanis. Bahkan dibandingkan dengan Midah Simanis Bergigi Emas, novelet Banten Selatan tetap tak ada apa-apanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Pram adalah manusia yang mencari. Ia telusuri semua kemungkinan yang bisa ia masuki. Dan yang tetap tak berubah, Pram adalah seorang individualis. Ia tetap bekerja sendiri dan mengikuti bisikan hati dan pikirannya. Termasuk ketika ia diajak dengan Lekra dan bekerja dalam barisan Soekarno. Tapi sejarah berkata lain. Ideologi yang mengungkungnya justru mengantarkannya menjadi bulan-bulanan pemukulan sejarah yang coba ditafsir dan dijalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak habis. Ia masih bisa berkarya. Dan karyanya justru semakin berkilau dan disegani. “Pada akhirnya,” kata Pram, “bagi seorang pengarang, bukan isme-isme yang melahirkan karyanya, tetapi semata kemampuan pribadi.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4859076102265905543?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4859076102265905543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4859076102265905543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4859076102265905543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4859076102265905543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/menggelinding-pram-yang-berkobar-kobar.html' title='Menggelinding: Pram yang Berkobar-kobar'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8510393550963624406</id><published>2009-04-20T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:22:01.586-07:00</updated><title type='text'>Jalan Raya Pos: Beberapa Kritik</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Diana AV Sasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kepiawaiannya mengaduk-aduk emosi pembaca melalui alur cerita yang runtut dan mengugah dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca)—yang ditulis dengan gaya tutur roman, menilik ketekunan dan kegigihannya dalam menyunting dan menyusun pelbagai sumber sejarah hingga menjadi karya Sang Pemula dan Panggil Aku Kartini Saja yang merupakan karya non fiksi—maka buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels nampaknya merupakan sebuah karya yang disusun Pramoedya Ananta Toer untuk menggabungkan gaya keduanya tapi justru kehilangan arah penulisan yang jelas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, demikian judul yang tertera di sampul depan dengan ilustrasi sebuah latar belakang aktivitas kerja rodi, sebuah peta, dan seorang kumpeni menaiki kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ringkasan di sampul belakang dan pengantar penerbit di awal tulisan—entah mengapa tak ada pengantar penulis seperti pada karya-karya Pram yang lain—melalui Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini, Pram ingin menuturkan kembali sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia Pribumi itu. Sebuah upaya memberikan sumbangan catatan sejarah pada dunia dengan menjahit-jahit serangkaian catatan perjalanan, beberapa hasil wawancara singkat, buku dan jurnal sejarah, ensiklopedi, serta beberapa surat kabar. Judul yang mengusik ingatan dan pengantar yang satir ini membuat keinginan untuk segera mengetahui fakta-fakta sejarah yang akan dituturkan serasa menyeruak begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan sub judul Blora-Rembang, Pram mencoba memberikan sebuah gambaran ringkas mengenai Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels. Jalan yang membentang sejauh 1000 km dari Anyer sampai Panarukan ini dibangun pada 1809 oleh Maarschalk en Gouverneur General Mr. Herman Willem Daendels melalui penjatahan pada para bupati yang wilayahnya dilalui jalan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Daendels tidak sepenuhnya membangun, pada beberapa ruas, dia hanya sekadar melebarkan karena jalan itu sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Selama masa pembangunan itu, ribuan nyawa warga pribumi melayang karena kelelahan, kelaparan, dan terserang malaria. Di bagian ini Pram juga menuliskan kenangan masa kecilnya seputar kota Blora-Rembang dan pengetahuan awalnya semasa sekolah mengenai jalan Daendels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan sub bab Lasem, Pram mengulas lebih banyak—masih secara umum—tentang sejarah kebesaran kota Lasem, fakta-fakta mengenai Daendels-mulai dari ikhwal kedatangannya ke Indonesia yang tanpa dokumen, fakta bahwa dia adalah utusan negara Perancis yang sedang menguasai Belanda, sampai caranya memimpin yang kasar dan serampangan—gagasan awal mengapa Jalan Raya Pos dibangun, berikut tahap pembangunannya. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sub bab Anyer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini lebih banyak mengulas mengenai kedatangan awal Daendels ke Jawa. Dilanjutkan kemudian dengan sub bab Cilegon, Banten, serang, dan kota-kota lain yang dilalui jalan Daendels sampai Panarukan. Tidak jelas mengapa pembagian bab dimulai dari Blora dan bukan Anyer seperti mula jalan ini berujung. Karena disebutkan di awal bahwa ini adalah sebuah catatan perjalanan, barangkali perjalanan itu dimulai dari Blora. Tidak jelas kemudian dilanjutkan ke mana setelahnya. Hal ini membuat kerancuan pengertian karena pada tiap bab itu tidak semuanya membahas tentang jalan Daendels secara mendalam. Ada yang hanya sekadar catatan sejarah yang berhasil diingat (dihimpun?) penulis, ada juga yang sekedar penjelasan letak geografis secara umum (sekian kilometer ke utara/barat/timur dll). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, pembahasan mengenai Blora, Rembang, dan Lasem yang panjang lebar itu tidak berada di awal, melainkan di tengah, tepat ketika membahas jalan yang melalui kota itu. Inilah kelemahan awal buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 148 halaman dengan ukuran 13 x 20 cm ini disusun dengan tipografi dan layout yang tepat. Pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, jarak tiap baris, hingga jumlah baris pada tiap halaman nampak diperhitungkan betul sehingga memunculkan irama membaca yang tidak memerlukan kening berkerut atau mata menyipit. Cara bertutur Pram dalam karya ini juga sangat mudah dipahami, dan sebagai sebuah catatan sejarah, buku ini tidak terlalu berat untuk dibaca, bahkan bisa dibaca saat santai atau menjelang tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram mengajak ingatan pembaca untuk melompat-lompat pada beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota-kota yang di lalui jalan Daendels itu. Kemudian sesekali di giring pada pengalaman pribadinya di kota itu. Terkadang Pram juga menyisipkan informasi ’unik’ yang tak ada hubungannya dengan bahasan, seperti bahwa Matahari, mata-mata yang terkenal itu ternyata lahir di Priangan (Anda pasti bingung jika tak pernah tau siapa itu Matahari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak terlalu serius, maka tak ada masalah dengan buku ini, tapi jika kita sedang serius dan ingin menggali data lebih banyak mengenai jalan Daendels, maka ’lompatan-lompatan’ itu akan sangat mengganggu konsistensi perunutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman akhir dilampirkan beberapa sumber tulisan, sehingga nampak bahwa karya ini ilmiah. Akan tetapi sumber itu tidak benar-benar dirujuk, hanya sekadar dicantumkan saja. Jadi tidak jelas pada bagian mana sumber itu memberi kontribusi pada tulisan di dalam buku. Tidak ada foot note, apa lagi referensi. Sehingga, jika kita ingin menggali data lebih banyak, kita harus membaca sumber data itu lebih jauh-yang mayoritas berbahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga dilampirkan sebuah peta kuno, tapi tak banyak membantu karena nyaris tak terbaca. Ketika mencoba merunutkan jalur jalan itu pada peta modern, terjadi kebingungan ketika menemukan beberapa persimpangan jalan alternatif. Jadi tidak ada gambaran jelas, apakah jalan itu masih ada mengingat perubahan luas wilayah selama kurang lebih 2 abad itu cukup signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota seperti Anyer, Lasem, Surabaya adalah kota yang paling banyak berubah. Karena bencana, karena kondisi alam, atau juga karena pembangunan. Di Surabaya misalnya, tidak jelas yang mana Jalan Daendels yang menghubungkan Tambaklangun – Gresik - Surabaya dan Sidoarjo itu, karena memang saat ini ada beberapa jalur yang menghubungkan. Ketika disebut Wonokromo, semakin bingung dibuatnya, karena Wonokromo kini telah menjadi bagian dari Surabaya dan Tambaklangun masuk wilayah Gresik. Tidak ada informasi akurat mengenai hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan jalur Tuban-Gresik. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, dan jika merunut info dari Pram, maka jalurnya bukanlah jalan yang sering dilalui jalur trayek kendaraan umum, melainkan jalur alternatif yang melalui tanjung kodok (itu jika persepsi dan pemahaman saya benar). Ketidakjelasan ini dikarenakan, semakin ke belakang, bahasan dari tiap bab semakin seadanya, informasi mengenai jalan Daendels juga minim, lebih banyak sejarah secara umum tentang kota itu, seakan hanya apa yang terlintas di ingatan saja yang diungkapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah genosida yang sejak awal didengungkan, tidak banyak diungkap pada bagian-bagian akhir. Hanya secuil informasi di awal-awal penulisan bahwa pada beberapa ruas, terjadi kematian pekerja besar-besaran karena kelelahan, kelaparan, dan juga karena serangan malaria. Bupati-bupati yang tidak dapat memenuhi target pembangunan, kepalanya dipenggal dan digantung di atas pohon sepanjang jalan. Juga kekejaman Daendels dalam memaksa rakyat pribumi menyerahkan tanahnya untuk dijadikan jalan tanpa kompensasi dan kewajiban mereka untuk turut membangun, melebarkan, meninggikan jalan di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai referensi sejarah, yang di dedikasikan pada dunia, kelemahan detil informasi ini bisa vital karena menyangkut informasi yang akan disampaikan pada generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebuah kalimat “saya tidak pernah berjalan di atas bumi Panarukan” Pram mengakhiri penuturannya. Sebuah akhiran yang semakin membuat rancu ketika karya ini sering disebut—dan dinyatakan sendiri oleh penyusun—sebagai catatan perjalanan. Jika catatan perjalanan, maka perjalanan dari mana ke mana. Dari Blora ke Rembang atau Lasem? Jakarta - Bogor? Anyer - Bandung? Jakarta - Surabaya? Tidak jelas. Jika yang dimaksudkan adalah perjalanan hidup Pram, maka buku ini tengah kesulitan mencari genrenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari segala kelemahan tersebut, karya Pram ini—jika benar ini adalah karya Pram dan bukan sekedar serpihan catatan Pram yang dipadukan dengan beberapa sumber—telah memberikan masukan sejarah yang berharga bagi negeri ini. Karena memang tak banyak yang peduli pada sejarah yang telah terlupakan. Dan Pram adalah satu di antara yang tidak banyak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi tetap kita berikan karena harus diakui, ini mungkin satu-satunya sumber yang membahas mengenai jalan ini dalam bahasa Indonesia. Lagipula Jalan Raya Pos, Jalan Daendels memang bukan catatan sejarah yang serius seperti Sang Pemula, ini hanya sebuah catatan dari sekumpulan data sejarah dan romantisme perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasinya juga sudah cukup layak untuk dijadikan pengingat tentang kebesaran dan sejarah kota-kota yang dilaluinya. Hendaknya buku ini menjadi pijakan awal bagi generasi selanjutnya untuk menyusun literasi yang lebih komprehensif, terstruktur baik, dan ilmiah mengenai Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Sebuah jalan yang telah membawa pengaruh perubahan besar di sektor ekonomi, budaya, dan sosial bangsa ini hingga sekarang. Sehingga nanti akan ada sebuah literasi sejarah yang bisa lebih layak untuk dijadikan referensi pelajaran sejarah formal yang selama ini hanya berpaku pada satu sumber. Maka anak cucu kita akan mendapat informasi yang tepat mengenai sejarah bangsanya. Dan tidak sekali-sekali melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Diana AV Sasa&lt;/b&gt;, pencinta buku dan bagian dari klub KUBUGIL (Kutu Buku Gila). Tinggal di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8510393550963624406?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8510393550963624406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8510393550963624406' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8510393550963624406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8510393550963624406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/jalan-raya-pos-beberapa-kritik.html' title='Jalan Raya Pos: Beberapa Kritik'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1084547958979998834</id><published>2009-04-20T20:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:48:41.688-07:00</updated><title type='text'>Nyanyi Sunyi Pram di Perpustakaan Yogya</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fahri Salam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Pram meninggal, karya-karyanya masih seperti sayup suara yang lerai di rumah-bahasanya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya minat khusus dengan dia karena dia realistis,” kata Sujiyati, merujuk alasannya mencintai karya-karya Pram, dengan mimik serius dan nada tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujiyati mengajar bahasa Indonesia di kelas tiga SMU Negeri 3 Yogyakarta di jalan Kota Baru. Ibu ini berusia paruh baya, kulit hitam coklat, senada dengan setelan jas dan pantolan hitam keabu-abuan yang dia kenakan saat saya menemuinya awal Mei silam.&lt;br /&gt;Kami duduk di atas kursi kayu berlapis busa di ruangan hall depan. Di hadapan bagian informasi di sayap timur. Di bawah kipas yang tergantung di langit-langit ruangan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu masuk sekolah ini menghadap ke arah jalan di sisi selatan. Melewati lorong beberapa langkah. Bertemu ruangan luas yang langsung terhubung halaman lapang di tengah-tengah gedung. Pohon-pohon besar yang rimbun terpacak di situ. Deretan bangku dari beton. Para siswa yang sedang duduk mengobrol dan terdengar berisik, menerobos tanpa penghalang, ke telinga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bikin suara Sujiyati timbul-tenggelam. Sesekali saya perlu minta padanya untuk mengulangi apa yang dia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujiyati tampak serius ketika disinggung nasib kepengarangan Pram. Dalam kurikulum sastra yang dikenalkan pada siswa sekolah menengah, nama Pram, katanya, sampai sekarang tak sekalipun tercatat, baik untuk referensi maupun soal ujian. Lebih karena minat khusus Sujiyati dan atas inisiatif sendiri nama Pram terlontar di ruang kelas. Tak jarang Sujiyati menyuruh siswanya membaca karya Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu kejadian dia bikin soal ujian yang menyangkut karya Pram. Kawan mengajarnya terheran-heran. Sujiyati tanya alasannya. Si kawan menjawab dengan menghubungkan Pram dan “komunis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujiyati memang tampak masygul ketika saya meminta berkisah bagaimana dia menyarankan anak didiknya membaca karya Pram.  dia memang melakukannya. Tapi muridnya bertanya-tanya lantaran tak paham dan mungkin banyak tak mengenal. Dan di antara mereka ada juga yang sudah membuat cerita dengan gaya dan bahasa pergaulan setingkat usia mereka, yang bikin Sujiyati bangga sekaligus miris, lebih karena gempuran novel-novel chiklit dan teenlit yang belakangan marak di tanah penerbitan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujiyati menjawab dengan amat singkat. Dalam karya yang pernah dia baca, terutama karya Buru, Pram memperlihatkan, seperti ungkapan Sujiyati,  ”Kemampuan mengubah musibah jadi berkah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERPUSTAKAAN pusat pemerintah daerah Yogya terletak di sisi Jalan Malioboro di jantung kota Yogya. Terhimpit toko-toko yang berderet sepanjang tepi jalan. Kios-kios kecil kaki lima menutupi tampangnya yang kusut. Pada bibir jalan raya, tertancap papan nama bertulis keterangan nama perpustakaan dengan tinta hitam tebal di atas balok kayu bercat putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan perpustakaan ini muram. Dari kejauhan terlihat gelap dan gugup dengan toko di samping kiri-kanan yang berkilau-kilau. Kala  tiba di mulut pintu, bau apek dari udara ruangan pengap langsung menyergap hidung yang membikin sesak dada.&lt;br /&gt;Pengunjung langsung bersitatap dengan meja panjang petugas administrasi yang terletak di muka pintu. Meja ini juga sebagai pembatas yang memungkinkan orang tak gampang mencuri koleksi. Ada lemari loker yang merapat di sisi dinding depan, menyisakan jalan keluar-masuk bagi pengunjung, di sebelah kiri pintu masuk. Laci katalog merapat di sudut tembok kanan, dekat dengan tangga yang menghubungkan lantai dua yang berisi buku-buku pelajaran, kamus, dan buku-buku tentang Yogya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang tepi tembok berjejer rak-rak berisi kliping koran. Umumnya bertarikh tengahan 60-an. Di tengah-tengah ruangan diisi rak buku sastra dan bundelan majalah. Koleksi sastra Indonesia menempati rak paling dekat membelakangi meja petugas. Butiran-butiran tablet karbol putih bertamburan di atas rak-rak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perlu mencari karya Pram di situ. Dalam katalog pengarang, yang masih pakai cara manual, saya langsung tertuju pada nama berinisial TOE. Tapi di sana tak jumpai kartu bertuliskan Pramoedya Ananta Toer. Mungkin saja terselip. Mungkin saja hilang. Atau mungkin saja tak pernah ada. Tetapi saya diyakinkan seorang ibu petugas bahwa ada buku Pram. Ia pernah melihatnya. Ia menunjuk pada rak yang biasa menjadi tempat buku-buku Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba lihat di situ, Mas,” katanya sambil menuding ke arah rak tersebut.&lt;br /&gt;Apa yang saya bayangkan secara muluk rupanya bertolak-belakang. Bahkan, jauh dari batas ukuran sederhana. Sugito Prabowo, seorang petugas di situ, mengatakan pada saya koleksi buku Pram hanya ada dua, Anak Semua Bangsa dan Arus Balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ketika kedua buku itu sedang dipinjam. Sugito bilang pada saya kenapa tidak mencari di Perpustakaan Nasional di Jakarta. Dia pernah bekerja di situ, sebelum jadi petugas perpustakaan daerah Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berusia 40-an ini orangnya hangat. Tetapi kehangatannya ini, dengan mengajak saya ngobrol, bikin saya bependapat bahwa dia tak mengenal Pramoedya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pramoedya… Pramoedya… ehm… Atanta….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pramoedya Ananta Toer,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang lahir di Jepara?” katanya, tak yakin. ”Bukan,” jawab saya, ”Blora….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugito duduk di belakang meja di dekat loker. Ia memakai safari biru, kancing atas terbuka, berkeringat. Tubuhnya menahan udara yang panas dalam gedung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu perpustakaan bakal ditutup, tepat pada pukul 12 di hari Sabtu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perpustakaan ini saya juga melihat-lihat katalog dua pengarang asing yang dikagumi Pramoedya, Maxim Gorki dan John Steinbeck. Karya kedua pengarang ini diterjemahkan Pram. Pada 1950 Pram menerjemahkan Tikus dan Manusia Steinbeck dari bahasa Inggris, lalu Ibunda Gorki pada 1955 dari gabungan Inggris dan Belanda. Pram juga menerjemahkan satu karya Leo Tostoy, Kembali pada Tjinta Kasihmu, dari Belanda Huwelijksgeluk pada 1950. Ketiga terjemahan ini belakangan dicetak ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat kartu pengarang Gorki dan Steinbeck di laci katalog. Karya mereka yang diterjemahkan Pram pun tersimpan. Tapi tentu saja bukan saduran kerja Pram. Semuanya masih bahasa asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bikin saya lucu, geli, dan agak gemas. Koleksi karya Gorki di perpustakaan Yogya itu ada sebelas. Pram cuma dua. Mereka ini dihubungkan oleh satu keyakinan bahwa karya sastra mesti bertumpu pada aliran realisme sosialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggungjawab sosial,” kata Pram di buku wawancara Saya Terbakar Amarah Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perpustakaan milik pemerintah daerah Yogya itu amat kontras dengan perpustakaan Kolosani Ignatius yang saya sambangi kemudian. Tidak sebatas segi fisik bangunan, kebersihan, kenyamanan, maupun pelayanan. Tetapi juga menyangkut koleksi buku-buku Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolosani terletak sekitar satu kilometer ke arah timur dari perpustakaan pemerintah Yogya. Para pengunjung yang datang mencatatkan nama terlebih dulu di buku tamu di atas meja petugas jaga di samping mulut pintu. Ada sofa merapat ke tembok berjendela di samping kanan pintu. Ruang perpustakaannya menjorok lebih ke samping, satu unit gedung tersendiri, dihubungkan atap dan dibatasi jalan masuk buat kendaraan dari ruangan tamu di pintu masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan ini sudah pakai komputer buat daftar katalog buku. Jumlahnya delapan plus tujuh mesin printer. Mereka berada di atas meja-meja yang disusun berjejer setinggi dada, membelakangi ruang baca, bertentang meja petugas berbentuk siku panjang yang membatasi para pengunjung sekaligus sebagai loker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua kursi berlapis busa di samping pintu, merapat ke tembok, mengapit meja bertaplak kain putih berajut bunga berjaring-jaring, dan pot berisi daun-daun imitasi di atasnya. Di sampingnya ada lemari duduk berlapis kaca, berisi empat majalah dengan halaman yang terbuka, memperlihatkan foto-foto yang bercerita ihwal teologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang baca ada di sebelah sayap kanan. Sebelum masuk ke ruang baca tersebut ada sebuah meja yang tampaknya sengaja dipasang petugas sebagai penghalang. Di atasnya, selain ditaruh pot bunga sebagai pemanis, ada kertas yang menempel berisi kalimat pengumuman bahwa buku yang habis dibaca selayaknya mendapat kepercayaan para pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali ini setelah lama tak mengujungi lagi perpustakaan tersebut, yang sempat jadi rutinitas kehidupan saya di Yogya, hanya perubahan kecil itu yang bikin saya tersenyum sekaligus sedikit terkejut. Perubahan lainnya ada pada letak lembaran kertas pemesanan kopian buku yang ditempatkan di dalam ruang baca. Sebelum ini ia biasa berada di meja petugas, di dalam keranjang kecil hijau dari plastik, bersisian dengan kertas peminjaman buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendekati satu monitor di ujung kanan. Memencet entri pengarang dan menuliskan inisial “Toer”. Di layar monitor deretan karya-karya Pram terhampar.&lt;br /&gt;Semuanya berjumlah 41. Ada karya yang terbit sebelum dan sesudah 1998. Ada karya yang diterjemahkan ke bahasa asing. Beberapa di antaranya dari judul yang sama, cuma beda penerbit, terutama untuk karya Tetralogi Buru macam Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ia juga menyimpan beberapa buku kajian tentang karya Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Kelurga Gerilja terbitan 1955. Perburuan (1955). Tjerita Tjalon Arang (1957). Tempo Doeloe (1982). Arus Balik (1995). Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995 &amp; 1997). Terbitan pasca 1998 lebih banyak lagi seperti Arok Dedes, Bukan Pasar Malam, Cerita dari Blora, Drama Mangir, Sang Pemula. Penerbitnya macam-macam. Dari Pembangunan, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Bara Budaya, Hasta Mitra, hingga Lentera Dipantara.&lt;br /&gt;Dipastikan, perpustakaan Kolosani merupakan perpustakaan umum di Yogya yang menyimpan karya-karya Pram terlengkap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik sebenarnya lebih banyak datang dari saudara jauh Kolosani: Universitas Sanata Dharma. Kita tahu dua tempat ini di bawah satu naungan Yayasan Sarikat Jesuit. Saya perlu mendatangi USD di gedung perpustakaannya di jalan raya Gejayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatnya tenang. Saya mengelilingi ruangan dari lantai bawah hingga lantai dua. Saya tak tahu kalau di luar hujan sangat deras. Begitu keluar dari pintu kaca yang tertutup rapat, suara hujan menyergap dan saya benar-benar terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perpustakaan itu buku-buku Pram berjumlah 38. Banyak terbitan sebelum 1998. Kita bisa membuka-buka lembaran buku dengan ejaan lama macam Panggil Aku Kartini Sadja (1962), Mereka Jang Dilumpuhkan (1956 &amp; 1961), Keluarga Gerilja (1955), hingga Hoa Kiau di Indonesia (1960) yang bikin Pram berkenalan dengan penjara setahun di era Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat-lihat daftar karya Pram lewat komputer. Sayangnya, saat saya datang ke situ, buku-buku yang ada tengah dipinjam. Marsudi, wakil kepala perpustakaan, bilang pada saya banyak peneliti yang datang ke sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bercerita buku-buku Pram sempat disimpan di almari dan terkunci sewaktu pemerintah melarangnya. Ketika 90-an ada pergantian kepala perpustakaan, dia bersama yang lain menyarankan pada kepala baru untuk membuka buku-buku Pram. Mereka sepakat.&lt;br /&gt;”Waktu itu hanya boleh dibaca di tempat,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA Jorge Luis Borges, sastrawan Iberia dari Argentina, menulis bahwa sebuah literatur berbeda dari literatur lain—sebelum maupun sesudahnya—bukan karena teksnya, melainkan karena cara ia dibaca, tak salah kalau senarai kalimat itu saya tujukan buat buku-buku Pram. Saya menempatkan ini atas kajian skripsi sarjana-sarjana sastra yang saya tengok di dua kampus di Yogya: UGM dan Universitas Negeri Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ke perpustakan kedua kampus tersebut seraya melihat-lihat juga koleksi buku-buku Pram yang mereka simpan. Di UGM saya mendatangi gedung perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya. Saya menuju laci katalog yang terletak di sudut tembok di mulut tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung ini berada di sebelah barat dari pintu masuk. Kita harus melewati loket petugas perpustakaan yang menghadap ke lapangan terbuka. Suasananya ramai. Penuh lalu-lalang para mahasiswa yang tengah beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tujuh skripsi yang tersimpan di laci yang membahas karya Pram. Subjek karya dan analisisnya macam-macam. Gadis pantai untuk analisis Stantonian. Sosiologi sastra buat Bukan Pasar Malam dan Larasati. Anak Semua Bangsa dari segi tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Dua pembedahan strukturalisme genetik dan kritik sastra feminis untuk Bumi Manusia. Terakhir, Drama Mangir dilihat dari intertekstual plot dan tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan anak-anak lulusan 2004. Saya kira daftar itu bisa bertambah dari tahun lulusan sebelum 2000 dan kemungkinan terbuka untuk waktu-waktu setelah ini.&lt;br /&gt;Perpustakaan fakultas ini juga menyimpan 19 buku karya Pram. Di antaranya empat koleksi sebelum 90-an. Anak Semua Bangsa (1981), Rumah Kaca (1988), Tjerita dari Blora (1952), Tjerita dari Djakarta (1957).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah skripsi yang sama saya dapatkan di perpustakaan sastra UNY. Empat untuk Bumi Manusia dan masing-masing satu Gadis Pantai, Jejak Langkah, dan Arus Balik. Koleksi buku Pram sebanyak 27 judul. Kebanyakan baru. Ada satu Cerita dari Blora terbitan 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya banyak menemukan saran pada lembaran penutup skripsi para mahasiswa itu bahwa karya Pram dapat menjadi bahan pengajaran sastra di sekolah. Mereka juga mengusulkan agar buku Pram bisa menjadi koleksi di perpustakaan sekolah menengah.&lt;br /&gt;Saat membaca itu saya teringat Max Lane, penerjemah karya Pram ke bahasa Inggris dan salah satu kolega Pram yang paling serius mendalami pokok-pokok pemikiran Pram. Ia juga menjadi penyambung buku-buku Pram ke publik dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu acara ulang tahun penghabisan Pramoedya Ananta Toer di Taman Ismail Marzuki, 6 Februari silam, dia datang dengan sosok tinggi-besar, kulit merah terbakar, pakai kemeja putih. Dia yang menenangkan perdebatan anak-anak muda yang hadir di acara tersebut yang belum terima Bumi Manusia bakal dibikin film dan Pram memperoleh royalti yang besar. Max Lane bilang kesempatan ini harusnya dijadikan suara bersama mendorong pemerintah agar buku-buku Pram jadi bacaan wajib sekolah dasar hingga universitas dan diajarkan di kelas-kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan bergemuruh. Saya kira semua orang di dalam ruangan itu setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARTONO pengajar kelas bahasa Indonesia di SMA Kolese De Britto. Dia kolumnis isu-isu pendidikan di harian Kompas. Orangnya bersahabat. Energik. Mudah tersenyum. &lt;br /&gt;Saya menemuinya di suatu siang yang terik di tempatnya mengajar. Dia memakai kemeja biru bergaris, mendatangi saya di ruangan administrasi, dan kami duduk di meja tamu di tepi lorong terbuka menghadap halaman tengah sekolah. Semilir angin berhembus sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartono termasuk penggemar Pram. Ia berkenalan dengan karya Pram semasih mahasiswa sastra Indonesia di USD pada 80-an. Alex Sudewo, dosen yang ia kagumi, berjasa besar membawanya ke pintu masuk buku-buku Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bercerita saat kelas kritik sastra dia diminta Sudewo untuk bahas tiga novel Pram berdasar garis lokus tempat: Gadis Pantai, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas. Ini mengantarkan Kartono kemudian pada fase akhir studi sarjananya. Dalam kajian skripsi pada 1989 dia mengambil studi perbandingan latar sosial karya Korupsi Pram dan Ladang Perminus Ramadhan KH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu dia kesulitan mengakses satu buku Pram tersebut di perpustakaan. Dia mendatangi Alex Sudewo yang sekaligus jadi pembimbing skripsinya. Profesor itu bilang pada Kartono untuk mengambilnya. ”Ini kajian akademis. Saya yang menjaminnya,” kenang Kartono. Alex Sudewo sekarang mukim di Jakarta. Kondisinya sakit-sakitan lantaran sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembacaan kedua karya pengarang Indonesia itu, Kartono punya penilaian secara khusus terhadap karya Pram. ”Realisme sosialnya khas. Pram menangkap peristiwa-peristiwa sosial yang tak ditangkap pengarang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, giliran Kartono memperkenalkan Pram pada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir 1999, Kartono mendapat undangan mengajar di Australia bagian selatan. Dia terperanjat saat melihat murid-murid di sana memegang dan membaca buku The Girl from the Coast (Gadis Pantai). Menjadi kajian di kelas-kelas. Guru-guru di sana memandang aneh pada Kartono yang bercerita penuh keheranan. ”Memangnya kenapa?” tanya mereka. Kartono berkata karya Pram tak diajarkan di sekolah kami. Mereka lebih tergeragap.&lt;br /&gt;Saya bilang kepada Kartono bahwa Pram jarang mendapat penghargaan dari dalam negeri. Seraya main-main bagaimana kalau De Britto memberi penghargaan pada Pram. Kartono terbahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana menurut Anda jika Pram diajarkan di sekolah?” Kali ini saya serius.&lt;br /&gt;Kartono diam sejenak. ”Harus ada pemahaman dari guru-guru. Mereka diberi pemahaman akan konteks seorang Pram,” katanya. Secara pribadi dia setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimanapun sikap politik seseorang, dia tetap pengarang terbesar. Pram telah banyak menyumbangkan Indonesia ke dunia internasional. Dia dibesarkan oleh penindasan. Dia anak jaman,” kata Kartono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buku itu ya Pram sendiri. Pram itu sebagai buku itu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartono sudah jadi bagian dari apa yang disebut Pram “anak-anak rohaninya”. Banyak orang yang sudah ikut barisan para Pramis ini. Saya kira karya-karya Pram tetap mengelana dari generasi ke generasi. Tetapi saya tak tahu sampai kapan negara masih menutup mata terhadap Pram. bahkan setelah ia pergi selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di Indonesia orang masih saja membicarakan tentang pribadi saya, bukan karya saya. Sebagai penulis, saya tidak selalui diakui. Banyak sekali buku tentang karya sastra Indonesia yang bahkan tidak mencantumkan nama saya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Fahri Salam&lt;/b&gt;, wartawan dan penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1084547958979998834?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1084547958979998834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1084547958979998834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1084547958979998834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1084547958979998834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/nyanyi-sunyi-pram-di-perpustakaan-yogya.html' title='Nyanyi Sunyi Pram di Perpustakaan Yogya'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-7114859277468028986</id><published>2009-04-20T20:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:51:56.477-07:00</updated><title type='text'>Buku, Perang, dan Penjara</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Eka Kurniawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar wawancaranya, majalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Balairung (1994), dalam edisi kususnya menulis: kalau kuas lembut sejarah boleh mengoleskan merah, biru, putih, kuning, maka perjalanan hidup seorang Pramoedya Ananta Toer adalah pekat sempurnanya jelaga.&lt;span class="fullpost"&gt; Delapan belas tahun hidupnya dihabiskan dalam dunia paling kelam produk lalim kekuasaan, penjara. Secara bergiliran dicicipinya nyinyir terali besi tiga rezim kekuasaan: tiga tahun dalam tawanan Belanda, setahun (1960) dalam penjara Orla, dan 14 tahun yang melelahkan dalam penjara Orba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama Pramoedya dengan penjara tak bisa dilepaskan dari gema revolusi di masa itu. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Soekarno Hatta pada 17 Agustus 1945 ia dengar beberapa waktu kemudian di persembunyiannya di desa Tanjung yang membuatnya memutuskan diri untuk pergi ke Surabaya memastikan informasi tersebut. Dari Surabaya, perjalanan diteruskan ke Jakarta. Dalam perjalanan tersebut, Pramoedya menyempatkan diri mampir di Blora dan sempat menyaksikan pementasan sandiwara berjudul Indonesia Merdeka. Drama tersebut tidak begitu baik dan cenderung mengecewakan menurut penilaian Pramoedya, yang kelak kemudian memberinya keputusan untuk menulis naskah yang lebih sesuai dengan semangat kemerdekaan. Untuk maksud tersebut, ia kemudian menulis Perburuan, meski secara objektif roman pendek tersebut lebih merupakan karya kontemplatif daripada sebuah karya patriotik ihwal perjuangan kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah sebentar berkunjung ke Blora, Pramoedya kembali ke Jakarta pada bulan September 1945, dan menyaksikan Jakarta yang seolah-olah bangun dari tidur panjangnya. Di sana-sini, sudut-sudut kota dibangun. Namun situasinya sendiri sangat kacau. Anarki yang berlebihan tampak di mana-mana, yang ditimbulkan pergeseran kekuasaan yang tengah terjadi. Tentara Jepang masih mencoba mempertahankan sisa-sisa kekuasaanya, sementara tentara Sekutu mulai berdatangan ke Jakarta. Di tengah-tengahnya adalah tentara Republik yang mencoba mengamankan wilayahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Oktober 1945, Pramoedya bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Teruna—kemudian  menjadi inti divisi Siliwangi—sebagai prajurit II. Dalam waktu singkat, ia menjadi sersan mayor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa tugasnya di Cikampek, Pramoedya menyempatkan diri menulis naskah Sepuluh Kepala Nica, selain membuka taman bacaan untuk resimen yang berisi koleksi buku-bukunya sendiri. Akan tetapi, naskah tersebut kemudian hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalannya dengan medan perang ini antara lain ia ungkapkan melalui sebuah cerita pendek berjudul Dendam (dari kumpulan cerpen Subuh) dengan berlatar berlatar sebuah markas tentara yang baru didirikan pada masa sekitar bulan November 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi perang secara langsung dialaminya pula ketika terjadi penyerbuan besar-besaran tentara Inggris atas Kranji-Bekasi yang merupakan pertahanan kedua setelah Jakarta. Penyerbuan ini berlangsung melalui pasukan baja, infanteri, dan angkatan udara serta kesatuan-kesatuan besar artileri. Pramoedya, bersama dua orang lainnya, merupakan tiga orang terakhir yang lolos dari kepungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terjadi sekitar Oktober 1945-Juli 1946. Masa-masa itulah yang kemudian menjadi latar belakang roman yang ditulisnya berjudul Ditepi Kali Bekasi. Menurut Pramoedya, roman yang diterbitkan tersebut hanya seperempat naskah aslinya; sisanya konon disita Nefis (Netherlands Indies Field Security, organisasi intelejen tentara Belanda di Indonesia), dan tidak pernah dikembalikan. Sisa roman ini secara lengkap terbit 1957, berisi fragmen Krandji-Bekasi Djatoeh yang terbit 1947 melengkapi cetakan pertama Ditepi Kali Bekasi yang terbit 1951.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa selanjutnya merupakan masa-masa penuh frustasi, baik bagi Pramoedya sendiri maupun situasi masyarakat secara umum. Selepas perjanjian Linggarjati yang ditandatangani oleh pemerintah Republik dan Belanda, pertentangan segera merebak antar tentara pemerintah yang pro-Linggarjati dan Laskar Rakyat yang anti perundingan dan kompromi. Dari peristiwa ini, Pramoedya menjadi sadar bahwa tempatnya bukanlah di ketentaraan dan ia segera saja mengajukan permohonan untuk berhenti, yang antara lain juga dipengaruhi kebijakan rasionalisasi anggaran militer serta korupsi yang merajalela ketika itu. Setelah permohonannya dikabulkan, Pramoedya masih menunggu gajinya yang belum dibayar selama tujuh bulan untuk beberapa waktu, namun akhirnya ia pun harus meninggalkan Cikampek dan berangkat ke Jakarta tanpa uang yang menjadi haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan di Jakarta sendiri tidaklah lebih baik. Suasana saling curiga terjadi di antara orang-orang Republik sendiri. Pramoedya mencoba menggambarkan keadaan genting semacam itu dalam cerita pendek gado-gado seperti termuat dalam kumpulan cerpen Pertjikan Revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta Pramoedya kemudian bekerja pada ”The Voice of Free Indonesia”, di mana roman Ditepi Kali Bekasi mulai disusun dan diterbitkan (yang diterbitkan saat itu adalah fragmen Krandji-Bekasi Jatoeh). Selain itu, ia pun mendapat order dari atasannya untuk mencetak serta menyebarkan pamflet dan majalah perlawanan. Itu terjadi pada saat Belanda mulai melakukan agresi militer pertama 21 Juli 1947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian ia tertangkap marinir Belanda dengan surat-surat bukti di dalam sakunya. Disiksa oleh satu peleton marinir totok, indo, dan Ambon. Barang-barang di rumahnya disita. Dimasukkan ke dalam tahanan tangsi di Gunung Sahari dan tangsi polisi di Jagomonyet (seperti diceritakan dalam  Pertjikan Revolusi). Akhirnya ia dipenjarakan di Bukit Duri tanpa proses wajar, dan selanjutnya dipenjarakan lagi di pulau Damar (Edam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, Pramoedya berkenalan dengan sisi gelap kekuasaan: penjara. Di sini ia mendapatkan banyak pengalaman hidup, terutama dalam pergaulannya dengan sesama kawan di penjara. Seperti halnya tokoh Hardo yang mendapatkan pencerahan selama bertapa di gua Sampur, penjara Belanda memberinya pencerahan dalam bentuk lain: dorongan untuk menulis. Sebenarnya, di penjara ini tahanan dilarang menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan berbagai cara, Pramoedya berhasil menyembunyikan kertas dan menulis secara diam-diam. Ini terutama dilakukannya pada malam hari dengan mengandalkan penerangan dari sebuah pelita. Dalam keadaan yang sungguh berat, beberapa buah naskah berhasil diselesaikannya di sini, antara lain Perburuan dan Keluarga Gerilja. &lt;br /&gt;Penderitaan yang menimpa berkali-kali, seringkali terbebaskan oleh nalurinya untuk terus menulis. Sebagaimana dikatakannya sendiri, “Dengan patiraga itu si kawula datang pada sang Gusti: inilah diriku, kukembalikan semuanya kepada-Mu; ambillah semau, bunuhlah kawula ini sekarang juga kalau memang sudah tidak berguna bagi kehidupan. Ya, memang sengaja aku hendak bunuh diri dengan bertapa.” Pengalaman mistis yang dipengaruhi tradisi Jawa semacam inilah yang menurut Pramoedya justru membawanya pada pencerahan. Kuncinya adalah penyerahan diri, dan dari sikap seperti itu ia mulai menulis. Tak peduli pada penjara, pada siksaan, dan pada penderitaan yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua naskah itu akhirnya bisa diselundupkan keluar pintu penjara melalui seorang yang dikenalnya sendiri di penjara itu juga, Prof. Mr. G.J. Resink. Selain kedua naskah tersebut, juga diselundupkan beberapa cerita pendek yang disiarkan antara lain lewat Mimbar Indonesia dan Siasat, serta sebuah terjemahan dari karya John Steinbeck, Tikus dan Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam penjara, Pramoedya memang menyempatkan diri belajar bahasa Inggris. Lebih dari itu, ia pun mempelajari ekonomi, sosiologi, dan sejarah filsafat, yang kesemuanya ia dapatkan dari kawan setahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penjara Bukit Duri ini, Pramoedya ditahan selama dua setengah tahun. Itu bukanlah masa menyenangkan dalam riwayat hidupnya, meskipun kreativitasnya berkembang cukup pesat. Pengalaman-pengalaman selama di penjara Bukit Duri disusunnya dalam roman panjang berjudul Mereka Jang Dilumpuhkan. Secara garis besar, roman tersebut membersit amarah atau dendam si Aku yang menderita akibat kebebasan dan kemanusiaannya dicuri, hanya karena ingin memperjuangkan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 3 Desember 1949 Pramoedya dibebaskan bersama kelompok tahanan yang terakhir. Peristiwa itu merupakan konsekuensi dari dicapainya kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Penjajahan kolonial Belanda berakhir. Namun secara paradoksal, Pramoedya justru melihatnya sebagai kekalahan revolusi. Naiknya Sang Merah Putih tak lebih hasil kompromi kalau bukan kapitulasi melalui KMB, bukan hasil perjuangan revolusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1960 Pramoedya kembali harus mengakrabi penjara, yang disebutnya sebagia siksaan terberat dalam hidupnya. Ia ditahan karena terbitnya buku Hoa Kiau di Indonesia. Penahanan ini diawali dengan keluarnya PP 10/60, sebuah peraturan presiden yang bersifat rasialis, yang menghalau kaum minoritas etnis Cina dari usaha mereka di wilayah Indonesia. Pramoedya tampil sebagai pribadi yang menentang itu, antara lain melalui artikel-artikel yang dimuat dalam Berita Minggu, dan kemudian dibukukan dengan judul Hoa Kiau di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari penentangannya terhadap PP 10/60 itu, ia dipanggil oleh PEPERTI (Penguasa Perang Tertinggi) dan bukunya segera saja dilarang beredar. Sebelum disekap di RTM (Rumah Tahanan Militer) tanpa proses yang wajar, ia diinterogasi oleh Mayor Sudharmono (kelak kemudian menjadi Wakil Presiden RI). Setelah itu ia dipindahkan ke penjara Cipinang karena dianggap ‘mengacau’ di RTM, sebagai buntut diketahuinya penyekapan Pramoedya oleh pihak pers yang kemudian disiarkan Radio ABC Australia. Di sinilah ia baru tahu kalau dirinya ditahan dengan surat penahanan yang ditandatangani oleh A. H. Nasution. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada karya fiksi yang dibuatnya berdasarkan peristiwa ini, melainkan hanya sebuah buku harian yang ditulisnya di penjara Cipinang. Namun buku tersebut hancur dalam peristiwa 1965. Di tahun ini, untuk ketiga kalinya Pramoedya harus berhadapan dengan benteng kekuasaan. Kali ini ia ditahan pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto yang baru saja menggulingkan Orde Lama pimpinan Soekarno, setelah pemberontakan PKI—dikenal dengan istilah Gestapu—gagal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 13 Oktober, rumahnya dikepung dan dilempari batu oleh sekelompok pemuda bertopeng. Kemudian ia diculik tim tentara dan polisi disertai penghinaan dan pemukulan, antara lain dengan gagang tommygun. Akibat pemukulan ini, pendengarannya rusak untuk selama hidupnya. Selain itu, semua harta benda yang ada di rumahnya dirampok, dan kumpulan naskah yang belum diterbitkan, koleksi buku yang mencapai 5000 jilid beserta dokumen majalah, dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ditahan di penjara Salemba sampai Juli 1969, setelah sempat dipindah ke penjara Tangerang selama beberapa waktu. Dari Salemba ia dibawa ke Nusa Kambangan, sebuah delta antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, tempat penjahat kelas berat dipenjarakan sejak zaman kolonial. Nusa Kambangan ternyata hanya pelabuhan transit. Pada 16 Agustus, ia diberangkatkan ke Pulau Buru bersama ribuan tahanan politik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sepuluh tahun ia terpaksa tinggal di pulau Buru sebagai tahanan tanpa proses pengadilan. Saat terpenting di masa itu adalah saat ketika ia diberi izin untuk menulis, yaitu tahun 1973. Alasan yang dikemukakan adalah karena adanya rencana pembebasan para tahanan, dan diharapkan mereka mulai melatih diri kembali mengerjakan sesuatu sebagaimana keahliannya. Di sini lahir tulisan-tulisan reportasenya, yang setelah ia bebas kemudian diterbitkan dengan judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Juga tetralogi Karya Buru, yang mengantarnya mendapat nominasi Nobel di tahun ’80-an, serta roman panjang Arus Balik. Selain itu, masih ada beberapa naskah yang dirampas dan tidak dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembukaan buku Bumi Manusia, Pramoedya antara lain menulis: “Han, memang bukan sesuatu yang baru. Jalan setapak ini memang sudah sering ditempuh, hanya yang sekarang perjalanan pematokan.” Han adalah nama panggilan dari Prof.Mr.G.J.Resink, sahabatnya. Bumi Manusia yang ditulisnya di Pulau Buru mungkin mengingatkan Pramoedya pada pengalaman di penjara Belanda, ketika naskah Perburuan dan Keluarga Gerilja diselundupkan Resink. Dengan cara yang sama, Pramoedya berharap naskah-naskahnya bia selamat keluar dari Buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kembali berulang. Tahun 1949 ia keluar dari penjara Belanda dengan rombongan terakhir, begitu juga pada akhir 1979. Ia dilepaskan dan berangkat ke Jawa juga dengan rombongan terakhir. Sejak itu Pramoedya bebas, tetapi itu semu belaka. Sebagai warga negara Indonesia, ia lama tidak memperoleh kemerdekaan berbicara dan buku-bukunya dilarang beredar. Bahkan untuk beberapa waktu ia diwajibkan melapor secara rutin, sebelum akhirnya ia menolak melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Pramoedya yang hidup bagai seorang paria yang kehilangan hak asasinya sebagai manusia dan warga negara Indonesia. Pernah dihukum tanpa proses pengadilan, dan tidak mendapatkan kesempatan berbicara di muka umum. Namun, semua itu tak melunturkan kebesarannya sebagai seorang pengarang, yang diakui bahkan menembus batas-batas geografis negerinya; negeri tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan sempat dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Eka Kurniawan&lt;/b&gt;, novelis dan penulis buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-7114859277468028986?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/7114859277468028986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=7114859277468028986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/7114859277468028986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/7114859277468028986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/buku-perang-dan-penjara.html' title='Buku, Perang, dan Penjara'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5624418155461709139</id><published>2009-04-20T20:15:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T20:18:41.504-07:00</updated><title type='text'>Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Anton Kurnia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De plicht van een mens is mens te zijn—&lt;br /&gt;Tugas manusia adalah menjadi manusia.&lt;br /&gt;Multatuli) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi banyak karya para sastrawan dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang rela bersusah payah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pushkin, sastrawan ternama Rusia itu, suatu kali mengibaratkan para penerjemah sebagai “kurir sastra.” Pujian paling tinggi untuk para penerjemah mungkin diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Sastra 1998 dari Portugal yang juga seorang penerjemah produktif, José Saramago. Bekas anggota Partai Komunis Portugal yang kerap berurusan dengan penguasa ini mengatakan bahwa para pengarang hanyalah menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan para penerjemah. Karya terjemahan adalah jembatan untuk menggali khazanah sastra dunia dan memahami budaya bangsa lain tanpa terhalang perbedaan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), sastrawan paling terkemuka kita yang dikenal luas dunia dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sekitar 40 bahasa asing, di awal karirnya juga merupakan seorang penerjemah andal yang amat produktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan sejumlah bahasa asing yang dikuasainya, antara lain bahasa Belanda dan Inggris, pada sekitar tahun 1950-an ia banyak menerjemahkan berbagai karya sastra dunia, di antaranya Tikus dan Manusia (novel John Steinbeck, 1950), Kembali pada Cinta Kasihmu (novel Leo Tolstoy, 1950), Perjalanan Ziarah yang Aneh (novel Leo Tolstoy, 1954), Kisah Seorang Prajurit Sovyet (novel Mikhail Sholokov, 1954), Ibunda (novel Maxim Gorky, 1956), Asmara dari Rusia (novel Alexander Kuprin, 1959), Manusia Sejati (novel Boris Polewoi, 1959) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji). &lt;br /&gt;Sekitar setengah abad kemudian, beberapa karya terjemahan Pramoedya itu diterbitkan kembali. Ibunda (Maxim Gorky) diterbitkan ulang oleh Kalyanamitra pada 2000, sedangkan Tikus dan Manusia (John Steinbeck), Kembali pada Cinta Kasihmu (Leo Tolstoy) dan Dewi Uban (lakon He Tjing-Ce dan Ting Ji) diterbitkan kembali pada 2003 oleh penerbit yang didirikan oleh Pramoedya sendiri, Lentera Dipantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalm sebuah tulisan tentang proses kreatifnya, Pramoedya mengaku mula pertama menerjemahkan adalah saat ia ditawan Belanda antara tahun 1947-1949 di penjara Bukitduri, Jatinegara. Pramoedya yang pernah menjadi letnan TNI pada masa revolusi dipenjarakan gara-gara kedapatan membawa pamflet perlawanan terhadap aksi militer Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu usianya masih muda sekali, di awal likuran. Untuk mengisi waktu, di tengah segala keterbatasan seorang “manusia bubu”, ia belajar menulis dengan cara menerjemahkan karya penulis Amerika Serikat peraih Hadiah Nobel Sastra 1962, John Steinbeck, Of Mice and Men (1937), langsung dari edisi bahasa Inggrisnya yang berhasil ia bawa serta dalam tahanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Pramoedya, John Steinbeck (1902-1968) dikenal dunia sebagai seorang pengarang humanis yang setia mengungkap persoalan-persoalan getir manusia dalam karya-karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel pendek Of Mice and Men yang diterjemahkan Pramoedya menjadi Tikus dan Manusia, John Steinbeck berkisah tentang persahabatan dua manusia gembel: George dan Lennie—sesosok lelaki bertubuh raksasa, tetapi dengan kapasitas otak seorang bocah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya manusia-manusia lain yang terserak di muka bumi dengan kesunyian masing-masing, mereka pun punya mimpi tentang masa depan yang indah. Jalan hidup membawa keduanya mengadu nasib di sebuah peternakan. Namun, malang tak dapat ditolak, di sana mereka menemui bencana: Lennie tanpa sengaja membunuh istri majikannya, seorang bekas pelacur yang bertabiat genit. Angan-angan dan rencana masa depan seorang anak manusia pun porak-poranda oleh sebab-sebab yang terjadi di luar kontrolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menerjemahkan novel itu, Pramoedya sekaligus mempelajari dan mencerna teknik penulisan Steinbeck, untuk kemudian ia gunakan bagi perkembangan kemampuan menulisnya sendiri. Pramoedya mengakui secara terbuka bahwa ia banyak belajar dari John Steinbeck dengan cara ini. “Teknik yang dihadiahkan Steinbeck padaku tampaknya akan menjadi milik tetap... Steinbeck menderetkan kata-kata sederhana bermuatan padat, kalimat-kalimat apik dan utuh,” tulisnya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Ibunda karya Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka Rusia pengobar realisme sosialis, diterjemahkan Pramoedya dari edisi bahasa Belanda, Maatje, tak berapa lama setelah ia menikah untuk kedua kali, dengan Maemunah Thamrin—istri yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya. Novel ini dikenal sebagai adikarya dalam genre realisme sosialis dan pada masanya sempat menjadi pengobar semangat kaum buruh tertindas di Rusia untuk ambil bagian dalam revolusi pada akhir masa kekuasaan Tsar di awal abad kedua puluh. Pramoedya mengagumi Maxim Gorky dan banyak belajar dari karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara khusus dengan André Vltchek dan Rossie Indira yang diterbitkan dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! (2006), Pramoedya kembali mengakui pengaruh John Steinbeck dan Maxim Gorky terhadap karya-karyanya. Bukan kebetulan ia menerjemahkan novel-novel terkemuka karya kedua sastrawan besar dunia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut ia mengemukakan alasannya, “Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggung jawab sosial.” Pada sebuah kesempatan, Pramoedya pernah menulis bahwa baginya keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dewi Uban merupakan lakon karya dua pengarang Cina, He Tjing-Ce dan Ting Ji. Lakon ini mengisahkan sebuah perlawanan kolektif terhadap penindasan, sebuah kisah yang konon diangkat dari kejadian faktual-historis yang kemudian menjadi setengah legenda di daratan Cina. Lewat kisah Dewi Uban, para penindas, kaum kapitalis tamak yang suka menipu, para pencoleng tak tahu malu yang menimbun kekayaan dari keringat dan kerja keras orang lain, ditelanjangi dan dihinakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mereka yang berani melawan dan setia menegakkan kebenaran pada akhirnya akan menemui kemuliaan. Karya ini mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan bahwa penindasan dan kebohongan tak akan mampu menghancurkan kebenaran. Bahwa kejahatan dan kebusukan pada akhirnya akan terbongkar dan menemui kehancurannya sendiri. Di tangan Pramoedya, kisah ini diterjemahkan dengan penuh penghayatan sehingga menggerakkan perasaan dan kehendak pembacanya untuk melawan angkara dan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya sastra utama dunia yang diterjemahkan Pramoedya bagi anak-anak bangsanya itu mencerminkan sikap dan keyakinannya dalam menulis. “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan,” ujarnya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan Pramoedya Ananta Toer bagi anak-anak bangsanya melalui harta karun sastra dunia yang ia terjemahkan dengan tekun amat besar manfaat dan maknanya. Melalui karya-karya terjemahan itu kita bisa belajar dan menarik manfaat dari adikarya para sastrawan terkemuka dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya beberapa penulis itu hingga kini—saat gairah menerbitkan buku dan menerjemahkan sastra dunia marak kembali—tak ada lagi yang menggarapnya, misalnya karya-karya Mikhail Sholokov (1905-1984), pemenang Hadiah Nobel Sastra 1965 dari Uni Soviet. Untuk itu, penting artinya menerbitkan kembali karya-karya terjemahan Pramoedya di masa lalu agar bisa dibaca oleh generasi terkini tanpa terhalang oleh kendala bahasa dan sekat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi menemukan karya terjemahan Pramoedya untuk pertama kali secara tak sengaja di sebuah toko buku kecil di kawasan Palasari, Bandung, milik Pak Panjang (disebut demikian karena ia berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat) pada sekitar 1996. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, di zaman yang masih penuh kekangan dan larangan, saya tengah mencari-cari otobiografi Tan Malaka yang sulit didapat, Dari Penjara ke Penjara. Tak dinyana Pak Panjang malah menawari saya sebuah buku agak tebal bersampul merah dengan halaman-halaman kertas yang telah agak menguning. Ibunda cetakan awal. Ditulis oleh Maxim Gorky, diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer. Desainnya dikerjakan pelukis Lekra, Basuki Resobowo. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu dengan harga sepuluh ribu perak. Buku itu kemudian laris berpindah dari tangan ke tangan di antara teman-teman sesama aktivis mahasiswa, mengembara dari satu kamar kos ke kamar kos lain di sebuah asrama mahasiswa di kawasan Cisitu, Bandung. Beberapa kawan mengaku tergerak semangatnya dan tergugah kesadarannya oleh buku itu, termasuk beberapa orang yang sebelumnya hanya sibuk berkutat dengan buku-buku diktat dan laboratorium demi mengejar titel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita, seorang pejuang gigih yang amat peduli pada bangsanya, telah pergi meninggalkan pusaka yang tak ternilai: buah pikiran dan karya-karyanya, termasuk karya-karya terjemahan. Selebihnya, berpulang pada kita untuk memaknai dan meneruskan perjuangannya, terutama kita angkatan muda—mereka yang selalu diharapkan Pramoedya sebagai pelopor perubahan, aktor revolusi total yang disebutnya sebagai jalan tunggal untuk menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. Senada dengan sepotong sajak Chairil Anwar, penyair cemerlang yang seperti Pramoedya kini juga berumah di Karet, “Kami sekarang mayat. Berilah kami arti. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Anton Kurnia&lt;/b&gt;, penyunting tiga buku terjemahan Pramoedya Ananta Toer. Saat ini mengampuh buku-buku sastra di Penerbit Serambi Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5624418155461709139?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5624418155461709139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5624418155461709139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5624418155461709139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5624418155461709139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pramoedya-ananta-toer-sebagai-kurir.html' title='Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4344263844413840751</id><published>2009-04-20T20:09:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T20:15:11.509-07:00</updated><title type='text'>Anak Semua Bangsa, Bukan (Hanya) Anak Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Dani Wicaksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumpama sastra Indonesia sebuah monumen, maka Pramoedya Ananta Toer adalah puncaknya. Puncak yang berkilau-kilau, sekaligus sunyi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa bermaksud mengerdilkan arti pengarang dan aktivis sastra seluruh angkatan, barangkali hanya Pram, sementara ini, yang benar-benar mampu menegaskan dan memperjuangkan esensi humanisme: kebebasan mengada dan kebebasan berekspresi. Meskipun demi cita-cita itu ia harus mengorbankan kemerdekaannya sebagai seorang pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pramoedya dan Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali inilah pergulatan paling perih, dan paling bermakna antara Pram dan tanah tumpah darahnya. Sebuah pertalian yang paradoksal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata nan tajam, Pram melihat sejarah Indonesia sebagai senarai kekecewaan. Tiga ratus lima puluh tahun Indonesia dijajah oleh Belanda. Tiga setengah tahun kemudian, Indonesia diperas hingga tuntas oleh Jepang. Sementara, selama dan sesudah itu, Indonesia dikungkung oleh feodalisme ala Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi memang telah berhasil membuahkan kemerdekaan yang bertanggal 17 Agustus 1945. Namun, makna revolusi sebagai perubahan tatanan masyarakat tidak tercapai dengan sempurna. “Tidak terjadi. Masyarakat masih ‘duduk,’” demikian kata Harry Aveling dalam sebuah perbincangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat belum juga sadar bahwa Indonesia masih jauh dari sebutan adil, makmur, dan sejahtera, dan malah tenggelam dalam otoritarianisme pemerintahan Soeharto selama 32 tahun. Bangsa ini melarat dalam kekayaan sumber dayanya, terpuruk dalam kebesarannya, dan ditindas oleh pemimpinnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu harus dilakukan, mesti diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram iba melihat masyarakat Indonesia pada umumnya yang hanya tahu makan tanpa mampu menanam, hanya mengerti konsumsi tanpa bisa berproduksi. Amarahnya berkobar menyaksikan merajalelanya korupsi, hancurnya kebudayaan, dan amnesia sejarah merajalela di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa diri hanya tahu soal pena dan kertas, Pramoedya mengambil peranannya sebagai orang yang harus membuka gerbang kesadaran bangsa, sebagai agen yang wajib mengenali dan membentuk watak bangsa. “Gagasan perjuangan untuk melahirkan bangsa Indonesia diawali oleh mereka (kaum intelektual) dengan kesadaran akan komitmennya terhadap bangsanya, dengan kejelian dan kepiawaiannya mengenali perangai bangsanya,” tulis Pramoedya dalam Sikap dan Peranan Kaum Intelektual di Dunia Ketiga (1987). Berkali-kali pula ia menyerukan bahwa penulis adalah kaum intelektual yang turut mengemban amanah politis untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakatnya, sekaligus mencerdaskan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengarang, tugasnya adalah mencipta segala tulisan yang bernafaskan perjuangan. Pram membaktikan jalan kesusastraannya pada kemanusiaan Indonesia, dengan ketegasan batu karangnya yang tak kenal kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti garis hidup seorang guru yang pernah ia lukiskan, Pram berkorban selama-lamanya demi tugas mahaberat yang ia pikul: membuka kebajikan dalam hati anak-anak bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram punya keyakinan bahwa hidup dan keyakinan atas hidup bukanlah kesia-siaan semata-mata. Baginya, hidup yang besar, yang bergerak, adalah hidup yang berjuang dan berkelahi. Dengan kata-katanya sendiri, “Menulis adalah adalah tantangan pribadi saya terhadap kediktatoran.” Kediktatoran dari kebodohan yang mengerdilkan bangsa, juga kediktatoran dari setiap rezim yang memenjarakan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa Pram, terutama sekali, terletak di sini. Ia menjelma menjadi sesosok intelektual—yang pikiran dan ucapannya didengarkan dan dihormati oleh orang-orang sezaman maupun setelahnya—yang benar-benar menciptakan sebuah proyek ideal tentang Indonesia. Pramoedya mengajak, lewat sastra, semua pihak yang mendambakan gilang-gemilangnya masa kemerdekaan untuk bekerja bahu-membahu menciptakan Indonesia yang makmur, adil, sejahtera, dan demokratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia diganjar dengan ‘anugerah’ yang lebih dari sepantasnya oleh pemerintah: dijebloskan di Bukit Duri (1947-1949) oleh “sisa-sisa” pemerintah Belanda, dan dipenjarakan (sekitar 1963) pada masa Sukarno, lantas dikurung di Pulau Buru (1965-1979) tanpa proses peradilan pada masa Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu pemerintahan Megawati Soekarno Putri, ziarawan Taufik Rahzen dan budayawan Mudji Sutrisno mengusulkan Pram mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra atas jasa-jasanya membangun bangsa dengan karya-karyanya. Tapi entah bagaimana ceritanya, usul itu menguap. Dan tahu-tahu yang keluar sebagai penerima adalah Mochtar Lubis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pramoedya dan Dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pramoedya ist ein Begriff,” kata Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua Jurusan Melayu di Universitas Koeln, Jerman, pada tahun 1980, yang dikemukakan ulang oleh Ignas Kleden lewat Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Pramoedya bukan sekadar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, dalam dirinya sendiri, adalah puncak dari sebongkah monumen batu yang tegak menjulang, yang terlampau kokoh untuk dihempaskan, bahkan oleh badai kekuasaan sekalipun. Ia, meminjam ungkapan Kleden, adalah suatu power differential yang menolak tunduk di hadapan gemuruh mesin-mesin otoritarianisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram adalah perlambang paling referensial dari perjuangan emansipasi kemanusiaan di Indonesia, sekaligus menjadi penjelmaan dari perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai tempat yang setara di antara bangsa-bangsa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau Herriet Beecher Stowe dengan Uncle Tom’s Cabin-nya menggelorakan perang saudara di Amerika Serikat untuk menentang perbudakan, dan Aleksander Solzhenitsyn dengan The Gulag Archipelago-nya melukiskan kejamnya Rusia di bawah pemerintahan Stalin pada masa-masa pasca-Revolusi Bolshevik, maka Pramoedya Ananta Toer, seturut A. Teeuw, mencitrakan segala tahap perjuangan rakyat Indonesia, di garis depan, di medan perang, di gerilya kota Jakarta, dalam penjara penjajah, di masa pasca revolusi, segala bentuk penderitaan dan pengorbanan rakyat, segala keagungan dan kemelaratan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya yang sarat dengan muatan perjuangan bukanlah sejenis karya yang cukup dimiliki dan dipajang di rak buku di pojokan ruang tamu sebagai bahan pameran bacaan. Kesatuan dan keutuhan karya-karya Pram telah menjadi laksana blue print dari upaya penciptaan Indonesia dan manusia Indonesia yang ideal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedikasinya yang mendalam pada manusia dan kemanusiaan itulah yang menghubungkan karier kepengarangan Pram dengan dunia internasional. “Ya, Adikku, kemanusian kadang menghubungkan seorang dari Kutub Utara dan seorang dari Kutub Selatan,” tulis Pram dalam Bukan Pasar Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, masyarakat dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan mengenal puncak monumen itu sebagai orang yang tak pernah bungkam melawan segala kesewenang-wenangan. Di mata hati banyak orang, perjuangan Minke adalah perjuangan dunia melawan gelombang pasang sejarah ketidakadilan dan penindasan. Nasib buruk si Gadis Pantai adalah perlakuan umum yang diterima kebanyakan perempuan sedunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Pram telah menunjukkan jati diri dan arah kesusastraan Indonesia pada zamannya, dan menegaskan fungsi pengarang pada masyarakatnya. Pram berhasil mengukuhkan Realisme Sosialis dengan hakikatnya bahwa sastra, dan pengarangnya tentu saja, merupakan agen perubahan, dan harus mengabdi kepada kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semua inilah Pram menempatkan diri secara tepat dalam tata kehidupan dunia, sekaligus diperhitungkan sebagai salah satu pusatnya yang mencengangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia menyanjung Pramoedya sama tinggi dengan penulis-penulis dunia, sejajar dengan Chinua Achebe (Nigeria), Umberto Eco (Italia), Carlos Fuentes (Mexico), atau Milan Kundera (Czechoslovakia) dan pendekar-pendekar sastra lainnya. Dunia mengakui Pram sebagai bagian terpenting dari peradaban sastranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti Aleksander Solzhenitsyn di Russia, Gunter Grass di Jerman, dan Yukio Mishima di Jepang, kau akan tahu Indonesia melaluinya. Bersanding dengan para penulis itulah saya mendudukkan Pramoedya,” ucap John McGlynn, orang Amerika yang menerjemahkan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ke dalam bahasa Inggris (The Mute's Soliloquy, 1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pun seakan berlomba untuk memberinya penghargaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada paling tidak 12 penghargaan bergengsi berkelas internasional semisal Freedom to Write Award dari PEN Amerika (1988), dan Ramon Magsaysay Award dari Filipina (1995) disematkan kepada Pramoedya Ananta Toer. Umumnya, semua plakat itu menyatakan penghormatan terhadap ia yang dinilai brilian menonjolkan kebangkitan dan pengalaman modern rakyat Indonesia, kebebasan berekspresi, dan perjuangan tak kenal henti demi tegaknya demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada paling tidak 8 negara berbeda dari mana penghargaan-penghargaan itu bersumber. Lima dari AS, dan masing-masing satu dari Belanda, UNESCO di Perancis, Jepang, Norwegia, dan Chili. Seolah-olah belum cukup, lebih dari lima kali (1981, 1986, 1995, hingga 2005, dan 2006) Pram dikabarkan masuk dalam daftar calon peraih Nobel Sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra Indonesia di luar negeri sebagai pemerintahan militeristik yang menindas dan otoriter serta-merta membaik—sekalipun enggan diakui—oleh pencapaian Pramoedya. &lt;br /&gt;Apa yang dunia berikan kepada dirinya seolah-olah menggenapi omongan Pram sendiri dalam Menggelinding I: harum mewanginya nama pengarang ditentukan oleh hasil penanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hasil penanya tersebut membuatnya menjadi orang yang paling berpengaruh di Asia (Asian Heroes, selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time pada 2002. Harum wangi karyanya mentahbiskan sang penulis sebagai bagian dari 100 intelektual terkemuka dunia 2005 versi Prospect, sebuah majalah dari Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia seharusnya malu kepada dirinya sendiri. Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Perancis—negeri yang memuliakan humanisme—menganugerahkan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters (1999) kepada Pramoedya. Sementara, di sini, di tanah airnya sendiri, karya-karya Pram dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, karya-karya Pramoedya diterjemahkan ke dalam lebih dari 43 bahasa di seluruh dunia (yang paling banyak adalah Bumi Manusia). Ini merupakan prestasi yang sulit dicapai oleh sastrawan nusantara, dan bahkan dunia. Karya-karyanya demikian luas dibaca di luar negeri, dan bahkan dimasukkan sebagai bagian dari silabus pendidikan sastra untuk sekolah-sekolah menengah di beberapa negara seperti Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, dunia seolah turut memiliki Pram, dan memandang Indonesia dari sisinya yang paling baik. Indonesia dikenang dan dihormati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui maupun tidak, Pram dengan karya-karyanya mampu mengubah imaji buruk rupa tentang Indonesia: bahwa Indonesia tidak hanya terkenal karena pelanggaran HAM-nya, tetapi juga karena prestasi dari orang-orang yang dirampas haknya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anak Semua Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan bila kemudian Pram diidentifikasikan sebagai Raden Mas Tirto atau Sinyo Minke sendiri. Segenap pencapaian, lanskap hidup, sampai garis perjuangannya menunjukkan kesamaan haluan dengan tokoh utama Tetralogi Buru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas kiranya ditegaskan pula bahwa kedudukan Pramoedya, oleh karenanya, adalah sebagai milik Indonesia dan sebagai harta pusaka dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika ia dikabarkan meninggal, dunia terhenyak kehilangan. Berita ini menjadi headline di sejumlah surat kabar terkemuka dunia, ditulis oleh lebih dari 38 media internasional di internet, dari Arab hingga Afrika, dari Eropa sampai Amerika, juga Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang dijuluki oleh Ong Sor Fern di Straits Times (8 Mei 2000) sebagai Indonesia's grand old man of letters pada akhirnya kalah pula. Bukan oleh Orde Baru yang ia benci setengah mati, tetapi oleh sebuah faktisitas yang tak tertolak oleh siapa pun manusia: kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun sangat mendamba kebebasan, juga kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran, serta bertarung demi cita-cita yang suci itu, anak kandung Revolusi Perancis ini akhirnya harus tunduk oleh maut. “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Pram, demikian ia minta disapa, pada akhirnya harus membaringkan tubuh renta yang sudah teramat lelah itu. Karet Bivak menjadi peristirahatan pamungkasnya setelah 81 tahun memahat konsepsi ideal tentang tanah airnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia tetap hidup dalam karya, dan menjadi ruh dari hidup itu sendiri. Langkah-langkahnya terjejak di Indonesia dan di seluruh benua. Hingga kapan pun, si Anak Semua Bangsa itu tak akan pernah terlupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Dani Wicaksono&lt;/b&gt;, Wartawan Olahraga Harian Jurnal Nasional. Kontributor Indonesia Buku.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4344263844413840751?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4344263844413840751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4344263844413840751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4344263844413840751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4344263844413840751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/anak-semua-bangsa-bukan-hanya-anak.html' title='Anak Semua Bangsa, Bukan (Hanya) Anak Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5510200367099511647</id><published>2009-04-20T19:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T20:09:29.847-07:00</updated><title type='text'>Sayap-sayap Dunia Pramoedya</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Dani DN. Wicaksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kalimat berikut ini tidak akan melegakan banyak pengarang. Ada pencapaian-pencapaian tertentu di mana seorang penulis bisa disebut besar, atau jauh lebih besar: jangkauan karya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kenyataan zaman ini. Tidak ada seorang penulis menjadi besar tanpa dukungan dan bantuan dari, selain pembacanya, orang-orang terdekatnya: jaringan penerbitan, sanak-keluarga, atau editornya. Pun, tidak ada penulis menjadi jauh lebih besar tanpa ada ikhtiar dan niat baik dari orang-orang yang mengupayakan penerbitan karya-karya sang penulis ke dalam bahasa asing, paling tidak ke dalam satu atau lebih bahasa internasional yang berlaku sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah persoalan tentang sejauh mana sebuah karya bisa ‘terbang’. Apakah seorang pengarang merasa cukup bila tulisannya sudah demikian dikenal di dalam negeri? Sebagian pengarang akan mengiyakan. Sebagian lainnya mungkin akan menggelengkan kepala. Sebagian lagi, yaitu orang-orang yang bukan pengarang, akan merasa tidak rela. Yang terakhir ini saya sebut sebagai malaikat-malaikat pelindung yang memberi sayap kepada sang pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat-malaikat ini bergelar penerjemah. Pada prinsipnya, mereka adalah para Indonesianis yang demikian besar menaruh minat dan perhatiannya terhadap perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia, sehingga bisa dikenal oleh bangsa asing (Harian Pikiran Rakyat,10/7 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan tulisan ini, merekalah yang menyematkan sayap pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Merekalah yang diluapi oleh niat baik untuk memperkenalkan kepada dunia luar bahwa di sini, di tanah Indonesia ini, ada pengarang hebat, seturut Harry Aveling, yang dikurung di sebuah pulau terasing tanpa proses peradilan. Merekalah yang memberi daya terbang bagi sang harimau yang terpenjara, yang benar-benar menyanyikan kesunyian seorang bisu. Dengan bahasa lain, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa merangkum semuanya, tetapi ada beberapa nama bisa disebut, dan memang pantas disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harry George Aveling&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Inilah Indonesianis kelahiran Sidney, Australia, 30 Maret 1942, yang mencurahkan kecintaannya pada studi-studi sastra Melayu dan Indonesia semenjak tahun 1962 hingga sekarang. Kecintaan dan ketekunan tersebut mengantarkan Profesor Doktor di bidang Creative Arts dan Literary Translation dari University of Technology ini menjadi pengajar di Universiti Sains Malaysia (1972-1975) di Penang, dan Guru Besar Tamu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (2006-…). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Aveling, laku penerjemahan adalah, “Tugas kita yang sangat sakral. Sebagai perantara budaya.” Ia yang menganggap Pramoedya sebagai sastrawan nomor satu di Indonesia merasa perlu memperkenalkan kepada dunia luar bahwa di Indonesia ada pengarang agung yang dipenjarakan di Pulau Buru selama 14 tahun tanpa proses peradilan, yang karya-karyanya sangat hebat dan pantas dikagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia Tenggara adalah targetnya yang terutama. Memang, Cerita dari Blora sudah beredar di Eropa (dalam bahasa Rusia) sejak 1956—berarti karya-karya Pram sudah diterjemahkan ke bahasa asing—tetapi Asia Tenggara belum mengenal Pram dalam bahasa Inggris. Maka ia menyusun sebuah kompilasi yang berjudul A Heap of Ashes, meskipun ia belum pernah bertemu muka dengan sang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah perpaduan dari: Yang Sudah Hilang, Kemudian Lahir Dia, Dia yang Menyerah (ketiganya adalah cerpen-cerpen dari Cerita dari Blora), Bukan Pasar Malam, dan Sunyi Senyap di Siang Hidup. Dari pilihan ceritanya, terang bahwa buku yang terbit di Australia tahun 1975 ini diniatkan oleh sang penerjemah sebagai sebenar-benarnya upaya untuk memperkenalkan kepada publik riwayat kehidupan Pramoedya Ananta Toer, yang memang tersiar dalam sebagian karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Aveling meluncurkan The Fugitive, terjemahan dari karya Pram, Perburuan. Ini waktu Aveling mengajar di Penang, Universiti Sains Malaysia. Dari data yang diperoleh, sepertinya buku The Fugitive diterbitkan dalam waktu dan oleh penerbit yang sama dengan karya Iwan Simatupang, The Pilgrim (Ziarah). Kedua-duanya diterjemahkan oleh Harry Aveling, sama-sama diterbitkan pada tahun 1975 oleh Heinemann Educational Books (Asia), Hongkong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, penerbitan The Fugitive di Singapura itu dianggap buruk dari segi bisnis oleh Pramoedya sehingga tidak laku, dan Pram hanya mendapat royalti sebanyak 7 US$ dalam waktu satu tahun (Mutiara, 19-25 Sept. 1995). Sementara, The Pilgrim-nya Iwan Simatupang beserta penerjemahnya sekaligus memperoleh penghargaan First ASEAN Literary Prize (1977).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelahnya, masih dengan penerbit yang sama, Aveling menyusun bunga rampai cerpen-cerpen Indonesia yang berjudul From Surabaya to Armageddon, Indonesian Short Stories. Pada buku ini Aveling  menyertakan tiga cerpen dari Cerita dari Blora: Inem, Anak Haram, dan Sunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berikutnya, Aveling menerjemahkan Sikap dan Peranan Kaum Intelektual Di Dunia Ke Tiga. Makalah tersebut dibuat Pram untuk sebuah diskusi yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Universitas Indonesia pada 1987—yang berbuntut pada penangkapan dan pengeluaran sejumlah mahasiswa penyelenggara diskusi. “Saya membaca naskahnya di Malaysia. Saya menerjemahkan langsung dan menerbitkan itu tahun 1987, saya kira. Dan diterbitkan oleh Majalah Tenggara, di Malaysia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kira-kira tahun 1989, Aveling menemui Pramoedya yang sudah keluar dari Buru. “Saya membawa Gadis Pantai waktu itu. Saya meminta persetujuan kepada dia untuk menerjemahkan Gadis Pantai ke dalam bahasa Inggris,” demikian Aveling berkisah. Pram setuju. Tanpa syarat-syarat apapun. Maka Aveling menerjemahkannya, dan menerbitkan buku itu tahun 1991, di Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena perhatiannya yang serius terhadap karya-karya Pramoedya, maka tak berlebihan bila Harry Aveling kita anggap sebagai salah satu sayap Pramoedya. Dia adalah angkatan pertama penerjemah karya-karya “Seorang Bisu” (dengan izin langsung dari Pramoedya sebelum ada Hasta Mitra), salah seorang yang berjasa menafsir “Nyanyi Sunyi”-nya ke dunia luar, terutama Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Max Lane&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ia adalah sayap yang paling disayang Pramoedya. Penerjemah karya-karya Pram angkatan kedua (yang seizin Hasta Mitra—penerbit yang dikelola Pram, Hasjim Rahman, dan Joesoef Ishak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain muda, berwawasan, dan memiliki jaringan internasional, Max Lane adalah aktivis politik asal Australia, yang merupakan salah satu tokoh terhormat di pengurus teras Persatuan Rakyat Demokratik periode paling awal—organisasi yang kelak berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD), di mana Pramoedya Ananta Toer pernah didaulat menjadi anggota kehormatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, lulusan 1972 jurusan Studi Malaysia dan Indonesia Universitas Sidney ini datang ke Indonesia sebagai kerani di sebuah kantor dagang Australia di Jakarta. Itu tahun 1973. Tetapi ia kemudian mengundurkan diri dan menetap di Yogyakarta, di mana ia menikahi Aini Chalid, seorang aktivis mahasiswa UGM, dan WS. Rendra, penyair yang demikian kritis terhadap ketidakadilan sosial. Di Jakarta, Lane juga mengenal Hariman Siregar yang kala itu masih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI, yang sangat mengagumi Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980-an, ketika Max Lane bekerja sebagai staf kedutaan Australia di Jakarta, Tetralogi Pulau Buru, diawali dengan Bumi Manusia, mulai diterbitkan (Juli 1980) oleh Hasta Mitra. Tatkala itu, Hariman Siregar dikabarkan membeli novel Pram dalam jumlah banyak untuk dibagi-bagikan kepada kawan-kawannya (sebagaimana dituturkan oleh Wilson dalam Majalah Pantau, November 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benang samar-samar yang merajut hubungan Max Lane, pemborongan buku oleh Hariman, dan Pramoedya. Apalagi pada pertengahan tahun 1980-an itulah Max Lane pertama kali berkenalan dengan Pramoedya. Tentu saja tidak bisa dipastikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang jelas, Lane inilah yang menerjemahkan Bumi Manusia (1982), Anak Semua Bangsa (1984), Jejak Langkah (1990), dan Rumah Kaca (1992) ke dalam bahasa nenek moyangnya, dan diterbitkan oleh Penguin Book Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai, tahun 1982, ia diusir dari kantor kedutaan oleh Dubes Australia Fred Dalrymple ketika ketahuan mengerjakan proyek itu. Dipulangkan ke Australia. Peristiwa inilah yang membuatnya berinisiatif untuk menerbitkan hasil terjemahannya di Pengun Book Australia (dan diambil alih oleh Penguin Book Amerika antara 1996-1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran 1950 yang juga pernah menerjemahkan Perjuangan Suku Naga-nya Rendra ini menyatakan bahwa, “Sebelum baca Pramoedya, Max Lane adalah orang baik-baik saja yang mau jadi diplomat. Max Lane yang sesudah membaca buku-buku Pramoedya full time jadi aktivis politik, ikut gerakan progresif, menjadi aktivis full time yang prioritas utamanya adalah bagaimana membantu pergerakan mencari keadilan sosial” (Radio Nederland Ranesi, 1 Mei 2006). Ia merasa telah ‘direkrut’ oleh Pramoedya.&lt;br /&gt;Katanya sendiri, Max Lane sudah selesai pula menerjemahkan Arok Dedes dan juga Hoakiau di Indonesia. Ini berarti semakin menegaskan peranannya sebagai sayap Pramoedya yang paling berjasa. Sebab, dengan penerjemahan Max Lane itulah komunitas pembaca Pram meledak luar biasa. Sedunia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5510200367099511647?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5510200367099511647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5510200367099511647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5510200367099511647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5510200367099511647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/sayap-sayap-dunia-pramoedya.html' title='Sayap-sayap Dunia Pramoedya'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-10195396638351783</id><published>2009-04-20T19:49:00.002-07:00</published><updated>2009-04-20T19:55:32.774-07:00</updated><title type='text'>Prof. Dr. Harry Aveling: “Karena Pram, Saya Hormati Indonesia”</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Dani Wicaksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Harry Aveling adalah Indonesianis kelahiran Sidney, Australia, 30 Maret 1942. Ia mencurahkan kecintaannya pada studi-studi sastra Melayu dan Indonesia semenjak tahun 1962 hingga sekarang.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan dan ketekunan tersebut mengantarkan Profesor Doktor di bidang Creative Arts dan Literary Translation dari University of Technology ini menjadi pengajar di Universiti Sains Malaysia (1972-1975) di Penang, dan Guru Besar Tamu, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (2006-…). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Aveling, laku penerjemahan adalah, “Tugas kita yang sangat sakral. Sebagai perantara budaya.” Ia yang menganggap Pramoedya sebagai sastrawan nomor satu di Indonesia merasa perlu memperkenalkan kepada dunia luar bahwa di Indonesia ada pengarang agung yang dipenjarakan di Pulau Buru selama 14 tahun tanpa proses peradilan, yang karya-karyanya sangat hebat dan pantas dikagumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun menerjemahkan beberapa karya Pram yang terserak dalam sebuah kompilasi yang diberi judul A Heap of Ashes, meskipun diakuinya belum pernah bertemu muka dengan sang penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah perpaduan dari: Yang Sudah Hilang, Kemudian Lahir Dia, Dia yang Menyerah (ketiganya adalah cerpen-cerpen dari Cerita dari Blora), Bukan Pasar Malam, dan Sunyi Senyap di Siang Hidup. Dari pilihan ceritanya, terang bahwa buku yang terbit di Australia tahun 1975 ini diniatkan oleh sang penerjemah sebagai sebenar-benarnya upaya untuk memperkenalkan kepada publik riwayat kehidupan Pramoedya Ananta Toer, yang memang tersiar dalam sebagian karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah novel Perburuan, Gadis Pantai, dan Nyanyi Sunyi, serta artikel Pram  Sikap dan Peranan Kaum Intelektual Di Dunia Ketiga ini ditemui DN Wicaksono di kampus Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sastra Indonesia dikenal oleh bangsa asing, antara lain, berkat jasa para Indonesianis yang demikian besar menaruh minat dan perhatian terhadap perkembangan sastra Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat terhormat. Sebenarnya itulah tugas kita yang sangat sakral. Sebagai perantara budaya. Budaya kami dengan budaya Indonesia. Yahh… Tak kenal maka tak sayang, demikian kata orang. Jadi ini penting sekali untuk memperkenalkan, mendekatkan hati orang juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sastrawan Indonesia yang pantas bersanding dengan sastrawan-sastrawan dunia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitor Situmorang sangat berkelas. Toety Heraty, Dorothea, Goenawan Muhammad. Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, dramawan… Banyak sekali yang harus diperkenalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Termasuk Pram?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk Pram. Mungkin Pram nomor satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama kali bertemu dengan Pram?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perkenalan, ada pertemuan. Sudah lama saya berkenalan dengan karya-karya Pram. Tapi kali pertama bertemu dengan dia… saya pikir tahun 1989. Sesudah dia keluar dari Buru. Saya sudah menerjemahkan karya-karya dia jauh sebelum bertemu. Dan memang tak sempat bertemu. Tapi salah satu tujuan saya dalam menerjemahkan itu supaya dunia luar dapat tahu mengenai pengarang yang agung ini, yang dipenjarakan di Indonesia tanpa ada proses peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1989 saya bertemu dengan dia. Saya membawa Gadis Pantai waktu itu. Saya meminta persetujuan kepada dia untuk menerjemahkan Gadis Pantai ke dalam bahasa Inggris. Dia setuju menulis di halaman pertama. Tak ada syarat-syarat apapun. Pokoknya dia menerima begitu saja. Jadi, saya menerjemahkannya di Australia, dan buku itu terbit tahun 1991, di rantau ini, di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa seperti akrab. Karena dia senang sekali dengan terjemahan A Heap of Ashes. Itu semasa dia di Buru. Dia sudah terima buku itu dari seorang wartawan. Dan sesudah itu dapat dirasakan bahwa Pram senang sekali masih diakui sebagai seorang sastrawan dan tidak dilupakan oleh dunia luar Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapan mulai menerjemahkan karya-karya Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai menerjemahkan itu pada tahun 1975, saya kira. Waktu itu saya menyusun satu buku yang berjudul A Heap of Ashes yang memuat tiga buah cerita pendek. Dan satu novelet. Satu, Yang Sudah Hilang mengenai kekanak-kanakan dia. (Buku) ini adalah kumpulan riwayat hidup Pram, dari masa muda sampai dewasa. Sesudah cerpen tentang childhood, ada Kemudian Lahir Dia mengenai pergerakan nasionalis, khususnya mengenai pekerjaan bapaknya Pram. Kemudian Dia yang Menyerah mengenai zaman Jepang. Itu mengenai revolusi, kacau-balau keluarga diri sendiri. Bukan Pasar Malam mengenai masa selepas revolusi, kekecewaan Pram yang luar biasa terhadap hasilnya revolusi. Aduh… tidak ada revolusi sebenarnya dalam arti perubahan masyarakat. Tidak terjadi. Masyarakat masih “duduk”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesudah itu cerita yang terakhir: Sunyi Senyap di Siang Hidup yang ditulis atau terbit pada tahun 1956 dan menceritakan kekecewaan, penderitaan seorang penulis waktu itu, yang mulai sudah cukup tua, sudah kawin sekali lagi. Jadi, ini mengenai Pram yang mileage, satu pemandangan yang cukup lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama (saya) menerbitkan buku The Fugitive, (terjemahan dari) Perburuan. Ini waktu saya mengajar di Penang, Malaysia. A Heap of Ashes saya terjemahkan di Australia, sebelum mengajar—mulai mengajar dari 1972 sampai 1975—di Penang, dan The Fugitive saya buat ketika sedang mengajar di Universitas Sains Malaysia. Mmmm, pada waktu yang sama dengan Iwan Simatupang. Ziarah. The Pilgrimage. Yang bukunya memang sangat berbeda. Tetapi, bagi saya, (buku-buku itu) menunjukkan kekuatan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda takut pada waktu menerjemahkan karya-karya Pram?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak takut. Pada waktu itu tahun 1996. Saya dicekal, tidak boleh masuk Indonesia. Alasan pokoknya adalah karena saya menerjemahkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. &lt;br /&gt;Saya disuruh keluar. Sesudah satu tahun saya bisa kembali ke Indonesia. Selama dua minggu saja. Saya diundang oleh suatu kelompok PEN di rumah ibu Toety Heraty. Banyak orang yang datang malam itu, termasuk Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau bertemu lagi dengan Pramoedya, saya bisa masuk daftar hitam lagi. Tetapi saya nekat berfoto bersama dia. Haha… Yeah, I had to do that, and I was proud to do that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Usaha-usaha penerjemahan karya-karya Pram ke bahasa asing—terutama bahasa Inggris—membuat nama Pram terkenal di dunia internasional sehingga Pram sering mendapatkan penghargaan dari luar negeri, semisal Magsaysay Award. Anda punya kebanggaan khusus tentang hal ini?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bangga. Dia akhirnya diakui oleh dunia luar Indonesia, setelah keluar dari Buru. Tugas saya sebelum dia keluar dari Buru sebenarnya adalah untuk memperkenalkan karya-karyanya. Sesudah adalah giliran angkatan yang kedua: Max Lane, John McGlynn, dll. Jadi, ada angkatan saya yang pada tahun tujuh puluhan, dan ada Max Lane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mengulang apa yang telah saya lakukan sebelumnya. It’s okay.&lt;br /&gt;Jadi, ada yang baik dan ada yang buruk tentang publisitas Pramoedya. Kebanyakan penuh puji-pujian oleh karena Pramoedya melambangkan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya disamakan dengan Solzhenitsyn. Dia dianggap sebagai seorang pejuang politik. Pandangan Pram membuat pemerintahan Amerika bersimpati, juga dunia di luar Indonesia yang melihat Indonesia sebagai sebuah negara dengan pemerintahan militeristik, yang didominasi oleh rezim otoritarianisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak kecewa dengan pandangan yang kurang simpatik terhadap Indonesia. Kerja saya adalah supaya orang bersimpati kepada Indonesia. Karya-karya Iwan Simatupang, dan yang lain itu saya terjemahkan supaya orang di luar bersimpati kepada Indonesia. Ingat, resepsi umum waktu itu adalah dunia tidak bersimpati kepada Indonesia. Tidak mau memahami, tetapi mau menyerang atas nama “demokrasi”. Haha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda pernah juga menerjemahkan “Sikap dan Peranan Kaum Intelektual Di Dunia Ke Tiga”.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menerjemahkan langsung dan menerbitkan itu di Malaysia. Tahun 1987, saya kira. Dan diterbitkan oleh Majalah Tenggara, di Malaysia. Dan makalah oleh Pram itu diterbitkan dalam satu makalah lain oleh Usman Awang, penyair agung Malaysia. Dua-duanya membicarakan peranan sastra dalam membebaskan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan orang Malaysia terhadap Pram memang lebih positif. Buku-bukunya tidak dilarang di Malaysia. Bahkan beredar dengan luas. Sampai buku Pram, yaitu Keluarga Gerilya, dikaji di SMU, menjadi sebagian dari silabus kesusastraan Malaysia tahun tujuh puluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedudukan karya Pram di khasanah sastra dunia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, terus terang, kedudukannya ambivalen. Pada satu pihak dikagumi, dibaca dengan luas, dihormati sebagai orang yang menolak pemerintah yang tidak adil, tetapi pada pihak lain buku itu, terus terang, agak melodramatis. Bumi Manusia, terutama, yang mengenai seorang murid yang jatuh cinta pada seorang gadis suci, lalu kawin, dan dipisahkan... ini cerita panji, cerita lama, seperti buku Harlequin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Pram tidak selalu bagus. Ada yang bagus, ada yang memang kurang bagus. Kalau berurusan dengan sejarah, (karya-karya Pram itu) bagus! Kehidupan di kampung itu bagus. Kehidupan zaman revolusi cukup bagus. Tetapi kadang-kadang karakternya agak datar. Not very well developed. Hampir stereotype.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter tokoh-tokoh dalam karya Pram itu adalah pemuda dan perempuan yang tangguh, ulet. Tidak tahu mengapa. Mungkin karakterisasi ini sama dengan gaya Jawa. Wayang. Arjuna sifatnya begini-begitu…tidak perlu dikaji, semua sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tetapi Pram menentang keras feodalisme Jawa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia orang Jawa. Kalau tidak peduli, dia tidak akan mau menentang. Tetapi kalau memang terikat dan dibentuk oleh budaya Jawa, dia bisa sangat cinta dan sangat benci terhadap alam yang membentuknya itu. Dan memang kehidupannya Pram seperti perang besar dengan budaya Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram menerima spiritualitasnya orang Jawa. Sikapnya terhadap raga menunjukkan seperti orang yang sedang beryoga untuk mengumpulkan kekuatan jiwa, kekuatan semangat. Seperti semangat Bushido-nya orang Jepang. Itu semangat perjuangan. Pram belajar mengenai kesaktian jiwa orang Jawa, kesaktian yang dapat dikembangkan melalui disiplin. Disiplin menulisnya menunjukkan hal itu. Dia belajar itu dari budaya Jawa. Self-training, self-development. Dari sini, Pram menolak sekaligus menerima budaya Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram berulang kali mendapat nominasi Nobel Sastra (sejak 1981).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah juga diminta menominasikan Pram, dua tiga kali. Tahun 1990, saya kira. Tidak diterima. Tetapi saya paham. Hadiah Nobel memang bukan untuk yang berjuang saja, bukan hanya untuk mengakui prestasi orang, tetapi juga karyanya. Dan karya-karya Pram ada yang baik, baik sekali, ada yang buruk, buruk sekali, ada yang lumayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Midah, Si Manis Bergigi Emas, itu tidak bagus menurut saya. Keluarga Gerilya tidak begitu bagus juga. Orang Indonesia jarang menyebut buku itu. Kalau yang Tetralogi Pulau Buru itu, kadang-kadang bagian ‘ini’ bagus, setelah itu kurang bagus.&lt;br /&gt;Dan menang atau tidak menang, saya kira tidak apa. Ini hanya permainan saja. Tahun ini orang Eropa yang menang, tahun besok orang Asia harus menang, tahun ini perempuan harus menang, tahun besok akhirnya pengarang yang sudah lama dilupakan harus diakui... yah, jangan menganggap serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Karya-karya Pram yang mana yang sangat Anda suka?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm… dua. Satu, Gadis Pantai. Memang cerita itu sangat mengharukan. Simpati Pram pada gadis pantai itu sangat kuat. Saya senang dengan buku itu. Dua, tentu saja adalah A Heap of Ashes. Itu suatu kumpulan yang bagi saya cukup lengkap, cukup representatif, dan cukup diabaikan juga, hahaha… Tidak boleh terbit lagi, maksud saya. Kalau Perburuan, The Fugitive, terbit dua kali. Kalau yang dari Tetralogi, saya suka Bumi Manusia. Ini buku yang bagus. Idenya bagus: pro-Jawa tetapi anti-Jawa, prodemokrasi tetapi anti-Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhir novel itu, si Minke bisa belajar bahwa budaya Jawa tidak selamanya buruk. Minke belajar mengakui dan menghormati budaya Jawa, seraya belajar bahwa budaya Barat yang dikaguminya sering kali adalah budaya yang munafik. &lt;br /&gt;Ya, yang tidak mau memberikan kemerdekaan kepada orang lain. Bangga atas demokrasi, tetapi menjajah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengaruh Pram pada Anda?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghormati Indonesia, itu satu. Tidak pernah give up untuk mengenal Indonesia. Di zaman Orde Baru, saya dicekal. Tetapi saya masih percaya kepada “Proyek” Indonesia yang dibayangkan oleh Pramoedya sebagai negara yang damai, adil, dan makmur. Mungkin belum tercapai juga sampai sekarang, tetapi itu harapan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Pram sangat cinta kepada Indonesia dan kepada “ideal” Indonesia. Dari karya-karyanya saya tahu hal itu. Dialah sang nasionalis sejati. Dia kecewa ketika negara ini tidak makmur, tidak adil. But still he believes, dan sampai mati he believes, dan I’m sure he believes… dan saya juga percaya akan the ideal of Indonesia. Yah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Saran Anda pada pemerintah Indonesia mengenai kampanye beberapa pihak untuk memasukkan karya-karya Pram dalam kurikulum pendidikan di Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, sekaranglah saatnya. Sekaranglah saatnya mencabut larangan atas buku-buku Pram. Sekaranglah saatnya untuk berkata: Oke, kita harus menghargai Pramoedya, kita harus memasukkan karya-karyanya sebagai bagian dari kebudayaan nasional, dan tidak perlu mendendam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana sastra Indonesia pasca-Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm… Sejujurnya, sudah lama kita mengalami masa pasca-Pram. Penulisan Pram pada tahun 1980-an memang bagus, tetapi itu adalah penulisan realis yang berakar pada gaya penulisan tahun 1950-an. Dan pasca-Pram ada Iwan Simatupang, ada Seno Gumira Ajidharma, ada Budi Dharma, ada macam-macam perkembangan. Jadi tidak perlu takut. Oke, hari ini Pram tidak ada, tetapi ada pembukaan baru, permulaan baru, sebab kita sudah berada dalam masa pasca-Pram sejak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda datang ke pemakaman Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Pram masih hidup dalam rasa. Dalam buku-bukunya, Pram masih hidup. Dalam penghormatan saya, dia masih hidup… Untuk apa yang telah dia lakukan, untuk apa yang telah dia persembahkan, untuk apa yang telah diwariskannya, Pram masih hidup. &lt;br /&gt;Saya akan datang ke kubur Pram, suatu hari kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kata-kata terakhir mengenang almarhum Pramoedya Ananta Toer?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih. Thank you for what you have given to Indonesia, for what you have given to the world. Sebab dunia akan memahami Indonesia secara lebih baik melalui apa yang telah Anda tulis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-10195396638351783?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/10195396638351783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=10195396638351783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/10195396638351783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/10195396638351783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/prof-dr-harry-aveling-karena-pram-saya.html' title='Prof. Dr. Harry Aveling: “Karena Pram, Saya Hormati Indonesia”'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1812754126082534839</id><published>2009-04-20T19:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:48:57.321-07:00</updated><title type='text'>Suara-suara dari Seberang</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Dani Wicaksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kompilasi pandangan dan komentar mereka yang tinggal di seberang Indonesia tentang Pram, sepak terjang politiknya, dan tentu saja karya-karyanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;M. Bakri Musa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis kelahiran Malaysia ini berprofesi sebagai ahli bedah di Silicon Valley, California: “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy), adalah bukti paling kuat bagi penindasan atas kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto, jauh lebih kuat ketimbang laporan Amnesty International.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tariq Ali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis ini baru saja meluncurkan buku Street Fighting Years dan, bersama dengan David Barsamian, Speaking of Empires &amp; Resistance. Counter Punch, 2 Mei 2006: "Kematian Pramoedya di Jakarta, 30 April 2006, adalah kehilangan besar bagi kesusastraan dunia. Dialah intelektual Indonesia terkemuka, sekaligus penulis fiksi yang jenius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Carolyn See&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Washington Post, 2 Agustus 2002: “Mereka yang membaca karya Pramoedya Ananta Toer akan mengenalnya sebagai seorang novelis Indonesia yang tiada tandingan, juga seorang lelaki yang diluapi keberanian luar biasa… dan berkali-kali ia dinominasikan sebagai pemenang Nobel Sastra.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumit Mandal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Vox, 24 September 2000, hal. 8-13. (Vox adalah majalah khusus Minggu dari Harian Malaysia The Sun): “Ia menuturkan masa lalunya dengan keterampilan seorang pencerita. Nada suaranya yang rendah melagukan kesedihan, ketakutan, sekaligus kegembiraan… Ia bicara dari kesunyian, sesuatu keadaan yang dicari oleh banyak penulis untuk mencipta kembali dunia dalam imajinasi mereka.… Hidup dan karya Pramoedya, dalam kesunyian ini, adalah pengungkapan nan kuat dari pedih-perih sejarah bangsanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ben Abel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cornell University, abstraksi dari Sesi Asia Tenggara dalam AAS, 1996: “Sebagai seorang penulis, Pramoedya menunjukkan jalan untuk mempergunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapan gagasan, perhatian, dan aspirasi. Ia pun menolak batasan-batasan dari bahasa baku dan non-baku, formal dan informal, kromo dan ngoko. Ia mengajarkan bahwa setiap frase dan ungkapan dalam Bahasa Indonesia dapat digunakan secara bebas untuk menyampaikan gagasan, menciptakan dinamika hidup baru yang kreatif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mishi Saran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis asal Hongkong. International Herald Tribune, 6 April 1999: “Lebih dari semuanya, Pramoedya adalah seorang humanitarian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;John McGlynn&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Direktur Publikasi Lontar Foundation dan penerjemah sebagian karya Pram: “Fokusnya selalu mengenai lanskap lebar, kekuatan-kekuatan sosial, politik, historis yang jalin-menjalin membentuk Indonesia. Tak ada penulis Indonesia lain yang sesukses Pramoedya dalam melakukan hal ini. Dan tidak ada penulis lain yang sedemikian berkorban untuk mendidik bangsanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Max Lane&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Penerjemah sebagian karya Pram. Green Left Weekly, 10 Mei 2006: “Di antara banyak hal yang mempengaruhi Pramoedya, esai Maxim Gorky The People Must Know Their History teramat menuntunnya. Semenjak akhir 1950-an, Pramoedya menjadi sejarawan Indonesia pertama yang otodidak. Tidak ada sumber asing di matanya—dokumen-dokumen pemerintahan, diari, apa yang diketahui oleh seorang tukang cukur mengenai pelanggan setianya (yang salah satunya mungkin merupakan tokoh politik), koran-koran harian, novel-novel detektif. Bahkan, Pramoedya tergolong sebagai salah seorang sejarawan pertama di Indonesia yang memakai tape recorder (pinjaman dari seorang pengusaha kecil) untuk merekam sejarah lisan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alex G Bardsley&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;OpenDemocracy Ltd, penulis tesis: A Political Subject: Changing Consciousness in Pramoedya Ananta Toer's Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa, Cornell University, Agustus 1996: “Boleh saja Pram itu tuli, tetapi ia mendengar banyak hal. Orang-orang membawakannya dokumen-dokumen dan materi-materi sejarah (termasuk makalah tua keluaran CIA, sewaktu saya bertamu ke sana). Ia mengatakan kepada saya pengaruh Partai Komunis Jepang pada angkatan laut kerajaan, dan peranannya dalam mempersenjatai perjuangan rakyat Indonesia. Kami mendiskusikan sepak-terjang Aung San Suu Kyi dari Burma, terutama membandingkannya dengan Megawati Sukarnoputri atau Cory Aquino dari Filipina; Pram menyampaikan pada saya kalau ia telah menulis sepucuk surat dukungan kepada Suu Kyi, yang ingin betul saya baca suatu saat nanti. Kami berdebat: apakah junta militer Burma yang kleptokratik, irasional, dan pembunuh itu lebih buruk dari Orde Baru-nya Soeharto…. Saya suka lukisan tarung-jago yang diberikan Günter Grass kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wikipedia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The Free Encyclopedia: “Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) adalah seorang Indonesia yang menulis novel, cerita pendek, esai, polemik, serta sejarah tanah air dan bangsanya. Tulisan- tulisan Pramoedya yang lugas dan berani, yang sangat dihargai di Barat, diberangus dan dilarang terbit di tanah airnya sendiri, hingga sekarang. Oleh karena menentang kebijakan-kebijakan dari Presiden Sukarno, serta penerusnya, Orde Baru Presiden Soeharto, Pramoedya dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Selama bertahun-tahun menderita dalam penjara, ia telah menjadi a cause célèbre karena membela kebebasan berpendapat dan memperjuangkan HAM.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Loreen Neville dan James Blackburn&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Roving Insight, September-Oktober 1999: “Pramoedya telah menjadi figur paling kontroversial, seorang novelis dan esais dengan reputasi internasional luar biasa yang masih tidak dihargai di negerinya sendiri. Kontroversi rupanya menjadi atmosfer yang melingkupi sang penulis, dan lagi-lagi namanya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra, sebuah penghargaan yang akan membuatnya tergolong dalam lingkaran orang-orang seperti Sir Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris paling ternama, Nadine Gordimer, penulis kronik Afrika Selatan yang menolak politik apartheid, dan penyair Chili Gabriela Mistral dan Pablo Neruda, serta banyak lagi. Seandainya panitia Nobel berkeputusan untuk memberikan penghargaan itu kepadanya, maka Pramoedya akan seperti peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos-Horta, dan Uskup Belo: paria dari pemerintahannya, pahlawan dari para pembela kebenaran dan keadilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Robert Templer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Prospect Magazine, 2001: “Hidupnya adalah kaca benggala dari 74 tahun sejarah Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wendy Law-Yone&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Novelis yang kali terakhir mengunjungi Indonesia dan bertindak sebagai anggota delegasi HAM. The Washington Post, 25 April 1999: “’Jalan setapak ini,’ Pramoedya menulis sebuah epigraf di suatu tempat, ‘sebelumnya telah dilalui berkali-kali, tetapi baru sekarang seseorang menandai jalan ini.’ Sebuah pernyataan yang halus dan berwatak. Dan apakah yang menandai jalan itu selain daripada jejak langkah sang pahlawan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Willem Samuels&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;The New York Review of Books, Volume 37, Nomer 16, 25 Oktober 1990: “Tak ubahnya penulis-penulis lain yang terjun ke bidang politik, baik di persimpangan kiri maupun kanan jalan (dan hampir seluruh penulis Indonesia waktu itu, tanpa terkecuali, terlibat dalam dunia politik), apabila Mr. Toer merasa berseberangan dengan penulis lain, ia tidak akan mengutarakannya secara diam-diam atau rahasia, tetapi menyerukannya dalam sebuah ruang publik yang meniscayakan tanggapan balik. Terlebih lagi, kritiknya tidak ditujukan pada penulis-penulis lain yang menolak paham kaku yang digariskan partai kiri (Pram sendiri bahkan bukan anggota PKI), tetapi mereka yang tidak mendukung ideal-ideal revolusi Indonesia, dan malah menyia-nyiakan bakatnya untuk melayani sebuah masyarakat yang korup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jamie James&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;The New Yorker, 27 Mei 1996: “Prosa-prosa Pramoedya tidak selalu mengkilap, dan buku-bukunya kadang-kadang tidak terlalu menarik dalam sudut pandang tertentu. Akan tetapi, setiap orang yang hendak memahami Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat sedunia (setelah Cina, India, dan Amerika Serikat), haruslah membaca buku-bukunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Teeuw&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer (Pustaka Jaya, 1997, Hal. 381): “Memang, Pramoedya memiliki rasa keadilan yang fanatik dan benci mendalam terhadap segala macam ketakadilan, yang dibawa sejak kelahirannya dan/atau diilhami oleh lingkungan keluarga tempat ia tumbuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dr. Pamela Allen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membaca, dan Membaca Lagi: Reinterpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995 (Indonesiatera, 2004, Hal. 24): “Tetralogi Pramoedya merupakan suntikan realisme historis serius yang mencakup 1898-1918, satu periode perubahan besar di bidang sosial, ekonomi, dan politik di Hindia Belanda, ke dalam sastra Indonesia. … Novel-novel tersebut tidak berupa historiografi dan bukan sejarah yang tidak ditengahi, namun bersifat historis: mereka mengkonstruksi kembali suatu dunia khusus, menangkap kembali momen sekilas. …pembacaan saya atas novel-novel itu mengedepankan kenyataan sejarah itu maupun sejarah hidup Pramoedya sendiri, yang telah membentuk dan membatasi pengalamannya sebagai seorang penulis.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1812754126082534839?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1812754126082534839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1812754126082534839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1812754126082534839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1812754126082534839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/suara-suara-dari-seberang.html' title='Suara-suara dari Seberang'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2785589133682414225</id><published>2009-04-20T19:24:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:30:06.377-07:00</updated><title type='text'>Astuti Ananta Toer: “Mainan yang Diberi Pram Hanya Buku”</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astuti Ananta Toer adalah putri ketiga Pramoedya Ananta Toer. Pendiri Lentera Dipantara. Saat ini menjadi pengelola perpustakaan Pram di Bojong Gede, Bogor. Berikut kesaksiannya:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pram pernah menulis dalam memoarnya bahwa Anda memang disiapkan Pram untuk menjadi penulis seperti dirinya. Bagaimana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa setiap anaknya sudah dipersiapkan untuk menjadi penulis. Cara Pram adalah dengan menyuruh membuat buku harian. Dan saya selalu melakukan. Dan selalu ia baca. Saya juga beberapa kali menulis cerita dan puisi yang saya kirim ke majalah anak-anak seperti Si Kuncung atau ke majalah di Malaysia dengan nama samaran. Saya pun pernah buat novel yang pada akhirnya saya robek-robek. Karena Ibu baca. Dan ia tak ingin anaknya seperti bapaknya. Mungkin trauma. Ibu bilang bahwa kalau saya menulis akan lebih parah akibatnya dari bapaknya. Di situlah saya beku menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selain disuruh menulis catatan harian, bagaimana lagi cara Pram mengajar menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya berumur 8 tahun saya sudah diajar mengetik. Mengetik koran-koran yang akan dikliping. Dari situ saya diajar bagaimana menyambung kalimat. Saya juga disuruh membaca buku-bukunya. Dan ya itu tadi membuat buku harian. Biasanya menulis buku harian itu begini: ‘saya makan, terus saya minum, terus saya jalan’. Kata Pram bagaimana “terus-terus”nya ini agak dikurangi dan diubah. Lalu Pram menunjukkan caranya. Jadi dia mengajar menulis dengan praktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pram sering ngajak jalan-jalan sewaktu kecil?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu. Selalu. Begini, saya itu kan tak boleh keluar rumah. Kalau saya ingin main dan berteman, PAT itu mengajak ke rumah-rumah kedutaan. Ia memberi tahu bahwa ini bisa diajak main ini tidak. Dan waktu itu cuma saya yang diajak karena sudah bisa bermain dan berteman, sementara yang lainnya masih kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pakai apa jalan-jalannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vespa. Skuter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Warna?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru. Eh, biru muda. Zaman dulu skuter kan warnanya biru. Cuma satu warna waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pada saat kapan saja Pram biasanya menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pagi jam 9 dia selalu ada di depan mesin tik. Dan kalau hari minggu, dan melihat saya, saya selalu dicolekin dengan jarinya yang belepotan lem. Lem kliping. Saya ingat sekali, dari jaman dulu ia tak pernah lepas dari kliping. Kalau dulu itu kita bikin lemnya dari sagu. Kalau kita ngeliatin PAT belepotan dengan lem, pipi kita selalu dicolekin dengan lem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernah tidak Pram menulis sampai terus-terusan, bahkan lupa waktu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin. Saya nggak tahu persis. Tapi itu jarang tidur. Ia selalu menulis. Istirahatnya itu waktu tidur siang. Kalau malam, Pram tidur jam 9-10. Kemudian ia bangun jam 12 hanya untuk minum dan makan buah dan merokok lalu tidur lagi. Jam 2 ia pasti bangun. Menulis. Tapi karena nggak bisa menulis akhir-akhir ini maka jam segitu ia mengkliping. Kemudian ia tidur lagi dan bangun subuh untuk olahraga atau ke ladang. Begitu kebiasaannya. Kalau ia masih sehat dulu jam 4 pagi kita sudah mendengar suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana kalau Pram mengetik. Cepat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat sekali. Sangat cepat. Dan biasanya sambil bersenandung dan berlagu. Dan kalau mengetik ia tak menunduk tapi dengan kepala tegak, dada membusung, dan pasti duduknya akan miring. Bisa dibayangkan seperti orang yang sedang menyalin teks dengan mata tak melihat ke tuts, melainkan mata semata membaca teks yang ditik. Selalu miring badannya kalau mengetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pram pernah mengetik pakai komputer?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah. Pernah diajarin. Begini, kalau di mesin ketik kan tangan itu kan selalu nempel di keyboard, sementara komputer kalau tangan terus di tuts kan bisa terketik panjang. Akhirnya sama Pram keyboard itu digebrak keras. Rusak itu keyboard. Tangannya udah keras soalnya. Kalau mesin tik itu kan disayang dan dipegang terus. Kalau komputer kan enggak, dilepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernah diajak ke Istana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil iya. Bolak-balik ketemu Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bicara apa saja mereka kalau ketemu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak bercanda. Banyak ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mencandai apa?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Karena masih kecil, jadi saya tak tahu. Yang saya tahu mereka ketawa-ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam rangka apa Pram bolak-balik ke Soekarno?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Pram ingin buat biografi Soekarno. Saya kemudian paham bagaimana Pram itu lantang sekali bicara dan membela Soekarno karena ia memang tahu banyak dan dalam tentang siapa itu Soekarno dan posisinya. Dan setelah itu Pram tak melanjutkan lagi proyek penulisan biografi oleh sebab yang sebetulnya sepele. Tak perlu kamu tulis itu ya. (Astuti lalu menceritakan kisah ‘sepele’ itu yang memang membuat Pram tersinggung berat akibat ulah Soekarno yang jahil itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sering juga diajak ke kantor Bintang Timoer sewaktu PAT bekerja sebagai redaktur di rubrik Lentera?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali memang diajak ke Bintang Timoer yang sekarang di seputar Jalan Djuanda itu. Batu Ceper. Sekarang ditempati Hongkong Shanghai Bakery. Kalau ke sana, saya pasti dibelikan buku cerita dulu dan juga diserahkan kertas. Dengan begitu ketika saya sibuk membaca dan mencoret-coret, Pram pun leluasa mengetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kabarnya Anda sering didandani Pram seperti laki-laki.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Pram itu kan pingin punya anak laki-laki. Tapi nggak ada. Maka saya pun didandaninya seperti lelaki. Waktu tahun 60-an itu punya rambut pendek itu malu dan tak lazim. Tapi Pram berkeras memotong rambut saya jadi pendek seperti lelaki. Dan juga dipakaikan celana laki-laki. Celana  yang saya pakai itu jahitan Pram sendiri yang diambil dengan cara memotong celananya sendiri. Hanya karena kepingin punya anak laki-laki, sampai saya digituin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang paling Pram tak suka?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membelikan anaknya mainan. Seumur-umur saya bersama Pram tak pernah dibelikan mainan. Saya juga kadang tak enak dan kadang pingin seperti anak-anak yang lain punya mainan. Saya juga dikasih mainan. Tapi mainan itu adalah buku. Pram bilang: “Ini mainan kamu.” Jadi selama hidup saya dengan Pram cuma baca buku saja karena tak punya mainan. Sekali waktu pernah saya minta mainan, tapi dibelikan mesin ketik. Akhirnya dengan ‘mainan’ itu saya bisa ngetik pada usia 9 tahun. Dan itu membantu dia untuk ke percetakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2785589133682414225?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2785589133682414225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2785589133682414225' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2785589133682414225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2785589133682414225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/astuti-ananta-toer-mainan-yang-diberi.html' title='Astuti Ananta Toer: “Mainan yang Diberi Pram Hanya Buku”'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2380771467126186890</id><published>2009-04-20T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:24:33.818-07:00</updated><title type='text'>Yudistira Ananta Toer: “Kami Dilarang Meminta-minta”</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira Ananta Toer adalah anak bungsu dan sekaligus pemimpin redaksi Lentera Dipantara dan Mata Pusaran. Berikut kesaksiannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejak kapan Anda memakai nama “Ananta Toer” di belakang nama Anda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lahir. Tapi sewaktu SD di Utan Kayu nama itu dihilangkan. Terutama dari pihak keluarga Ibu. Karena kata Ibu tak aman memakai nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernah bermasalah di sekolah?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah. Awalnya tak ada hubungan dengan status Bapak sebagai tahanan politik. Saya berkelahi dan dihukum lari keliling lapangan. Nah Guru Bahasa Indonesia membentak saya. ‘Kamu tahu siapa Bapak kamu, hah? PKI tahu.” Apalagi waktu itu saya membuat perkumpulan band sekolah di rumah. Saya diinstruksi Guru bahwa perkumpulan band saya itu dalam waktu 1x24 jam dibubarkan. Padahal cuma band doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari siapa tahu bahwa Pak Pram adalah pengarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ibu. Juga dari tamu-tamu yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana perasaan Anda ketika menemukan Anda dan keluarga Anda berada dalam tekanan masyarakat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas tindakan masa lalu Bapak, saya sangat terpukul. Saya merasakan betul bagaimana dikucilkan. Di pihak keluarga Ibu juga iya. Mereka semua takut menerima kita. Kami semua sangat terpojok. Tak bebas ke mana-mana. Di rumah saja. Terus-terusan di rumah, ya saya kemudian main musik. Cuma itu yang bisa menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oh ya, kabarnya Anda pernah bergabung dengan band yang menjadi cikal bakal band Slank yang sekarang ini…&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, sewaktu di SMA Cikini. Saya waktu itu vokal. Tapi belum Slank waktu itu. Namanya Cikini Stone Complex atau CSC. Sewaktu band sekolah bubar, beberapa dari kelompok band sekolah itu, seperti Bim Bim dan Welly, membuat grup band baru yang kemudian sekarang dinamai Slank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Agak unik, keluarga Anda dikenal sebagai keluarga penulis, tapi Anda memilih musik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak ada yang mengajarkan menulis. Malah menulis menjadi aktivitas yang membuat keluarga kami terkucil. Tak ada yang bisa dibuat di rumah kecuali main musik. Itu hiburan kami, terutama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda ditinggal Pram ketika berusia dua bulan. Dan bagaimana perasaan Anda ketika pertama kali ketemu Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah di SD waktu itu dan tentu saja penasaran. Yang saya dengar sampai saya berusia 14 tahun adalah Bapak itu orangnya keras. Saya pingin tahu sosok seorang ayah buat saya. Dan pertemuan itu saya akui memang hambar. Cuma Bapak megang pundak saya. “Oh ini anak saya.” Cuma itu saja dibilangnya. Padahal waktu itu saya kepingin seperti apa memiliki seorang ayah. Lalu saya tidur di samping Bapak. Tapi dia suruh pindah dan membentak. “Kamu sudah besar, tidak boleh tidur sama orang tua.” Terus saya pindah. Malam kemudian saya tidur di samping Bapak lagi. Karena saya kepingin bagaimana hangatnya dalam pelukan Bapak. Ternyata pagi-pagi itu saya sudah diangkat dan ditaruh di kamar mandi. Seminggu kemudian saya dibikinkan kamar di belakang yang terpisah dari rumah utama. Kata Bapak, “Mulai sekarang kamu tidur di sana. Sendiri.” Saya pun lalu tidur di situ. Nggak boleh nyampur, seperti sebelumnya saya tidur dengan Ibu dengan kakak-kakak berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hubungan Anda dengan Pram, hangat atau dingin-dingin saja?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira hubungan saya dingin sekali. Mungkin karena usia saya sudah terlampau dewasa untuk bertemu. Sehari-hari berjalan begitu saja. Seperlunya saja. Pun Bapak memanggil saya seperlunya saja. Bahkan kalau saya mengantar ke Blora atau pergi mengantar ke sana atau ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernah meminta sesuatu kepada pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah. Waktu itu saya meminta kacamata yang dia balas dengan lemparan asbak rokok. Waktu itu saya hampiri Ibu dan bilang bahwa saya butuh kacamata. Kata Ibu, “Bilang sama Papi sana.” Saya kemudian menghampiri Bapak. “Pak, saya perlu kacamata nih. Saya agak sulit membaca.” Ia tak mengatakan apa-apa sebelum saya kaget ketika melihat asbak terbang ke arah saya. Setelah kejadian itu sampai sekarang saya tak pernah meminta sesuatu. Dia bilang jangan pernah mengharapkan sesuatu dari orang lain. Kalau pingin sesuatu berusaha sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa saja yang diajarkan Bapak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku. Membaca koran. Kata Bapak, dalam membaca koran, baca dulu halaman depan. Satu hari harus bisa menemukan dan memahami tiga kata baru yang tak pernah kita tahu, seperti istilah daerah dan sebagainya. Bila perlu itu dicatat dalam buku. Nama orang yang kita kenal. Semua ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Pram mengajarkan Anda membaca. Maksud saya membaca buku?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali Bapak ngajar membaca buku adalah ketika Bapak menyodorkan buku Ajip Rosidi yang sangat tebal dan itu pertama kali saya membaca buku setebal itu. Semalaman saya bekerja keras memahami isinya. Pas ditanya, ternyata bukan isinya, tapi siapa penerbitnya. Bapak mengajarkan bahwa membaca itu harus semuanya. Tuntas. Semuanya. Bukan hanya isi atau materi buku, tapi juga penerbitnya, nama pengarangnya, editornya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalau Pram mengajarkan menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis catatan harian. Bahkan sejak di Buru, kami semua sudah ditekankan untuk menulis buku harian. Bukan cuma saya, tapi semua anaknya. Karena memang itu yang dimau Bapak. Maka setelah beberapa saat bertemu, saya langsung ditanya, mana buku harian. Dan saya kasih tiga buku harian. Kata Pram, dalam buku harian itu apa saja harus ditulis, apa saja yang kita lihat, kita tahu. Dia lihat begitu saja buku harian saya. Tapi Bapak nggak komentar apa-apa. Sampai sekarang pun dengan cucunya dia masih menyuruh buat buku harian. Alasan Bapak menyuruh demikian agar kelak ketika besar kita semua tahu sejarah hidup diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anda selalu menyopiri Pram kalau ke Blora. Apa pengalaman Anda ketika mengantar Pram ke Blora?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram itu senang sekali kalau ngebut di jalan. Dia pingin tahu sampai di mana batas kekuatan mobil itu. Awalnya saya bilang di jalan raya seperti ini tak bisa begitu. Tapi dia ingin tahu kecepatan mobil itu sampai seberapa. Karena apa yang dia punya selalu dia banggakan. Dan saya jalankan saja apa yang dia mau. Sewaktu-waktu dia bilang terus… terus… terus… kiri terus… ternyata ada mobil di depan dan hampir nabrak. Dia langsung berdiri dalam mobil seperti orang ngerem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang Anda kesankan dengan pribadi Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pekerja keras. Dan hampir tak kenal waktu. Saking kuatnya bekerja, dia jarang sekali bercanda. Dia bicara seperlunya saja. Ingin sesuatu atau minta diantar ke mana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang membuat Anda terhadu ketika jelang pram berangkat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bapak memeluk saya. Itu pertama kali saya dipeluknya. Dan itu berlangsung ketika ia hampir berangkat selamanya. Tak pernah begitu selama hidup saya. Pertama kali ketemu saja tak seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2380771467126186890?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2380771467126186890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2380771467126186890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2380771467126186890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2380771467126186890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/yudistira-ananta-toer-kami-dilarang.html' title='Yudistira Ananta Toer: “Kami Dilarang Meminta-minta”'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8645516413345306763</id><published>2009-04-20T19:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:23:30.866-07:00</updated><title type='text'>Mujib Hermani: "Pram: Ya sudah, saya tidak mau jadi presiden!"</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan dan Siti Azizah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana ceritanya Anda bisa begitu dekat dengan Pram?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu 1998 saat ada launching buku, saya datang ke rumahnya di Utan Kayu. Lantas turun hujan. Niatnya berteduh barang sebentar kemudian pamit pulang. Tapi saat izin pulang Pram menahan.&lt;span class="fullpost"&gt; Sehingga hari itu dari siang hingga magrib atau kurang lebih 5 jam untuk pertama kalinya saya berlama-lama bersama Pram di rumahnya. Sambil merokok dan panjang lebar kami mengobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perkenalan yang berbuah akrab kira-kira kapan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akrabnya mulai 2002. Saya sudah rutin berkunjung. Lama-lama menjadi dekat dengan keluarganya. Apalagi ada kasus pembajakan buku-buku Pram di Yogyakarta. Saya yang mengabari soal itu. Ceritanya: secara tak sengaja saya membaca buku Korupsi. Tapi ketika saya baca dan perhatikan beda sekali kertas isi dan covernya. Saya ingat betul bagaimana kertas isi dan cover Korupsi yang saya jual pada 1998. Dalam logika percetakan, dalam sekali cetak misalnya 3000-6000 ekslempar tidak mungin ada beda kertas. Saya menaruh curiga bahwa ada pembajakan. Awalnya Pram tak percaya dengan hal itu. Meski sampai saat ini saya tak bisa menuduh pihak mana yang melakukannya. Apa pihak penerbit (Joesoef Isak+Hasta Mitra, red) atau percetakan (Andre Martias+CV Adipura, red) atau konspirasi keduanya. Anak-anaknya yang tak pernah terlibat dalam persoalan buku, setelah kejadian tersebut, menjadi perhatian terhadap nasib royalti ayahnya. Dari sini mulanya Lentera Dipantara ada. Saya membantu di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapan pertama kali membawa Pram ke pubik yang lebih luas?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000. Saat iklim politik sudah memberikan hawa kebebasan pada Pram dan karya-karyanya. Sebelumnya Pram demikian berjarak dengan pembaca. Pembaca harus berkunjung ke rumah Pram. Karena waktu yang terbatas dan Pram kewalahan menerima tamu-tamunya, saya berinisiatif kenapa tidak Pram saja yang mengunjungi penggemarnya. Katakanlah jumpa penulis dengan pembacanya. Reformasi memberikan ruang gerak yang bebas untuk Pram dan karya-karya Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Biasanya apa yang diucapkan pertama kali saat Anda berkunjung ke rumahnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama Pram bertanya, “Ada kabar apa, ada berita apa?” Itu berarti ke rumah Pram harus bawa kabar. Yang kedua ditanya adalah: “Sudah makan belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa saja yang diobrolkan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua hal. Dari persoalan politik, budaya, sastra, perempuan, sampai soal kalkun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kalkun?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram tertarik dengan kalkun. Kemudian bertanya tentangnya. Ada seorang kawan yang sok tahu menjawab, “Kalkun itu hidup di air, telurnya besar-besar.” Namun Pram tidak puas dan meminta saya mengantarnya ke Gramedia mencari referensi ayam kalkun. Didapatinya majalah Trubus. Kemudian dia tahu bahwa sesungguhnya kalkun tidak hidup di air. Kontan Pram menunggu kawan yang sok tahu tadi. Seminggu berselang orang tersebut muncul di rumahnya. “Ah, kamu tidak tahu tentang kalkun, sini saya kasih tahu,” seloroh Pram bersemangat.  Setelah membaca Trubus Pram memutuskan membeli 7 kalkun: 5 betina 2 jantan. Saat bertemu dengan Pram, saya tanya, “Bung, ada kabar apa dengan kalkun?” “Wah tarung mulu. Nanti kalau saya pulang masih tarung mau saya tebas. Kata bukunya memelihara kalkun untuk ketenangan jiwa, tapi ternyata repot amat,” terangnya. Jelas saja begitu. Pram pelihara 2 jantan. Hingga akhirnya nasib kalkun-kalkun itu tak lagi mendapat perhatian Pram. Diberikannya pada kawan yang mau membawanya ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa lagi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali Pram mengkhayal jadi presiden. “Kalau saya jadi presiden, kamu mau jabatan apa?” tanyanya pada saya. “Saya mau jadi pangab.” “Kenapa pangab?” tanyanya penasaran. “Pangab kan pegang senjata. Di negara kita banyak koruptor. Saya mau tembaki orang-orang yang korupsi.” “Wah, itu ga boleh, kita kan negara hukum, hukum harus ditegakkan,” sanggahnya protes. “Hukum sekarang ga jalan, Bung,” kata saya. “Siapa lagi kalau bukan kita yang menjalankannya.” Tapi saya terus ngotot ingin jadi Pangab dan menembaki para koruptor. “Ya sudah, saya tidak mau jadi presiden,” Pram mengakhiri perdebatan dan langsung masuk untuk kemudian duduk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cerita apa lagi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal duren di kebunnya di Bojong. “Bung, nanti kita makan duren,” kata Pram sambil menunjuk pohon durian yang sudah memperlihatkan buahnya yang berduri. Tapi seminggu sebelum panen, pohon durian itu Pram tebang. “Daripada jadi beban!” jawabnya ketika ditanya kenapa dengan pohon duriannya. Pasalnya, sebelum di panen Pram sudah ada yang manen. Dia merasa terbebani dengan janji-janjinya kepada kawan untuk makan duren bareng. Namun dia tidak bisa menahan orang yang mencurinya lebih dulu. Itu jadi beban di kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apalagi yang berkesan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Putrinya, Mbak Rina (Arina Ananta Toer, red), tanam bunga bonsai. Pram bingung, apa maksud Rina menanam begitu banyak bunga-bunga. Menurutnya, bunga tidak produktif. Saat itu saya kompori Pram. “Iya Bung, seharusnya ditanami cabai, tomat, atau jahe itu pot-pot.” Besoknya Pram menebas bunga-bunga Rina. Hahahaha. Pram begitu: selalu mengukur sesuatu dengan produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih soal bunga. Mbak Titi (Astuti Ananta Toer, red) menanam bunga untuk pembatas jalan. Karena mungkin menilai tidak produktif, bunga-bunga itu dicabutnya. Oleh Mbak Titi ditanam lagi. Oleh Pram dicabut lagi. Begitu dan begitu hingga Mbak Titi menang dan bunga-bunga itu bermekaran. Barulah Pram berkomentar: “Bagus juga ya, Nduk.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tamu seperti apa yang diterima oleh Pram?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya Pram menerima semua tamu-tamunya. Dari kalangan apa pun. Pejabat, artis, pembacanya, dan sebagainya. Tapi Pram paling suka dengan kawan muda. Apalagi penulis. Dia sangat menghargai karya tulis. Kalau dia merasa nyaman dengan seseorang, dia akan banyak ngomong. Tapi bila tidak suka, dia akan banyak diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang menarik dan membedakan Pram dengan tokoh-tokoh yang lain?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram selalu merasa muda. Menganggap kawan muda adalah kawannya. Sehingga dia bertanya saat tidak tahu dan tidak paham sesuatu. Dan akan selalu memberikan masukan dan informasi apabila dia tahu. Begitu sebaliknya. Tidak menggurui. Dan yang pasti Pram kawan diskusi, guru, sekaligus orang tua bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merasa muda?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Suatu kali di samping rumahnya saya bermain layangan berdua dengan kawan. Bangun tidur Pram langsung menghampiri. “Kamu bahagia ya waktu kecil. Bisa main layangan. Saya main gundu saja tidak bisa,” ujar Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernahkah Anda berbicang masalah-masalah rahasia dengannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering. Banyak hal off the record. Contohnya tentang Pram yang dikhianati teman-temannya. Akan tetapi Pram langsung bermuram durja bila kita menyinggung soal perpustakaan. Perpustakaan miliknya dibakar. Tiba-tiba pembicarannya meledak-ledak. Tampak sekali emosi di wajahnya. Sepanjang hidup dia menyesali kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kabarnya Pram membuat catatan harian, kapan terakhir dia menulisnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul sekali. Sampai terakhir-terakhir kemarin sebelum komanya dia masih sempat menulis catatan hariannya. Saya pernah baca. Dia menggambarkan dengan jelas. Misalnya suatu hari dia kedatangan tamu. Dia akan menuliskan posisi duduk si A di sebelah kirinya, misalnya. Dan bila Pram tidak kenal atau lupa nama orang itu dia mendeskripsikannya. Misal orang tersebut berambut gondrong, berkulit putih. Lalu apa saja yang diobrolkan dituliskan di buku catatan itu. Misalnya, ada pendapat lawan bicaranya yang tidak disetujui, dia akan menuliskan di catatan hariannya seperti kalimat footnote sebagai anjuran. Pram tidak langsung mengkritik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8645516413345306763?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8645516413345306763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8645516413345306763' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8645516413345306763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8645516413345306763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/mujib-hermani-direktur-media-lintas.html' title='Mujib Hermani: &quot;Pram: Ya sudah, saya tidak mau jadi presiden!&quot;'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1946422194080536983</id><published>2009-04-20T19:05:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:40:42.329-07:00</updated><title type='text'>Agama Pramoedya Ananta Toer: Ateis, Teis, atau Pramis</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gordon W. Allport, seorang psikolog—sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat (1994, Cet. 6: 26)—mengatakan ada dua cara manusia beragama: ekstrinsik dan intrinsik.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukannya untuk kehidupan, something to use and not to live. Orang yang beragama dengan cara ini memang melaksanakan hampir semua ritual agama: salat, puasa, zakat, bahakan naik haji—tapi tidak di dalamnya, melainkan di bagian kulitnya yang paling luar. Dan jangan mengharapkan cara beragama seperti ini melahirkan realitas hidup yang manusiawi, melainkan patologi sosial: irihati, kebencian, dan segala bentuk banalitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan cara beragama yang intrinsik. Cara beragama seperti ini lebih substansial, lebih ke dalam, agama menjadi faktor pemadu. Ia menghujam dalam aras kehidupan yang manusiawi. Inilah barangkali yang disebut Jalaluddin Rakhmat sebagai “Islam Aktual” yang coba bertarung hidup-mati melawan ganasnya kelaliman. Ia melawankan “Islam Aktual” ini dengan istilah “Islam Konseptual” yang tidak bisa ngapa-ngapain ketika berhadapan dengan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di mana kita letakkan sosok Pramoedya Ananta Toer dalam frame beragama seperti di atas? Lumayan susah memang. Menempatkan Pram dalam bingkai agama (Islam), kita seperti berhadapan dengan tikungan yang berbahaya. Sebab belum apa-apa, beberapa lapis kalangan Muslim sudah mendakwanya—hingga sekarang—bahwa Pram adalah komunis dan komunis pastilah ateis dengan kebencian kepada agama yang luar biasa. Dan memang, dalam beberapa tempat di tubuh karyanya, Pram mempersoalkan pola-tingkah kaum beragama dengan sedikit rasa nyinyir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benarkah Pram seorang ateis; ataukah ia seorang teis dalam makna lain; ataukah ia seorang pramis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seloroh yang mengatakan: sebetulnya, justru orang ateislah yang serius membincangkan Tuhan. Ya, walaupun hanya seloroh, benarlah adanya bahwa kaum yang selama ini dicap tidak mau mengakui Tuhan inilah yang paling rutin mengkaji soal Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kebetulan belaka ketika Charles Darwin menampik campur tangan Tuhan dalam soal mata rantai penciptaan. Bukan hanya soal retorika pidato podium ketika Marx mengguritkan dengan garang bahwa agama adalah candu bagi kaum gembel. Dan bukan soal gramatika semata ketika Nietzsche turun dari bukit sambil menyanyikan kidung Zharatustra: Gott ist gestorben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kajian kaum ini tidak seperti umumnya teolog yang sebelumnya berangkat dari keimanan yang absolut. Kaum ateis atau “kafir” ini berangkat dari kebersangsiaan, berangkat dari negasi, yang karena itu sangat kritis. Dan kesemua kesangsian itu sebetulnya berangkat dari realitas pandirnya kaum beragama, pandirnya kaum beriman dalam memberikan suguhan tontonan memikat dan jawaban cespleng atas kekalutan sosial. Sebetulnya bukan Tuhan yang berada di balik lauh mahfuz yang ditolak oleh kaum “kafir” ini, tapi tuhan (dengan “t” kecil) yang diusung-pahami oleh pandir-pandir beriman itu; tuhan, yang ketika hinggap dalam ceruk kepala pandir beriman itu, entah kenapa tiba-tiba saja hilang elan rasionalismenya dan kritisismenya memandang jatuh-bangunnya manusia dalam gelembung busa sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya, sebagaimana kaum “kafir” itu, juga memandang agama dengan sangat kritis. Dan tak usah diragukan, Pram adalah seorang muslim seperti muslim pada umumnya: Allah Tuhannya, Muhammad nabinya. Kakeknya dari pihak ibu adalah seorang haji dan priyayi Jawa. Bahkan, ia juga pernah ke tanah haram bersama ayandanya menunaikan ibadah haji dan beberapa saat studi bahasa, sosiologi, dan filsafat di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (sebelum ditutup ketika perang antara Jepang dan Sekutu meletus) dengan HM Rasjidi sebagai guru filsafatnya. Itu diakuinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, “Aku tetaplah pemeluk Islam statistik,” tulis Pram dalam catatan biografinya, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (edisi revisi, 2004: 140). “Aku memang dari keluarga Islam dan tak pernah berpikir lain daripada Islam. Konsep filsafat dan tauhid atau teologis dalam masyarakat dan lingkungan hidupku tercampur aduk dengan kebatinan, karena sejak umur limabelas terpengaruh oleh bacaan yang sudah tercampur dengan gaung konsep Yahudi dan Hellenisme tanpa sistimatika. …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renggangnya hubungan Pram dengan agama sebetulnya sudah terjadi sejak dini sekali. Sepengakuannya, pernah waktu ia masih duduk di kelas dua sekolah dasar gurunya yang bernama Hadji Sodik bercerita tentang penyiksaan di neraka. Entah kenapa, hingga di usia tuanya, cerita itu terus saja mengiang-ngiang dalam ingatannya. “Guru itu tidak mengerti jiwa kanak-kanak. Sebetulnya dia telah melakukan kekeliruan meracuni jiwa kanak-kanak dengan kekejaman dan sadisme, karena itu mengganggu pertumbuhan jiwa,” seru Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian setelah Pram lulus sekolah dasar dan tak bersekolah lagi, nenek tirinya menganjurkan pada ibunya agar Pram meneruskan pelajaran di pondok. “Aku mendongkol dan hari itu juga dengan keretapi aku pergi ke Juana untuk menghinda¬rinya. Tak ada seorang pun bekas pondok yang dapat aku jadikan teladan. Mengapa aku mesti jadi orang yang tidak bisa kujadikan teladan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nihilnya keteladan kaum pandir beriman itu bisa kita baca langsung dalam novelnya Midah dan Gadis Pantai. Di situ, karakter kaum beragama yang taat, haji, banyak berzikir, dicungkil-cungkil sedemikian rupa dan tampak memuakkan. Pribadi yang menjadi bantalan olok-olok satire yang empuk. Ada orang saleh yang rajin baca Quran dan Hadis, tapi rajin juga memperbudak saudaranya sesama manusia. Ada orang bersorban dan berkopiah haji, tapi kebutuhan memperturutkan naluri zakarnya sama kuatnya dengan zikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram dalam karyanya itu adalah tipikal sempurna manusia beragama secara ekstrinsik. Dan makin sempurna tipikal itu dalam kacamata Pram ketika di Pulau Buru. Di situ ia melihat pandir-pandir beriman itu sedang menjajakan dakwahnya di depan para tapol. Dalam pandangan Pram, mereka tak ubahnya para inkuisisi: memaki dan mengutuk, mengadili dan menghukum, dan tanpa menyadari penceramah sebenarnya sedang memanifestasikan dunia keranjingan leedvermak. Metode mengajarkan agama mereka masih dengan cara lama, menakut-nakuti orang dengan neraka dan mengiming-imingi surga yang itu tidaklah pada tempatnya di alam modern ini—sekalipun untuk kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan protes Pram kepada pandir-pandir beriman itu secara memikat terjadi ketika ia—sebagaimana terbaca dalam Arus Balik—menemukan sebongkah realitas bahwa politik Islam dalam sejarahnya di Jawa (periode Demak pasca Patih Unus) adalah tak ubahnya mesin pembunuh bagi sesamanya. Di tangan Trenggono, oleh sejarah resmi Islam, agama ini memang berhasil membawa Demak ke arah kegemilangan. Tapi menurut Pram, kemenangan itu bersifat negatif. Agama hanya dijadikan kedok untuk merayah dan menjajah sesama manusia bangsanya sendiri lewat ekspansi darat bersama sekutu utamanya para Wali yang membonceng untuk mengislamkan orang-orang Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel gemuknya itu, kita kemudian disadarkan, ternyata “hanya” karena kerakusan menguasai tanah Jawa, semua-mua Wali itu “emoh” mengambil peran signifikan menghalau datangnya kemerosotan besar yang dibawa Eropa. Karena itu, mestinya pembesar-pembesar agama Islam Pulau Jawa, terutama Wali Songo—tanpa harus melupakan kebesaran jasa mereka—harus juga bertanggung jawab atas jatuhnya Jawa dan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret (ber)agama (pandir-pandir beriman) yang disaksikan Pram dalam satu putaran hidupnya, entah kebetulan atau tidak, ah, mengapa justru (semuanya) potret yang bertampak sangat buruk dan tidak menggugah selera sama sekali. Potret yang banal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat marunnya kenyataan sosial agama (Islam) yang tak seindah santiaji teks yang dijanjikannya, dan setelah melewati tahun-tahun pembuangan yang melelahkan jiwa-raga, Pram pun lalu bersalin ideologi ke “humanisme” (minus universal?). Di situ Pram menemukan segugusan nilai di mana manusia mendapat pengakuan dan penghargaan. Individu mendapatkan tempat yang sedikit lebih terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan “humanisme”, Pram sesungguhnya tengah membangun “agama” barunya. Itulah PRAMIS. “Pramis” bukan menunjuk pada “para pengikut/pembaca Pram (yang fanatik)”, sebab Pram sendiri anti terhadap pemujaan idola. “Pramis” menunjuk pada sebangunan keyakinan Pram sendiri yang paling personal sebagai pengarang yang terus menampung kontradiksi tindakan antara individualisme dan gerak sosial dalam masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ia bertapa di altar kesunyian pribadinya dan “emoh” dengan segala macam di selingkungannya. Namun di sisi lain, pesan-pesan yang nyembul dari karya-karyanya selalu menyerukan solidaritas kemanusiaan. Bahwa martabat manusialah—dan bukan kekuasaan—yang mestinya menjadi kanun hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam kontradiksi itu sudah dikatakan sendiri oleh Pram dalam sebarisan pengakuannya: “Setiap pengarang yang kreatif hampir selalu seorang individualis, berwawasan mandiri, sulit untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang lain, keadaan lain, apalagi bila sama sekali baru. Seorang individualis hanya mendengarkan apa yang menurut pikirannya sendiri lebih tepat atau lebih baik, tanpa atau kurang mengindahkan yang selebihnya… Kebiasaan kerja ini menimbulkan watak individualis, banyak kali melupakan atau tidak menggubris lingkungannya dengan tatatertibnya. Watak individualisnya menyebabkan ia tidak disukai oleh lingkungannya, apalagi oleh orang-orang yang mengutamakan tatatertib. Sebaliknya kemashurannya menyebabkan ia dikagumi. Ia hidup dalam dua ekstremitas di dalam masyarakatnya sendiri. Setidak-tidaknya: di Indonesia.” (NSSB: 115-116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kredo itu jelas, Pram bukanlah seorang ateis atau seorang komunis; walaupun ia sangat kritis terhadap agama (baca: pandir-pandir beriman). Kalaupun ideologi komunis yang sering dituduhkan pandir beriman itu kepadanya menang dalam sejarah Indonesia, mungkin Pramoedya-lah saf pertama yang akan diseret ke bui lantaran semangat individualisme dan independensinya yang kerap tak bisa ditawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya juga bukan seorang teis, kalau teis kita artikan dalam pengertian ekstrinsik, yakni orang yang taat beragama lengkap dengan segala asesorinya tapi khilaf bahwa agama juga memiliki ruh pembebasan dan pembelaan kepada kaum mustad’afin. Walaupun kita tahu bahwa Pram juga seorang muslim sebagaimana muslim umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa dan apa basis keyakinan Pram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ideologi saya adalah PRAMIS.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasan Pramoedya itu menjadi semacam ringkasan dari pungkas ikhtiarnya dalam menapaki lorong panjang pencarian makna kemanusiaan hingga tutup hayat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1946422194080536983?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1946422194080536983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1946422194080536983' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1946422194080536983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1946422194080536983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/agama-pramoedya-ananta-toer-ateis-teis.html' title='Agama Pramoedya Ananta Toer: Ateis, Teis, atau Pramis'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5834100910917111223</id><published>2009-04-20T19:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:06:36.201-07:00</updated><title type='text'>Pram, Sarjana Benalu, dan Repoeblik Kaoem Ambtenaar</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M. Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak orang yang cerdas! Banyak orang yang pandai! Tapi kecerdasan dan kepandaiannya itu hanya diperuntukkan untuk tujuan yang keji-keji belaka. Itu banyak terjadi, dan engkau tak boleh memasukkan dirimu ke dalam golongan orang yang seperti itu.” (Pramoedya Ananta Toer)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah segala-galanya bila ingin maju. Maju harkat pribadinya, maju nasionnya, maju peradabannya. Itulah satu dari banyak hal yang diangankan Pramoedya Ananta Toer kalau kita membaca secara seksama beberapa novelnya, terutama sekali roman Kwartet Buru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protagonis dalam kwartet tersebut, Minke dan Nyai Ontosoroh, mampu menyulih kepandiran dan kegagapannya sebagai pribumi berjiwa tengik dan korban pengoplosan martabat, berkat tingkat melek pendidikan yang dicerap. Tak peduli apakah pendidikan itu berlangsung dalam proses formal (Minke—HBS) maupun nonformal (Nyai Ontosoroh—kursus pembukuan dan administrasi perusahaan susu dan ternak dan penyerapan buku-buku bacaan Eropa dari lakinya yang totok bernama Herman Mallema). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal abad, lewat novel Burunya, Pram mengangankan bahwa kemajuan bisa dicapai jika unsur mitos yang mencandra akal dan feodalisme yang membungkam rasio bisa ditusuk tumpas dengan pendidikan. Sebab kedua paham itu menghalangi seorang manusia untuk merebut martabatnya sebagai manusia yang maju dan merdeka karena dipaksa oleh sebuah hierarki yang dibentuk oleh sistem feodalisme raja-raja. Karena itu, walaupun Pram orang Jawa totok, ia menolak kejawaannya itu dengan tegas. “Aku bukan Jawa dan ogah berbahasa Jawa. Aku orang Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah adegan ketegangan pendidikan dan feodalisme diperlihatkan Pram dalam salah satu paragraf di Bumi Manusia: “Aku mengangkat sembah sebagaimana aku lihat dilakukan punggawa terhadap terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu.... Sembah—pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak rela menjalani kehinaan, maka Pram mengangankan bahwa semua pribumi kelak bisa mengecap pendidikan yang tinggi. Walaupun kita tahu Pram tak sanggup menjejaki angan-angan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya lulusan SMP kelas 2 di Surabaya sebab sekolah keburu bubar karena serangan balatentara Jepang. Lalu di Jakarta pada usia 17 atau 20 tahun, sembari bekerja di kantor berita Jepang, Domei, Pram coba mendaftar ikut kuliah filsafat dan sosiologi di Sekolah Tinggi Islam yang diasuh Dr Rasjidi dengan bayaran duapuluh lima rupiah hasil dari menjual kemeja kaos putih dan biru muda yang baru dua kali dikenakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hasilnya nihil. Dan ia pun mengembara mencari pengetahuan dari buku-buku dan dari klipingan koran dengan cara otodidak, lalu himpunan data-data itu menjelma menjadi karya-karya besar lagi terpuji dan mengukuhkan namanya menjadi sastrawan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaupun seorang yang nggak tamat SMP, saya ini doktor lulusan Amerika, hehehehehe,” ujar Pram bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan sekarang? Dalam beberapa kali kesempatan, Pram sungguh prihatin dengan tergusurnya pendidikan yang mengajarkan watak yang mandiri, kuat, dan cerdas, menjadi pendidikan yang terkomersialisasikan. Alih-alih ingin menggapai kualitas pendidikan yang baik dengan harga terjangkau, para pelaku di dunia pendidikan kita lebih sibuk dan berpeluh menaikkan ongkos daripada menaikkan kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, watak yang dihasilkan dalam dinding-dinding kelas sekolah tak lebih dari watak manusia-manusia lama yang masih berada di alam agraris dan feodal. Watak ingin menjadi pegawai negeri, ambtenaar, menjadi birokrat. Ada banyak alasan mengapa profesi ini menjadi cita-cita, walaupun gajinya relatif kecil. Salah satunya adalah status pegawai negeri menjanjikan jaminan kepastian hidup dan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan kita, diakui atau tidak, selama ini memang tidak serius mencetak manusia-manusia yang berjiwa berdikari dan mampu merintis sebuah kerja mandiri dan tak harus menjadi budak bagi orang lain atau menjadi manusia kuli. Pendidikan kita seakan menjangkar dan memerluas kesadaran serta meluapkan keinginan bahwa kelak bila lulus nanti akan menjadi pegawai negeri. Paling tidak menjadi pelamar pekerjaan dengan menenteng ijazah ke sana kemari dan mengantri panjang untuk mengambil formulir kartu kuning di Depnaker ketika bursa kerja di buka secara massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para praktisi pendidikan barangkali menolak asumsi bahwa pendidikan menjadi terdakwa dalam hal ini. Namun kenyataan berbicara jujur bahwa sistem pendidikan kita tak merangsang manusia untuk berkarya dan mandiri, melainkan mencetaknya sebagai manusia benalu dalam masyarakat. Buktinya, setiap tahun meruyak sebarisan panjang angka pengangguran sarjana yang kemudian menginspirasikan Iwan Fals menciptakan lagu “Sarjana Muda” yang liriknya menggelitik itu: “Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja/ tak berguna ijazahmu/ empat tahun lamanya bergelut dengan buku/ sia-sia semuanya....”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kepada kisah dituturkan Basuki Resobowo (1916-1999) dalam buku esai terbarunya yang diterbitkan setelah empat tahun meninggal dan mungkin buku satu-satunya di dunia, Bercermin di Muka Kaca (Ombak, 2004). Basuki adalah salah seorang pelukis yang juga termasuk barisan pertama di balik lahirnya Lekra. Saat itu Bung Bas, begitu ia kerap disapa, bersama Soedjojono ngelmu di Taman Siswa yang diasuh sendiri oleh Ki Hajar Dewantara. Lima tahun kuliah, selain disebabkan oleh hidup bohemian Basuki, pada akhirnya batas waktu menempuh pelajarannya dihentikan oleh Ki Hajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah cukup, kau boleh keluar dari sini (Taman Siswa-red). Kau berbakat ke luar negeri. Seperti Rusli.… Di sini tidak ada ijazah. Saya mendirikan sekolah ini untuk membangun watak. Tidak untuk membagi-bagi ijazah. Tapi kalau kau mau surat keterangan tamat belajar, sana ambil sendiri di kantor….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang agak musykil kita temukan di tengah luberan jumlah lembaga-lembaga pendidikan saat ini yang bekerja membangun watak manusia Indonesia seperti Taman Siswa-nya Ki Hajar itu. Kebanyakan yang ada sekadar mengobral janji dan sangat royal memberi ijazah. Asalkan ada sejumlah uang, sehari pun ijazah jadi dan titel pun mendekeng dengan mentereng di depan atau di belakang nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, bila penuntasan kasus korupsi dan penyelewengan sangat sulit untuk diberantas, adalah sesuatu yang tak diherankan. Rendahnya usaha itu bukan hanya terkait dengan begitu rumitnya jaringan korupsi itu. Tak hanya terkait dengan aparat hukum dan negara yang memang memble dan tak becus. Akan tetapi juga terkait dengan soal kesadaran. Dan kesadaran itu adalah kesadaran hidup menjadi ambtenaar di republik yang sudah sesak dengan pegawai negeri ini (jumlah pegawai negeri sampai saat ini sangat gigantik melebihi negara mana pun: 8 juta orang. Wuihhh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatalah Pram pada Desember 2004 di Yogyakarta dalam sebuah konferensi pendidikan Asian South Pacific Bureau of Adult Education (ASBAE) yang dihadiri ornop se-Asia Tenggara dan Selatan, “Keinginan menjadi pegawai negeri adalah salah satu faktor kenapa korupsi mustahil diberantas. Di birokrasi itulah korupsi merajalela. Orang suci pun bisa jadi korup di sana. Dan pegawai negeri sudah bertumpuk-tumpukan. Pendidikan yang membentuk itu semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram sepertinya ingin mengatakan untuk stop bercita-cita jadi pegawai negeri, menjadi ambtenaar. Stop pula atas kekaguman yang berlebih kepada orang-orang bertitel sepanjang sepur. “Banyak orang yang jadi dokter atau meester, hanya karena orangtuanya mampu membiayai, atau dia diongkosi oleh orang lain. Itu tak mengagumkan. Hanya orang yang kuasa mengangkat dirinya sendiri jadi dokter, atau meester, atau insinyur, dengan tenaga dan kekuatannya sendiri, itulah yang patut mendapat pujian. Itulah tandanya orang yang betul-betul punya kemauan, tandanya orang yang betul-betul mempergunakan kecerdasan, kekuatan, dan kepandaian yang dimilikinya…. Tak boleh engkau lupa bahwa titel akademi itu bukan tujuan manusia. Bukan, dan sama sekali bukan. Dia hanya alat belaka. Alat belaka, tak ubahnya dengan pisau, atau mobil, atau pacul—alat untuk menggampangkan orang dalam mencapai cita-citanya. Sekiranya engkau—anak rakyat jembel yang hidup di gubuk, makan tak ketentuan—bisa mendapat titel akademi, bukankah itu suatu kehebatan!” tulis Pram dalam Keluarga Gerilya (Cet 2, 2005: 320-321).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai kita masih percaya pada lembaga pendidikan, maka yang mesti dilakukan adalah mendorong lembaga-lembaga tersebut untuk membekali diri dengan kekuatan mendidik orang-orang dalam asupan pengetahuannya untuk menjadi manusia berwatak, mandiri, mau bekerja keras, serta memupuk daya saing dalam praktik bermasyarakat. Dan semua watak itu sulit kita dapatkan dalam mental orang-orang yang sedari dini bercita-cita jadi kaum ambtenaar, yang pemalas, miskin kreativitas, dan kerjanya rebutan proyek. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5834100910917111223?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5834100910917111223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5834100910917111223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5834100910917111223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5834100910917111223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pram-sarjana-benalu-dan-repoeblik-kaoem.html' title='Pram, Sarjana Benalu, dan Repoeblik Kaoem Ambtenaar'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1320298767879073049</id><published>2009-04-20T18:58:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T19:03:06.310-07:00</updated><title type='text'>Menulis, Olahraga, dan Senyum</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah Muk, kau akan tumbuh jadi sekuntum bunga, bunga aneh. Setengah orang akan mencintai dan setengahnya lagi akan membencimu.” --Saidah, Ibunda Pramoedya Ananta Toer.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram tak pernah menduga usianya bisa sangat panjang dan melampaui kepala delapan. Sebab ia pernah memprediksi usianya tak lebih dari 30 tahun. Apalagi, salah satu hero dalam hidupnya, Ibundanya, meninggal di usia muda karena TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, berkejaran dengan ancaman mati-muda Pram berkarya sekuat-kuat-kuatnya, sebisa-bisanya. Dan memang ia lolos dari usia itu dan tumbuh menjadi sekuntum bunga yang aneh. Ibunya berpesan: “Ingat-ingat selalu kata-kataku: jadi orang bebas, Muk, jadi tuan atas diri sendiri, allround, bisa segala, tidak jadi budak orang lain, juga tidak memperbudak.… Jangan sampai jadi beban orang lain. Juga jangan menerima beban tanpa guna.” (Lihat Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, LD (edisi revisi), 2005: 418)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menulis adalah usaha Pram untuk mengamalkan nasehat itu, yakni menjadi manusia bebas. Dengan menulis ia tak menghamba kepada orang lain dan juga tak menindas sebab tak punya alat-alat kekuasaan dan sederetan serdadu. Pilihan itu memang berisiko. Ia harus rela tak dapat kedudukan apa pun dalam pemerintahan dan kemapanan ekonomi, kecuali kebebasan dan pengakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit itu kemudian menjadi air bah yang menghembalang saraf Pram untuk menulis, menulis, dan menulis. Dan ia tak punya modal kejeniusan yang patut dibanggakan. Barangkali satu-satunya yang ia punyai adalah kerja keras dan keinginan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, ia dua kali tinggal di kelas empat SD. Dan di kelas tujuh, kelas terakhir Boedi Oetomo di Blora, ia tinggal lagi di kelas. Oleh ayahnya yang juga kepala sekolah ia dikatai begini: “Anak goblok! Kalau kau sedikit saja cerdik… kembali, ulangi di kelas tujuh.” Saat itu Pram menjadi “pendendam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melawan kutukan “anak goblok” itu ia bekerja habis-habisan dengan sepenuh-penuh ketekunan menulis. Hal itu seperti mengiyakan ucapan Umberto Eco (2003: 672) bahwa genius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen perspirasi (peluh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit yang mencemooh karyanya sebagai karya rongsokan, dikata-katai sebagai karya pitjisan, dan sebagainya, oleh kalangan sastrwan di selingkungannya (baca: Balai Pustaka). Tapi Pram seakan tak peduli dengan semua itu. Sebab bagi Pram faktor pertama untuk bisa menulis (yang baik) adalah menulis dan terus begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ucapan Pram itu saya teringat wejangan novelis William Forester kepada murid sekaligus sahabatnya yang masih duduk di SMU, Jamal Wallace, dalam film Finding Forester. “Faktor pertama dalam menulis adalah menulis. Banyak sekali orang tahu aturan menulis, tapi tak tahu caranya menulis. Profesormu itu (Robert Cramford, profesor penulisan di kelas Jamal), karena gagal bersaing denganku menjadi penulis dan novelnya ditolak oleh penerbit, akhirnya banting stir mengajar bagaimana cara menulis. Lebih mudah mengajar menulis dari menulis senyatanya. Jadi, problem menulis adalah menulis itu sendiri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis berarti dituntut untuk berkarya. Menulis. Betapapun sangat rendah mutu karya, Pram tak pernah mau berhenti dalam kutukan atas diri sendiri. Sebab Pram sadar bahwa menulis, sampai pada titik “menulis yang baik”, membutuhkan proses yang tak sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu tak mudah. Berliku dan berdarah-darah. Terkadang banyak yang tak mau tahu dengan proses panjang yang mendaki dan berliku ini. Disebabkan ketiadaan cadangan asa yang memadai, akhirnya tak sedikit yang terjatuh di tengah kubangan jalan yang menikung. Lalu berlari keluar dan menyingkir jauh-jauh dari jalan kepenulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana Pram mendapatkan ruh dan bahan menulis yang seperti tak ada habis-habisnya itu? Sepengakuan Pram, selain meriset (baca: mengliping koran), bahan dasar dari setiap tulisannya berdasarkan ketajaman perasaan menangkap pengalaman. Mengutip nasehat Prof Wertheim ketika bertemu di Belanda, Pram mengatakan bahwa bagi seorang pengarang sebaik-baik sekolah¬an adalah kehidupan, dan modalnya hanya berani bergaul, pergaulan yang disadari, dipilih, dicoba, dan dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, tidak mesti orang belajar dengan membaca buku. Belajar bisa dengan mengamati, memperhatikan, menghafal, mendengarkan. Tetapi banyak belajar (ilmu pengetahuan) tidak menjamin orang menjadi kreatif. Bagi Pram, orang yang cerdas dan kreatif adalah yang pandai menarik kesimpulan dari ilmu dan pengetahuannya dan pengalamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hemat Pram penting untuk menilai pengalaman secara seksama dengan ketajaman mata selidik. Sebab setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada pondasi kehidupan. Oleh sebab itu, tegas Pram, belajarlah menilai pengalaman sendiri dan membentur-benturkannya dengan lingkungan tempat di mana pengalaman itu tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beras menjadi putih bukan hanya karena tertumbuk alu, tetapi karena pergeseran dengan sesama beras karena tumbukan alu,” kata Pram mengutip ucapan salah satu srikandi pergerakan nasional awal abad 20, Siti Soendari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tugasku Hanya Menulis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, menulis bagi Pram adalah profesi adalah hidup dan menjadi tugas nasionalnya. Menulis baginya sama sekali bukan ingin bersolek untuk mendapatkan pengakuan puja-puji dari parakritikus. “Tugasku hanya menulis. Kalau Penilaian apakah layak atau tidak, itu bukan urusan saya. Itu urusan kritikus, urusan pengamat….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang tak hendak mencari-cari nama dalam usahanya yang sungguh-sungguh di jalan kepenulisan walaupun ia sungguh sadar bahwa menulis adalah usaha mengekalkan nama di ingatan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak pernah mencari nama. Kalau aku kau anggap punya nama, nama itu tidak lain dari pemberian masyarakat. Nama bukan dicari, dia hanya imbalan. Kalau kau memberikan hasil kerjamu pada seseorang, dan orang itu suka, engkau pun akan mendapat nama dari dia. Nama adalah produk sosial. Juga dibutuhkan ausdauer untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Tentu kau mengerti maksudku: nama adalah bangunan atas hasil karya. Orang tak perlu mencari-carinya.” (NSSB, 2005: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena Pram tak mengindahkan pujian dan “nama baik”, maka ia dengan bebas mengungkapkan apa pun yang dipikirkan dan dirasakannya tanpa harus takut dicela atau kehilangan nama. Sebab di arasnya yang sejati seorang penulis yang kreatif hampir selalu seorang individualis, berwawasan mandiri, sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang lain, keadaan lain, apalagi bila keadaan itu sama sekali baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh mengherankan bila negara misalnya, takut akan keberadaan pengarang yang sepi sendiri ini dan dianggap merongrong dan membahayakan. “Saya memang makin bingung dengan Indonesia ini. Takut dengan pengarang dan dipenjarakannya saya selama 14 tahun tanpa pengadilan. Padahal di belakang saya selain sepi sunyi tak ada deretan tentara, persenjataan canggih, atau pembunuh-pembunuh bayaran. Heran saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menulis, Olahraga, dan Senyum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun mengakui bahwa Pram adalah penulis yang tangguh dengan jam terbang yang fantastik. Dan jujur kita katakan tak banyak sastrawan kita bisa berkiprah selama ini, seproduktif ini, dan seberkibar ini. Telah lebih dari 60 karya dihasilkannya berupa novel, roman, cerpen, esai, terjemahan, maupun puisi (walau hanya tiga biji!). Mestinya, di usianya yang ke-80, misalnya, Pram sudah peyot dan pikun (sebelum akhirnya sangsai pada usia 82 tahun). Tapi ternyata tidak, ia masih tampak bugar, bersemangat, dan senang bercanda. Apa rahasianya?&lt;br /&gt;Olahraga dan senyum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempertahankan gairah menulis, Pram memang rajin berolahraga. Dalam pandangan Pram, olahraga adalah salah satu syarat untuk pandai, maju. Dengan berolahraga tubuh menjadi sehat karena peredaran darah lancar dan baik. Dalam berolahraga semua bagian tubuh dilatih mendapatkan keseimbangan. “Olahraga membikin tubuh jadi lentur, tidak kaku. Tubuh yang kaku adalah sama dengan batang kayu yang telah lapuk, bila ditekuk dia patah. Juga tidak ada guna kepandaian kalau orang itu tidak bisa menggunakan karena kesehatan tidak mengijinkan,” kata Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau senyum? Aha, Pram memandang senyum (yang dilatih) sebagai bagian dari usaha mengendorkan otot dan merilekskan syaraf. Orang bisa saja terlihat tidur, tetapi syaraf dan otot-ototnya kadang tidak ikut istirahat. Tapi dengan latihan senyum, senyum yang rela, senyum tanpa suatu pamrih, kata Pram, jiwa menjadi damai karena semua ketegangan lenyap. Jiwa menjadi jernih. Dan olahraga membikin orang jadi optimis. Jiwanya tidak digelapi oleh pesimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olahraga dan senyum itu yang bikin usia Pram hingga genap 82 tahun setelah melewati ragam penjara dari 3 orde kekuasaan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1320298767879073049?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1320298767879073049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1320298767879073049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1320298767879073049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1320298767879073049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/menulis-olahraga-dan-senyum.html' title='Menulis, Olahraga, dan Senyum'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5570670920996036131</id><published>2009-04-20T18:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T18:58:17.619-07:00</updated><title type='text'>Gemuruh Kontroversi Hadiah Magsaysay</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1995 adalah tahun perayaan gempita emas Indonesia. Sekaligus tahun itu adalah tahun polemik Pramoedya Ananta Toer.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga pasal musababnya. Kesatu: novel Arus Balik terbit dan langsung diganjar larangan. Kedua, terbit buku Prahara Budaya yang mengingatkan kembali masyarakat bagaimana aksi-aksi vandal Lekra/PKI. Ketiga, polemik pemberian Hadiah Magsaysay kepada Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di tahun emas Indonesia itu pun Pram kembali naik panggung di mimbar polemik setelah puluhan tahun suaranya dibisukan. Tapi ia bukan aktor aktif dalam deru kontroversi itu. Ia diam saja karena hak-hak bersuaranya masih dalam renggutan.&lt;br /&gt;Yayasan Ramon Magsaysay di Filipina menganugerahkan Pram hadiah untuk pencapaian penulisan sastra dan jurnalistik. Untuk itu Pram berhak menerima medali yang bergurat wajah presiden ketiga Filipina Ramon Magsaysay dan uang sejumlah 50.000 dollar AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah perkaranya. Sebelum hadiah itu berpindah tangan, sekitar 26 orang sastrawan/budayawan menandatangani sepucuk surat pernyataan kepada Yayasan Ramon Magsaysay yang ingatkan ihwal “dosa-dosa politik sastra” Pram masa lalu. Di antara yang tampak agresif menggalang tanda tangan itu adalah Taufiq Ismail dan Mochtar Lubis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penghargaan Magsaysay kepada Pramoedya merupakan sebuah komedi yang ditandai dengan pencampuradukan kesalahpahaman dan penyederhanaan atas sejarah…. Yayasan Magsaysay tak sepenuhnya tahu peran tidak terpuji Pramoedya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengan dia,” seru Mochtar Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet nama lain yang turut menandatangani penolakan, seperti: HB Jassin, Ali Hasjmi, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Bokor Hutasuhut, DS Moeljanto, WS Rendra, Leon Agusta, Misbach Jusa Biran, Amak Baljun, Chairul Umam, Mochtar Pabotinggi, Abdul Rahman Saleh, Lukman Ali, Danarto, Rahmat Djoko Pradopo, Ikranegara, Slamet Sukrinanto, Syu’bah Asa, serta SM Ardan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq Ismail dan WS Rendra berkata senada bahwa Pram tak menunjukkan tanda-tanda insyaf akan perbuatannya di masa lalu. “Tidak terpuji dan mengecewakan kalau ia terlalu over acting dengan perannya sebagai korban dan penjual rasa hiba ke sana kemari, tanpa mengakui bahwa pada masa lalu berperan sebagai pencipta korban dan tidak menghargai hak asasi manusia,” tukas Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, sastrawan Filipina F Sionil Jose menuduh Yayasan Magsaysay salah memilih orang. “Bukti tirani Pram terdokumentasi,” tegasnya. Bahkan Mochtar Lubis—sama dengan Jose—mengancam akan mengembalikan hadiah yang diterimanya kepada Yayasan Ramon jika Pram jadi dianugerahkan hadiah. Dan Mochtar memang mengembalikan medali yang diterimanya pada 1958 itu kepada Ketua Yayasan Magsasysay Bienvenido Tan di Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam deru sengketa posisi Pram itu, muncul kekuatan lain yang mendukung Pram menerima penghargaan Yayasan Magsaysay. Mereka yang datang dari pelbagai lapisan sastrawan/budayawan muda itu memberi titel pernyataan mereka: “Pernyataan Kaum Muda untuk Kebudayaan”. Pernyataan itu ditandatangani antara lain Ariel Heryanto, Arif Budiman, Acep Zamzam Noor, Isti Nugroho, Halim HD, Sitok Srengenge, Tommy F Awuy, Wiji Thukul, Hilmar Farid, Mudji Sutrisno, sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengatakan bahwa pernyataan penolakan itu bukan sikap keseluruhan masyarakat Indonesia. Alasan mereka, sampai saat ini belum ada forum terbuka dan adil yang menjelaskan kontroversi peran Pram dalam kehidupan sastra-budaya tahun 1960-an. Soalnya, Pram tidak diizinkan menyatakan pendapatnya di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menolak ramai-ramai menyerang Pram. Karena Pram dalam keadaan tak bebas seperti bebasnya Mochtar Lubis dan Taufiq Ismail. Pram memang diwawancarai majalah kampus dan pers luar negeri, tapi ia tak akan diwawancarai televisi atau boleh ceramah di TIM. Saya terima Pram tanpa marah, meski saya tak memungkiri bahwa Pram aktif dalam memarakkan suasana intoleran dan represif 31 tahun yang lalu,” kata Goenawan Muhamad yang mengambil sikap berseberangan dengan teman-temannya yang dulu menandatangani Manifes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Budiman yang juga menandatangani Manifes Kebudayaan yang dihajar habis-habisan Pram saat Demokrasi Terpimpin mengatakan sikap ke-26 orang menolak itu hanya balas dendam semata dan tidak melihat bahwa penghargaan kepada Pram bukan karena pribadinya tapi karena pencapaian kesusastraannya. Tapi Taufiq Ismail menimpali bahwa mereka melakukan itu bukan karena balas dendam, namun hanya sekadar mengingatkan. Namun kata Umar Kayam, kalau memang mengingatkan, kenapa tidak saja membuat daftar pertanyaan dan bukan pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HB Jassin—walaupun turut tanda tangan—berpandangan lebih santun yang sudah menjadi sikapnya. Menurutnya, Pram layak menerima hadiah itu karena karya-karyanya memang baik. Di mata Jassin, Pram tetap seorang nasionalis, bukan komunis. “Ada perubahan dalam tulisannya setelah ia di penjara di Buru,” kata Jassin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Remy Silado kalau kita melawan karya Pram, bukan dengan teori, esei, dan pernyataan, tapi dengan karya yang setimpal. “Satu kelebihan Pram, bahwa ia bisa tetap menghasilkan karya yang bagus dalam kondisi apa pun. Sastrawan lain harus malu dengan kemampuan Pram itu,” tegas Arief Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak orang mau menerima hadiah dari luar negeri tidak boleh… Kalau saya sih menilai sastra ya sastra,” celetuk Gus Dur spontan menanggapi kontroversi Magsaysay untuk Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro kontra posisi Pram sepanjang 1995 itu direkam baik dalam buku Polemik Hadiah Magsaysay (ISAI: 1997). Buku ini berbeda dengan buku Prahara Budaya yang disusun Taufiq Ismail dan DS Moeljanto yang memang terasa menggiring untuk menggosok Lekra dan Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku yang berisi kompilasi berita koran dan esai yang mengiringi polemik itu kita dibebaskan mengambil sikap sekaligus mengetahui bahwa posisi Pram memang sangat riskan dan polemis. Ia dinilai dengan argumen sastra sekaligus argumen politik. Dan kedua-duanya melekat padat dalam diri Pram.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5570670920996036131?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5570670920996036131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5570670920996036131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5570670920996036131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5570670920996036131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/gemuruh-kontroversi-hadiah-magsaysay.html' title='Gemuruh Kontroversi Hadiah Magsaysay'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4639685742726371440</id><published>2009-04-20T18:52:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T18:55:49.057-07:00</updated><title type='text'>Mesin-Mesin Pram</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya adalah Three Musketeers: Hasjim Rahman, Jossoef Isak, dan Pramoedya Ananta Toer. Ketiganya punya kesamaan. Sama-sama musuh Orde Baru. Sama-sama ditendang ke penjara. Dan sama-sama keras kepala.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiganya bertemu setelah Pram keluar dari Buru pada 1979. Lalu lahirlah Hasta Mitra. Pram yang menamainya. Hasta Mitra berarti tangan yang bahu-membahu. Dan ketiganya bergandeng tangan. Tugas dibagi: Pram penulis, Joesoef Isak penyunting dan sesekali melayout, dan Hasjim Rahman mengurusi bisnis dan pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1980 kerjasama itu membuahkan hasil: Bumi Manusia terbit. Indonesia terkaget-kaget. Pemerintah kelabakan. Para pembaca gembira. Koran-koran ramai-ramai mengulas buku itu. Dalam sekejap nama Pram kembali berkilau setelah 12 tahun menghilang. Banyak kalangan menawarkan bantuan berupa modal. Salah satunya BNI. Mereka tergiur dengan penjualan Bumi Manusia yang sangat fantastis untuk zaman itu: 60-an ribu eksemplar. Tapi manis itu hanya bertahan 6 bulan sebelum kemudian dilabrak larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasta Mitra kita tahu kemudian tak sekadar penerbit seperti biasanya. Ia adalah mesin dengan kekuatan penuh mendorong nama Pram kembali ke permukaan setelah sekian lama menghilang. Bahkan mesin Hasta Mitra itu pun berjasa mendorong nama Pram ke pentas internasional dan dipanggil-panggil menjadi kandidat Nobel Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasta Mitra pada mulanya diperuntukkan bagi karya-karya tapol yang tak mungkin bisa diakomodasi oleh penerbit-penerbit yang sudah ada. Tapi hanya buku Pram yang melejit. Hasta Mitra pun kemudian identik dengan penerbit karya-karya Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tak hanya Bumi Manusia yang diterbitkan. Tapi juga Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Namun usianya di pasar paling banter 60 hari saat larangan pemerintah datang membabatnya. Bahkan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu memecah rekor: 10 hari terbit langsung ditusuk surat larangan. Karena tahu semua buku yang diterbitkannya pasti dilarang, Isak pun berseloroh dan menyebut Hasta Mitra sebagai penerbit di hari Jumat. Sengaja dipilih Jumat terbit agar punya waktu dua hari buku beredar sebelum ketemu hari Senin ketika kantor kejaksaan kembali aktif seperti semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasta Mitra yang awalnya banyak untung, tiba-tiba limbung ekonominya terkait dengan gelombang larangan. Satu per satu lembaga-lembaga yang berencana membantu memberikan modal lari tunggang-langgang. Dan praktis, Hasta Mitra harus mendanai sendiri penerbitannya. Berharap dari penjualan tak mungkin. Buku belum sampai ke toko buku sudah harus dikembalikan ke gudang. Demi sebuah perlawanan dan emoh tunduk, jalur penggalangan dana paling konservatif pun ditempuh. “Kami ambil uang dapur yang disisih para isteri agar buku-buku Pram selanjutnya tetap terbit," tutur Isak suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Hasta Mitra menjadi ikon mesin Pram yang tak pernah mau tunduk pada apa pun. Seperti halnya watak keras kepala Pram. Namun kongsi mesin Hasta Mitra yang berperadu dengan mesin pelarangan Orde Baru itu tak selamanya bisa berjalan. Tangan-tangan yang saling menggenggam itu tak selamanya saling memegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita renggang hingga putusnya hubungan Pram dengan Joesof Isak itu terjadi tatkala Hasjim Rahman wafat. Setelah kepergian Hasjim, Hasta Mitra hampir pasti dikelola sendiri Joesoef Isak. Mulai dari penyuntingan, pemasaran, bahkan kerjasama dengan penerbit-penerbit luar negeri. Sementara Pram tetap pada posisinya semula: penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan posisi Pram ini adalah posisi yang pasif. Menunggu dan menunggu.&lt;br /&gt;Seluruh akses penerbit luar negeri dan penerimaan honorarium penulis harus lewat satu pintu. Dan pintu itu adalah di rumah Joesoef Isak di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Pram memendam kecewa setelah tahu honorarium buku-bukunya dipotong di Duren Tiga tanpa ada keterangan apa pun. Tapi Pram mendiamkan saja. Karena tak mau berurusan hanya soal uang dengan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga peristiwa itu datang pada akhir 2002. Pram dan putrinya Astuti Ananta Toer menangkap basah pembajakan karya-karya Pram di Yogyakarta. “Saya kemari (Yogya, red) mengurus pembajakan buku-buku saya,” kata Pram kepada wartawan di kediaman Djoko Pekik di Bantul, Yogyakarta. Ya, penggelembungan jumlah cetakan itu betul-betul mengusik kesabaran Pram hingga ia pun melepaskan tangan dari Hasta Mitra dengan catatan pembajak dari Yogyakarta—yang diberi order cetak Joesoef Isak—harus mencicil seluruh royalti dari buku yang dikutilnya secara tak sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lahirlah Lentera Dipantara. Pram pula yang menamainya. Lentera Dipantara artinya lampion atau mercusuar di antara dua benteng laut Nusantara yang pertama kali dipekikkan Raja Kertanegara di era Singhasari. Pram pula yang membuat logonya.&lt;br /&gt;Sejatinya ide membuat penerbit yang dikelola sendiri oleh keluarganya sudah lama terpendam. Tapi karena masih ada Hasta Mitra, impian itu tetap tertanam dalam kepala. Setelah peristiwa pembajakan itu, Pram lalu menyerahkan semua hak penerbitan karyanya kepada mesin baru bernama Lentera Dipantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin inilah yang menjadi mesin baru dan resmi Pram hingga akhir hayatnya. Dibantu oleh beberapa kawan mudanya dan dipimpin langsung putera bungsunya, Yudhistira Ananta Toer, kini Lentera Dipantara sudah menerbitkan 20-an judul buku. Saat ini sedang mempersiapkan 50 judul lagi. Ada buku lama, ada juga buku-buku baru yang sekian lama terserak dalam kardus-kardus arsip. Di antaranya: Surat-Surat Pram dan Jassin, Esai Panjang tentang Multatuli, Artikel-Artikel, Catatan Harian, dan sebagainya. Pada 2005 telah terbit Menggelinding (Buku Satu). Kini menyusul Tanpa Gendang dan Seruling.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4639685742726371440?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4639685742726371440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4639685742726371440' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4639685742726371440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4639685742726371440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/mesin-mesin-pram.html' title='Mesin-Mesin Pram'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1712684413674644605</id><published>2009-04-20T18:49:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T18:51:57.036-07:00</updated><title type='text'>Pecahnya Kongsi Timah Guru-Murid</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berduka cita membaca karangan Saudara dalam Bintang Timur. Bagaimana mungkin pengarang yang begitu penuh perkemanusiaan dalam Keluarga Gerilya dan Mereka yang Dilumpuhkan dunianya telah menjadi sempit demikian?” -- Surat Jassin kepada Pram, 9 Agustus 1962 &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah, ajaranmu tidak cocok dengan perbuatanmu. Aku masih ingat pada suatu tahun waktu kau terbalik dari sebuah becak. Ingat kau apa kataku? ‘Kau menderita bukan karena terbaliknya becak itu, tetapi kerubuhan dagingmu sendiri.’" -- Surat Pram kepada Jassin, 28 Desember 1963&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer adalah dua pribadi yang memiliki kekhasan dan ciri yang sama. Selain sastrawan, ciri yang menonjol pada keduanya adalah sama-sama dokumentator mumpuni. Kalau Jassin dokumentator hal-ihwal sastra, Pram dokumentator peristiwa-peristiwa yang melanda Indonesia beserta himpunan geografisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi itu, dan hampir tak terekspos sama sekali, Jassin dan Pram pernah terlibat dalam kongsi usaha timah. Tak ada kabar yang meyakinkan bagaimana mula-mula keduanya terlibat dalam dunia yang sangat jauh dari rasa sastra atau tulis-menulis itu. Satu-satunya petunjuk adalah surat Pram kepada Jassin. Surat Pram tertanggal 16 Maret 1952 itu berbunyi: “Saudara Jassin, contoh timah saya ambil, karena ada yang butuh. Afschrift Samenstelling ………dari Bandung sebentar akan saya kirimkan bila sudah datang. Bagaimana kabar penawaran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga pekan kemudian, Pram kembali menyurati Jassin ihwal pembagian honor timah. Baca surat Pram tanggal 8 April 1952: “Bersama ini saya kirimkan master timah intertyp. Harap bisa dipakai dan moga-moga sukses. Kalau tidak ada keberatan barangkali boleh juga sekalian ambil honorarium yg semalam saudara perlihatkan dan diserahkan kepada adik saya yang membawa surat ini. Timah ini bisa diambil Rp. 6.75 (minus comisi R0.25   per Kg untuk sdr).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongsi usaha timah ini bisa kita baca dalam konteks bagaimana sehatnya hubungan Pram dan Jassin di awal-awalnya. Pram sendiri mengakui bahwa Jassin adalah seorang dewa adalah juga guru baginya. Pram ingat sekitar 1944 di zaman pendudukan Jepang. Saat itu usia Pram baru 19 tahun. Ia dan beberapa temannya silaturahmi ke rumah Jassin. Saat itu Pram merasa Jassin sudah setinggi dewa dan ia sendiri tak ubahnya seekor precil (kodok kecil) yang menguak-nguak meminta hujan. “Dalam hati aku berharap waktu itu hendaknya sang dewa punya ingatan untuk membaca tulisanku, untuk memuatnya dalam Pandji Pustaka… Bahkan seekor precil ini masih tetap tidak menyebabkan dewa itu menitahkan jatuhnya sang hujan. Sekarang aku menyadari betul betapa mahalnya ilmu dan pengetahuan di dalam masyarakat liberal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah tahun kemudian, Pram kembali ke rumah Jassin setelah ceritanya, "Kemana", diterbitkan Jassin dalam Pantja Raja. Sejak saat itu Pram punya utang budi kepada Jassin. Tak hanya itu, Pram juga diterima Jassin dengan ramah, setelah pertemuan sebelumnya Jassin terlihat sangat dingin yang dalam bahasa Pram: “Menanyai nama saja Jassin tak mau.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jassin lalu meminjamkan beberapa bukunya untuk Pram. Jassin juga anjurkan Pram untuk mempelajari psikologi dan belajar karyasastra dengan humanitas besar seperti dalam karya de Saint Exupéry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun berikutnya Pram memang diselimuti oleh pikiran humanisme yang dikembangkan Jassin. Dalam sebaris kalimat Pram, humanisme Jassin adalah kemanusiaan yang tidak berkelahi, kemanusiaan yang penuh cinta, baik pada pos dan kolega maupun dan terutama pada nabi-nabi. Betapa agungnya kemanusiaan tanpa musuh, betapa besarnya, melingkupi jagat semesta raya. “Betul, Jassin, kau merupakan sekolah menengah tentang kemanusiaan bila rumah asalku dapat kukatakan sekolah dasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pram betul-betul mempraktikkan humanisme Jassin itu dalam kehidupan sehari-hari. Sepenuturan Pram, pada 1951 ia ulurkan bagian-bagian yang gemuk dari honorariumnya pada kawan-kawan yang melahirkan, kesulitan, kematian, meneruskan pelajaran. Beberapa kawan yang praktis hidup di kolong jembatan pun ia angkat dan dibawanya ke rumah, ia pelihara, ia modali, sampai akhirnya ia bangkrut sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pram begitu kaget ketika dalam kesulitan yang amat sangat ia hendak pinjam uang Jassin. Saat itu Jassin hanya tersenyum dari balik kacamatanya sambil menunduk. Sejak itu Pram pun disadarkan, bahwa kemanusiaan yang Jassin ajarkan kepadanya adalah kemanusiaan yang tak mampu memberi, karena memang tidak mempunyai sesuatu pun untuk diberikan terkecuali teori yang membuat muluk kemanusiaan itu, tapi tidak membuatnya jadi wajar dalam kehidupan yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tak mengurangi rasa hormat Pram kepada Jassin. Jassin tetap guru dan sahabatnya. Maka pada halaman judul buku-bukunya, Pram selalu menulis: “Untuk Guru dan Sahabatku H.B. Jassin”. Pram saat itu masih kukuh membedakan antara “ajaran” dan “siapa yang mengajarkannya”. Bahkan dengan ajaran “humanisme universal” Jassin, Pram turut membenci kekasaran, dan melewati pers dan buku-buku yang mengabarkan “kebiadaban” komunis, Pram pun menjadi seorang anti-komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari perjalanan Pram yang keluar masuk penjara dan merasakan langsung bagaimana hidup sakit yang sesungguhnya, ia kemudian mengoreksi hubungan guru-murid itu. Pram menganggap bahwa Jassin adalah seorang yang hanya suka berteori dan kukuh mendirikan benteng baja bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama jam-jam bicara denganmu tak pernah aku dengar dari kau, sesuatu yang mencerminkan kesadaran akan ‘social-concience of man’ dalam kata-kata, dalam kalimat-kalimatmu. Aku mendapat kesan, baik sejak semula maupun sampai dewasa ini, kau adalah seorang yang dengan kehidupan bathin terkurung oleh perbentengan baja,” tulis Pram kepada Jassin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pram, “humanisme universal” yang diusung Jassin hanya bisa diresapi oleh segelintir orang, yang pada hakikatnya anti-rakyat. “Mengapa harus anti-rakyat? Ya, karena, karena bukankah mereka takkan mau memahami teorimu tentang manusia dan kemanusiaan, hanya karena mereka tidak mendapat keberuntungan mengenyam ajaranmu, hanya karena kemiskinan berabad? Kelak, tahun 1960, baru aku tahu dari suratmu bila terbaca olehmu aku menggunakan kata ‘Rakyat’ terkesan kembung olehmu. Orang Belanda bilang sudah ‘pluis’ dengan apa yang kusimpulkan dari ajaranmu di dalam penjara Bukitduri selama hampir 3 tahun itu. Apa boleh buat, intelektulitas dalam masyarakat liberal juga harus dibeli, dan barangsiapa tidak mampu membelinya adalah golongan Rakyat. Betapa kacau balaunya dunia bila tanggapan kita terhadap hidup dan dunia memang sudah kacau balau,” tulis Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Pram pun menuliskan surat “perpisahan” seorang hamba kepada dewanya, dari seorang murid kepada gurunya. Surat itu ditulis Pram pada akhir 1963. Setelah membaca surat panjang itu, Jassin mengirim surat balasan bertanggal 14 Januari 1964: “Surat Saudara tanggal 28 Desember 1963 yang panjangnya 12 halaman telah saya baca dengan sabar dan tenang. saya berdoa semoga Saudara kembali waras dan penyakit Saudara tidak berlarut-larut hingga jiwa Saudara tidak tertolong lagi… selamat Tahun Baru buat seluruh keluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejarah memang menuliskan keduanya berada di dua kutub yang berlawanan, tegang, panas, dan saling mencakar, bersamaan dengan berkobar-kobarnya hubungan aktivis Lekra dan penandatangan Manifesto Kebudayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah hubungan Pram dan Jassin pun lalu turut menjadi sejarah jelaga sastra Indonesia kala berbaur dengan politik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1712684413674644605?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1712684413674644605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1712684413674644605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1712684413674644605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1712684413674644605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/pecahnya-kongsi-timah-guru-murid.html' title='Pecahnya Kongsi Timah Guru-Murid'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8950545681623579568</id><published>2009-04-20T18:46:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T18:48:40.101-07:00</updated><title type='text'>Di Perpustakaan Gajah Dituduh Nyolong</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Belanda, Parakitri (Parakitri T Simbolon?) mengirim surat kepada Pramoedya Ananta Toer. Waktu itu pertengahan 1980-an. Parakitri, dalam suratnya, hanya ingin mengonfirmasi informasi yang berseliweran tentang ulah Pram yang mencuri dokumen-dokumen di Arsip Nasional.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu itu pun dipicu setelah Sang Pemula belum lama terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, bolehkah saya dapat keterangan sedikit tentang proses pengumpulan bahan penulisan ‘Sang Pemula’ langsung dari PAT? Soalnya saya ketemu Drs. Abdurrachman Suryamihardja, sejarawan dari LIPI. Ia menyinggung tentang hilangnya dokumen Tirto Adisurya dari Museum Gajah. Waktu itu saya hanya bisa membela PAT membabi-buta,” tulis Parakitri seperti diguratkan Pram kembali dalam catatan hariannya 17 Februari 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Pram menganggap tuduhan itu kerjaan orang jahil belaka. Setelah dua orang yang mengaku dari Arsip Nasional datang ke Hasta Mitra menghadap Pram ihwal lenyapnya arsip-arsip tentang Tirto, Pram lalu menganggap serius tuduhan itu. Mungkin ia tak mau disamakan dengan Chairil Anwar yang tertangkap basah mencuri Kitab Suci di kawasan Kwitang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya dugaan, bahwa, seperti menjelang dan semasa 30 September 1965, dibangun gambaran yang merugikan tentang saya,” kata Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diakui Pram, ia memang salah satu peminjam berat buku-buku perpustakaan. Kadang ia meminjam sebecak penuh. Terutama buku-buku sejarah. Buku yang sudah dipinjam itu lalu disalinnya kembali dengan tekun. Beberapa tetangganya kerap dipanggilnya membantu menyalin. Maklum mesin fotokopi belum ada zaman itu. Jika ada buku yang mantelnya rusak, Pram dibantu adiknya berpayah-payah membawanya ke percetakan untuk mengganti mantel buku itu dengan yang lebih kuat (baca: hardcover).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengumpulkan materi tentang Tirto Adhi Soerjo sejak 1961. Materi dari koran dan majalah dari Museum Gajah. Waktu itu pimpinan perpustakaan Zus Tjoa. Terakhir saya pinjam satu becak, saya bawa pulang. Sebagian terbesar, hampir seluruhnya telah saya kembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun kalau ada yang belum kembali, ya itu tadi Medan Prijaji tahun 1911-1912, Door Duisternis tot Licht Kartini dan Herinneringen P. A. A. Djajadiningrat. Tapi seluruh dokumen itu telah musnah sekarang. Bukan hilang, tapi dibakar gerombolan pada 13 Oktober 1965 bersama perpustakaan Pram yang dibangunnya dengan berkeringat darah.&lt;br /&gt;Kekesalan Pram justru di titik ini. Ia dituduh mencuri dan isu itu dikipas-kipas. Tapi orang hanya bungkam ketika perpustakaannya dihancurkan dan dimusnahkan. Maka praktis, setelah keluar dari Buru Pram harus membangun kembali perpustakaan pribadinya dari nol bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meluruskan masalah yang tidak-tidak itu, awal 1980 Pram dengan ditemani Hasjim Rachman dan Joesoef Isak dari Hasta Mitra, merasa perlu datang ke Perpustakaan Museum Pusat. Mereka menemui Ibu Mastini, pengganti Zus Tjoa. Di situ Pram membeberkan perkara materi yang belum ia kembalikan. “Bukan saya lagi yang bertanggung jawab, tetapi aparat negara sendiri. Malah sampai sekarang saya belum lagi dapat masuk rumah saya sendiri yang sudah 20 tahun saya tinggalkan untuk melakukan pemeriksaan,” kata Pram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dimaksud Pram adalah rumah mereka di Rawamangun yang turut dirampas tentara pada malam penggarukan. Malah, kata Pram, pemilik tak sah rumah itu menyewakan bagian belakang rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram curiga hilir mudiknya isu dirinya nyolong arsip di Museum Gajah salah satunya dipicu oleh isu-isu yang dilemparkan koran Duta Masjarakat sekitar tanggal 15-16 Oktober 1965. Sebab Pram pernah melihat tulisan itu ketika disodorkan seorang perwira di Kodam. Dengan guntingan koran itu, Pram pun diinterogasi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8950545681623579568?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8950545681623579568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8950545681623579568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8950545681623579568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8950545681623579568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/di-perpustakaan-gajah-dituduh-nyolong.html' title='Di Perpustakaan Gajah Dituduh Nyolong'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2281395518043626293</id><published>2009-04-20T18:43:00.001-07:00</published><updated>2009-04-20T18:45:21.335-07:00</updated><title type='text'>Ketika si Ong Tertusuk Keris Arok</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis Jawa berwajah bulat. Rambutnya berkonde dan memakai kebaya hijau sederhana. Matanya sipit, teduh, dengan kulit agak gelap. Ia duduk di bale dengan latar pantai, ombak, nyiur, dan gulungan awan. Tangan kirinya mencauk sabuk kuning sembari sebelahnya lagi menapak lantai bale. Sementara di sudut lain, seorang priyayi bersurjan bertolak pinggang dengan sebelah tangannya menyandera sebilah tongkat. Dadanya membusung. Mata awas. Kumis tersisir rapi. Di belakangnya, seorang abdi memayungi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan serangkai paragraf novel. Tapi narasi untuk gambarkan sampul buku yang bertitel Gadis Pantai. Melihat sampul itu, penulisnya, Pramoedya Ananta Toer, mengangguk-angguk senang. “Luar biasa. Hebat sekali yang bikin. Ini yang saya bayangkan Gadis Pantai.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pembikin sampul yang membuat Pram angkat puji itu? Ia Ong Hari Wahyu (46) atau biasa disapa Mas Ong. Menyebut revolusi sampul buku di Indonesia, orang tak boleh melupakan nama ini. Dari Yogyakarta, ia menjadi pionir yang menjadikan sampul buku serupa kanvas karya seni. Ia telah membuat ratusan sampul buku dari sekian banyak penerbit. Hingga ia pun berkesempatan membuat sampul buku Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya gembira dan bangga sekali bisa melayani beliau. Tokoh je. Bukan hanya nasional, tapi dunia. Punya spirit luar biasa. Walau di penjara bisa menulis dengan sangat bagus. Bahkan sampai usia tua daya ingatnya bagus. Saya sangat respek. Dan beruntung sekali saya. Terimakasih sekali dikasih kesempatan untuk bikin sampul bukunya,” kata Ong dalam sebuah perbincangan di rumah joglonya yang asri dan sederhana di Bugisan Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ong, membuat sampul buku Pram ia seperti dipaksa untuk masuk dalam studi antropologi; seperti halnya Pram berpayah-payah menelusuri arsip sejarah sebelum menulis. Dan itu yang dilakukan Ong ketika membuat sampul yang salah satunya Gadis Pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya spirit Gadis Pantai didapatkan Ong dari sedikit perbincangan dengan Pram. “Waktu ngobrol-ngobrol saya menangkap ideologi Pram, perjuangannya. Lantas saya dapat data juga dari Bowo (M Bakkar Wibowo, red). Kata Bowo, gambaran perempuan menurut Pak nggak seperti perempuan sekarang. Pram menggambarkan perempuan itu ulet, gigih, pekerja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ Ong lalu membayangkan bahwa Gadis Pantai itu orangnya pasti tak begitu putih. “Lha, cah pantai je. Wajahnya keras. Wajahnya harus dibuat agak gelap-gelap. Dan kebetulan saya punya arsip foto perempuan Jawa lama. Lalu saya ubah sedikit-sedikit. Setelah saya amat-amati lama-lama, kayaknya ini ya. Saya merasa pas sekali terhadap apa yang saya bayangkan tentang Gadis Pantai yang juga suka jual-jualan. Dan idenya itu ya saya dapatkan di Pantai Parangtritis waktu saya mancing. Kan sama. Sama-sama asongan kue. Tapi di sini saya kasih sedikit unsur cantiknya. Karena ia tokoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dilakukan Ong ketika membuat sampul Tetralogi Buru ketika masih diterbitkan Hasta Mitra. Ong mengaku, empat buku itu sudah ia baca sejak SMA dengan sembunyi-sembunyi. Dan di kepalnya sudah terbayang tipologi Ontosoroh. Juga sosok Minke yang terpelajar yang masuk dalam dunia Annelis. Untuk latar, Ong harus membongkar-bongkar arsipnya tentang Surabaya tahun dulu-dulu. Ia lalu mencocok-cocokkan dengan pengalaman empirisnya sendiri, walau tidak pas dengan kondisi-kondisi bangunan awal abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memutuskan membuat sketsa Minke, Ong diberitahu editornya, Joesoef Isak, bahwa Minke itu seperti Soekarno muda. Dia adalah Tirto Adhi Surjo. “Saya memang membayangkan Minke ini anak Pribumi yang cerdas. Karakteristiknya revolusioner atau apa gitu. Saya kemudian buka-buka data-data tentang wajah orang-orang tahun awal abad. Lho, saya lihat nggak ada yang cakap. Orang-orang Jawa jaman semono (waktu itu) dahinya mengkilat. Tulang pipinya nonjol. Mulutnya maju. Nah saya tertolong dengan Soekarno. Soekarno ini kan ngganteng sekali. Kalau orang sebelum Karno, wah nggak cakap. Padahal Minke kan tokoh yang mesti agak gantenglah. Saya pun mencampur antara Tirto, Karno, dan orang lain. Sekian wajah saya campur-campur di situ. Hahahahahaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ong tak selalu menepati janjinya melakukan studi antropologi dalam membuat sampul buku Pram. Ia suatu kali tergelincir yang membuatnya malu sungguh. Yakni sewaktu membikin sampul Arok Dedes. Pangkal soalnya, Ong tak membaca sama sekali karya itu. Sinopsisnya pun tak. Hanya Joesoef Isak memberitahu bahwa ada kemiripan kudeta Arok dan kudeta Harto ’65. Saat itu praktis Ong hanya mengandalkan ingatannya saat mendapat cerita Ken Dedes dan Ken Arok—yang terbukti kemudian payah—bahwa cerita itu identik dengan keris Mpu Gandring. Padahal, dalam novel Pram tak ada sama sekali keris. Ong sadar dengan itu setelah temannya memberitahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya malu sekali. Teman saya bilang: ‘Kamu kok nggambar keris, padahal di dalamnya nggak ada keris-kerisan itu.’ Malu aku. Malu benar. Malu. Waduh. Ini gara-gara saya nggak membacanya. Sejarah SD kan Mpu Gandring identik dengan pembuat keris. Kemudian saya mengimajinasikan Arok itu menyelinap dengan keris terhunus. Makanya ada pohon pisang. Terus ada gelap. Pokoknya menyelinaplah. Nggak mungkin berhadap-hadapan. Celaka sekali keris itu. Bodoh dan fatal sekali itu. Ha ha ha ha ha ha,” aku Ong mengenang kembali sampul Arok Dedes warna merah gelap terbitan Hasta Mitra itu. Saat ada kesempatan buku itu cetak ulang, Ong buru-buru merevisi sampulnya dengan membuang keris sialan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar keris sialan itu, Ong memang memperlakukan buku Pram tak biasanya. Sebab bagi Ong, Pram itu tokoh luar biasa. Maka betapa kagetnya Ong ketika pada suatu hari Pram dan keluarganya berkunjung ke rumahnya di Bugisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bingung sekali. Ini ada orang besar datang ke rumah saya. Saya bingung sekali. Saya harus melakukan apa. Padahal saya kira Pram nggak suka disuguhi berlebihan. Tapi, saya sebagai orang menghormati rasanya harus menjunjungnya. Bagaimana ya. Nervous gitu. Saya harus ngomong apa. Shock benar saya. Apalagi orang kayak saya ini yang hanya bermimpi-mimpi waktu di SMA membaca Tetralogi Buru sembunyi-sembunyi, kayak apa ya pengarang buku hebat ini. Itu 20 tahun sudah. Terus ia datang di depan saya, sungguh kayak mimpi. Apalagi saya kan orang Jawa yang harus melayani tamu sebaik-baiknya. Mana saya harus bekerja keras belajar memanggilnya Bung, bukan Mas.  Hahahahaha. Padahal saya tahu Pram itu Jawa yang bukan Jawa. Jadi saya nggak tahu harus berbuat apa. Di rumah nggak ada istri dan anak lagi. Terpaksa untuk bikin wedang (air minum) saya minta tolong tetangga sebelah. Dan malu sekali saya. Sirupnya pakai air panas. Panas sekali. Siang panas gitu lagi. Kan nggak nyambung sirup pakai air panas. Aduh, malu sekali saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Bakkar Wibowo juga merasakan hal yang sama ketika diminta Lentera Dipantara membikin sampul untuk tujuh buku, antara lain Sang Pemula, Di Tepi Kali Bekasi, dan Hikayat Siti Mariah. “Saya sangat bangga. Juga tentu saja tegang. Bukan apa, kapasitas Pram sebagai sastrawan internasional itu. Walaupun beberapa kali makan bersama, saya tetap menganggap Pram manusia luar biasa. Membuatkan sampul buku Pram saya anggap puncak karier pembuatan sampul saya,” ujar Bakkar. Walau demikian, pembuat sampul buku yang sudah berjumlah hampir 150 buku ini baru membaca karya Pram yang halamannya tipis-tipis seperti Larasati dan Gadis Pantai. “Nggak ding. Gadis Pantai nggak selesai,” serunya ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ong—juga Bakkar—Pram adalah pribadi yang menarik, keras, dan teguh. Dan Ong tak akan lupa kata-kata Pram: “Kerja, kerja, kerja, kerja, kerja!” Menurut Ong, itu kalimat yang sangat dahsyat. “Kerja itu kan, ya sebagai manusia kamu harus bekerja menghasilkan sesuatu. Kalau nggak, kamu bukan manusia. Kerja! Kerja! Kerja!” pungkas Ong.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2281395518043626293?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2281395518043626293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2281395518043626293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2281395518043626293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2281395518043626293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/ketika-si-ong-tertusuk-keris-arok.html' title='Ketika si Ong Tertusuk Keris Arok'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8442167443775378523</id><published>2009-04-20T18:41:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T18:43:19.405-07:00</updated><title type='text'>Si Pendekar Gunting dari Bojong</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari kami bertanya kepada Bunda Maemunah, istri terkasih Pram, kenapa gagang gunting di tangan Pram dibebat-bebati dengan isolasi, sontak Bunda menyahut, “Dia itu tuh kayak anak kecil gitu. Ke mana-mana bawa gunting terus. Bentar lagi tuh dilepas (isolasi-red). Trus diganti lagi dengan warna merah.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana-mana Pram memang selalu menyertakan gunting dalam tasnya hingga di usianya kini. Tentu saja beserta saudara-saudaranya, seperti pisau, lem, dan penjepit.&lt;br /&gt;Pram mengakrabi gunting, bukan sebagai benda semata. Dalam pengertiannya yang harfiah, gunting memang dibutuhkannya untuk melerai dan mencacah informasi yang diperlukannya dari koran-koran yang saban hari terbit. Tapi bukan sekedar itu. Gunting adalah simbol pemotongan terhadap ruang, terhadap batasan. Gunting adalah kerja. Kerja menghimpun sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu sudah dilakukannya sejak tahun 1942 tatkala bekerja di kantor berita Jepang Domei. Tugasnya mula-mula semata mengkliping semua kejadian yang masuk dari seluruh kawat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gaji saya 30 perak sebulan. Itu untuk makan, sekolah. Juga saya belikan kemeja warna biru untuk kuliah di Sekolah Tinggi Islam. Harganya 75 perak. Saya ngutang untuk itu dan bayar dengan tulisan…. Hahahaha. Dari sana pengalaman saya mengkliping. Sampai sekarang. Tak berhenti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkliping, bagi Pram, adalah trend zaman dan menjadi tradisi panjang di mana ketekunan menjadi asasnya. Sebab ia kerja penyisiran renik peristiwa. Menggunting. Mengelem. Mengumpulkan. Lalu menyatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengkliping tak hanya butuh ketekunan, tapi juga obsesi. Bila ketekunan belaka biasanya menghasilkan tumpukan data mentah dan tak tahu hendak diapakan, sementara obsesi biasanya melahirkan usaha yang gigih untuk mengubah, memola, dan mentransformasikan data itu menjadi makna baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di tangan Pram, semua klipingan selalu berkilau. Tetralogi Pulau Buru, sepengakuan Pram, tak lebih adalah tumpukan klipingan mahasiswanya ketika mengajar di Res Publica (sekarang: Universitas Trisakti) yang tugas utama mahasiswanya membuat kliping peristiwa awal abad 20 dan memberikan catatan tentangnya. “Hampir semua karya saya berasal dari klipingan koran,” kata Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja-kerja seperti yang dilakukan Pram ini memang khas kerja kaum Aquarian—pinjam parafrase Marilyn Fergusson dalam The Aquarian Conspiracy (1984). Kaum Aquarian adalah bukan mereka yang lahir pada bulan Aquarius, tetapi orang-orang yang suka pada tendensi lintasan peristiwa sekaligus berada di dalamnya. Bukan ikut arus, tapi berikhtiar sekuatnya menyatukan dan menaklukkan peristiwa itu dalam dunia pribadinya.&lt;br /&gt;Pram dengan usaha mengkliping, memang bukan sekadar merangkum, tapi coba memetakan dan memadatkan serpihan-serpihan kejadian dalam satu kesatuan menyeluruh yang membentuk persepsi baru tentang Indonesia. Bukan Indonesia yang setahun dua tahun, tapi trend Indonesia dalam regangan seabad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gunting itu, ia lalu bertemu dengan Indonesia yang senantiasa murung. Indonesia yang besar, luas, dan kaya ragam, tapi manusia-manusianya lemah, dangkal pikir, dan anak-anak remajanya berjatuhan karena lebih memilih bunuh diri, memilih jalan kematian daripada tegar berdiri memperbaiki hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Pram menggunting adalah usaha seorang asketis yang berjalan sepi dengan obor di malam hari menjaga kesadaran bangsanya dari amnesia masa silamnya. Ia setara dengan apa yang dilakukan muhadis agung Bukhari (Islam) atau Paulus (Kristen) yang menghimpun, mengompilasi, dan merangkum ucapan, gerak, dan peristiwa di sekitar Nabi dan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahulah kita bahwa mengkliping bukan kerja remeh-temeh, tidak intelek, dan buang-buang waktu. Mengkliping adalah usaha tiap hari menjaga ingatan masyarakat. Maka ketakutan terbesar Pram justru lupa dan pikun. Pikun menyiksanya karena itu berarti membuat dirinya tak awas terhadap peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berjumpa dengan pikun Pram kerap bergetar. Apalagi kala ingatannya tertuju pada tradisi mengkliping orang Indonesia yang masih sangat payah. Seakan membayar kekesalan itu, ia dengan sisa kekuatan masih memegang gagang gunting yang berbebat isolasi bercorak warna. Memilah-milah berita koran sekitar dua jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andaikan anak-anak remaja di SMA itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah gurunya takut semua. Sebab mereka nggak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai akar-akarnya. Tahu fakta. Sayang sekali. Pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekesalan Pram itu diungkapkannya dalam baris-baris kata-kata yang menusuk. “Sejak dulu, orang-orang Indonesia tak memiliki tradisi mendokumentasi. Sejak zaman raja-raja. Kalau mereka mendokumentasi itu semata demi raja-raja. Sejarah kita pun jadi sejarah para raja. Tak heran saya kalau orang asing yang banyak menulis tentang Indonesia. Kita tak punya detail tentang diri kita sendiri. Bayangkan, bangsa besar ini tak kenal dirinya sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8442167443775378523?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8442167443775378523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8442167443775378523' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8442167443775378523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8442167443775378523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/si-pendekar-gunting-dari-bojong.html' title='Si Pendekar Gunting dari Bojong'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1846969914178378817</id><published>2009-04-20T18:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T18:40:45.270-07:00</updated><title type='text'>Anugerah (kepada Pram....)</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Zen Rachmad Sugito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lembar kertas di meja belajar itu mengejutkan saya. Begini salah satu bunyi paragrafnya lengkap dengan salah ketik dan tata bahasanya:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjajahan Belanda mulai dipertanyakan karena pendidikan Belanda itu sendiri. Contohnya Minke yang duduk disekolah yang dibuat oleh Belanda. Selain bisa membaca, menulis, berhitung dan berbahasa Belanda, Minke banyak membaca buku-buku diluar pelajaran dan juga koran-koran yang memberitakan kemajuan yang dialami bangsa Jepang yang juga merupakan bangsa Asia. Akhirnya Minke mulai menyadari penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Walau pun sadarnya Minke itu muncul pelan-pelan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menengok ke salah satu sudut kamar. Poster launching 7 buku Pramoedya pada 2003 di Jogja yang didesain oleh Hary “Ong” Wahyu masih menempel di sana. Poster itu sudah terlihat kumal. Ada robekan kecil di ujung kiri bagian bawahnya. Sambil melihat potret Pram, dalam hati saya bilang: “Bung, di rumah ini, sudah lahir pembacamu lagi. Pembaca dari generasi yang masih dini. Adik saya, Bung. Ya, adik saya yang paling kecil!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana adik kecil saya mendapatkan “Bumi Manusia”. Semua buku-buku Pram milik saya tersimpan rapi di salah satu sudut kota yang jauh dari rumah. Tapi, nyatanya, ia sudah menulis sebuah paper tentang “Bumi Manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ibu saya tahu kalau adik membelinya sendiri di Gramedia yang ada di kota kecil kami. “Uangnya dari hadiah ikut kegiatan Paskibra. Kemarin pas libur seminggu di rumah kerjaannya cuma baca itu aja,” terang Ibu. Kata Ibu lagi, paper itu ditulis adik untuk diikutkan dalam lomba karya tulis tingkat kabupaten bertemakan “Peran Pendidikan untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”. Ibu menunjukkan kertas folio berisi pengumuman lomba berikut syarat-syaratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengirimi adik sepucuk sms dan bertanya sudahkah ia membaca “Anak Semua Bangsa”. Dijawabnya: belum punya. Sorenya, saya menjemput adik dari pesantren kecil tempat ia mengaji. Kuajaknya ia ke toko buku. Dengan suka hati khas remaja, ia membawa “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, “Rumah Kaca”, “Larasati” dan “Gadis Pantai” ke kasir. Saya menunggunya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakin nih mau dibaca semua?” tanya saya. Ia mengangguk. “Kan gak harus semua dibaca sekarang. Satu-satu dulu dibacanya,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan, saat mengantarnya kembali ke pondok, saya bertanya soal perpustakaan sekolahnya. Dengan gaya remaja masa kini, ia menjawab dengan bahasa Indonesia campur Inggris: “Isinya kebanyakan buku pelajaran. Novel juga ada sih, tapi all about love and i don’t like it. Gak semua, ding. Novel Ronggeng Dukuh Paruk juga ada kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik mengaku tetralogi “Laskar Pelangi” juga ada di perpustakaan sekolah. Tapi susah dipinjam, karena antri yang pesan baca. Adik membaca tetralogi “Laskar Pelangi” dari koleksinya sendiri. Ibu yang membelikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu cepat sekali berlari ternyata. Adik saya tiba-tiba sudah besar. Badannya sudah tinggi, nyaris menyamai tinggi badan saya. Usianya belum lagi enambelas. Duduk di kelas 2 Aliyah terbaik di kota kami. Pulang sekolah ia ke pondok. Mengaji. Pulang ke rumah dua pekan sekali. Kadang sebulan sekali. Di sekolah ia ikut Paskibra. Di pondok ia mengawal satu-satunya majalah dinding bersama dua temannya. Terbitnya: sesuka hati adik dan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu cepat sekali berlari. Rasa-rasanya, baru kemarin saya antri membaca “Bumi Manusia”. Rasanya baru kemarin saya mengedit buku “Sang Pemula”-nya Pramoedya. Tiba-tiba, adik saya sudah membuat paper dengan mengutip “Bumi Manusia”. Sungguh, saya tak pernah menceritakan soal Pramoedya. Yang sudah saya lakukan hanya pernah menempelkan poster Pramoedya di kamarnya. Itu pun lima tahun lalu. Hanya saja, saya agak yakin, ini hanya soal waktu. Suatu saat, saya percaya, adik saya pasti akan memanfaatkan koleksi buku saya, termasuk buku-buku Pramoedya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu ia si kecil yang senang membaca, melanjutkan tradisi yang diwariskan oleh ibunya, ibu saya, yang –sedikit banyak– telah lebih dulu turun ke nadi abangnya, saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu seorang pembaca yang rajin. Kini ia tak lagi banyak membaca novel. Tapi masa mudanya –juga tahun-tahun pertama pernikahannya– banyak dihabiskan dengan membaca. Ia tahu banyak novel-novel Pujangga Baru. Ia khatam membaca semua novel HAMKA. Koleksi novel HAMKA miliknya lengkap. Tenggelamnya “Kapal Van Der Wijk” adalah novel dewasa pertama yang kubaca dalam usia yang relatif dini: kelas 5 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    tentang saya dan ibu yang menularkan minat baca, sila baca catatan perjalanan saya DI SINI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ibu lebih banyak membaca buku-buku agama. Rutin saya kirimkan biografi-biografi tokoh perempuan dalam sejarah Islam, dari Fatimah hingga Rabiah. Kemarin aku membelikannya satu set tafsir al-Misbah-nya Quraish Shihab. Ibu minta saya mencarikan La-Tahzan versi bahasa Arab-nya. Ibu cukup fasih berbahasa Arab. Saya menyanggupi tapi belum bisa terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dulu bilang pernah membaca Pramoedya, dulu sekali. Tapi Ibu lupa judulnya apa. Ibu hanya ingat novel Pram yang dibacanya itu berlatar Jakarta, ada tokoh bernama Aminah dan Maman. Saya tahu itu novel “Cerita dari Jakarta” yang terbit pertama kali pada 1953. Saya membacanya sekitar 2005, lima tahun setelah “Bumi Manusia” tuntas saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada 1999, saya membaca Pramoedya untuk kali pertama. Bukan “Bumi Manusia” yang saya baca pertama, melainkan “Rumah Kaca”. Setelah itu saya berturut-turut membaca “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa” dan “Jejak Langkah”. Waktunya sekitar Desember 1999 atau Januari 2000. Kira-kira sekitar bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa berdusta kalau sihir Pram begitu mempesona. Buku-buku tetralogi saya baca dengan gairah yang meluap-luap. Saya membacanya bergiliran. Antri dengan beberapa teman. Saya masih ingat, “Jejak Langkah” saya baca setelah setengah hari saya nongkrongin teman saya di kontrakannya, memaksanya sesegera mungkin menghabiskan “Jejak Langkah”. Begitu sorenya teman tadi tuntas membaca, “Jejak Langkah” segera aku baca tanpa henti. Saat membaca, teman lain sudah menunggu saya. Ia juga antri. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada pergantian tahun dan milenium, 1 Januari 2000, KOMPAS menurunkan laporan khusus. Salah satu isinya adalah tulisan Th. Sumartana tentang Tirtoadisoerjo, karakter yang dicangkok menjadi Minke oleh Pram. Saya makin penasaran dengan Minke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001, saat magang di pers mahasiswa, saya diminta senior mengisi rubrik “Apresiasi” yang isinya profil para intelektual. Saya menulis tentang Tirtoadisoerjo. Susah betul mencari literatur tentang Tirto. Perpustakaan IAIN, Sanata Dharma, UGM juga Ignatitius sudah kuacak-kuacak. Tak kudapat itu buku “Sang Pemula”, buku biografi Tirto yang ditulis Pram. Terpaksalah saya menulis Tirto tanpa “Sang Pemula”. Saya mengandalkan beberapa buku sekunder, di antaranya “Zaman Bergerak” karya Takashi Shiraishi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dinyana, setahun kemudian, Lentera Dipantara –melalui Muhidin dan Bakar Wibowo– meminta saya menyunting “Sang Pemula”. Saya sangat amat tersanjung. Teramat sangat, bahkan. Usia saya baru 20 ketika itu. Itu tepat bulan puasa. Saya mengerjakannya selepas buka puasa hingga menjelang sahur. Saya bekerja tiap malam sampai saya lupa Ramadhan hampir usai dan kontrakan di Jogja sudah benar-benar senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris satu dekade semuanya terlewat. Tiba-tiba, adik saya sudah membaca “Bumi Manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Pram, 6 Februari ini mestinya kau berusia 84 tahun. Tak ada kado yang bisa kuberikan, selain kabar indah ini: “Bung, namamu tak akan hilang dari rumah kecil kami, rumah di sebuah kota kecil, di mana Ciremai terlihat jelas dari beranda rumah."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1846969914178378817?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1846969914178378817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1846969914178378817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1846969914178378817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1846969914178378817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2009/04/anugerah-kepada-pram.html' title='Anugerah (kepada Pram....)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1505745686173730102</id><published>2007-08-04T19:19:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:22:09.135-07:00</updated><title type='text'>Para Dokter, Menulislah!</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien ada, dokter (selalu) menulis. Dan setiap pasien di seluruh Indonesia mahfum, semua tulisan dokter dalam secarik resep itu nyaris tak terbaca saking buruknya. Resep itu ditulis dengan spirit kekritingan yang sempurna. Jika ditanya siapa yang tahu persis itu isi resep, maka jawabnya cuma tiga: dokter, apoteker, dan Tuhan.&lt;br /&gt;Lalu muncul joke-joke atau bahkan menjadi alamat, jika tulisan tangan Anda di sekolah atau universiteit buruk dan nyaris tak terbaca, pastilah tulisan tangan Anda itu disebut secara spontan sebagai “Tulisan Dokter”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi istilah lain untuk menunjuk tulisan acakadut itu: “Tulisan cakar ayam”. Kalau ada “Pondasi cakar ayam”, maka ada “tulisan cakar ayam”. Atau Sutami yang menemukan “pondasi cakar ayam” pertama kali untuk pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta Pusat itu terinspirasi oleh “tulisan cakar ayam” seorang dokter? Wallahua’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari menulis resep, dunia dokter adalah dunia mulia. Tangan mereka adalah tangan kedua Tuhan yang ‘menentukan’ hidup-mati seorang manusia. Mereka ‘tahu betul’ luar-dalam manusia hanya dengan melihat anatomi keseluruhan tubuhnya dalam ruang periksa atau ruang bedah yang sempit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang melimpah tentang manusia itu disertai dengan akurasi catatan yang cermat dan kaya akan detail peristiwa kesehatan seseorang dalam sebuah log book. Kerja detail dan akurasi teruji itu nyaris melampaui kerja seorang novelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika pencatatan yang detail itu menjelma menjadi tulisan yang digarap serius layaknya penulisan novel, maka buku seorang dokter akan terbaca sangat istimewa dan menawan. Kita akan mendapatkan suspens tiada akhir dengan suara getir yang menggetarkan, dan membuat setiap pembacanya akan merenung apa arti diri sendiri, semesta, dan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah misalnya buku dr John Manangsang yang judulnya sepanjang sepur: Papua Sebuah Fakta dan Tragedi Anak Bangsa, Pergumulan Etika, Moral, Hukum, Sosial, Budaya, Kedokteran, SDM, dan Kemanusiaan; Refleksi 15 Tahun Pasca Kisah Nyata: “Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul dan Komentar Para Pakar Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tak hanya meriwayatkan manusia di sepotong kawasan bernama Digul, tapi juga menyeret dan menggodam-godam rasa kemanusiaan kita di meja bedah puskesmas Tanah Merah yang miskin fasilitas itu. Sang dokter begitu lirih, detail, mencatatkan pengalamannya bergelut dengan harapan manusia-manusia Tanah Merah untuk keluar dari kelamnya nasib dan penyakit. Di tangan dr John, neraka Tanah Merah dan seberkas harap berlomba di jalur yang sempit yang terkadang saling menggesek dan menggasak.&lt;br /&gt;Dengan hanya bersenjatakan silet untuk operasi sesar dan anus buntu, martil yang menghantam gagang pahat dan obeng pinjaman tetangga untuk operasi lutut, serta listrik yang byar-pet ketika dinihari tiba, dr John memberitahu betapa kelamnya pedalaman Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahu bagaimana dahsyatnya tulisan seorang dokter yang digarap dengan serius, baca pula buku dr Ang Swee Chai, From Beirut to Jerussalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan. Dr Ang Swee adalah dokter orthopedi yang dikirim di medan pembantaian Lebanon: Shabra-Shatila. Sebelum Israel menggempur habis-habisan Lebanon setahun lalu, Shabra-Shatila sudah menjadi uji coba praktik pembantaian yang mahangeri Israel di tahun 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya paspor seorang dokter, dr Ang Swee mampu menguak betapa mengerikannya perlakuan Israel. Perang itu tak hanya mengubah persepsi Ang Swee terhadap apa itu manusia Palestina yang kerap disebut-sebut sebagai “Demolition Man”, melainkan juga menyuarakan kepada dunia bahwa perang hanya menciderai jiwa-jiwa manusia.&lt;br /&gt;Ia memang bukan reporter media massa yang bejibaku di tengah front pertempuran Lebanon. Ia hanya menceritakan apa yang dilihatnya di tenda-tenda darurat rumah sakit dan di antara deretan manusia yang terluka dan mengerangkan maut. Namun dari ceritanya yang menusuk tajam itu, bukunya menjadi saksi tentang pembantaian manusia yang mengiris. Detail-detail yang dipaparkannya membuat pembaca ikut serta dalam setiap momen dan menyadari bahwa orang yang dibela oleh dr Ang Swee sejatinya bukan lagi berdasar atas etnik dan kepercayaan (ia beragama Kristen dan pro-Israel), melainkan atas dasar kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dua buku itu, tak ada lagi buku tulisan seorang dokter yang memukau. Boleh jadi buku itu begitu menarik karena peristiwa yang melatarinya adalah peristiwa besar seperti perang dan/atau di tengah bencana alam yang luar biasa dan/atau di arena kelaparan akibat infrastruktur yang brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebuah tulisan yang menggetarkan, tak mesti dihasilkan dari arena-arena yang ekstrim, tapi juga bisa di laboratorium yang bersifat sehari-hari. Sebab ketajaman setiap tulisan dokter terletak pada: (1) bahwa mereka memiliki data akan detail peristiwa yang dihadapinya dan (2) bagaimana memperlakukan dan mengolah data itu secara memikat dan bahasa yang liris-naratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman revolusi, Soedjatmoko adalah kampiun penulis dan intelektual Indonesia yang pernah dilahirkan Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba). Ia adalah aktivis Prapatan 10, asrama mahasiswa para juru suntik. Bersama aktivis Menteng 31, Cikini 71, Gang Bluntas, mereka turut mengambil peran signifikan dalam peristiwa Proklamasi 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, dokter kita tinggal segumpil yang mau menyandingkan antara profesinya sebagai dokter dan penulis yang tekun. Betapa jarang dokter yang menulis buku tentang kesaksiannya, baik sebagai manusia maupun sebagai seorang dokter ketika berhadapan dengan peristiwa kesehatan (sehari-hari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menulis di media massa pun hanya sedikit. Paling itu-itu saja. Sebut saja dr T Jacob, Kartono Muhamad, dan Hermawan Nadesul.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter gigi dan peneliti terdepan asal UGM, Ika Dewi Ana, mengatakan buku bacaan dokter itu merentang dari buku ilmiah sampai buku porno. Tapi tak sedikit jumlah dokter yang tak mau lagi membaca. Sebuah penelitian yang dilakukan Australia-Indonesia didapatkan hasil bahwa nyaris semua responden yang terdiri dari dokter dan perawat tak pernah merujuk pada buku referensi saat ditanya cara pemakaian jarum suntik. Semua bersandar pada kata ini, diajari oleh ini, dan sebagainya. Padahal buku bisa memberi jawaban lebih memuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dokter tak mau lagi membaca, tak mau lagi bertanya pada buku, lalu bagaimana mereka tergerak menulis (yang baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1505745686173730102?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1505745686173730102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1505745686173730102' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1505745686173730102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1505745686173730102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/para-dokter-menulislah.html' title='Para Dokter, Menulislah!'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4172758980121369900</id><published>2007-08-04T19:18:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:19:27.736-07:00</updated><title type='text'>‘Malpraktik’ dari Digul</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digul adalah ingatan tentang gelap sejarah politik Indonesia. Ia adalah—pinjam istilah mantan digulis Hatta—adalah ‘neraka dunia’ yang diciptakan penguasa Hindia Belanda, Gubernur Jenderal De Graeff di awal-awal 1927 sebagai tempat buangan para aktivis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak ada tembok-tembok besar yang mengurung di sini. Sebab rimba dan paya-paya kaya nyamuk cukup menebar horor yang menggetarkan bagi siapa pun; walau ia seorang aktivis pergerakan keras kepala sekokoh Marco Kartodikromo. Menurut kabar, hanya satu orang berhasil lolos dari tangkaran dataran terpencil di udik Papua ini. Dia adalah Sanjoyo, murid Dr Tjipmangoenkoesoemo di Indistje Partij, yang kemudian menjadi tukang cukur di Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digul memang bukan Gulag yang penuh dengan lampu sorot, para sipir siaga siang malam memegang pecut dan mengokang senapan, serta tembok-tembok raksasa. Di Digul justru rumah ibadat, warung-warung, ‘rumah sakit’, bahkan bioskop, tersedia. Jika kemudian Digul menjadi sangat menakutkan, tiada lain, karena pembunuh terbuas di sana adalah rasa bosan yang membunuh harapan. Setiap orang yang berada di sana mesti berjuang mati-matian menjaga kewarasan agar tak jatuh menjadi gila. Di Digul menjadi pelamun adalah alamat dekat disesap gangguan jiwa. Keterpencilannya itulah yang menciutkan nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian ada orang mampu berbuat sesuatu di tanah yang dikurung rimba dan gunung-gunung ini, pastilah dia adalah pribadi-pribadi papilon. Dr John Manangsang adalah salah satu papilon yang bukan hanya luput dari ‘gangguan jiwa’, namun dengan kedua tangannya bisa membangkitkan inspirasi bagi siapa pun yang bersetia bagi kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membayangkan dr John Manangsang seangkatan dengan dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang hidup di Digul ketika Indonesia masih dalam embrio. John Manangsang adalah dokter muda sebuah puskesmas saat Indonesia berada di puncak-puncak pertumbuhan ekonominya atau kerap disuarakan aparatus Orde Baru dengan keyakinan membulat: “Tahun-Tahun Emas Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John sejatinya adalah dokter ‘lugu’ dengan satu keyakinan: “dokter adalah mereka yang disumpah dan bersumpah untuk membaktikan hidup mereka guna kepentingan kemanusiaan; menjalankan tugas dengan cara terhormat, bersusila sesuai martabat pekerjaan mereka; kesehatan penderita akan senantiasa diutamakan,... setelah itu para dokter pun pergi menyebar ke pelosok-pelosok nusantara, bahkan sampai pada tempat yang tak terbayang oleh manusia lain...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat termutakhir ilmu kedokteran yang tunduk pada hukum-hukum ekonomi dan teknologi supracanggih, tindakan yang diambil dr John adalah sebuah anakronisme dari humanisme kedokteran klasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John sebetulnya bisa mencecap kehidupan yang lebih baik sebagai dokter di RS Tjipto Mangoenkoesoemo karena ia alumni kedokteran di Universitas Indonesia dengan tingkat ketekunan di atas rata-rata bagi teman-teman sealmamaternya. Namun dr John memilih untuk kembali ke Digul, ‘neraka dunia’ di mana dr Tjipto pernah dipendam pemerintahan kolonial karena sepak terjang politiknya bersama Indistje Partij.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta dan Digul adalah langit dan bumi. Tapi praktik-praktik kedokteran dipraktikkan dalam komposisi dan ilmu yang sama karena sama-sama melayani manusia yang sama sebagai pasien. Kesederhanaan, kehangatan, kesetiaan, serta keberanian dr John mengambil tindakan-tindakan medis selama 2 tahun (1990-1991) di Digul menjadi teror bagi siapa pun yang memihak pada kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror itu kemudian dibagi dr John dalam buku berjudul luar biasa panjang ini: Papua Sebuah Fakta dan Tragedi Anak Bangsa, Pergumulan Etika, Moral, Hukum, Sosial, Budaya, Kedokteran, SDM, dan Kemanusiaan; Refleksi 15 Tahun Pasca Kisah Nyata: “Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul dan Komentar Para Pakar Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang novelis yang telaten merinci detail yang mengguncang, dr John mamapas dengan sangat rinci setiap detik dalam sebuah operasi darurat pasien-pasiennya di puskesmas sederhana dengan alat-alat operasi yang membuat bulu kuduk berdiri, seperti silet untuk membelah perut dalam operasi sesar dan mencocor anus yang buntu; atau tang dan pahat untuk mamapas tulang lutut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga bercerita dengan sangat efektif dan membius tentang perjalanan panjang 90 hari dalam sebuah ‘pawai pengabdian’ yang oleh dr John dinamai: Program Puskesmas Keliling Jalan Kaki ke semua desa di Kecamatan Mandobo, Boven Digul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH BERJALAN kaki seharian mengelilingi punggung bukit, menyeberangi sungai-sungai kecil, melewati titian kayu, tanah basah yang berlintah, sampailah dr John bersama aparat kecamatan di Desa Patriot, sebuah desa-tua yang kurang terurus. Dari Patriot, dr John mendapati seorang pasien, Nyonya Basilia namanya, yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di atas bale-bale dengan mendekamkan penyakit kista ovarioum permagna. Orang Papua, apalagi orang gunung seperti keluarga Nyonya Basilia, tentu tak tahu penyakit apa itu, selain kutukan. Bertambah lagi heran mereka ketika dr John bilang, penyakit itu hanya bisa diobati dengan jalan operasi. Mereka tak tahu operasi. Setelah dijelaskan bahwa operasi adalah membelah perut dengan pisau tajam untuk mencauk penyakit besar yang ada di dalamnya, sontak semuanya pada begidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John lalu memberitahu jika mereka setuju, turunlah ke Tanah Merah. Dan benar, setelah sepekan kunjungan itu, tepatnya hari Jumat, sekeluarga warga itu turun gunung menandu Nyonya Basilia dengan berjalan kaki selama dua hari. Dr John mengatur jadwal agar operasi dijalankan pada malam minggu karena listrik bisa menyala sampai jam dua dini hari. Dengan begitu mereka mendapati banyak waktu bekerja dengan alat-alat yang butuh bantuan daya listrik. Mental perawat dan alat-alat operasi pun disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada siang itu pasien yang mau melahirkan anak pertamanya datang. Di sinilah dilema dan sekaligus ‘malpraktik’ itu dimulai. Kedatangan Nyonya Maria Pinem yang diantar suaminya membawa kegawatan yang lain. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, ditemukan kepala bayi yang mau lahir cephallopelvic dysproportion, yakni kepala janin terlalu besar untuk lahir melalui panggul guru SMP Negeri Tanah Merah yang kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John pun lemas dan untuk kemudian ia berterus terang kepada suami Nyonya Maria bahwa operasi sesar harus dilakukan sekarang juga kalau ibu dan bayi yang dikandung selamat. Maka tanpa banyak waktu lagi, operasi sesar pun dimulai. Karena mungkin khawatir fisik istrinya lemah, diam-diam Pak Sinurat mengambil beberapa butir telur ayam dan mengocoknya dengan susu kental untuk diminum istrinya. &lt;br /&gt;Sementara tim dr John mempersiapkan kamar operasi. Daun jendela kamar operasi dibuka lebar-lebar untuk mendapatkan oksigen alam sebanyak-banyaknya. Alat-alat operasi yang rencananya buat Nyonya Basilia, dialihkan untuk sesar. Beberapa perawat puskesmas seperti Bidan Anotneta, Suster Bernadina, Mantri Petrus, Mantri Adrianus, Ancelina, Hermina, Lidia, dibagi dr John dalam beberapa satuan tugas. Tapi jangan bayangkan asisten operasi ini setrampil dengan suster dan perawat di mkota-kota besar. Mereka yang membantu operasi ini sangat asing dengan ilmu dan dengan prosedur operasi. Pendeknya, ini adalah pengalaman pertama. Namun dr John mau tak mau mempercayakan mereka karena cuma ini pembantu-pembantunya yang disediakan Digul, sementara pasien harus mendapat penanganan cepat. Pemeriksaan kondisi pasien dilakukan. Dan operasi pun dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perut dibelah. Uterus tampak menggelembung. Plika vesikouterina disayat melengkung membentuk bulan sabit dan kandung kencing disisihkan dengan jari ke bawah. Uterus lalu disayat dengan jalur membentuk U, ditembus dan dilebarkan secara tajam. Tampak seorang bayi bergerak-gerak. Bayi yang beratnya 3,8 kg dan nilai apgar 5/10 ditarik keluar bersama ular-ularan plasenta. Setelah perut itu bolong, giliran penjahitan tiba. Bekas sayatan dijepit dengan 3 buah klem jaringan (dan hanya 3 itu yang tersedia)untuk mengatasi pendarahan melimpah dan menghalangiproses penjahitan. Beberapa kali dr John menciduk darah dengan kedua tangannya dan berburu dengan waktu dengan beberapa jahitan penghentian sumber pendarahan. Terbatasnya klem membuat dr John memerintahkan tangan-tangan asistennya untuk menjepit sambil menunggu giliran dijahit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil. Nyonya Maria kemudian sadar pada 20 menit kemudian dengan tekanan darah 100/60/mmHg, nadi 110 kali per menit, frekuensi napas 28 kali per menit dan hemoglobin darah 7gr%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu esoknya, dr John mengunjungi pasiennya di ruang nifas. Nyaris semuanya berjalan normal. Soalnya tinggal satu, Nyonya Maria belum juga kentut. Karena itu dr John izinkan minum air hangat sedikit-sedikit. Sorenya, Nyonya Maria tak juga kentut yang membuatnya mengizinkan untuk diberi makan bubur karena pasien sudah lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat-perawat yang sebelumnya dicucuk ketegangan dan kelelahan yang luar biasa, kini harus mempersiapkan kembali operasi Nyonya Basilia. Awan bergulung-gulung di cakrawala Digul. Curah hujan turun tiada tentu. Baju steril operasi yang terpakai hari kemarin tak juga kering. Dr John pun memutuskan untuk pakai baju biasa saja. Sebab jangan sampai hanya gara-gara baju operasi tak kering, operasi ditunda. Sebab bagi orang Papua janji yang ditepati adalah kata kunci untuk merebut kepercayaan mereka. Sekali ingkar seumur-umur mereka memandangmu asing dan penuh syak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya sterilisasi, kain duk besar dan berlubang diseterika. Tim seksio kembali berkumpul jam 7 malam. Kali ini mereka hanya berpakaian biasa, sementara dr John hanya memakai kaus oblong berleher bulat dan bercelana pendek. Tak ada kendala dalam proses pengangkatan tumor Nyonya Basilia. Tumor itu tampak putih dengan bagian-bagian transparan yang dialiri pembuluh-pembuluh darah besar dan kecil bagaikan cabang-cabang akar bahar di permukaan tumor yang telah mengisi seluruh rongga abdomen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Nyonya Basilia pun terasa sangat ringan setelah operasi selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai sudah berlalu? Justru di sinilah drama itu dimulai setelah semuanya digaruk rasa lelah yang teramat sangat. Ini diketahu setelah dr John menengok kembali Nyonya Maria yang tampak menjerit-jerit kesakitan. Perutnya kembung. Benang-benang jahitan menegang dan seakan mau putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjuk pukul 22.05 WITA. Di kota-kota besar, jam segitu tak ada masalah. Tapi di Digul, saat-saat itu adalah pertanda listrik akan segera padam (jam 12malam!!). Pembantu-pembantunya pun semuanya istirahat di rumah masing-masing. Dengan gugup, dr John memberitahu pasien malang itu, bahwa operasi ulang harus dilakukan karena dalam perut sang pasien ditemukan sesuatu yang tak beres. Suami pasien hanya bisa bercucuran air mata mendengar keputusan itu, sementara Nyonya Maria hanya terlentang sakit dan kepayahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpacu dengan waktu, dr John menyuruh perawat piket membangunkan semua pembantunya. Perawat yang lain diperintahkannya mencuci alat-alat operasi dan kain duk. Dr John sendiri bergegas menghubungi kepala PLN agar memanjangkan waktu pemadaman. Apalagi yang dioperasi adalah keponakannya sendiri.&lt;br /&gt;“Apa tidak bisa operasi itu ditunda besok pagi?”&lt;br /&gt;“Tidak bisa, harus sekarang!”&lt;br /&gt;“Kalau begitu jam berapa operasi dimulai dan berapa jam butuhnya?”&lt;br /&gt;“Pertanyaan Bapak tak bisa saya jawab sekarang, sebab alat-alat operasi baru diterilkan dan tenaga medis baru dibangunkan satu per satu. Itu pun kalau mereka mau. Sementara apa dalam perut itu baru diketahui setelah perut terbuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negosiasi itu menghasilkan keputusan: PLN memperpanjang nyala listrik satu jamhingga jam satu dini hari. Apa boleh buat, dr John pun bergegas menyiapkan apa saja yang bisa disiapkan. Walau sudah bersicepat, ternyata persiapan itu baru ‘selesai’ pada pukul 12.20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum prosedur anestasi dan operasi dimulai,dr John menelpon Kepala PLN yang memberitahu bahwa operasi baru saja dimulai yang justru Kepala PLN itu mengira operasi sudah selesai. Dengan gusar, Kepala PLN itu bertanya: “Apa bisa operasi dalam sejam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dongkol, dr John menjawab: “Bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini berarti lampu menyala sampai pukul dua dini hari. Operasi pun dimulai pada pukul 00.50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah adegan menegangkan di ruang operasi yang sama sekali jauh dari ruang operasi yang distandarkan ilmu kedokteran di helai-helai buku utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca catatan dr John berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pukul 00.50 kami memberikan suntikan premedikasi dengan valium dan sulfat atropin. Tujuh menit kemudian disusul dengan ketalar 1 mg/kg berat badan. Pasien pun terlelap.&lt;br /&gt;- Dalam keadaan a dan antisepsis, kubuka kembali jahitan-jahitan dari benang silk dikulit perutnya dengan menggunakan sebuah gunting berujung tumpul. Saat itu tepat pukul 01.00 dinihari.&lt;br /&gt;- Tatkala membuka benang-benang di selaput peritoneum, seketika itu juga sebagian usus yang telah penuh berisi udara dan sedikit cairan melejit keluar, berhamburan ke atas kain duk yang menutupi tubuhnya.&lt;br /&gt;- Secara sistematis kutelusuri dan kekeluarkan usus ke atas pertunya, mulai dari usus 12 jari, usus halus sepanjang hampir 5 meter, membelok ke daerah usus buntu, naik menelusuri usus besar kanan, membelok lagi ke kiri menyususri usus besar trasversum, dan terakhir turun menyusuri usus besar kiri. Ternyata... pada sepertiga tengah dari usus besar kiri (colon descenden) terjadi puntiran usus yang nyaris saja mendatangkan maut itu! Di situ ngendon kuning telur yang telah membatu.&lt;br /&gt;- Puntiran usus itu baru saja terjadi bersama dengan gejala yang datang tiba-tiba beberapa jam yang lalu.puntiran usus itu tampak berwarna pucat dan merah seperti terlah terjadi pendarahan dalam selaput usus. Aliran dinding dalam dinding usus terjepit, terhambat, dan serbaut-serabut saraf tak lagi mendapat oksigen dan darah (ischemia) sehingga menimbulkan rasa nyeri yang tak tertahankan dan menjalar ke seluruh tubuh sampai ke ujung rambut dan sumsum tulangnya.&lt;br /&gt;- Segera puntiran usus tersebut dilepaskan dengan mengenakan kedua tangan secara hati-hati.&lt;br /&gt;- Beberapa menit kemudian warna usus di bagian puntiran kembali mendekati normal, yang tadinya pucat kini tampak merah muda,sedangkan yang tadinya merah gelap kebiruan berangsur-angsur menjadi merah muda pula. Sayangnya saya tak memperhatikan skibala (beluran feses) yang menjadi penyebab puntiran usus itu.&lt;br /&gt;- Seketika itu hatiku lega kembali di tengah-tengah keletihan yang amat sangat, ditambah lagi rasa stres lantaran diburu-buru datangnya gelap gulita deadline PLN padahal pekerjaan belum selesai.&lt;br /&gt;- Sebelum usus-usu itu kumasukkan kembali ke tempatnya, kuperiksa sekali lagi keadaan uterus untuk memastikan apakah ada juga masalah di sana. Ternyata tidak ada. Uterus dalamkeadaan baik dan aman.&lt;br /&gt;- Kini tiba saatnya memasukkan usus-susu yang telah kembung berisi udara dan air itu ke tempatnya masing-masing.dengan sedikit tekanan saya berusaha memasukkan satu per satu sambil menutup kembali luka operasi hingga tinggal beberapa sentimeter untuk memasukkan sisa usu yang masih berada di luar.&lt;br /&gt;- Tetapi ternyata udara dalam usus begitu membandel ditambah dengan stadium serta relaksasi usus oleh anestasi yang sudah tak bisa dibuat lebih dalam lagi. Ini membuat sebagian usus besar tak dapat dimasukkan kembali sama sekali. Rongga abdomen sudah penuh sesak!&lt;br /&gt;- Tiba-tiba Suster Vin berteriak, “Tekanan darah turun, Dok! Dari 90/60 menjadi 60/30.”&lt;br /&gt;- Kutanya lagi, ”Jantung?” “Lup-duk, lup-duk, lup-duk,” tiru Mantri Adrianus mengikuti bunyi jantung, terdengar pelan dan agak jauh. Astaga! Ini bahaya! Rasanya ingin saya lepas sarung tangan untuk mengecek langsung, tetapi niat ini segera saya urungkan karena mengingat tidak akan ada alagi sarung tangan steril cadangan yang dapat dipakai nanti apabila hal ini kulakukan.&lt;br /&gt;- Karena itu saya hanya dapat berkata, “Guyor infusnya! Yang lain coba pergi keluar minta donor sukarela golongan darah O dari pihak keluarga!”&lt;br /&gt;- Beberapa saat setelah penambahan kecepatan tetesan infus NaCl 0,9%, tekanan darah naik lagi menjadi 80/40.&lt;br /&gt;- Melihat tekanan darah kembali naik, saya bermaksud melanjutkan pekerjaan memasukkan usus yang masih tertinggal di luar. Namun karena usus yang masih di luar cukup banyak dan tidak memungkinkan, maka saya berpikir untuk melakukan decompresi usus lewat hidung. Tapi masalahnya, para pembantu setiaku ini belum mahir melakukan itu. Lagi pula saya khawatir hal itu dapat merangsang serabut saraf vagus yang bisa-bisa menyebabkan jantung berhenti secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;- Dalam keadaan amat genting seperti ini, saya betul-betul bingung dan kehabisan akal. Keringat dingin mengalir dengan deras. Mau melakukan decompresi lewat lubang anus? Praktiknya sulit dilakukan pada posisi dan keadaan seperti ini. akhirnya diputuskan untuk memasukkan sisa usus yang masih tertinggal di luar dengan sedikit paksa, siapa tahu bisa berhasil.&lt;br /&gt;- Kedua tangan Mantri Petrus menahan usus yang sudah berada di dalam perut agar jangan sampai keluar lagi, sedangkan saya berusaha memasukkan usus-usus itu. Usaha ini pun tidak berhasil, usus tetap membandel.&lt;br /&gt;- Perasaanku semakin tidak enak. Jantungku berdebar-debar kuat sementara para pembantu setia yang semuanya penuh dedikasi itu terus memperhatikan ekspresi wajahku. Ini dikarenakan waktu itu aku teringat batas waktu untuk kami bekerja di bawah terang lampu listrik hanya satu jam. Sekarang tinggal 5 menit dari batas waktu dijanjikan, padahal pekerjaan masih jauh dari selesai, dan pasien pun terancam keselamatannya.hati kecilku mencoba untuk menghibur diri, “Ah tak mungkin PLN memadamkan lampu dan sentral sebelum ada kabar dari kami.” Tetapi untuk berjaga-jaga, Agus dan Thomas kuminta untuk menyalakan lampu petromaks.&lt;br /&gt;- Sekali lagi, kami coba memaksakan usus yang tinggal sedikit di luar tubuh untuk masuk ke dalam perut. Tetapi tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas;lututku terasa ngilu dan longgar. Saya hampir tak berdaya lagi untuk berdiri... karena melihat bagian usus yang mengalami puntiran dan rapuh itu bocor! Tak ayal lagi, feses keluar dan mencemari rongga perut.&lt;br /&gt;- Tiba-tiba Suster Vin berteriak lagi, “Dokter! Tensinya turun lagi, 50/30 mm Hg!”&lt;br /&gt;- Saya sambar dengan jawaban cepat, “Suntikkan adrenalin 0,5 ml ke dalam kolf NaCI 0,9% dan tetesan infus dipercepat, diguyur!”&lt;br /&gt;- Di saat-saat penuh pergumulan yang sangat menegangkan itu bagai ‘berpacu dalammelodi maut’, tiba-tiba seluruh ruangan pet: menjadi gelap gulita. PLN benar-benar memegang janji,tanpa kompromi mematikan lampu tepat pukul 02:05 dini hari.&lt;br /&gt;- Hati saya benar-benar sedih dan emosiku naik sampai ke puncak ubun-ubun... saya pun tertunduk dan coba merendahkan kesesakan hati dengan memanjatkan doa yang bisa didengar oleh semua yang hadir di ruang operasi itu....&lt;br /&gt;- Saya bangkit lagi saat lampu petromaks telah menyala terang di atas tangan, di samping atas-belakang medan operasi. Kini dapat kami lihat lagi usus yang robek itu, dibantu sorotan dua buah lampu senter di samping kanan-kiri saya. Pekerjaan dapat dilanjutkan lagi. Sementara tekanan darah berkisar antara 70/50-80/60 mmHg.&lt;br /&gt;- Mantri Alex diberi tugas menghangatkan beberapa kolf cairan NaCI 0,9% dan RL dalam air rebusan di dapur puskesmas, sedang saya sendiri dan Petrus mengurut-urut udara dan feses dalam tabung usus untuk dikeluarkan melalui luka robek yang ada. Dengan demikian volume usus menjadi sangat berkurang dan mengecil sehingga semua usus dapat dimasukkan kembali ke dalam perut di tempatnya masing-masing tanpa ada kesulitan. Memang, inilah yang disebut blessing in disguise, bahwa muncul masalah baru, yakni bocornya usus dan keluarnya feses. Tetapi kebocoran justru memberi jalan keluar atas masalah yang hampir membuat kami frustasi berat,yaitu membandelnya usus!&lt;br /&gt;- Setelah isis usus dikeluarkan secukupnya,kami melakukan pencucian rongga perut dengan larutan NaCl dan RL hingga bersih.&lt;br /&gt;- Pekerjaan berikut adalah melakukan sayatan luka baru pada luka robek itu, kemudian menjahit kembali dengan beberapa jahitan benang cut gut halus. Kemudian dilakukan pengetesan apakah masih ada kebocoran ataukah memang sudah rapat betul.&lt;br /&gt;- Setelah yakin betul bahwa pekerjaan menambal usus sudah tuntas,sekali lagi kami mencuci usus dengan sisa larutan antibiotikdalam NaCl 0,9%. &lt;br /&gt;- Tubuh saya basah kayup oleh keringat mentah dan air cucian usus yang bau busuk menusuk. Kami berdiri di atas genangan air cucian usus itu. Terasa dingin sekali ditambah hembusan angin dingin di pagi buta masuk melalui jendela yang sengaja dibuka lebar,sebagai sumber O2 dan AC alam.&lt;br /&gt;- Dan operasi selesai pukul 04.10 subuh.&lt;br /&gt;- Tapi itu belum selesai. Ancaman lain adalah infeksi bakteri E Coli yang harus ditangani dengan antibiotika tingkat tinggi. Penisilin dan streptomisin tidak cukup.&lt;br /&gt;- Namun untunglah Nyonya Dokter Dresser di Senggo beberapa waktu lalu memberi 5 ampul gentamisin.&lt;br /&gt;- Sepulang dari mengantongi gentamisin, Suster Vince datang dan berkata: “Dok, suhu badan Ibu Sinurat 39 derajat Celcius, badannya menggigil dan tampak amat payah.”&lt;br /&gt;- Saya bergegas menghampiri pasien dan langsung menyuntikkan ylomidan 2 cc dan gentamisin.dari situlah Nyonya Maria berbisik lirih: “Saya tak tahan dokter, tolong anak dan suamiku.” Dia sungguh membutuhkan darah dan antibiotika.&lt;br /&gt;- Tapi ini subuh hari. Dan sungguh panjang menanti pagi.... Lalu datanglah Bapak Tambunan, rekan guru Nyonya Maria, yang sengaja datang menjenguk. Saya segera menanyainya, “Apa Bapak bergolongan darah O?” Jawab: “Ya, dokter!” Saya sambung lagi: “Apa Bapak bersedia memebri sedikit darah untuk Nyonya Maria? Ia sangat membutuhkan darah!” Beliau sangat kaget dan tampak di wajahnya rasa takut, “Saya belum biasa, ... saya takut.” Dan tanpa banyak berbasa-basi, ia cepat keluar dan pergi...&lt;br /&gt;- Dan saya pun memutuskan untuk membawa Nyonya Maria ke RSUD Kabupaten Merauke. Dan kebetulan hari ini Senin di mana akan datang pesawat Twin Otter dari Jayapura-Tanah Merah-Merauke. &lt;br /&gt;- Namun untuk naik pesawat diketinggian tertentu butuh hemoglobin (Hb) yang cukup untuk keperluan transpor oksigen dari paru-paru ke sel-selotak. Karena itu mutlak diperlukan darah. &lt;br /&gt;- Dengan berat hati saya memaksa para perawat yang berdarah O untuk donor. Dan Bidan Vince menyanggupi itu, walau saya tahu dia sangat lelah karena sudah 4 hari nonstop terbenam di kamar operasi ini. Kini kami mencari satu kantong darah lagi yang kemudian kami peroleh dari Mantri Hans yang Jumat sebelumnya sudah menyumbangkan darah untuk Nyonya Suruto.&lt;br /&gt;- Dengan persiapan yang serbacepat dan tanpa ada jeda istirahat sama sekali, akhirnya Nyonya Maria bisa diangkut. &lt;br /&gt;- Singkat cerita, Nyonya Maria bisa selamat dari maut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAIN WAKTU, lain pasien, di kamar yang sama. Operasi sesar dimulai dengan kepanikan serupa. Stok peralatan puskesmas di bawah minimum. Kasa steril tak punya dan harus meminjam dari kesusteran sementara pisau operasi habis terpakai. Mobil ambulance keluaran zaman prasejarah sudah lama mangkrak karena terbalik sehabis menubruk tebing dalam sebuah program puskesmas “keliling jalan kaki”. Sterilisator memang sudah dibawa ke perumtel untuk dipanaskan, namun listrik di perumtel tak cukup kuat untuk memanaskan. Jalan darurat pun diambil: sterilisator itu direbus manual di belakang puskesmas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya semua sudah siap di meja operasi. Namun dr John dikagetkan oleh teriakan perawat: “Pisau operasi habis dan tak ada satu pun yang tersisa untuk operasi ini.” Karena tak boleh menunda operasi hanya karena soal pisau, dengan spontan dr John merogoh sakunya dan mengeluarkan uang seratus rupiah.”Tolong belikan silet Tiger di salah satu kios terdekat.” Silet itulah yang dipakai untuk membelah perut pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat operasi atresia ani atau lahir tanpa lubang anus, dr John pun dihadapkan pada fasilitas yang minimum. Ia sudah menghubungi rekan-rekannya yang berada di kota untuk mendapatkan secuil informasi dan kalau bisa sekaligus dengan alat, namun jawaban yang diterima adalah pasien mesti dirujuk. Namun dr John tak mau merujuk pasiennya lantaran keterbatasan ekonomi. Maka ia pun mengambil jalan nekat dalam sebuah operasi buta. Bermodal sepotong patahan silet yang berbentuk segitiga yang dijepit pada ujung klem, sebuah obeng pencongkel gigi, sebuah trokar besi tajam penembus otot, sebatang sonde pengukur dalamnya dan posisi kandungan, sebuah spekulumk hidung, sebuah tabung spuit besi penyemprot gliserin ke dalam lubang anus, dan sebuah gunting. Dan operasi itu pun dimulai tatkala mata silet itu mencocor lubang anus yang buntu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan operasi yang lain, pahat yang biasa untuk pertukangan pun hadir sebagai “tamu kehormatan” di kamar bedah dr. John. Pahat—dan juga palu—digunakan untuk pasiennya yang terkena artodesis atau kekakuan sendi. Alat itu digunakan dr John untuk sebuah operasi memahat sendi lutut manusia. Inspirasi memahat lutut itu justru muncul ketika operasi sudah separuh jalan dan ia menemui jalan buntu. Di saat putus asa itulah ‘kreativitas’nya muncul. Ia memerintahkan perawatnya mencari pahat, obeng, dan martil di tetangga puskesmas lalu direbus serta disirami alkohol 70%. Setelah itu ujungnya dibakar. Untuk letak yang sempit, pahat diganti dengan obeng. Dan operasi ‘kreatif’ itu berhasil membuat senyum pasiennya merekah dan ia bisa berjalan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John Managsang mengerjakan semua pekerjaan penyelamatan jiwa manusia yang bertarung dengan penyakit-penyakit mematikan itu tanpa buku penuntun. Ia  kerap hanya mengandalkan imajinasinya dengan mencoret-coret garis yang dilewati pisau pada secarik kertas atau di tubuh pasien. Menghadapi situasi minimnya peralatan kedokteran dan ilmu yang pas-pasan, dr John lalu mengandalkan insting, keberanian,dan harapan yang dipacu pasiennya bahwa dr John adalah dewa penolong. Ia adalah wakil Tuhan yang bisa membantu mereka bisa tawar-menawar dengan maut, walau tak setiap usaha yang dilakukan dr John membuahkan hasil alias banyak juga pasiennya yang meninggal dunia akibat kegagalan operasi yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayatan silet, hentakan martil yang menghantam gagang pahat dan obeng, serta listrik yang byar-pet yang berada di jantung puskesmas Tanah Merah adalah simbol sempurna bahwa Papua tetaplah pedalaman gelap. Lewat alat-alat operasi yang sangat sederhana itu, kita diberitahu begitu memprihatinkannya kawasan yang pernah menjadi sengketa dengan Malaysia pada 1964 itu yang kemudian dikenal dengan istilah “Ganjang Malaysia. Di Papua itu pula lahir traktat bersejarah bertitel: “Dwikora”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dr John bukan sosiolog atau sejarawan atau antropolog yang perlu melumat serigit-rigitnya data-data kondisi kemakmuran di pedalaman Papua dan memberitahu bahwa Papua betul-betul gelap dan gersang. Ia hanya cukup menceritakan kisahnya di ruang operasi sempit dengan segala anakronismenya. Di sana, bertumbuh harapan dan daya hidup yang sekaligus berdiri rapet bersisian dengan penyakit dan kuntitan maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian yang coba dituturkan dengan rinci oleh buku ini—disertai sekira 50 gambar-gambar pasien yang berdarah-darah di meja operasi—adalah teror mental dan pedalaman kemanusiaan. Bukan saja kepada para dokter muda yang ingin mengabdi di pojok-pojok Nusantara yang bahkan kondisinya tak terjangkau oleh nalar, hingga pemangku-pemangku kebijakan publik di pusat-pusat kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang Digul tetap menjadi teror dan ‘neraka dunia’. Namun bedanya kini adalah anakronisme, sebab ‘neraka dunia’ itu justru berlanjut ketika Indonesia merdeka dan mencicipi bagaimana melwati tahun-tahun emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digul adalah medan pertaruhan kreativitas menyiasati semua keterbatasan; dan semua itu sudah cukup bagi masyarakat sekitarnya untuk menaruh rasa hormat yang sungguh dalam kepada dr John. Ia memang tak mengibakan rasa hormat yang telah hidup di hati masyarakat sekitar. Karena hal itu didapatkannya dari sebuah akrobat keberanian dan kejernihan kaca manusiawi. Dari kisah ‘malpraktik’ dr John kita lalu menemukan apa arti dan hakikat seorang dokter di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John adalah sebuah oase di tengah industri kedokteran yang berada di titik gawat setelah digerus dan dicundangi habis-habisan oleh kekuatan kapitalisme farmasi. Di sini, kemanusiaan digorok, sebab yang menentukan semuanya adalah kapital, kapital, dan kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4172758980121369900?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4172758980121369900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4172758980121369900' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4172758980121369900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4172758980121369900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/malpraktik-dari-digul.html' title='‘Malpraktik’ dari Digul'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-3663847724420395553</id><published>2007-08-04T19:17:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:18:19.565-07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Para Juru Suntik</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Indonesia pada akhirnya lahir di jalanan bersama pekik kerumunan massa, pidato-pidato yang membakar, dan disertai serangkaian adu bedil. Dan di antara semua itu, kaum muda berada di pusat bandul pergolakan. Hampir setiap babakan penting menuju Indonesia Merdeka, semisal pendirian Boedi Oetomo yang secara umum dipahami sebagai tonggak kebangkitan nasional, sumpah pemuda 1928, penggumpalan aspirasi pendirian politik 1938 di Volksraad, hingga Proklamasi 1945, semuanya dipunggungi kaum intelegensi muda usia. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketuban dekrit Proklamasi Kemerdekaan, misalnya, tak akan pecah seandainya tak ada elemen intelegensi muda yang memandunya di mana pada saat yang sama Bung Karno dan Bung Hatta dalam posisi “bingung” hendak melakukan tindakan apa di tengah simpang siur berita kalahnya Jepang dalam Perang Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelompok pemuda yang aktif dalam persiapan Proklamasi itu, selain kelompok Menteng 31, Cikini 71, Gang Bluntas, adalah Prapatan 10. Penamaan ini diambil dari nama jalan di mana kelompok ini tinggal. Prapatan 10 sejatinya adalah asrama mahasiswa Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide perguruan tabib modern ini datang pada Agustus 1942 dibawa Soejono Martosewojo dari Surabaya ke Jakarta guna mencari kerja. Ia bersama Eri Soedewo dan juga mahasiswa Jakarta seperti Koestedjo, Kaligis, Imam Soedjoedi, mendesak Mr Soewandi agar Jepang membuka Perguruan Tinggi Kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disetujui, panitia dibelah dua. Satunya mengurus kurikulum, sementara lainnya mengurus pembentukan asrama untuk pondokan mahasiswa baru yang berdatangan dari luar Jakarta dan luar Jawa. Panitia lalu menunjuk bekas gedung Dienst van Volksgezondheid di Prapatan 10—dekat Pasar Senen pada jalan dua arah Prapatan Kwitang—yang bisa menampung 250 mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di asrama inilah pembangkangan kepada Jepang dan perumusan konsepsi bentuk negara Indonesia digodok mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang sebelumnya berjudul Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya I ini lumayan mampu mendeskripsikan secara detail suasana dan gerak dalam asrama itu. Di sana tak hanya tumbuh mahasiswa-mahasiswa garang yang kelak menjadi petinggi-petinggi militer, tapi juga intelektual-intelektual berkelas internasional. Dan uniknya, mereka adalah para juru suntik yang dicambuk zaman untuk turut dalam badai revolusi. Mereka memang banyak berkecimpung di lab-lab kimia atau kamar-kamar bedah, tapi juga aktif bertukar pikir masalah politik dan merumuskan bentuk negara Indonesia, rajin menggelar rapat-rapat pembangkangan di selasar-selasar gelap asrama, dan bahkan para juru suntik belia ini turut mempelopori gerakan mahasiswa memanggul bedil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di asrama inilah Soedjatmoko yang kelak menjadi salah satu milestones intelektual Indonesia lahir. Ia menjadi salah satu pemikir yang menonjol di antara rekannya. Dan juga keras kepala. Selain menggalang sikap menolak saikeirei, Soedjatmoko—juga Soedarpo—memandu mogok kuliah massal setelah tentara Kompetai secara brutal melakukan penggundulan kepala mahasiswa di ruang-ruang kelas. Sampai-sampai Bung Karno, Bung Hatta, Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantoro turun tangan menasehati mahasiswa untuk kembali ke kelas. Bung Karno mengingatkan, kalau pemogokan itu diteruskan, akibatnya akan merugikan, bukan saja mahasiswa, tapi nusa dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mahasiswa Prapatan 10 bergeming. Terutama Soedjatmoko dan Soedarpo. Menanggapi dua mahasiswa yang keras kepala ini Bung Karno sempat sewot dan harus menjelaskan panjang lebar kenapa bersikap ko kepada Jepang dan bukan nonko saat menghadapi Belanda. Tak lupa saat hendak pulang, Bung Karno melontarkan pujian kecil kepada kedua mahasiswa Prapatan itu bahwa kelak keduanya menjadi “orang besar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radikalisme mahasiswa itu ternyata sudah lama tercium Jepang. Sewaktu diadakan latihan kemiliteran di Box-laan (sekarang Jalan Prambanan, Menteng), mahasiswa lari kocar-kacir tanpa perintah untuk berteduh dari hujan. Tiga hari setelah peristiwa lari dari barisan itu, belasan aktivis Prapatan ditangkap. Tuduhannya bertambah: turut menyiarkan keluar negeri ulah kejam Jepang menghadapi pemogokan mahasiswa. Separuh boleh melanjutkan kuliah setelah bebas, atau hanya kena skors berhenti kuliah setahun seperti Eri Soedewo. Tapi yang lainnya langsung diusir dari kampus. Termasuk rombongan terakhir ini adalah Soedjatmoko, Soedarpo, dan Koento. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu begitu memukul Perguruan Tinggi. Namun bukannya mengendurkan radikalisme, malah kian memadatkan dan memupuk kebencian mahasiswa kepada Kompetai. Adalah Dokter Abdulrachman Saleh—kelak gugur dalam kecelakaan pesawat di Lapangan Maguwo Jogjakarta—yang sadar betul “bahaya kuning” itu. Maka secara diam-diam ia menjadi katalisator semangat para pemuda dan mahasiswa agar tetap membina mental dan fisik. Mahasiswa kedokteran menjulukinya  “Karbol”. Jika Karbol sebagai bahan kimia digunakan untuk membersihkan benda, maka Abdulrachman Saleh adalah karbol untuk mencuci otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurachman Saleh juga yang mengajak mahasiswa suntik itu turun ke kampung-kampung rombeng di Banten Selatan yang menjadi salah cikal program Kuliah Kerja Nyata Universitas. Selain menyebarkan virus nasionalisme, di kampung-kampung itu juga mereka mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat dengan persediaan makanan seadanya. Termasuk mencontohkan mengolah bekicot secara sederhana menjadi makanan lezat tanpa bahan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga yang heboh ketika puluhan ribu romusha dari Bekasi membawa tetanus dan penyakit kejang ke CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo), tempat mahasiswa tingkat lanjut kuliah. Ternyata telah terjadi salah suntik (atau istilah kerennya medical crime=malpraktik) yang menyebabkan beberapa dokter yang sekaligus petinggi Ika Daigaku ditahan hingga beberapa di antaranya meninggal dalam penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurir Proklamasi dan Konstitusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya selang dua pekan setelah PM Koisho 7 September 1944 menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, pentolan-pentolan Prapatan 10 sudah membincangkan bakal bentuk negara, apakah dominion, kerajaan, republik, statenbond, bobdstaat, atau negara kesatuan. Dan mahasiswa ini memilih Negara Kesatuan yang mereka tahu berseberangan dengan pandangan Bung Hatta yang lebih condong pada statenbond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika diadakan ceramah terbuka Bung Hatta ihwal bentuk Negara Indonesia di Deutsches Haus, Gambir Barat (Jl Merdeka Barat sekarang), salah seorang mahasiswa Prapatan 10 mendebatnya sengit dan sinis. Saking dongkolnya sampai-sampai Bung Hatta melontarkan ucapan: “Lebih baik saudara kembali dulu ke bangku sekolah, sudah itu baru debat saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bung Hatta luluh juga ketika beberapa pentolan aktivis mendatangi kediamannya tengah malam ihwal sikap mayoritas mahasiswa dan pemuda yang menginginkan Negara Kesatuan. “Kalau tidak diambil bentuk negara kesatuan, nanti terulang lagi politik dan taktik devide et impera Belanda,” ujar aktivis Prapatan 10, M Kamal, yang ditunjuk pentolan Menteng 31, Chairul Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Prapatan kemudian tak hanya trampil dalam suntik-menyuntik, tapi juga piawai dalam berdiplomasi, membangun kesepahaman dengan pelbagai elemen pemuda lewat sidang-sidang kongres maupun rapat-rapat umum. Sebelum Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) dibentuk, elemen-elemen pemuda sudah melakukan Kongres Pemuda se-Jawa yang menyerukan persiapan diri bagi pelaksanaan Proklamasi. Bersama pemuda Menteng 31, eksponen Prapatan itu melakukan serangkaian rapat gelap dan mencetuskan Gerakan Angkatan Baru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 7 Juni 1945 mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku (Akademi Farmasi), dan Kenkoku Gakuin (Akademi Pemerintahan) menggelar rapat seluruh pemuda pelajar Sekolah menengah Tinggi untuk kemerdekaan Indonesia. Dan atas prakarsa pentolan-pentolan Prapatan rapat itu mengeluarkan tuntutan, selain “Indonesia Merdeka Sekarang Juga”, juga “diadakan latihan militer sempurna bagi pemuda-pelajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mahasiswa juru suntik itu pun memanggul bedil di Daidan I Jagamonyet yang dipimpin Daidancho MR Kasman Singodimedjo. Dan kelak banyak dari mahasiswa ini berpangkat mayor jenderal seperti Eri Soedewo yang juga sekaligus dokter ahli bedah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala para pemimpin ragu dalam memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang takluk, dengan caranya sendiri justru mahasiswa dan pemuda-pemuda ini mengambil inisiatif untuk “memaksa” dwitunggal Bung Karno dan Bung Hatta mengambil sikap secepat-cepatnya. Mereka menjadi kurir Proklamasi atau penghubung dengan berkendara Onthel menghubungi setiap pucuk pimpinan yang dicekau was-was oleh suasana tak menentu. Dengan wataknya yang meledak-ledak, eksperimentatif, dan tak banyak pertimbangan, mereka “menyekap” Bung Karno dan Bung Hatta ke luar kota. &lt;br /&gt;Barangkali mereka tak sadar sama sekali bahwa upaya-upaya “nekad” mereka itu telah membangkitkan gairah serupa di Asia dan Afrika dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini—dan juga buku-buku serupa—adalah album yang merekam bagaimana cara-cara yang dilakukan elemen-elemen di dalamnya tatkala Indonesia berada di tengah jembatan peralihan yang sangat genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, usai ketegangan jelang Proklamasi dikumandangkan, jam 12.00 siang muncul kekhawatiran yang tak kalah seriusnya, yakni bakal meledaknya friksi dan perpecahan tatkala wakil-wakil PPKI dari Indonesia Timur seperti Dr Ratulangi (Sulawesi), Tadjoedin Noer (Kalimantan), Latuharhary (Maluku), I Ketut Pudja (Bali dan Nusa Tenggara) yang berkumpul di Hotel Des Indes merasa heran dan tak terima dengan beberapa frase dalam konstitusi seperti kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dan Presiden harus Muslim. Mahasiswa-mahasiswa ini juga yang rela menjadi kurir konstitusi yang memediasi perselisihan di luar perdebatan parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta berhasil diyakinkan setelah utusan-utusan Indonesia Timur itu mengadakan pertemuan di asrama mahasiswa Prapatan 10. Pada akhirnya sebelum rapat dimulai 18 Agustus, Bung Hatta meminta Mr T Moh Hasan, utusan dari Sumatera, meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo supaya “7 kata” dalam Preambule itu diganti. Ki Bagus ternyata bisa diyakinkan Mr Hasan hingga kemudian UUD disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang berpotensi membesar-besarkan peran mahasiswa yang mangkal di asrama Prapatan 10. Tapi sejarah juga seperti perspektif mata burung; tergantung dari posisi mana mata melihat. Maka sungguh sayang buku ini dinafikan lantaran menyumbang banyak, terutama sekali memperkenalkan kontur-kontur detail di seputar jelang dan sesudah kemerdekaan, atau paling tidak suasana revolusi sedasawarsa (1940-1945) dari sebuah profesi, yakni para juru suntik yang ternyata sangat mahir, jeli, dan cerdas berpolitik, juga kuat memanggul bedil di medan pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Lahirnya Satu Bangsa dan Negara&lt;br /&gt;Penulis: OE Engelen, Aboe Bakar Lubis, dkk&lt;br /&gt;Penerbit: UIP, 1997&lt;br /&gt;Tebal: 483 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-3663847724420395553?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/3663847724420395553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=3663847724420395553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/3663847724420395553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/3663847724420395553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/nasionalisme-para-juru-suntik.html' title='Nasionalisme Para Juru Suntik'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5500123845657964082</id><published>2007-08-04T19:16:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:17:05.675-07:00</updated><title type='text'>Misteri Tulisan Buruk di Secarik Resep Dokter</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu Anda sakit dan pergi ke dokter. Pasti si dokter memberi selembar kertas yang berisi daftar obat apa saja yang harus kita tebus di apotek. Anda mengenalnya dengan resep dokter.  Soalnya kemudian nyaris sama yang dihadapi setiap pasien, di mana pun dia berada, bahwa semua tulisan dokter itu tak terbaca saking buruknya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncul joke-joke atau bahkan menjadi alamat, jika tulisan tangan Anda di sekolah atau universiteit buruk dan nyaris tak terbaca, pastilah tulisan tangan Anda itu disebut secara spontan sebagai “Tulisan Dokter”. Ada lagi istilah lain untuk menunjuk tulisan acakadut itu: “Tulisan cakar ayam”. Kalau ada “Pondasi cakar ayam”, maka ada “tulisan cakar ayam”. Atau Sulami yang menemukan “pondasi cakar ayam” pertama kali untuk pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta Pusat itu terinspirasi oleh “tulisan cakar ayam” seorang dokter ya? Boleh jadi. Tapi boleh jadi juga ini ‘malpraktik’ karena menghubung-hubungkan sesuatu yang tak berhubungan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak pernah ada yang tahu penyebab pastinya mengapa ‘tulisan buruk’ itu sudah mentradisi dan siapa pula yang pertama kali dengan ‘jenius’ memperkenalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dr Ika Dewi Ana, dokter gigi dan staf pengajar di Kedokteran Gigi UGM, menolak disebut tulisannya sangat buruk (ia mengaku tulisannya nyaris sama dengan tulisan arsitek karena rapinya… lho, kok nyerempet ke Pak Sulami). Menurutnya, seumur-umur dia belajar kedokteran, tak pernah ada pelajaran bagaimana trik menulis resep yang buruk di secarik kertas. Yang diketahuinya bahwa semua dokter harus memberikan informasi yang benar, jelas, dan terbuka kepada setiap pasien. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pihak apoteker bisa membaca tulisan resep yang kriting itu? Hmmm bertahun-tahun mereka sudah berhubungan. Pastilah apoteker sudah hapal mati anatomi tulisan yang nyaris tak terbaca itu. Dan penjaga apoteker yang biasanya tulisan tangannya rapi, kerap juga ikut-ikutan buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini namanya koinsidensi yang buruk. Untunglah sudah zaman komputer. Tapi salah. Soalnya yang dicetak di komputer hanyalah kuitansi pembayaran. Adapun resep tetap saja ditulis dengan spirit kekritingan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ini sebuah siasat si dokter dan sudah menjadi legasi tak tertulis agar resep yang ditulisnya tak dipalsu pasien untuk menebus obat tanpa sepengetahunnya; dan jika dipalsu pastilah pihak apoteker yang sudah mengetahui anatomi tulisan cakar ayam dokter itu akan mencium gelagatnya seperti petugas bank yang mengenali betul mana uang palsu dan mana yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menjadi kian lucu pada suatu saat seorang dokter lulusan luar negeri akan menulis resep dengan tulisan tangan yang sangat bagus malah dicurigai sebagai penipu oleh apoteker karena menyalahi ‘kesepakatan’ yang sudah berurat akar. Hwarakadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ngomong-ngomong soal kesepakatan, di secarik kecil kertas resep itu juga sudah ada ‘aturan’ atau ‘struktur baku’ penulisannya. Dan yang tahu ‘aturan baku’ ini, ya cuma dokter dan apoteker yang ditunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris pertama resep itu akan tertulis nama obat yang akan diberikan oleh si dokter, tentunya nama obat yang akan diberikan juga disesuaikan dengan penyakit dan  baris selanjutnya tertulis petunjuk penggunaan obat: berapa kali obat itu harus diminum, sesudah atau sebelum makan atau berapa banyak obat tersebut harus dikonsumsi, jenis obat; puyer, tablet, sirup, kapsul, atau lainnya.  Biasanya jenis obat disebutkan menggunakan kode-kode tertentu yang arti atau maknanya si dokter dan si apoteker sudah sama-sama tahu.  Ada lagi beberapa perintah tersembunyi kepada apoteker. Miriplah sandi-sandi dari sebuah ‘gerakan mafia’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perintah dan jenis obat biasanya ditulis agak menjaorok dari baris pertama yag berisi nama obat. Itu ditujukan untuk membedakan satu macam obat dengan lainnya. Itulah rahasia di balik penulisan resep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukannya penjaga apoteker nyaris tahu semua apa yang dituliskan dokter itu. Apalagi penjaga apotekernya masih culun-culun. Dalam beberapa kali kasus misalnya, tulisan dokter tak jarang mendapat komplain dari apoteker lantaran ‘perintah’ tak jelas. Mereka takut jika ada nama obat yang mirip dan salah-salah mereka memberi obat yang keliru pada pasien bisa fatal akibatnya. Pasti si apoteker ini kelupaan ‘ditraining’ dalam ‘kelas membaca resep’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dari komunikasi kedua pihak inilah, si pasien ngeloyor dari apotek dengan menjinjing sekantong plastik obat. Persoalan apa si pasien tahu apa obat yang dibawanya itu sudah sesuai dengan diagnosis penyakit, hanya tiga orang yang tahu: Tuhan, dokter, dan apoteker.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5500123845657964082?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5500123845657964082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5500123845657964082' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5500123845657964082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5500123845657964082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/misteri-tulisan-buruk-di-secarik-resep.html' title='Misteri Tulisan Buruk di Secarik Resep Dokter'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2458674542354536183</id><published>2007-08-04T19:14:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:16:03.670-07:00</updated><title type='text'>Jejak Langkahku di Antara Hikayat Diktat Kuliah Dokter</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Mita Hafsah Saraswati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua setengah tahun sudah aku belajar menjadi seorang dokter. Tepatnya di salah satu kampus tertua di Indonesia. Selama itu pula aku akrab dengan anatomi tubuh manusia, praktikum, fisiologi, metabolisme, dan banyak lagi. Tak ayal SOBOTTA , buku babonnya anak kedokteran jadi buku rutin yang ku baca. Buku sebanyak dua jilid itu kini berjajar rapi di kamar kosku, bersama buku-buku lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil aku bercita-cita menjadi seorang dokter. Namanya juga anak-anak, keinginan itu sirna begitu saja seiring laju usiaku. Duduk di bangku Sekolah Menengah, cita-citaku berubah. Aku ingin menjadi seorang akuntan, kuliah di jurusan Akuntansi, jika tidak aku ingin menjadi seorang dosen seperti ibuku. Kebetulan ibuku adalah seorang pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Sempat juga aku bertekad bersekolah di Fakultas Kedokteran Gigi. Namun keinginanku lagi-lagi kugantung. Cukup unik barangkali seorang dokter gigi justru mencegahku untuk bersekolah sama dengannya. Pelbagai alasan dikemukakannya, yang pada akhirnya membuatku luruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kelas tiga SMU, kebetulan ibuku menggelar sebuah acara di kampusnya semacam promosi jurusan dan memang bidikannya adalah siswa SMU. Ibu sudah wanti-wanti supaya aku bisa datang pada acara di kampusnya. Aku mengiyakan. Bersamaan dengan acara ibuku itu, aku disibukkan dengan kegiatan sekolah. Bukan lupa, hanya saja aku tak bisa meninggalkan kegiatan sekolah. Kawan-kawanku pun demikian, mereka punya kesibukan lain. Akhirnya aku tak datang ke acara ibuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuduga ibu marah besar. Aku hanya bisa diam, tak berani melawan. Sebagai penebusan dosa aku mengalah, biar ibu yang memilih jurusan apa yang kelak aku masuki nanti. Langsung ibu meyuruhku memilih jurusan Akuntansi dan Manajemen, keduanya di UI, tempat ibuku mengajar. Untuk pilihan pertama ibu memintaku memilih Fakultas Kedokteran. Aku turuti mau ibu. Meski aku sempat ragu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang aku diterima dan sudah nyaris tiga tahun aku kuliah di UGM. Kali ini adalah minggu kedua pekuliahanku di blok 16. Di fakultas kami, pelajaran kami tempuh dengan sistem blok. Setiap blok biasanya langsung dihadapkan pada masalah real atau penyakit tertentu. Dari satu penyakit itu, kemudian penanganannya diusahakan dari pelbagai disiplin mata kuliah. Dan itu kami cari sendiri di pelbagai literatur dan bahkan ngelayap ke internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh sks di setiap bloknya. Minggu ketiga perkuliahan kami, ujian pun digelar. Saat-saat seperti itulah yang terkadang membuatku pusing tujuh keliling. Buntutnya seusai ujian aku pergi dengan kawan-kawanku. Kebanyakan aku berwisata kuliner, mencoba makanan satu dengan lainnya. Setiap ada warung makan baru, aku tak mau ketinggalan mencobanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi biasanya aku pergi ke kampus. Minggu-minggu ini setiap harinya aku masuk pukul tujuh pagi, kecuali hari sabtu. Itu artinya sebelum pukul tujuh aku harus bersiaga. Seperti hari ini, tepat pukul tujuh pagi dosen memasuki ruang kelas. Aku mendengar penjelasan dari dosen. Pagi ini kami belajar tentang metabolisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kuliah pagi, aku dan kawan-kawan bertolak menuju Puskesmas Catur Tunggal. Jumlah kami 12 orang. Di sana kami praktek untuk berhadapan langsung dengan pasien. Aku menanyakan tentang keluhan seorang pasien perempuan paruh baya. Kepadaku ia mengeluh kepalanya acapkali gatal-gatal. Aku hanya terbengong mendengar keluhannya. Usut punya usut ternyata si ibu memakai cat rambut, dan itulah yang menjadi penyebab gatal di kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada-ada saja polah tingkah pasien di puskesmas siang itu. Aku dan kawan-kawan tak kuasa menahan geli tatkala seorang pasien yang sudah masuk ruang periksa, langsung keluar lantaran enggan jika ‘dokternya’ lebih dari satu orang. Di puskesmas kami hanya menanyakan kepada pasien apa keluhannya. Kami melihat dan mencoba meraba bagian yang dirasa sakit, memeriksa dengan menggunakan stetoskop dan kemudian hasil ‘pemeriksaan’ lalu kami serahkan kepada dokter jaga. Kami belum sampai pada tahap memberikan obat. Anehnya si dokter percaya-percaya saja pada hasil pemeriksaan kami tanpa adanya pemeriksaan ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kawan-kawanku yang pergi bersama ke puskesmas adalah kawan satu kelompok tutorial. Itu semacam kelompok diskusi resmi yang dibentuk untuk membahas perkuliahan, praktikum, bahkan tak jarang kami pergi bersama untuk sekadar berwisata kuliner. Tak heran keakraban terjalin di antara kami. Bagaimana tidak dalam satu tahun kami ditakdirkan untuk selalu bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak duduk di bangku sekolah menengah aku terbiasa dengan aktivitas di luar kegiatan akademis. Sampai kuliah aku tak bisa menghilangkan begitu saja kebiasaanku itu. Aku tercatat pernah aktif di beberapa organisasi intra kampus. Bahkan sampai sekarang. Meski bukan lagi pengurus, aku masih seringkali bolak-balik mengurusi organisasi yang telah banyak menempa ilmuku selain ilmu-ilmu kedokteran tentunya. Dari organisasi itulah banyak hal yang aku dapatkan. Hari-hariku pun penuh dengan agenda kegiatan. Melelahkan memang. Rasanya aneh jika aku pulang ke kos lebih awal dari biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga bergiat di salah satu kelompok studi di kampus. Kami sering menyebutnya Health Study Club (HSC). Di kelompok studi itu aku dan kawan-kawan bergiat menuliskan kembali catatan perkuliahan yang diberikan oleh dosen. Tak jarang kami mengopi transparasi atau power point yang diberikan dosen. Kemudian kami menulis kembali dan membagikannya kepada kawan-kawan yang membutuhkan tentu saja dengan ongkos sebagai ganti photocopy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyenangkan belajar bersama dengan cara demikian. Tak jarang ketika membuat catatan ulang tersebut aku menggunakan bahasaku sendiri. Bukankah belajar dengan bahasa sendiri membuat kita lebih mudah memahami sesuatu? Paling tidak dari situlah aku belajar menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski awalnya berat akhirnya bisa juga aku menjalani kehidupan sebagai seorang calon dokter. Aku bisa juga menikmatinya, meski belum usai jejak langkahku. Setidaknya aku bisa mensyukuri apa yang aku terima saat ini. Seperti yang pernah dijelaskan oleh salah seorang dosenku, dia berkata bahwa bayi yang lahir terbelakang mental, adalah satu di antara seribu bayi yang lahir di Indonesia. Aku bergumam dalam hati seraya bersyukur, aku terlahir normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bersekolah di Fakultas Kedokteran sungguh melelahkan. Kurasakan hal itu. Bagaimana tidak, kami dijejali dengan hapalan-hapalan, yang terkadang kami tak tahu apa artinya. Belum lagi kebanyakan dari referensi yang ada berbahasa Inggris. Itulah yang membuat beberapa mahasiswa kedokteran tak tahu dengan lingkungan. Misalnya saja hanya beberapa gelintir mahasiswa kedokteran saja yang tahu soal PP 37 yang diributkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha untuk mengimbanginya dengan mengikuti berita di televisi. Sembari makan aku mengikuti berita dari televisi. Agar seimbang itu saja. Aku punya tergetan, setidaknya dalam satu bulan aku harus bisa menyelesaikan dua buah buku di luar diktat kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseharianku memang melelahkan tapi setidaknya ada kepuasan terselip di antara lelah. Aku bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Aku cukup terharu, ketika gempa 27 Mei lalu, aku menangani beberapa pasien, rata-rata mereka mengucapkan terimakasih dan aku menangkap pancaran kepuasan dari matanya. Meski tugasku hanya mengganti infus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mahasiswa Kedokteran Umum UGM Angkatan 2004 (sebagaimana dituturkannya kepada kontributor I:BOEKOE, Fadila Fikriani Armadita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2458674542354536183?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2458674542354536183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2458674542354536183' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2458674542354536183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2458674542354536183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/jejak-langkahku-di-antara-hikayat.html' title='Jejak Langkahku di Antara Hikayat Diktat Kuliah Dokter'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8874070197619661923</id><published>2007-08-04T19:13:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:14:36.823-07:00</updated><title type='text'>Kalau Miskin, Jangan Coba-coba Sakit</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;i&gt;Orang Miskin Dilarang Sakit&lt;/i&gt; ini ditulis dengan tujuan bukan sekadar ancaman, tapi sebuah seruan yang coba membelah sistem dan praktik kapitalisme yang nyaris menggerogoti dunia kedokteran. Dunia ini tak lagi nyaman untuk kredo tempat berhimpunnya wakil Tuhan penolong manusia yang dijerang penyakit, tapi telah mengubah diri menjadi industri niaga raksasa. Karena telah menjadi firma, maka semua aktor dan produk-produknya dinilai semata oleh dua hal: untung dan rugi. Kalau menguntungkan, ambil. Kalau merugikan, buang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan objek dagang. Darwinisme sosial-ekonomi berlaku di sini. Yang hidup panjang bukanlah yang kuat, tapi yang adaptif. Karena hukum ini, maka dunia kedokteran beradabtasi dengan neoliberalisme yang sedang berkuasa. Karena neoliberalisme kesehatan, maka orang miskin adalah manusia pertama yang akan merasakan pecutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan-kesimpulan itu dipacalkan Eko Prasetyo dengan bahasa seperti orang gila yang berteriak,memukul, dan meracau marah. Miriplah sumpah serapah atau lelangut orang miskin yang ditolak oleh rumah sakit karena petugas jaga yang sudah diseting sedemikian rupa bertanya pertama kali di pintu UGD, bukan kau sakit apa, tapi kau punya uang berapa untuk penyakit kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah pasien bisa masuk. Namun di sinilah malapetaka itu akan sempurna dialami. Karena pasien akan berhadapan dengan harga-harga obat, biaya kamar, biaya dokter periksa, biaya kamar mandi, dan bahkan kentut pun harus bayar. Bukan saja nyawa hilang karena diserang penyakit jantung dadakan setelah melihat nota bon yang diserahkan kasir, tapi juga kerbau, sawah untuk penyakit yang juga tak pernah sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merangsang orang untuk melihat rumah sakit telah beralih fungsi sedemikian rupa. Jika dulunya rumah sakit adalah seperti rumah ibadah di mana setiap orang masuk ke sana tanpa pandang bulu menjadi tenang oleh karena jiwanya diberkati dan diselamatkan, maka sekarang rumah sakit telah menjadi rumah yang menakutkan. Pada titimangsa inilah kesyahduan yang terpancar dari rumah sakit dan integritas seorang dokter tergadaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik farmasi misalnya, seorang dokter berkomplot sedemikian rupa dan membagi keuntungan dengan perusahaan-perusahaan farmasi yang bersaing ketat dengan catatan sang dokter memberi rekomendasi kepada pasien untuk menebus obat di apoteknya. Praktik seperti itu miriplah kerjasama makelar tanah dengan petugas notaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas buku ini adalah berteriak dan mengiba-iba kepada negara agar melindungi warganya yang dicekik sistem kedokteran yang diktator seperti ini. Sebab konstitusi mengamanatkan bahwa hak-hak publik atas warganya yang tak mampu seperti pendidikan dan kesehatan menjadi tanggungan negara. Sementara negara sendiri oleh aparatus pemerintah dan aparatus-aparatus intelektual neoliberal yang mengurung istana dikebiri dan membiarka orang miskin diinjak-injakoleh persaingan yang bukan hanya tak sehat tapi juga tak berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teriaknya itu Eko membeberkan data dan fakta-fakta bagaimana brengseknya dunia kedokteran kita dan betapa gagalnya pemerintah mengelola kesehatan masyarakatnya. Entah karena buku ini atau karena desakan kesadaran untuk menjaga vitalitas tubuh masyarakatnya, beberapa kawasan seperti Jakarta terdorong untuk menggratiskan biaya pengobatan bagi warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu itu bukan hanya kebijakan populer sesaat, tapi berkelanjutan dan bisa meluas hingga ke pelosok-pelosok Nusantara. Sebab jika sistem kesehatan ini terus dibiarkan tak beres, itu artinya kita membiarkan penyakit rutin masuk dan leluasa. Dari demam berdarah, malaria, TBC, flu burung, bahkan AIDS. Apalagi penyakit saat ini ternyata menjadi sangat efektif melindungi para koruptor. Tiap sidang akan digelar, dengan cepat mereka sodorkan secarik surat dokter ke para hakim. Secarik tulisan dokter itu sama nilainya dengan surat pengampunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang miskin adalah piramida yang paling sakit dalam sistem kesehatan yang diskriminatif dan diktator seperti ini. Maka Eko mengajak Anda yang pernah jadi korban penanganan salah urus dari dokter atau rumah sakit, untuk: “Ayo, lawan sistem kesehatan yang menindas ini!!!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Orang Miskin Dilarang Sakit&lt;br /&gt;Penulis: Eko Prasetyo&lt;br /&gt;Cetakan: I, November 2004&lt;br /&gt;Penerbit: Resist Book, Jogjakarta&lt;br /&gt;Tebal: 145 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8874070197619661923?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8874070197619661923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8874070197619661923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8874070197619661923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8874070197619661923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/kalau-miskin-jangan-coba-coba-sakit.html' title='Kalau Miskin, Jangan Coba-coba Sakit'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5208146056183239258</id><published>2007-08-04T19:11:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:13:05.155-07:00</updated><title type='text'>Tahajud Sehat ala Dokter Sholeh</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris dalam hidupnya, Nabi Muhammad SAW tak pernah ‘berteman’ dengan penyakit-penyakit mematikan yang pernah dikenal manusia seperti jantung, stroke, dan sebagainya. Padahal boleh dibilang ia sangat jarang istirahat. Paling penyakit-penyakit ’sepele’ dan musiman seperti sakit kepala dan demam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurus umat yang bertebaran banyaknya dan kerap masih saja banyak gangguan oleh kabilah-kabilah yang tak mau akur satu sama lainnya, tidurnya hanyalah beberapa saat saja. Siang jelang salat duhur, ia akan tidur satu jam. Dan malamnya Muhammad akan tidur jam 9 (setelah salat isya, berwasila, dan bercengkerama dengan keluarga) dan bangun jam 2 dini hari untuk mendirikan tahajud hingga subuh. Lalu ia tidur sejenak sampai matahari benar-benar terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, fenomena kuatnya fisik Nabi Muhammad ini (bukan hanya berperang di padang pasir, tapi juga bergumul dengan istri-istrinya di atas ranjang) ini yang merangsang dr Sholeh untuk meneliti. Nah, kajian buku ini berusaha menyingkap pola hidup sehat dan kuat ala padang pasir yang dipraktikkan Sang Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Sholeh ini memiliki riwayat pendidikan yang tak linier dan fokus. Ia memulai debut pendidikan tingginya dari Fakultas Tarbiyah Universitas IslamTribakti Kediri dan Universitas Muhammadiyah Malang. Lalu magisternya diselesaikan di Fakultas Psikologi IKIP Malang. Adapun program doktoralnya ia ampuh di Fakultas Kedokteran Jurusan Psikoneuromunologi Universitat Airlangga Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas riwayat pendidikan itu tak berhubungan. Nanti relasi itu terlihat berkait erat setelah membaca buku ini. Buku yang menggugah—dan memang berimplikasi pragmatis ini—menautkan tiga disiplin ilmu sekaligus: agama (salat tahajud), psikologi (konstantasi jiwa sewaktu melakukan salat atau buku ini mengistilahkannya ‘niat ikhlas’), dan kedokteran (ketahanan tubuh akibat pengaturan darah yang efektif dan berkelanjutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga ilmu itu kemudian bertemu dalam sebuah laku spiritual yang setiap Muslim pasti tahu dan barangkali pernah melakukannya, walau tak intensif: TAHAJUD. Dari penelitiannya yang dilakukan kepada 19 santri yang sudah terpilih di Pesantren Hidayatullah Surabaya, dr Sholeh mendapatkan bahwa salat tahajud sangat efektif membangun benteng imunologi dan homoeostatis. Namun salat tahajud seperti apa yang bisa demikian itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat tahajud yang dilandasi—dalam sebuah perkataan Sang Nabi—dengan niat yang ikhlas serta pasrah. Itu bukan retorika agama belaka, melainkan memiliki dampak yang praktis di antara para pengamal tahajud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan dan ketenangan dalam mendirikan salat berkait erat dengan irama sirkadian yang merupakan elemen penting dalam fisiologis tubuh. Komponen-komponen yang terkait langsung dengan sirkadian adalah pola tidur-bangun, kesiapan bekerja, pengaturan autonomik (sekresi adrenalin, kortisol), proses vegetasi (metabolisme) temperatur tubuh, denyut jantung, dan tekanan darah. Jam kerja biologis irama sirkadian ini secara endogen berjalan 24 jam sehari. Dan akan meningkat pada siang hari (free ergotrofic) dan menurun pada malam hari (fase tropotrofic)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika irama ini tak terkelola, biasanya gejala yang muncul adalah gangguan tidur, nyeri perut, nyeri ulu hati, tidak ada nafsu makan, badan terasa lemah, merasa sangat lelah, gangguan saluran pernapasan. Gejala itu biasanya dialami para pekerja shift malam. Gejala serupa juga dirasakan beberapa pengamal salat tahajud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terjadi dikarenakan para pengamal tahajud tak berhasil beradabtasi dengan perubahan irama sirkadian. Gangguan adaptasi ini ditunjukkan dari gambaran kortisol yang seharusnya menurun pada malam hari, namun karena malam hari melakukan aktivitas tahajud, maka hormon kortisol tetap tinggi. Ketakstabilan homeostatis itu kemudian memicu stres diakibatkan meningkatnya ACTH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dari sono-nya irama biologis dari ACTH dan kortisol berkolerasi dengan suasana terang dan gelap. Pada malam hari di mana kondisi gelap, maka terjadi penurunan ACTH dan kortisol. Biasanya kadar terendahnya antara jam 00.00-02.00. Dan pada jam-jam itu juga tahajud dianjurkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kerja-kerja adabtasi, dr Sholeh mengatakan bahwa dalam sistem tubuh manusia dikaruniai kerja-kerja prevensi. Upaya itu di antaranya melalui coping mechanism. Proses terjadinya coping ini dapat dilihat dari upaya penyesuaian diri dan proses belajar dan mengingat. Dalam proses penyesuaian diri ini akan timbul suatu bentuk habituasi atau sensitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pengamal salat tahajud itu bisa beradabtasi dan memiliki coping yang efektif, maka perubahan irama sirkadian diterima sebagai simulator untuk berprestasi. Sebaliknya jika gagal beradabtasi dan coping tak efektif, perubahan irama sirkadian akan diterima sebagai tekanan yang rentan terhadap infeksi dan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, salat tahajud yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusuk, tepat, ikhlas, dan berkelanjutan, diduga dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif serta mengefektifkan coping. Gejala yang bisa dilihat adalah bahwa pengamal salat tahajud itu akan menghadapi hidup secara realistis dan optimis serta tetap bersikap konstruktif. Sebaliknya, ketakikhlasan hanya akan menimbulkan kekecewaan, kecemasan, presepsi negatif, dan rasa tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan atau racauan atau negatif atau positifnya persepsi bisa diukur dari besaran kortisol darah yang bekerja. Jika kortisol darahnya tetap rendah dan stabil, maka dipastikan bahwa kekhusukan salat tahajud tercapai. Begitu pula sebaliknya. Jadi, tolak ukur dari niat ikhlas itu adalah bilangan kortisol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan makna ikhlas itu sudah tersirat abadi dari sebuah pasase kitab suci: “Salatku, ibadahku, hidupku dan matiku,hanya diperuntukkan kepada Allah SWT” (Qs 6:162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau hidup sehat dan kuat ala Sang Nabi, dirikanlah tahajud. Tapi syaratnya ya itu tadi, ikhlas, khusyuk, dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Tahajud, Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran&lt;br /&gt;Penulis: Moh Sholeh&lt;br /&gt;Cetakan: April 2001&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pelajar, Jogjakarta&lt;br /&gt;Tebal: xxvii+250 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5208146056183239258?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5208146056183239258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5208146056183239258' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5208146056183239258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5208146056183239258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/tahajud-sehat-ala-dokter-sholeh.html' title='Tahajud Sehat ala Dokter Sholeh'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5973539111032968166</id><published>2007-08-04T19:09:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:11:08.662-07:00</updated><title type='text'>Membelah Perut Pun Ada Seninya</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pelajaran praktik bagaimana membunuh dengan sebilah pisau dan mencincang peurt sang korban. Ini adalah buku ajar seorang calon dokter bagaimana seni melakukan bedah terhadap tubuh manusia. Sama-sama melakukan ‘mutilasi’ atau mencincang tubuh manusia, namun pembunuh melakukannya dengan cara yang sembrono, sementara sang (calon) dokter melakukannya dengan prosedur dan aturan yang ketat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu bedah memiliki sejarah kemunculannya bersamaan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Itulah yang ditulis dalam bagian awal buku ini. Fielding H. Barisson dalam buku ini mencatat setidaknya ada tiga nama yang pantas disebut dalam sejarah ilmu beda mula-mula. Mereka adalah Ambroise Pare, John Hunter, dan Joseph Lister. Dari ketiganya ilmu bedah di kenal di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal buku ini menyoroti dan meriwayatkan para ahli bedah terkemuka serta mereka yang punya andil besar pada asal mula sampai pada perkembangan ilmu bedah itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natal 1809, di sebuah pedesaan yang lengang Kentucky Mc Dowwel berhasil mengeluarkan tumor ovarium yang ukurannya lumayan besar dari rahim seorang pasien, dan operasi itu cukup berhasil. Tebukti dengan pulihnya si pasien tanpa adanya gangguan dan dapat bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Mc Dowwel adalah contoh dari dokter yang berhasil melakukan praktek bedah pada masa awal kemunculannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bercerita tentang sejarah dan perkembangan ilmu bedah dalam buku ini juga dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan pembedahan sebelum masuk pada praktek atau tatacara pembedahan itu sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semestinya dokter mengetahu setiap inchi tubuh manusia. Pun buku ini menjelaskan secara detail setiap inci tubuh manusia sampai pada bagian yang tak tertangkap oleh mata telanjang. Mereka juga mesti tahu berapa volume cairan normal yang semestinya ada dalam tubuh manusia; bukan saja yang berbentuk air tetapi ada batas normal volume darah yang dimiliki. Di situ baru diketahui apa seseorang bisa menjalani operasi atau tidak. Jika ada yang tidak sesuai dengan jumlah volume, maka seseorang bisa gagal menjalani pembedahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada benarnya pepatah yang mengatakan kalau pengalaman adalah guru terbaik. Beberapa hal yang dilakukan praoperasi bukan saja persiapan secara fisik saja, pemeriksaan secara mental pun mutlak diperlukan. Itulah yang kemudian disebut komunikasi antardokter dan pasien. Jika fase ini tak dilakukan bisa fatal akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedah adalah pelajaran ‘seni’ bagi orang kedokteran. Yang diperlukan bukan hanya ketelitian dan pengetahuan tentangnya tetapi juga komunikasi antar dokter dan pasien, salah-salah bisa terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman. Pasien haruslah benar-benar mengerti apa penyakitnya dan kenapa ia harus menjalani pembedahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibaratnya jika kita hendak mengganti sparepart motor, kita harus benar-benar tahu pasti bagian mana yang  mesti diganti atau diservis. Jika harus diganti kita harus benar-benar tahu apa yang membuat bagian tersebut diganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita anemia, atau kekurangan darah misalnya. Pasien yang mengidap anemia tak bisa langsung menjalankan pembedahan tanpa adanya persiapan khusus. Penderita anemia memiliki risiko yang cukup tinggi, maka diperlukan persediaan darah yang cukup banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Ajar Bedah ini juga memberikan secara jelas bagian-bagian tubuh manusia, serta pengobatannya. Disertai beberapa gambar selaku penguat pada uraian tentang proses bedah dan bagian-bagian apa saja yang dibisa dibedah. Buku ini juga menjelaskan setiap bagian tubuh yang dibedah beserta pengobatan, dan langkah-langkah apa saja yang seharusnya dilakukan pascaoperasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia bedah bukan saja ilmu yang harus dikuasai akan tetapi juga pengalaman, yang lebih penting dari semuanya Tuhan yang menentukan. Seperti yang diujarkan oleh Joseph Lister, satu di antara tiga ahli bedah yang cukup mendunia. Ahli bedah Prancis ini berkata dalam bahasa Prancis, “ Je le pansay,m Dieu le Guarit (Saya yang membaut, Tuhan yang menyembuhkannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Buku Ajar Bedah&lt;br /&gt;Penulis : Sabiston&lt;br /&gt;Penerbit: EGC Penerbit Buku Kedokteran&lt;br /&gt;Cetakan: Kedua, 1995&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5973539111032968166?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5973539111032968166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5973539111032968166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5973539111032968166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5973539111032968166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/membelah-perut-pun-ada-seninya.html' title='Membelah Perut Pun Ada Seninya'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4031741008077846618</id><published>2007-08-04T19:07:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:09:45.613-07:00</updated><title type='text'>Peta Dunia di Sekujur Tubuh Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;i&gt;Sobotta&lt;/i&gt; adalah kitab wajib mahasiswa kedokteran. Hampir semua mahasiswa kedokteran memiliki dan menggunakannya sebagai buku babon dari awal perkuliahan sampai selesai. Bahkan mereka yang sudah menjadi seorang dokter pun masih menggunakan buku ini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang atlas pikiran kita akan melayang pada sebuah buku yang menggambarkan peta dunia, atau suatu kawasan secara detail dan terperinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti sudah pernah melihat peta, atau mungkin mempelajarinya. Apa yang ada lihat? Suatu daerah lengkap dengan ibukota, kabupaten, kotamadya, sungai, gunung, atau mungkin ada danau, pantai barangkali. Bahkan peta sebuah kota, di sana akan lengkap dengan jalan-jalan protokol, kecamatan, kelurahan, dan sampai ke tingkat kampung atau dusun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi di atas hanya suatu perumpaan, tentunya &lt;i&gt;Sobotta&lt;/i&gt; tak akan berbicara mengenai letak kota, kabupaten, ataupun sungai. Sebab Sobotta bukan berisi mata pelajaran geografi.  Membuka Sobotta seolah kita dituntun menyusun seluruh bagian tubuh manusia mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama kita akan diajak menyusur bagian Kepala, Leher, dan Ekstrimitas Atas. Pada bagian kepala misalnya, kita akan tahu secara detail apa saja isi kepala manusia. Syaraf-syaraf yang menghubungkan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Syaraf-syaraf itu bisa diibaratkan jalan pada peta yang seringkali kita lihat. Sementara bagian-bagian kepala adalah kota-kota yang ada pada suatu daerah. Pun tulang-tulang tempat melekatnya daging digambarkn jelas pada buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala dalam buku ini tak hanya digambarkan sebuah kepala yang utuh, tetapi sampai pada hidung, mata, mulut, dan juga telinga. Pada bagian mulut misalnya, digambarkan mirip dengan asliya demikian pula dengan warna yang digunakan. Apa saja isi mulut, lidah, gigi, bahkan sampai ke bagian gusi. Mata dan hidung pun digambarkan secara detail, sampai ke bagian paling kecil sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma bagian ataupun syaraf yang menghubungkan antar bagian, buku ini juga berisi tentang penjelasan dari gambar yang ada serta fungsi-fungsi dari setiap bagian yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada bagian kedua buku ini, menggambarkan bagian tubuh mulai dari batang badan, panggul, sampai pada ekstrimitas bawah. Tak lupa peredaran darah pun digambarkan sejak dipompa pertama kali oleh jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengeluaran kotoran pun dijelaskan secara detail di buku ini. Pencernaan makanan melalui usus-usus yang melilit di bagian tubuh manusia. Apalagi buku ini sengaja di buat berwarna dan pewarnaannya pun hampir sama dengan bagian tubuh manusia. Kulit misalnya, pada buku itu kulit digambarkan sesuai warna kulit pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ini memang buku wajibnya anak kedokteran, sudah selayaknya seorang dokter mengetahu detail setiap inci tubuh manusia, bahkan yang tersembunyi sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Atlas Anatomi Tubuh Manusia SOBOTTA&lt;br /&gt;Penyunting: R. Putz dan R. Pabst &lt;br /&gt;Penerbit: EGC Penerbit Buku Kedokteran&lt;br /&gt;Cetakan: 2000&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4031741008077846618?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4031741008077846618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4031741008077846618' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4031741008077846618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4031741008077846618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/peta-dunia-di-sekujur-tubuh-manusia.html' title='Peta Dunia di Sekujur Tubuh Manusia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-6415882711271723971</id><published>2007-08-04T19:06:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:07:40.107-07:00</updated><title type='text'>Dokter Juga Punya Kamus</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan terus berkembang. Pun istilah-istilah di setiap bidang garap. Dunia medis tentunya tak ketinggalan beranjak menuju perkembangan zaman. Banyak istilah yang hampir setiap zaman muncul mulai dari istilah bedah, anatomi, kedokteran klinis, kedokteran laboratorium. Istilah kedokteran kebanyakan muncul dari bahasa Yunani dan Latin. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah kedokteran yang banyak diambil dari bahasa Yunani, menggabungkan dua suku kata menjadi satu dan memiliki satu arti. Misalnya istilah adenomalacia, yang berasal dari kata adeno+mala yang memiliki arti pelunakan abnormal pada kelenjar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara universal, kamus kedokteran tak jauh berbeda dari kamus-kamus lainnya. Tentu saja kamus ini memuat hal-ihwal yang terkait dengan dunia kedokteran dari zaman tradisional sampai istilah kedokteran zaman modern. Seperti halnya kamus lainnya, lema kamus kedokteran disusun berdasarkan abjad, berurutan dari A sampai Z. Hanya saja yang membedakan kamus ini dengan kamus lainnya, seperti kamus Bahasa Indonesia, di kamus ini terdapat gambar untuk menunjukkan istilah yang termaktub dalam kamus. Tak semua bagian diberi gambar. Hanya beberapa lema yang memang menjadi kunci dan menarik banyak lema lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kamus kedokteran ini suatu istilah dijabarkan sampai pada bagian terkecil istilah tersebut. Misalnya saja lema area. Dalam kamus area diartikan suatu ruang tertentu; istilah umum yang digunakan dalam tata nama anatomi untuk menunjukkan permukaan atau daerah fungsional yang spesifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di bawah kata area dijelaskan lebih rinci hal-hal yang memiliki keterkaitan dengan area, lengkap mulai dari A-Z. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus kedokteran tampaknya wajib dipakai oleh mereka yang berkutat pada dunia kedehatan. Meski pada buku-buku kedokteran atau kesehatan sudah dijelaskan secara runtut pengertian dari suatu istilah, kamus kedokteran selalu dibutuhkan. Bukan saja oleh mereka yang berkecimpung di dunia kedokteran, mereka yang tertarik ingin mengetahui dunia kedokteran pun bisa menggunakan kamus ini sebagai referensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya kamus ini mempermudah bagi mereka merasa kesulitan ketika belajar tentang teori kedokteran atau menemukan kata sukar dan istilah yang asing. Kitab yang tebalnya bukan kepalang ini akan membantu dalam pembelajaran dunia kesehatan secara umum. Di sini, alamat bahasa semesta kedokteran dihampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Kamus Kedokteran&lt;br /&gt;Penulis : Dorland&lt;br /&gt;Penerbit: EGC Penerbit Buku Kedokteran&lt;br /&gt;Cetakan: ke-29, 2000&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-6415882711271723971?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/6415882711271723971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=6415882711271723971' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/6415882711271723971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/6415882711271723971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/dokter-juga-punya-kamus.html' title='Dokter Juga Punya Kamus'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2348064585069981440</id><published>2007-08-04T18:54:00.000-07:00</published><updated>2007-08-04T19:06:11.253-07:00</updated><title type='text'>“Dokter tak Mau Lagi Membaca, Tak Mau Lagi Bertanya Pada Buku”</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita, Muhidin M Dahlan, Rhoma Arya Dwi Yuliantri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika Dewi Ana adalah doktor lulusan Universitas Kyushu, Jepang, dengan bidang keilmuan Teknologi dan Rekayasa Susbstitusi Tulang yang secara khusus konsentrasi pada Nanobioceramics. Pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Most Outstanding Research Presentation” dalam Pertemuan Ahli Biokeramik se-Asia di Jepang (2003) dan penghargaan sebagai “Peneliti Inovatif Terbaik Universitas Gadjah Mada” (2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengajar di Fakultas Kedokteran Gigi, UGM, Ika Dewi Ana juga melakukan penelitian tentang sel dan tulang setelah proposalnya disetujui dalam Scientific Program Indonesia-Netherlands yang diselenggarakan The Royal Netherlands Academie of Arts and Science. Dalam program saban tahun ini, ada 6 proposal yang dipilih untuk Award Spin dari semua bidang ilmu untuk melakukan riset selama dua tahun. Judul yang diajukan Ika Dewi Ana dan diterima adalah “Development of Injectable Carbonate Apatite based on Phasetransformation of Gypsum and Calcium Hydroxide”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau seorang dokter, Ika Dewi Ana adalah seorang penulis dengan minat pusparagam. Semasa mahasiswa ia pernah ikut bergiat di Majalah Mahasiswa UGM &lt;i&gt;Balairung&lt;/i&gt; dan selama menyelesaikan program doktornya di Universitas Kyushu, Jepang, ia merintis penerbitan &lt;i&gt;InFos&lt;/i&gt;,majalah mahasiswa asing di Fukuoka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2002 Ika diminta secara khusus menjadi kontributor situs berita detik.com sebagai peliput sepakbola Piala Dunia 2002. Disela-sela kesibukannya sebagai dokter, Ika Dewi masih bisa menulis cerita-cerita pendek dan beberapa kisar perjalanan studinya. Buku catatan pengalaman belajarnya yang sudah terbit adalah: &lt;i&gt;Tuntutlah Ilmu sampai ke Nippon&lt;/i&gt; (2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I : Pentingkah seorang dokter menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya kira tidak hanya seorang dokter tetapi setiap orang yang berkecimpung      dalam suatu profesi dia penting untuk mengkomunikasikan apa yang dihadapinya sehari-hari. Apalagi kalau itu menyangkut hal yang kira-kira jadi pertanyaan bagi orang banyak yang bermanfaat bagi orang banyak, saya kira perlu dan saya pikir di negara kita sepertinya kita lebih banyak pada budaya dengar daripada menulis yang mestinya harus dikembangkan.Dengan menulis itu kan kita dilatih untuk cermat, hari-hati, daripada budaya bicara atau budaya dengar. Itu kalau menurut saya pribadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kalau di laboratorium apa saja yang dilakukan seorang dokter?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Itu beda-beda. Kalau saya sendiri sepulang dari Jepang, saya mengembangkan 4 macam bahan yang saya buat di lab, yang intinya digunakan untuk sementasi tengkorak seperti lem, untuk keretakan tulang, tengkorak, jaringan keras. Seperti gitulah. Di Indonesia saya coba kembangkan bahan pengganti tulang itu sendiri. Nah yang saya lakukan pertama jelas uji bahan itu sendiri bagaimana sih bahan tersebut bisa menjadi bahan pengganti tulang kemudian kalau sudah berhasil, saya harus menguji sel-sel itu dan mencari yang cocok. Waktu itu saya membeli sel dari Amerika, tapi ternyata hidupnya nggak bagus. Lalu saya mencoba mengambilnya dari tikus. Pertama-tama tikus itu saya bius pelan-pelan dengan cara yang sangat halus dia tidak boleh merasakan sakit. Setelah kita bius dibuka bagian kaki, kita potong, ambil tulangnya, kemudian kita cocok-cocokan. Lalu dari situ keluarlah yang namanya sel-sel pembentuk tulang. Dari sel itulah kita kembangkan. Setelah berkembang sedemikian rupa, sel itu kita pakai untuk mencoba bahan yang sudah dibuat apakah sel tersebut cocok tidak, apakah sel-sel tersebut bisa berkembang tidak, apakah bisa mengalami mineralisasi membentuk sel-sel tulang, membentuk sesuatu yang persis dengan tulang. Kira-kira kerja di lab semacam itu. Tentunya bidang satu dengan dengan bidang lainnya berbeda seperti uji kanker, cloning, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Dengan cara apa dokter mempublikasikan hasil penelitiannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Yang namanya penelitian tentu saja untuk dikomunikasikan. Bentuk publikasinya macam-macam.Pertama lewat tahap ceramah, tapi nantinya harus dengan publikasi ilmiah, levelnya harus meningkat terus dari hari ke hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I:  Setelah meneliti apakah setiap dokter memiliki catatan kerja. Maksud saya dengan cara apa seorang dokter mencatat hasil-hasil penelitiannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya kira ada. Catatan riset itu bernama log book. Ini catatan rinci dari hari ke hari bahkan jamnya harus jelas. Kita tuliskan, misalnya tanggal 15 November 2006, saya melakukan apa mencampurkan zat apa dengan apa,  berakhir pukul berapa. Semuanya ini harus kita catat, cara kerjanya bagaimana, apa yang terjadi dan ini ggak boleh disobek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Siapa yang melarang menyobek?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Biasanya pemberi dana akan mensyaratkan &lt;i&gt;log book&lt;/i&gt;. Kalau ada kesalahan, kita hanya boleh mencoret saja kita gak boleh menyobeknya. Ini semua akan digunakan untuk proses pematenan penemuan. Para penguji akan tahu dari sini apa saya mengerjakan semua itu dengan prosedur yang betul. Untuk orang lain ini untuk pertanggungjawaban. Kesalahan apa yang pernah terjadi harus tercatat secara rinci. Ini untuk saya pribadi karena saya harus menulis publikasi berdasarkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Semua peneliti harus punya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Seharusnya punya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Seberapa banyak peneliti khususnya di lingkungan kedokteran yang mempublikasikan hasil penelitian dengan cara yang mudah dipahami?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya rasa sekarang ini kebanyakn peneliti masih berbicara di lingkungan sendiri, belum ada yang menuliskannya secara popular dipahami orang lain. Sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kira-kira siapa saja itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Misalnya Pak Bambang Hidayat. Beliau itu astronom. Dia menjelaskan tentang fenomena alam secara popular. Kalau dulu ada Otto Sumarwoto. Di dunia kedokteran ada Teuku Jacob. Saya paling senang tulisan Pak Jacob. Dia menjelaskan dunia kedokteran dengan gaya populer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Bisa Bu Ika sebut sebuah pengalaman bagaimana Anda pertama kali dilatih oleh seseorang menulis?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Sejak SMP saya memang sudah menulis. Kalau sewaktu mahasiswa saya ingat betul pada seorang fisikawan di UGM. Dia Pak Seno. Itu guru saya. Kalau saya ke lab-nya biasanya untuk pinjam bukunya. Maklum, saya adalah ‘murid’ kesayangannya. Nah, kalau mau pinjam buku saya disuruh nyapu dulu. Setelah nyapu barulah bisa pinjam bukunya. Tak lupa Pak Seno berpesan: Kamu harus menulis. Tunjukan tulisanmu kalau kamu ke sini lagi. Dari situ akhirnya saya mencoba menulis di Harian Bernas. Meski dulunya sudah pernah menulis, tapi sekarang mulai agak terarah. Itu dari Pak Seno. Dia itu bisa menjelaskan fenomena fisika dengan wayang. Jadi mislanya ketika Bima mencari air purwitasari yang dijelaskannya dengan melihat keterkaitan musim, cuaca, dan ketersediaan debit air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kembali lagi ke titik semula. Mengapa jumlah dokter menulis sangat sedikit. Letak soalnya ada di mana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya susah juga menganalisisnya. Seperti yang saya kemukakan tadi budaya kita masih budaya dengar, bukan budaya menulis. Di kalangan mahasiswa saja untuk menulis sepertinya berat sekali. Saya pernah mencoba di satu kelas yang saya ampuh. Oh ya, di kedokteran gigi itu saya mengajar mata kuliah Pengecoran Logam. Di situ saya suruh mereka untuk menganalisis apa penyebab kegagalan, mengapa begini dan mengapa begitu. Tulisannya saya bebaskan bentuknya. Dan hasilnya bagus lho. Jadi menurut saya memang ini soal lingkungan yang tak merangsang orang untuk menulis dan menuangkan apa yang dilihatnya secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Terkait dengan kultur dan lingkungan pendidikan, barangkali baik juga kalau kita melongok sebentar ke seberang. Bisa diterangkan secara ringkas, bagaimana tradisi pendidikan di Jepang setelah sebelumnya lima tahun Bu Ika belajar di sana?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Ya, kultur menulis dan meneliti itu memang soal pendidikan. Dan itu sudah dimulai sejak di bangku SD. Di Jepang, anak-anak SD ketika libur musim panas diberi bibit bunga yang sama kemudian ditanam dalam sebuah pot. Masing-masing anak disuruh membawa tanaman itu ke rumah untuk menyiram dan merawatnya. Mereka tidak hanya mengukur tinggi tanaman, tapi juga mencatat apa saja yang terjadi. O, pada hari ini, tanggal sekian, hari libur ke berapa, dilihat o yang tumbuh bunganya warnanya ungu; yang lain menulis: o… bunganya putih. Padahal benih yang diberi benih yang sama. Dari situ mereka bisa belajar mengamati dan sekaligus menuliskan apa yang mereka lihat di atas kertas. Saya masih punya contohnya yang punya anak pertama saya, Neta. Tapi huruf kanji semua lho tulisannya. Nah, sewaktu tiba hari sekolah mereka diminta untuk bercerita. Jadi, tradisi itu memang harus dipupuk sedari SD. Kalau di sekolah dasar di sini kan sangat jauh berbeda. Di sini banyak hapalnya. Pengalaman anak saya Neta misalnya setelah pindah di sini. Pada pelajaran PPKN ada pertanyaan di ulangan umum: Apa yang kamu lakukan kalau kawanmu jadi juara kelas. Dijawab oleh anak saya: Belajar lebih giat. Eh, disalahkan oleh gurunya. Yang benar jawabannya, kata gurunya, memberi ucapan selamat. Di Jepang itu, kalau melihat orang yang lebih maju kita dituntut untuk belajar lebih giat. Ada lagi pertanyaan yang lain: Kapan kamu memakai baju bagus. Nah,pengertian anak saya baju yang bagus itu adalah bersih, rapi, sopan. Dijawablah oleh anak saya: Saya akan memakai baju bagus setiap saat. Jawaban itu disalahkan oleh gurunya. Kata gurunya, baju bagus dikenakan saat ke pesta. Itu sesuatu yang mematikan kreatiitas, olah rasa. Semuanya serba mekanistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I:  Kalau di Eropa sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Hampir sama dengan di Jepang, mereka di ajari untuk mengamati berbagai hal yang kecil-kecil. Mengamati dan menulis kondisi kawannya dan peristiwa yang ada di sekitarnya. Saya melihat mahasiswa di Eropa, bukan hanya menulis, tapi juga melukis. Seni itu penting sekali di sana. Jadi otak kiri dan kanan itu sama-sama dikembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kembali ke soal &lt;i&gt;log book&lt;/i&gt; tadi. Dari melihat buku yang disusun dengan jaringan yang sangat detail itu, bisa disimpulkan bahwa kerja seorang dokter adalah juga seperti kerja seorang novelis yang membeber detail-detail dalam semesta penceritaan. Kalau di tangan seorang dokter, apa tak bisa log book yang berbahasa ilmiah murni itu dikembangkan dalam bentuk tulisan esai misalnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Kalau saya sebenarnya yang biasa saya lakukan selalu ada dua. Pertama publikasi untuk lingkungan saya sendiri, yang sudah ada patokannya mulai dari pengantar, metode, hasil. Tapi saya juga mencoba untuk mempublikasikannya secara populer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Di lingkungan kerja Bu Ika seberapa besar jumlah dokter yang juga peneliti?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kalau dokter yang peneliti plus yang penulis?&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;IDA: Wah kalau itu saya nggak tahu jumlah pastinya, tapi sepertinya sedikit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Itu apa penyebabnya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Wah saya nggak tahu juga. Barangkali itu tadi karena kita terbiasa segala sesuatunya serba mekanistis dan tidak berani untuk melawan arus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Sebenarnya apa yang dibaca oleh dokter?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Wah banyak sekali, dari buku ilmiah sampai buku porno. Tapi ada juga dokter yang tidak mau lagi membaca lho. Ini ada kisah nyata yang bagus ayng dilakukan tahun-tahun sebelum saya ke Jepang. Penelitian itu adalah kerjasama Indonesia dan Australia. Dari Indonesia diwakili oleh Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit (CEBU) yang dipusatkan di RS Sardjito Jogjakarta, sementara Australia diwakili oleh Australian National University (ANU). Penelitian tersebut ditujukan kepada dokter dan perawat. Salah satu pertanyaannya adalah tentang pemakaian jarum suntik. Dan jawaban yang diperoleh berbeda-beda. Ada yang bilang dibuka plastiknya, tutupnya yang kencang dibuka, obatnya diambil, lalu ditutup lagi, disuntikkan, ditutup lagi, lalu setelah itu dibuang. Macam-macam jawabannya. Setelah itu dikelompokkan untuk &lt;i&gt;focus group discussion&lt;/i&gt;. Di situ dipanggil setiap perwakilan kelompok dan ditanya dari mana tahunya jawaban itu. Mengapa bisa berbeda satu dengan lainnya. Lalu ada yang bilang dari seniornya, ada yang menyebut dari dosennya, bahkan ada yang mengatakan karena dia biasa melihat orang melakukan seperti itu. Tak ada seorang pun dari dokter itu yang merujuk pada buku referensi. Fasilitator lalu bertanya kepada semuanya pernahkah membaca buku &lt;i&gt;WHO Precaution&lt;/i&gt;. Mereka semua hanya melongo dan tak satu pun tahu buku itu; apalagi isinya. Lalu peneliti itu menerangkan bahwa di dalam buku itu ada petunjuk cara pemakaian jarum suntik yang benar. Caranya, setelah dipakai jarum itu tak boleh ditutup lagi tapi dibuang pada tempat yang berbeda-beda. Soalnya, kalau ditutup lagi dan Anda berada di ruang gawat darurat, sedangkan yang datang itu barangkali mengidap penyakit berbahaya, kan jarum suntik itu bisa terpakai lagi gara-gara Anda buru-buru. Jadi, semua petunjuk itu ada pada buku. Jadi, dokter tak mau lagi membaca, tak mau lagi bertanya pada buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Bu Ika, ini pertanyaan kecil tentang sesuatu yang sepele. Kenapa tulisan dokter jelek?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Tulisan saya bagus lho! Hehehehe. Malahan karena tulisan saya ada teman yang ngeledek bahwa Bu Ika ini tak cocok jadi dokter, tapi seorang arsitek, gara-gara tulisan tangan saya. Kalau tulisan dokter itu jelek, saya nggak tahu pasti ya. Namun sebenernya nggak ada aturan untuk menjelek-jelekan tulisan. Saya kira itu mitos. Kuncinya yang pasti adalah bahwa seorang pasien harus tahu betul apa yang diberikan kepada dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Jika Bu Ika menulis tentang kedokteran, jenis tulisan apa yang akan dipilih?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya akan menulis feature. Tentu saja itu berdasarkan referensi, catatan harian, atau apalah. Mungkin jurnalisme ketaksadaran. Jurnalisme jenis ketika menulis seperti orang mabuk. Tapi orang mabuk yang bisa dipahami orang. Sesuatu yang sedang kita tulis tapi melahirkan sesuatu yang lainnya. Kejadian itu berlangsung tanpa kita sendiri menyadarinya. Itulah jurnalisme ketaksadaran yang saya pahami. Misalnya, ketika saya menjelaskan tentang tulang, tentang sel, tentang dunia kedokteran, sebetulnya saya sedang menjelaskan tentang eksistensi manusia. Hal-hal seperti itulah yang masuk dalam jurnalisme ketaksadaran. Menangkap koneksi-koneksi tersembunyi yang terjadi di alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Lima buku yang paling disukai Bu Ika?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: &lt;i&gt;Pergolakan Pemikiran Islam&lt;/i&gt;-nya Ahmad Wahib. Buku itu saya sudah baca pada saat saya duduk di SMP V Jogja. Nah, dari buku itu saya bisa tahu tentang keseharian kita ternyata bisa juga berguna bagi orang lain. Kemudian &lt;i&gt;Emak&lt;/i&gt; karyanya Daoed Jusuf. Dia bisa menceritakan pemikiran emaknya yang sederhana melalui cara yang sangat filosofis. Ada juga triloginya James Redfield: &lt;i&gt;The Celestine Prophecy, The Tenth Insight&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;The Secret of Shambala&lt;/i&gt;. Dia itu seorang psikiater dan menuliskan petualangan tokohnya dengan sangat menarik dan menjelaskan secara baik pula apa yang disebut pemikiran &lt;i&gt;significant coinsidence&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Penulis yang paling disukai?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Teuku Jacob, dia sangat bagus menjelaskan fenomena sosial, fenomena alam, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Kalau buku ilmu pengetahuan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Saya kira buku &lt;i&gt;The Turning Point&lt;/i&gt;-nya Fritjof Capra. Ada lagi Mandelbrot, penulis buku &lt;i&gt;Fractal Geometry&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I: Oke Bu Ika San. Terimakasih banyak atas percakapannya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IDA: Sama-sama. Silakan… silakan dicicipi kuenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2348064585069981440?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2348064585069981440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2348064585069981440' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2348064585069981440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2348064585069981440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/08/dokter-tak-mau-lagi-membaca-tak-mau.html' title='“Dokter tak Mau Lagi Membaca, Tak Mau Lagi Bertanya Pada Buku”'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-422598177422276406</id><published>2007-07-21T04:12:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T04:18:47.982-07:00</updated><title type='text'>Omi Rebah di Keharibaan Sunyi</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqHrbaQBj7I/AAAAAAAAAHY/G7nIYrZULPk/s1600-h/omi+intan+naomi_poster.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqHrbaQBj7I/AAAAAAAAAHY/G7nIYrZULPk/s320/omi+intan+naomi_poster.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089607910040899506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Song of Silence. Judul artikel yang ditulisnya sekira 2004 itu menjadi kunci dari keseluruhan putaran hidup Omi Intan Naomi. Ia tutup buku tutup katalog di Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta pada 5 November 2006 pukul 19.40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yang lahir pada 26 Oktober 1970 di Denpasar ini memang pernah menghentak publik dan deretan penulis kebudayaan Indonesia. Tulisan-tulisannya tajam. Ia munculkan kosakata kebudayaan yang diasupnya dari bacaan luas. Tatkala menerjemahkan, penulis buku asli seakan lenyap; karena kita membaca buku terjemahan itu seperti membaca buku dan karakter tulis/pikir keseluruhan Omi sendiri. Dan Omi, suka sekali mengurung dan membubuh tanda petik pada banyak kata bersayap. Ciri itu menandai bahwa Omi adalah salah satu anak kandung  (wacana) kebudayaan pascamodernisme. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi adalah penulis budaya yang tangguh dan bertalenta. Mungkin titisan ayahnya yang juga seorang budayawan dan penyair terkemuka, Darmanto Jatman. Tapi sekiranya ini kita tanyakan kepadanya, Omi pasti berontak. Karena menulis bukan soal genitas melainkan usaha berdarah-darah, walau tak bisa dimungkiri faktor lingkungan turut membesarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pilih jurusan komunikasi di Universitas Gadjah Mada. Ia memang kemudian tak menjadi wartawan profesional atau pegawai telekomunikasi yang memungkinkan bisa hidup gentayangan di negeri-negeri orang. Ia menjadi penulis kebudayaan dalam arti yang luas. Dirambahnya apa saja yang memungkinkan ia bebas mengepakkan sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mamah ilmu komunikasi politik, disusurnya ilmu sejarah, ditakziminya budaya Jepang, budaya samurai, animasi, dan komik manga, dan ditekuninya studi semiotika budaya. Lalu dengan kefasihannya berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, ia menjadi penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pun bukan profesi Omi sesungguhnya. Sebab yang ia cari adalah bagaimana melingkupi dunia dan sekaligus mengabarkan kepada dunia apa yang terjadi dalam kebudayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Omi tak memilih jalan ramai. Jalan selebritas. Jalan berkoar-koar menepuk dada siapa aku, siapa saya. Sebab sedari kecil hingga remaja sampai mahasiswa tingkat pertama ia sudah lewati jalan keramaian, jalan kegairahan meluap-luap di dunia gemerlap, di cafe-cafe Jogja yang jumlahnya masih itungan sebelah jari tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi sejatinya punya potensi menjadi penulis seleb. Wajah cantik. Daya intelek dan keterampilan menulis di atas rata-rata. Menulis fiksi, baik puisi dan prosa, juga tangguh, walau tak intensif. Esai oke. Ditambah lagi kemampuan berbahasa Inggris nyaris sempurna, baik lisan maupun tulisan, yang merupakan hasil rintisan dirinya sendiri dan sumbangsih dari ibu terkasihnya di Manahan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Omi mau, tentu ia bisa menikmati seluruh glamour dan fantasi-fantasi yang digerakkan industri media. Dan glamour itu akan berbinar-binar jika ditambah dia sadar dan sudi tinggal di ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Omi tidak memilih jalan itu. Ia tetap tinggal di sebuah pojok dusun di gang lengang Sidorejo Jogjakarta; yang mungkin tak terjamah peta. Di kamarnya yang tak terlalu besar ia berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun menempa suluk dan jalani hayat tirakat. Hanya sesekali ia keluar untuk beli sayur atau jalan-jalan sejenak melepas penat ke mall. Tapi setelah itu si wiku muda ini kembali tenggelam dalam arus sepi kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tulisannya yang hadir, tapi raganya menghilang. Ia bukan pembicara seminar, walau ia mula-mula sering. Ia bukanlah aktivis yang selalu memaksakan diri memantap diri di ruang publik. Ia berkelana di bilik pedalamannya sendiri. Hanya orang dekatnya yang jumlahnya sangat terbatas yang tahu apa yang sedang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buku-buku terjemahannya tiada hadir, pasti ia sudah dilupa. Jika esai-esai dan puisi-puisinya tiada hadir, pasti orang sudah tak mau tahu tentang dia. Namanya terkutip di buku Sastrawan Angkatan 2000 yang disusun Korrie Layun Rampan. Tapi cuma itu. Omi tak jua muncul di permukaan dan menjadi pemberi komentar lisan dan bercuap-cuap atas perkembangan dunia susastra dan budaya di pementasan-pemenatasan atau koran-koran nasional. Mereka yang akrab dengan katalog-katalog pameran seni sesekali akan menemukan sepenggal nama Omi di sana sebagai penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris semua hidup Omi sedasawarsa terakhir tinggal sendiri memeluk sunyi satu-satu. Entah pengalaman apa yang menyentuh dan membantingnya hingga ia memilih jalan sunyi nyenyat ini sebagai pilihan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya yang perlahan merambat melewati 30, ia tak memilih berkeluarga yang langgeng. Pada 1999 ia sempat memutuskan nikah dengan seorang berkebangsaan Jerman. Namun betah hanya 2 tahun. Lalu ia kembali menikmati dunia sunyinya dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sunyi itu pun datang pada dini hari yang menyumpal napasnya hingga koma hingga titik habis di umur 36 tahun. “Ibu, aku duluan meninggal,” katanya pada ibunya, Noel Susenowati, setengah bercanda seperti dituturkan kembali Bunga Jeruk, adiknya, kepada Ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pun kaget. Tak ada yang menyangka bahwa Omi akan pergi secepat itu. Orang kaget bukan hanya kepergiannya, tapi begitu lama mereka tak mendengar kabar Omi, namun kabar yang datang tiba-tiba itu—dan satunya-satunya—adalah kabar bahwa ia sudah berangkat sendiri untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena kematian itu, orang tak akan tahu bahwa dalam sunyinya Omi mencari jalan keluar dan berkelana sendiri menerobos belantara dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena kematian itu, saya, yang sejak mahasiswa selalu berusaha mencari dan menemuinya, tapi tak pernah bertemu akibat kekaguman atas pengantar-pengantar buku terjemahannya, tak akan tahu bahwa sejak 1996 Omi sudah bertugu di dunia maya, di dunia alus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bayangkan saat itu gairah berinternet dan ber-blog ria atau ber-friendster ria muncrat ke mana-mana seperti sekarang ini. Di tahun itu internet sungguh mewah, serupa privelese orang punya ponsel. Hanya segelintir aktivis yang mengakrabi dunia internet. Semuanya pingin beradu otak dalam diskusi, semuanya ingin berlaga di jalan demonstrasi. Dan Omi berada di kamarnya mengisi setiap saat situs-situs peliharaannya, seperti "nobukaze" "rainforestwind". Untuk kebudayaan Jawa ada "omimachi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia alus itu Omi punya nama: Nina Wilhelmina atau dipanggil NIN. Di dunia alus itu ia mencari dan membincangkan banyak hal dengan teman-temannya di seluruh dunia dengan bermodal pada saling percaya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, dengan kematian itu pula, saya kemudian tahu bahwa Omi berdoa tiap malam hingga pagi di situs-situs itu. Setiap hari. Di sini rupanya Omi mengabarkan budaya Jawa dan huruf-hurufnya dan tari-tarinya dan dandanannya, mengabarkan Indonesia beserta makanan-makanan tradisionalnya yang dilapis daun pisang. Juga tentu saja sastra-sastra dan politik budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala remeh-temeh tentang Indonesia dia tulis. Mungkin ini usaha diam-diam yang dilakukan Omi bagaimana “menjual” penemuan-penemuan budaya Indonesia itu ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi memang bukan duta wisata maupun budaya yang ditunjuk Departemen Pariwisata DIY. Dia melakukan itu dengan kesadaran individu yang liat. Bahwa bukan cuma tugas negara yang berusaha memperkenalkan Indonesia, tapi seluruh warga. Dan ia melakukannya sendiri dalam sunyi yang tak diganggu hiruk-pikuk aktivis sastra dan budaya yang tiap hari menyebarkan gosip dan berantem satu sama lainnya di koran maupun di forum-forum pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi adalah perempuan yang menghikmati benar apa arti hening apa arti sirep. Lebih-lebih lagi bagaimana memperlakukan hening itu untuk terus berkarya walau ia sepenuh sadar bahwa usianya hanya sebentar. Radang selaput otak atau miningitis mengirim Omi berangkat selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-422598177422276406?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/422598177422276406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=422598177422276406' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/422598177422276406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/422598177422276406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/omi-rebah-di-keharibaan-sunyi.html' title='Omi Rebah di Keharibaan Sunyi'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqHrbaQBj7I/AAAAAAAAAHY/G7nIYrZULPk/s72-c/omi+intan+naomi_poster.gif' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-1246952631780244083</id><published>2007-07-21T04:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-23T23:37:46.803-07:00</updated><title type='text'>Ensiklopedi Maya Omi tentang Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs piaraan Omi Intan Naomi itu bernama &lt;a href="http://www.geocities.com/rainforestwind/indonesia.htm"&gt;rainforestwind/indonesia&lt;/a&gt;. Sekilas, jika melihat seluruh tulisannya yang berbahasa Inggris, situs ini tampak seperti brosur untuk turis. Terlebih jika melihat pernik-pernik pada frontpage-nya yang “eksotik” dan “oriental”. Namun, sebelum berenang-renang lebih dalam, pengunjung situs ini akan diperingatkan oleh tulisan di sudut kanan atas: THIS PAGE IS NOT MADE BY A TOURIST, EXPATRIATE, TOUR GUIDE, OR AIRLINE STEWARD. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeFaQBkFI/AAAAAAAAAIo/6xv-10Xl2qg/s1600-h/omi+naomi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeFaQBkFI/AAAAAAAAAIo/6xv-10Xl2qg/s400/omi+naomi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090648769595281490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa yang menguar dari situs ini memang bukan turistik, apalagi curhat a la blog biasa. Yang tercium justru kucuran peluh, dan mungkin airmata dan kemarahan yang tertahan—Omi memang menulis dengan sense of humor yang akut, tetapi kerap terasa runcing, bahkan sinis. Situs ini bisa dimaknai sebagai upaya Omi untuk mempromosikan Indonesia kepada khalayak internasional—masuk akal jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang mengenal Omi sebagai seorang penerjemah buku-buku babon feminisme (Gegar Gender) dan etika pers (Anjing Penjaga) atau sebagai penyair dan kolomnis Kakikata di harian Suara Merdeka, juga akan mendapati bahwa Omi adalah seorang pecinta kucing (ia memberi nama kucingnya Totti-merujuk kepada Francisco Totti), kritikus dan pemerhati seni rupa, tari, musik, sosial, dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situs ini, Omi merangkum lokus-lokus kebudayaan dan lanskap-lanskap penting Indonesia, yang didominasi tradisionalisme Jawa dan Yogya (mungkin karena ia begitu mencintai Yogya), dan memajangnya kepada publik maya dengan gaya menulisnya yang berani dan pretensius. Yang tercakup antara lain asal mula dan variasi nama Yogyakarta, Kraton, alfabet dan lingustika (bukan hanya gramatika) bahasa Jawa, pakaian pengantin, Malioboro, dangdut, Tuhan dan pembantaian, sejarah Jawa dan Indonesia, Komunitas Tionghoa, etnisitas Indonesia, sejarah seni, film, dan kesusasteraan Indonesia, etcetera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Jawa ia bahas habis-habisan, terutama Yogya. Ia menulis: Other Indonesian provinces might have oil, timber, goldmines, etc. to tap; Yogya has never been that lucky. Its residents are mostly college students, poets, novelists, painters, sculptors, event organisers, and the like—although as a matter of course there also exist laundrypersons and plumbers. Its economy is mainly sustained by tourism and cultural activities, such as running colleges, holding poetry-readings, selling paintings and sculptures, organising events, and the like—in which laundry and plumbing contribute much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Borobudur, lanskap Jawa yang paling paling tenar di kalangan publik luar negeri, Omi menjadi satiris. Di bawah foto khas candi raksasa itu, ia menulis: The largest Buddhist monument on this planet is in Central Java: the Borobudur temple. Made of carved stone blocks, it remains an awesome architectural job after two thousand years, although it doesn't really impress the locals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa although it doesn’t really impress the locals menyiratkan kritik Omi bagi, baik warga awam maupun pemerintah, tentang atensi kepada relik identitas diri dan budaya yang sungguh-sungguh tidak memadai.&lt;br /&gt;Tentang kehidupan kesenian, ia mengurutkan tiga lokus kebudayaan penting di Indonesia menurut “ketenaran” masing-masing di kancah internasional, yaitu Bali, Yogyakarta, dan Bandung, lengkap dengan daftar galeri seni, seniman, dan kolektor. Tentang Jakarta, ia menulis dengan sinis: setelah ketiga kota itu, ada Jakarta. Kota ini tidak begitu penting dari segi kesenian, tetapi di sanalah uang bergentayangan (diterjemahkan dengan bebas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada seksi Personal Writing on Java and Indonesia, Omi berjuang membenahi salah paham tentang Indonesia. Salah satunya adalah artikel yang merupakan balasan dalam korespondensinya dengan Gordon Stanton pada 1999. Di sini, Omi dengan garang menjawab tuduhan stereotipik Stanton, tuduhan yang juga mendekam di kepala individu-individu Barat terhadap Indonesia, bahwa orang Indonesia adalah orang-orang yang hipokrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap hipokrit, tulis Omi, adalah sikap yang dipelajari dan dimunculkan oleh proses sosialisasi dan dibentuk oleh keadaan. Menurut teori ini, tidak ada yang terlahir sebagai seorang hipokrit. Kesan itu kerap dinisbatkan kepada orang Jawa karena tuntutan keadaan. Kesan itu bersumber pada pandangan dunia Jawa, yaitu keharusan untuk menjaga ketenteraman dan perdamaian dengan semua orang dan semua hal.&lt;br /&gt;Menyembunyikan emosi-emosi tertentu dari pandangan mata publik dan mengumbarnya hanya pada ranah privat sangat dibutuhkan agar tidak terjadi goncangan dalam tertib sosial dan kosmos. Orang Jawa dapat berkata “ya” ketika ia sebenarnya bermaksud mengatakan “tidak” agar ketenangan dan ketenteraman orang lain tetap terjaga. Mengungkapkan langsung inti pembicaraan juga dianggap sebagai tindakan yang barbar. Seseorang bisa saja bertamu ke rumah tetangganya, menanyakan kesehatan, rematik mertua, prestasi anak di sekolah, dan usia kehamilan istri tetangga tersebut, sebelum mengungkapkan maksud sebenarnya—untuk meminjam uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyombongkan diri adalah dosa besar bagi orang Jawa. Tidak pantas bagi seseorang untuk berkata “Saya penulis yang baik”, sehingga hal itu harus dihindari. Hal ini juga terbawa-bawa dalam surat lamaran kerja, yang jika menuruti kebiasaan melamar kerja di Barat akan menyantumkan promosi diri. Ini menimbulkan ketegangan budaya tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai istri sendiri adalah urusan privat, sehingga suami tidak boleh memamerkan cintanya di hadapan orang lain. Karena itu, di Jawa tidak banyak suami istri yang berciuman di depan publik.&lt;br /&gt;Omi menuliskan semua yang terbersit dalam pikirannya, merangkum apa saja yang ada, dan menegasi semua yang berpretensi merendahkan Indonesia. Situs ini seolah-olah sebagian dari diri Omi sendiri, yang tetap merayakan Indonesia dan terus berjuang meski telah tiada. Jika melihat isinya yang meruah-ruah, ia bisa dianggap sebagai semacam ensiklopedia kecil tentang Indonesia, atau strategi silent struggle untuk menegakkan kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* AN Ismanto, kontributor Indonesia Buku di Bantul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-1246952631780244083?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/1246952631780244083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=1246952631780244083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1246952631780244083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/1246952631780244083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/ensiklopedi-maya-omi-tentang-indonesia.html' title='Ensiklopedi Maya Omi tentang Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeFaQBkFI/AAAAAAAAAIo/6xv-10Xl2qg/s72-c/omi+naomi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-7658735106138800738</id><published>2007-07-21T04:09:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T04:11:13.562-07:00</updated><title type='text'>Ngintip Omi dari Lubang Kecil Puisinya</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Binhad Nurrohmat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           berapa umur bumi ketika Kutulis&lt;br /&gt;           cintaKu padamu?&lt;br /&gt;           Omi Intan Naomi (1970-2006) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali penyair Omi Intan Naomi, cinta dan kesedihan menjadi urusan semua orang dan jelmaan “bentuk rasa” fundamental dan universal bagi umat manusia. Rasa cinta dan kesedihan merupakan naluri amat tua dan primitif dalam diri manusia. Dengan cinta dan kesedihan, setidaknya, manusia yang sebusuk dan seburuk apa pun bisa membedakan eksistensi kemakhlukannya yang “lebih tinggi” ketimbang seonggok robot manusia yang termolek dan tercanggih sekalipun, sebab robot tak bisa jatuh cinta kepada gadis tetangga atau merasa nelangsa. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenyairan di belahan dunia mana dan kapan pun, tak terkecuali Omi Intan Naomi, tak kuasa mengelak dari “bentuk rasa” fundamental dan universal maupun naluri amat tua dan primitif dalam diri manusia itu. Bahkan rasa cinta dan kesedihan menjadi urusan abadi kepenyairan yang tak habis-habisnya dilibati, direnungkan, dan ditafsirkan dalam pengertian personal, sosial, spiritual, maupun teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cinta dan kesedihan menjadi kata-kata kunci kodrati yang tak terceraikan dari kesadaran dan kepekaan kepenyairan dan kemanusiaan, tak terhegemoni aliran politik atau agama dan tak terbatasi warna kulit atau jenis kelamin. Dan, dalam agama dan kepercayaan, Tuhan diyakini sebagai lambang dan hakikat Cinta tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali Omi Intan Naomi, kepenyairan di negeri ini dari masa ke masa, dari generasi penyair sebelum dan setelah Kemerdekaan, tak pernah absen dari urusan cinta dan kesedihan. Cinta yang nasionalistik (Muhamad Yamin), cinta yang ketuhanan (Amir Hamzah), maupun cinta yang kemanusiaan (Chairil Anwar) menjadi urusan yang mengilhami lahirnya puisi-puisi cemerlang dalam khazanah perpuisian modern Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan puisi dan cinta dicap dengan semacam “mitos” tersendiri yang sulit dihapuskan: puisi dianggap sebagai ekspresi paling menyentuh untuk menyatakan perasaan cinta. Cinta adalah puitis, begitulah kira-kira.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan urusan kesedihan (spiritual, sosial, maupun personal) merupakan warna utama khazanah perpuisian modern Indonesia sejak masa Balai Pustaka, Pujangga Baru, hingga hari ini. Saya kira kepenyairan modern Indonesia merupakan gambaran dunia yang jauh dari rasa bahagia, cenderung murung dan muram. Bahkan ketika sedang bicara urusan cinta sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” agaknya menjadi “suara pendahulu” yang terus terngiang dalam telinga kepenyairan modern Indonesia hingga kini tentang cinta kepada seseorang yang lekat dengan keseduan mendalam dan mencekam. Misalnya puisi Nirwan Dewanto ini: Cinta adalah teror yang mengambang malam hari/Menggembungkan baju dan selimutmu waktu kau tidur./Telah kaudengar pasangan-pasangan bersumpah/Demi laut dan planet/Sampai bibir-bibir mereka terbakar./&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cinta dalam puisi Omi Intan Naomi tak diperuntukkan kepada yang bukan semata kepada seseorang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            SAJAK CINTA SOLO II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            aku mencintaimu tanpa pernah berpaling&lt;br /&gt;            dan membandingkan kamu dengan yang lain.&lt;br /&gt;            sebab udara yang kuhirupi itu ada di sini&lt;br /&gt;            air yang mengalir itu di sini&lt;br /&gt;            dan nyawaku tertanam di sini&lt;br /&gt;            entah kapan - tapi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            aku mencintaimu tanpa pernah berhenti&lt;br /&gt;            mencintai setiap sudut jalan&lt;br /&gt;            dan segala jenis kere kota ini.&lt;br /&gt;            mencintai segala jenis makhluk yang ada –&lt;br /&gt;            dari pelacur sampai walikota&lt;br /&gt;            dari pengusaha sampai sopir biskota&lt;br /&gt;            aku mencintai karena aku mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           1987    &lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Puisi itu menampakan cinta yang melampaui urusan personal, meluas, dan merengkuh tak sebatas untuk seseorang, bahkan “mencintai segala makhluk yang ada”. Cinta itu  ditujukan untuk “setiap sudut jalan dan segala kere kota ini” juga “pelacur sampai walikota” dan “pengusaha sampai sopir biskota”. Kota dan seisinya menjadi sesosok makhluk hidup yang “udara yang kuhirupi itu ada di sini/air yang mengalir itu di sini/dan nyawaku tertanam di sini/entah kapan - tapi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dalam puisi Omi Intan Naomi itu semacam wujud rasa terima kasih lantaran adanya kesadaran dan kepekaan cinta yang tak sempit dan menjadi sebentuk rasa cinta yang total: aku mencintaimu tanpa pernah berpaling/dan membandingkan kamu dengan yang lain. Cinta yang total itu serupa puisi Muhammad Yamin “Indonesia Tumpah Darahku” yang mengagungkan bangsa melalui alam dan manusianya itu: Semenjak diri lahir ke ke bumi/Sampai bercerai badan dan nyawa,/Karena kita sedarah-sebangsa/Bertanah air Indonesia.&lt;br /&gt;Rasa cinta yang total itu rawan mengundang kesedihan, sebab ikatan rasa yang tertanam begitu kuat dan dalam membuat—meminjam puisi Sutardji Calzoum Bacri—yang tertusuk padamu berdarah padaku. Omi Intan Naomi pun menuliskan pengakuan kesedihannya untuk kota yang dicintainya: tak pernah berubah cintaku padamu/walau kamu tak pernah lebih cantik dari lagu-lagu./aku di sini menyumpahi keruh sungai-sungaimu/mengumpat timbunan lalat di sampahmu/memaki sesak asap udaramu./tapi bila aku jauh,/astaga: di manapun/ ternyata aku kehilangan kamu. (“Sajak Cinta Solo I, 1987)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan karena adanya rasa cinta yang total bisa terasa sangat tragis dan meluapkan amarah yang “menyumpahi keruh sungai-sungaimu mengumpat timbunan lalat di sampahmu memaki sesak asap udaramu.” Bahkan kesedihan semacam itu sanggup berubah menjelma kesinisan yang mencengangkan dalam puisi Omi Intan Naomi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            DI TUGU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            sedang dijual: sebuah kota&lt;br /&gt;            saat mataku sedang dirampok&lt;br /&gt;            dari cakrawala yang biasa&lt;br /&gt;            makin benarlah yang dibenarkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            umbul-umbul sebuah obrolan::&lt;br /&gt;            dunia lagi cuci gudang. aku tak akrab!&lt;br /&gt;            pak dirman kepanasan dalam jas hujan&lt;br /&gt;            aku sedang kapan? waktu mogok di musium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            habisi! habisi!&lt;br /&gt;            belilah kota kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           yogya, 1991: senisono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan cinta dan kesedihan yang “diintip” dari sebagian kecil puisi Omi Intan Naomi itu menampakkan kecenderungan yang ekstrim karena ironi-ironi yang tak terenyahkan dan mengeram di dalamnya serta memantik kesadaran dan kepekaan kepenyairannya lantaran “aku mencintaimu karena aku mengerti”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Binhad Nurrohmat, penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-7658735106138800738?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/7658735106138800738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=7658735106138800738' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/7658735106138800738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/7658735106138800738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/ngintip-omi-dari-lubang-kecil-puisinya.html' title='Ngintip Omi dari Lubang Kecil Puisinya'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8798899750209615119</id><published>2007-07-21T04:06:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T05:47:50.393-07:00</updated><title type='text'>Omi, Ben, dan Riwayat Imagined Communites</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dipastikan buku Benedict R O’Gorman Anderson berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism&lt;/span&gt; menjadi buku klasik yang menjelaskan hal-ihwal persebaran nasionalisme di dunia. Buku itu tak hanya mendedah sumber-sumber yang kompleks, tapi juga nyaris menjelaskan semua bagaimana ide nasionalisme itu menyebar dalam kereta cepat bernama revolusi cetak (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;print revolution&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya di Indonesia sebetulnya sudah lama ditunggu para cendekiawan maupun aktivis. Ada 16 tahun rentang waktu dibutuhkan hingga buku itu bisa dibaca secara luas di Indonesia sejak terbit pertama kali pada 1983 oleh sebuah penerbit di New York dan London. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqIAT6QBj_I/AAAAAAAAAH4/QWpzLU6cujE/s1600-h/ben_imagined.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqIAT6QBj_I/AAAAAAAAAH4/QWpzLU6cujE/s320/ben_imagined.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089630870936063986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan revolusi cetak juga yang mengantarkan buku itu sampai ke Indonesia pada 1999 setelah melewati samudera waktu yang begitu panjang. Judulnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Komunitas-Komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku edisi Indonesia bersampul kuning dengan sepotong leher onta yang nyembul itu tak hanya mengukuhkan kecendekiaan Benedict Anderson, tapi juga memperkenalkan Omi Intan Naomi sebagai penerjemah terbaik yang dipilih Insist Press dan Pustaka Pelajar—dua penerbit yang dipercayakan Ben untuk menerbitkan bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pustaka Pelajar, Omi adalah penerjemah terbaik dengan bahasa terenyah yang pernah mereka miliki dan satu-satunya. Pertemuan penerjemah terbaik dan penulis terbaik dari buku klasik terbaik meniscayakan suatu hasil yang terbaik dan memuaskan. Apalagi Omi mewakili penerbit membubuhkan pengantar yang panjang atas buku itu dengan judul: “Candra Kebangsaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca buku kuning itu terbit, resensi bertebaran di media massa. Dan benar, nyaris tak ada satu pun resensi yang melihat cacat buku itu. Sempurna. Sip deh pokoknya. Puji dan puja menguar dan bising, seakan para pengulas baru saja ketemu dengan harta karun yang sudah lama terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak lama berselang. Kala hujan puji itu mereda, publik dikejutkan ketika pada 2001 terbit buku yang sama dengan judul berbeda dari sebelumnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imagined Communities, Komunitas-Komunitas Terbayang&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Imajiner” dari judul sebelumnya diganti dengan “Terbayang”. Pengantar Omi pun menghilang di edisi buku bersampul cokelat itu dan berganti dengan Daniel Dhakidae yang panjangnya nyaris dua kali lipat dari panjang tulisan Omi. Tapi nama Omi masih tercantum di halaman credit tittle sebagai penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, kata Eko Prasetyo, editor Insist Press kala itu, setelah buku edisi pertama dan aslinya dikirimkan ke Ben sesaat setelah terbit, Ben masygul. Dia menemukan banyak sekali konsep nasionalisme yang kabur. Beberapa lagi mesti ditambahkan Ben, misalnya catatan kaki. Dan yang pasti, Ben rupanya tak berkenan dengan gaya bahasa Omi yang cenderung ngepop—atau dalam ungkapan tim editor Pustaka Pelajar, renyah dikunyah. Mungkin kekurangberkenan Ben itu disebabkan oleh gaya tulis Ben sendiri yang memang akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ben pun mengambil langkah menyelaraskan kembali terjemahan itu. Alasannya, ada beberapa hal yang mesti dikontekstualisasikan dengan perkembangan politik pasca Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu muridnya, Rizal Malik, juga turut membantu. Rizal Malik ini yang pertama kali, bersama Mansoer Faqih (alm.) dari Insist Press, yang mengusahakan penerbitannya ke Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil keroyokan para pakar seperti Daniel dan Rizal atas terjemahan Omi Intan Naomi itu tentu saja menguntungkan pembaca karena kualitas buku yang mereka beli lebih terjamin kualitasnya. Di luar itu, karya “yang ditunggu-tunggu ini” melibatkan sepotong nama yang raganya nyaris tak pernah muncul di publik, yakni Omi Intan Naomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, membaca riwayat hadirnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Imagined Communites&lt;/span&gt; di Indonesia adalah juga berarti membaca riwayat Omi Intan Naomi sebagai penerjemah; terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang sudah disampaikan Pak Ben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8798899750209615119?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8798899750209615119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8798899750209615119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8798899750209615119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8798899750209615119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/omi-ben-dan-riwayat-imagined-communites.html' title='Omi, Ben, dan Riwayat Imagined Communites'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqIAT6QBj_I/AAAAAAAAAH4/QWpzLU6cujE/s72-c/ben_imagined.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-8852848472964708568</id><published>2007-07-21T04:02:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T04:06:08.426-07:00</updated><title type='text'>Agak2 Nyablak juga Omi Kalo Ngomong</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Kuss Indarto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi berpulang. Hah, Naomi Intan Naomi yang anaknya pak Darmanto Jatman itu tutup umur? Aku kaget ketika Agung “Leak” Kurniawan kasih info tentang itu. Kala itu, sekitar jam 21.10 WIB hari Minggu 5 November, aku dan istriku naik motor untuk pulang setelah berakhir pekan di rumah mertua. Beberapa menit kemudian Neni, istri Leak kirim sms duka itu. Pun Senin paginya, mbak Anggi Minarni sms serupa.&lt;br /&gt;Bayangan tentang Omi segera berkelebat di batok kepalaku. Beberapa hari lalu aku baru berencana menyapa dia, meski lewat e-mail atau sms, setelah kubaca tulisan dia di harian Suara Merdeka (Semarang) edisi Minggu 29 Okteber 2006. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisannya yang bertajuk “Medioker” itu sebetulnya tak cukup menarik. Ngalor-ngidul kemana-mana. Tapi karena dia dengan langsung menyebut-nyebut namaku, dengan segala kenyinyirannya, aku seperti diingatkan bahwa barangkali itulah cara paling santun bagi dia untuk menyapaku. Hahaha.&lt;br /&gt;Ya, kami sudah amat lama tak saling sua. Entahlah, mungkin sudah 5-6 tahun meski tempat tinggalku mungkin hanya 2 km dari tempatnya menetap. Dekatlah, mung sak plinthengan. Tapi belum ada dalih kuat untuk saling ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sendiri saling kenal sekitar tahun 1996-1997. Aku lupa persisnya. Tapi meski belum lama kenal dan tak intens bergaul, kalau ketemu kami begitu hangat dan sama-sama ngawurnya. Mungkin karena aku sering baca tulisan-tulisan dia termasuk di koran Bernas saat aku masih jadi “tukang gambar” di koran itu.&lt;br /&gt;Omong saling serang, saling ngeledek. Umpamanya aku nyinggung namanya yang mirip dengan nama salah satu anak WS Rendra. “Emang bapakmu janjian ya bikin nama anak kok bisa mirip? Gak kreatif,” tanyaku. “Ah, enggak. Rendra aja yang niru-niru,” sergah Omi. Anak Rendra yang kumaksud tentunya ya Naomi Srikandi yang aktif di Teater Garasi. Agak2 nyablak juga dia kalo ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada dasarnya Omi(nya Darmanto Jatman) adalah sosok yang cukup cantik, sangat cerdas, hangat sebagai sahabat, jujur, dan baik. Hanya lama-kelamaan cenderung tertutup dan “introvert”. Mungkin ada jagat lain yang sangat dia nikmati dan lalu menggiringnya agak asosial. Dunia mayalah yang kuduga menggeser modus budaya komunikasinya dengan teman-teman “real”-nya. Dia ngaku dalam tulisan ”Medioker” punya piaran dua blog yang dipeliharanya bertahun-tahun. Dan seperti sangat dinikmatinya.&lt;br /&gt;Ah, sayang ya, cewek secerdas dia cepet pergi. Sayang juga dia tak lagi produktif berkarya pada tahun-tahun terakhir. Ups, gak tau ya, barangkali justru di situs atau blog-nya dia menyimpan banyak harta dan karya sastranya yang tak banyak diketahui oleh publik seni di sini. Apalagi karyanya itu berbahasa Ingris semua. Aku yakin pasti menarik kalau dikuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya kalau mengacu pada karya skripsinya yang setebal 330-an halaman, Analisis Kebebasan Pers Dalam Rubrik Pojok Surat Kabar Kompas dan Suara Karya, yang diselesaikannya tahun 1995, yang lalu dibukukan oleh penerbit Garba Budaya-nya Sitok Srengenge dengan tajuk Anjing Penjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya bagus, bahasanya pun sangat liat dan inspiratif, menunjukkan kalau bacaaan Omi sangat luas. Aku beruntung masih menyimpan skripsi asli karyanya yang diberikan ke aku ketika akan kupinjam untuk ngebut bikin skripsi tahun 1998. Aku tak percaya waktu itu. “Ah, yang bener, Om?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil aja. Aku tak butuh lagi,” katanya. Sampai sekarang skripsi dengan cover legam itu masih di almari bukuku. Sayang sekali aku tak mungkin lagi bisa ngobrol dengan sang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bobo’ setenang2 yang kau inginkan, Omi! Aku yakin kau tak butuh airmata teman2 untuk melepaskanmu. Tapi Tuhan harus kuseret via doaku agar Dia tulus mendekat di sisimu. Saling dekaplah kau dan Dia, Omi! Mungkin surga segera melingkungimu. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kuss Indarto, kurator. Ini tulisan digunting dari “kuss-indarto.blogspot.com” atas izin penulisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-8852848472964708568?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/8852848472964708568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=8852848472964708568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8852848472964708568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/8852848472964708568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/agak2-nyablak-juga-omi-kalo-ngomong.html' title='Agak2 Nyablak juga Omi Kalo Ngomong'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-4037385691350035868</id><published>2007-07-21T03:59:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T04:02:17.068-07:00</updated><title type='text'>Omi Mahasiswa Cerdas dan Kritis</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Purnawan Kristanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya pribadi dengan Omi Intan Naomi bermula ketika saya kuliah di jurusan Komunikasi UGM. Omi menjadi kakak angkatan saya. Saya angkatan 1991, dia angkatan 1989. Kami sempat beraktivitas bersama-sama di dalam Korps Mahasiswa Komunikasi (Komako), khususnya di divisi Jurnalistik dan Penerbitan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menerbitkan tabloid SWARA. Dia menjadi Pemimpin Redaksi, saya reporternya. Saya masih ingat, laporan utama yang diangkat adalah tentang kewajiban Penataran P4 bagi mahasiswa baru. Kami mengadakan jajak pendapat. Hasilnya, mayoritas responden menolak Penataran P4.&lt;br /&gt;Selain Omi, rekan sekerja kami adalah Imam Wahyu (pernah di Editor dan Tiras), Sagiyo, Yuyun Wardhana (fotografer Detik), Berto, Candra dan satu teman lagi yang sekarang di Metro TV. Namanya Matius Dwi Hartanto, tapi teman-teman memanggilnya Gimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak lama bergaul dengan Omi karena dia cepat menyelesaikan teorinya. Setelah itu, dia jarang nongol di kampus. Dari pergaulan singkat saya dengannya, saya melihat Omi sebagai mahasiswa yang cerdas dan kritis. Namun ada juga jiwa pemberontak di dalamnya. Setiap kami rapat redaksi, dia biasanya melontarkan opini-opini cerdas sambil tak lupa mengepulkan asap rokok ringan dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi menyelesaikan skripsi dengan topik penelitian analisis isi pojok Kompas. Setelah itu, kami tidak pernah kontak lagi. Saya dengar kabar, dia menerjemahkan karya-karya sastra dari Australia. Harus saya akui, perjalanan kepenulisan saya telah dihiasi oleh kekaguman saya pada wanita manis, berkulit langsat dan berambut ikal ini. Selamat jalan mbak Omi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Purnawan Kristanto, teman kuliah Omi. Tulisan ini ‘digunting’ dari http://purnawan-kristanto.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-4037385691350035868?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/4037385691350035868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=4037385691350035868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4037385691350035868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/4037385691350035868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/omi-mahasiswa-cerdas-dan-kritis.html' title='Omi Mahasiswa Cerdas dan Kritis'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2429495991551555150</id><published>2007-07-21T03:58:00.000-07:00</published><updated>2007-07-23T23:52:48.119-07:00</updated><title type='text'>"Aku Kenal Lewat Tulisan, Dia Kenal Lewat Lukisan"</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Ugo Untoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan 80-an, aku masih berseragam putih biru, di daerah asalku, Purbalingga, Jawa Tengah. Ketika itu keluargaku berlangganan Kartini, Femina, Gadis, juga Hai, aku kerap membaca majalah-majalah tersebut. Dari sanalah aku mengenal sebuah nama Omi Intan Naomi. Agak aneh pendapatku tentang tulisan Omi, justru dari keabsurdan tulisannya itulah yang membuatku penasaran, siapa Omi sebenarnya. Meski lewat tulisan aku cukup kagum pada sosoknya. Di usia yang terbilang muda kala itu Omi membuat tulisan yang tak mudah dimengerti oleh kebanyakan orang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeuKQBkGI/AAAAAAAAAIw/WybJxZqQlMQ/s1600-h/ugo_irianto_pam_ptrus.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeuKQBkGI/AAAAAAAAAIw/WybJxZqQlMQ/s400/ugo_irianto_pam_ptrus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090649469674950754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWhqqQBkHI/AAAAAAAAAI4/3j_mGudY950/s1600-h/ugo+portrait.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWhqqQBkHI/AAAAAAAAAI4/3j_mGudY950/s400/ugo+portrait.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090652708080291954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun berselang, tepatnya akhir tahun 80-an aku tiba di Kota Yogyakarta. Statusku saat itu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI). Dan aku masih belum mengenal apalagi bertemu dengan Omi. Aku terkejut, ternyata Omi yang selama ini aku kagumi lewat tulisan-tulisannya adalah kakak Bunga Jeruk adik tingkatku di ISI. Tapi aku tak pernah bertemu muka dengannya, sesekali aku mengirim salam untuknya.&lt;br /&gt;Melalui Bunga akhirnya aku bisa mengenal dan bertemu langsung dengan Omi, sekitar tahun 95 aku bertemu langsung dengannya. Tak kuduga sebelum pertemuan darat kami, Omi juga sudah mengenalku, setidaknya namaku. Dia mengenalku lewat lukisan. Tak sedikit tulisan-tulisan Omi tentangku juga lukisan-lukisanku. Aku tak menduga dia pemerhati karya-karyaku rupanya. Tahun 1994 pameran pertamaku. Dari situlah rupanya Omi pertama kali melihat, mulai tertarik, dan terus mengamati sampai kami berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu muka dengan Omi membuatku semakin mengenal sosoknya. Bagiku Omi adalah perempuan yang terlalu pintar. Barangkali latar belakang keluarga yang keras dan banyaknya bacaan yang dilahapnya semenjak kecil membentuknya menjadi seorang perempuan yang keras, cerdas, tangguh, tegas, jujur, tapi juga angkuh. Tak jarang ketika suasana hatinya sedang tidak sreg dia enggan menerima siapa pun, bahkan tak segan ia mengusir orang yang berani mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ragu untuk menyebut Omi sebagai penulis yang paling independen. Dia menulis apa saja yang ingin dia tulis. Dia tak mempedulikan orang lain. Apa yang menurutnya baik akan ditulis ya itulah yang baik. Begitu pula sebaliknya. Sampai sekarang aku masih menyimpan tulisan Omi semasa SMP dulu.&lt;br /&gt;Lagi-lagi Omi membuatku terkejut. Kira-kira tiga bulan sebelum Omi meninggal seorang kawan datang padaku. Dodo namanya. Ia memberikan sebendel tulisan Omi tentangku. Aku tak tahu dari mana Omi mendapat semua informasi seputar kehidupanku. Sementara Omi sendiri tak pernah mewawancaraiku. Tak heran jika ada beberapa kesalahan dalam penulisannya. Rencana menerbitkan buku itu tentu saja ada. Aku mulai mencari sponsor. Omi hanya meminta 15 juta untuk jerih payahnya. Aku menawarkan lukisanku untuk dijual sebagai biaya cetak buku. Sayang belum sampai buku itu tercetak Omi meregang nyawa.&lt;br /&gt;Istriku, Yayuk, rupanya pernah ditanya Omi. Kepada Yayuk Omi menyatakan keheranannya padaku. Dia juga bertanya pada Yayuk seputar pertemuan kami, sampai akhirnya menikah. Pertanyaan yang menggelitik adalah mengapa Yayuk mau menikah denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kawanku Dodo yang menyarankan Omi untuk menulis tentang perupa. Ada tiga nama disodorkan Dodo. Ugo Untoro, Teddy, dan Bob. Omi memilihku: si Ugo Untoro ini. Sampai sekarang aku tak tahu pasti apa yang membuat Omi memilihku. Meski Omi menulis tentangku, aku masih jarang bertemu Omi. Sesekali aku menyambanginya, namun itu pun tak pernah lama. Sebentar saja hanya untuk melihat keadaannya.&lt;br /&gt;Sayang sekali Omi tak panjang usia. Aku terkejut mendengar kabar tentangnya. Terlebih istriku. Dia cukup dekat dengan Omi, terutama setahun terakhir. Dan dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Omi. Yayuk melihat wajah Omi untuk pertama dan terakhir ketika tubuhnya telah terbujur kaku. Yayuk menangis tersedu. Wajah Omi terlihat bersih, ia juga tampak ternyum. Mirip Bunda Maria, demikian aku dan istriku menyebutnya. Hanya saja matanya yang terlihat galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal Omi lewat tulisan, Ia pun mengenalku melalui lukisan. Aku mengagumi tulisan Omi demikian pula Omi yang juga mengagumi lukisanku. Namun ia tak pernah mau aku lamar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo Untoro, seniman lukis Jogja. Artikel ini transkrip percakapan dengan wartawan Iboekoe, Fadila Fikriani Armadita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-2429495991551555150?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/2429495991551555150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=2429495991551555150' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2429495991551555150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/2429495991551555150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/aku-kenal-lewat-tulisan-dia-kenal-lewat.html' title='&quot;Aku Kenal Lewat Tulisan, Dia Kenal Lewat Lukisan&quot;'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWeuKQBkGI/AAAAAAAAAIw/WybJxZqQlMQ/s72-c/ugo_irianto_pam_ptrus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-5484966309649861923</id><published>2007-07-21T03:54:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T00:33:33.739-07:00</updated><title type='text'>Tatto si Bob Mengabadikan Nama Omi</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Rain Rosadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Yudhita Agung, nama yang tidak asing bagi komunitas seni rupa di Yogyakarta. Pelukis dengan penampilan yang unik. Anda akan langsung mengenali kalau pun misalnya dia berada dalam kerumunan orang. Posturnya yang tinggi dan kurus, rambut dibabat habis di sisi kanan dan kiri, penuh dengan pierching dan asessoris. Yang paling membedakannya dengan orang lain adalah tubuhnya yang penuh tattoo; dari wajah sampai ke ujung kakinya. Salah satu dari tattonya adalah mengabadikan nama seorang perempuan: Omi Intan Naomi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWkiaQBkKI/AAAAAAAAAJQ/r4OaE0kcOPE/s1600-h/bob+yudhita.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWkiaQBkKI/AAAAAAAAAJQ/r4OaE0kcOPE/s400/bob+yudhita.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090655864881254562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bob "Sick" Yudhita/Foto: Dok Bob)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Omi Intan Naomi tidak hanya beredar di kalangan seni rupa. Namanya lebih dikenal lewat kolom-kolom budayanya di harian Suara Merdeka. Tetapi penulis yang meninggalkan dunia di usia muda ini terbilang cukup dekat dengan komunitas seni rupa. Salah satunya adalah sebuah komunitas dengan beberapa nama yang bisa disebut: Bunga Jeruk, S. Teddy D., Ugo Untoro, Yustoni Volunteero, dan Bob Yudhita Agung.&lt;br /&gt;Kedekatannya dengan para perupa itu juga terukir dalam catatan-catatan kecilnya mengenai beberapa karya seni yang disukainya. Catatan-catatan itu terselip di antara belantara tulisan-tulisannya yang berhambur dari energinya yang luar biasa dalam menulis. Semua hal ditulisnya, dari gempa bumi di Yogya, halaman di depan rumahnya, budaya masyarakatnya, sampai ke teman-teman dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu produktifnya, bahkan menurut pengakuannya, lebih banyak tulisannya yang beredar di Internet ketimbang yang sudah dipublikasikan dalam media cetak. Katanya lebih baik punya stok tulisan daripada dikejar-kejar deadline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Bob, baginya Omi lebih dari sekadar teman. Dia adalah avant garde-nya dalam mengurangi beban psikologisnya. Omi adalah sosok yang sangat peduli terhadap kawan-kawan perupanya. Bob merasa bahwa Omilah yang banyak mendorongnya untuk tetap bersemangat dalam melukis. Lewat Omilah Bob mengenal media-media lain semacam internet, buku-buku, dan bermacam wawasan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWrJaQBkNI/AAAAAAAAAJo/jDXimGrjeWA/s1600-h/bob+dan+putri.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWrJaQBkNI/AAAAAAAAAJo/jDXimGrjeWA/s400/bob+dan+putri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5090663131965919442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;align center&gt;Bob "Sick" Yudhita dan Putri Indonesia 2004 Artika Sari Dewi/Foto: Dok Bob)&lt;/align&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Omi adalah tempat saya bertanya, dan berpendapat. Dia mengenalkan saya dengan buku-buku, internet, dan banyak hal. Ketika saya mabuk, dialah yang membantu saya mengatasi masalah-masalah kejiwaan saya. Dia memberi perhatian dan membuat saya tetap melukis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omi memang pribadi yang memandang karya seni dengan pendekatan personal. Dalam tulisan-tulisannya, dia tidak berupaya memandang seni dengan kacamata sejarah seni yang kemudian menganalisa karya berdasar penting atau tidak pentingnya dalam sejarah. Tetapi dia lebih mendekatinya secara personal, dan bagaimana karya itu kemudian dinikmatinya. Kedekatannya dengan komunitas perupa pun didasarinya karena kecintaannya terhadap objek-objek karya itu dengan tanpa pretensi. Baginya karya adalah buah tangan dari pribadi-pribadi yang unik dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kepergian Omi membuat kehilangan masyarakat perupa di tanah air. Selain dikenal lewat tulisan-tulisannya, karya Omi juga tertera melalui terjemahan-terjemahannya baik dalam buku-buku mapun dalam beberapa catalog pameran seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarno Wisetrotomo, salah satu kurator papan atas negeri ini mengingat bahwa dengan Omi dia bisa mengandalkan terjemahan bahkan untuk mengejar deadline yang tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pernah ragu untuk meminta bantuan Omi karena waktu yang sangat mendesak. Malamnya saya email ke dia, besok paginya tulisan saya sudah jadi dalam bentuk bahasa Inggris. Saya betul-betul kehilangan teman yang penuh dedikasi seperti Omi Intan Naomi…,” tuturnya pada saya suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kalaupun Bob berada dalam sebuah dunia yang penuh chaos, Omi tetap memberinya tempat sebagai sahabat untuk berbagi. Omi adalah cendekiawan yang berada dalam ekosistem yang sebenarnya. Dia berada di tengah apa yang diperbincangkannya. Sekalipun dekat, tetapi dia mampu menuliskannya dengan analisis yang jernih. Intim, tapi meninggalkan jejak kesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Rain Rosadi, kurator dan staf pengajar di Institut Seni Indonesia Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2732913221512448273-5484966309649861923?l=suplemenibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/feeds/5484966309649861923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2732913221512448273&amp;postID=5484966309649861923' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5484966309649861923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2732913221512448273/posts/default/5484966309649861923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suplemenibuku.blogspot.com/2007/07/tatto-si-bob-mengabadikan-nama-omi.html' title='Tatto si Bob Mengabadikan Nama Omi'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_D0s8i7Nf4zM/RqWkiaQBkKI/AAAAAAAAAJQ/r4OaE0kcOPE/s72-c/bob+yudhita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2732913221512448273.post-2862821595620819292</id><published>2007-07-21T03:48:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T03:54:01.532-07:00</updated><title type='text'>”Dia Menulis Hampir 24 Jam Sehari”</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Fadila Fikriani Armadita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah percakapan dengan Bunga Jeruk (adik Omi Intan Naomi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Apa sebetulnya sakit Mbak Omi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Sebetulnya tidak tahu pasti sakitnya. Di rumah sakit sekitar 24 jam setelah itu meninggal. Itupun waktu ketemu dalam kondisi sudah koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Tahunya bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Waktu itu 4 November pagi pembantu saya ke sana, pintu masih tertutup, jendela kordennya masih tertutup, lampu teras belum dimatikan. Dia tidak berani ketok. Mbak Omi itu kan kadang tidurnya pagi, menjelang subuh itu baru tidur; tahu kebiasaannya jadi tidak berani. Ya sudah nanti saja. Agak siang, jam 11 ke sana lagi belum bangun juga. Saya juga tidak berani membangunkan, khawatir dia marah, lagi pula kita nggak tahu jam tidurnya. &lt;span class="fullpost"&gt;Saya sms tidak dibalas, telepon tidak diangkat, saya putuskan untuk ke rumahnya, saya ketok pintu tidak ada jawaban. Ada tetangga yang menyarankan supaya masuk pakai tangga saja. Suami saya masuk, Mbak Omi sudah tidak sadar. Kemudian dilarikan ke rumah sakit Ludira Husada, sampai sana sudah koma dan sudah agak lama. Sebelumnya dia pernah sakit 22 November 2005. Dia muntah-muntah dan kejang, tapi waktu itu pagi hari, ada pembantu saya jadi langsung bisa ditangani. Tapi waktu itu tidak ada yang tahu, tapi mungkin waktu itu dia juga tidak sempat untuk telepon atau sms, karena saya lihat barang-barangnya masih ada di tempatnya, jadi sepertinya tidak ada usaha untuk ambil telpon, posisinya di tempat tidur. Tapi kalau ditanya penyakitnya tidak tahu, yang jelas metabolisme tubuhnya itu sudah kacau, gula darah tinggi, asam urat tinggi, tekanan darahnya tinggi, suhu tubuh tinggi. Dari Ludira saya bawa ke Bethesda, di sana di scan, ternyata bukan stroke, awalnya dipikir stroke, karena gejala-gejalanya mirip. Sejarah kesehatannya memang tekanan darahnya tinggi, jadi orang berpikir demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Pernah periksa kesehatan keseluruhan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Tidak pernah, dia takutnya kalau chek up semua ketahuan yang tidak beres, jadi bingung, harus diopname dan sebagainya. Antara tidak berani sama ya sudahlah orang kalau mau meninggal meninggal saja. Dan dari dulu memang dia punya feeling tidak berumur panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Sebetulnya pola hidup Mbak Omi itu seperti apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: O... tidak sehat, dia itu kan merokok, pola hidupnya terbalik-terbalik, benar-benar total. Malam dia kerja, pagi jam enam itu baru tidur, jam dua belas siang baru bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Terus pola makannya juga kacau?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Dia kadang tidak doyan makan, misalnya dia mau makan sesuatu terus saja makan itu sampai berbulan-bulan, nanti ganti lagi. Pernah dulu makan mie instan sampai berbulan-bulan setelah itu berhenti kemudian ganti lagi. Pola makannya tidak sehat dan dia tahu bahwa itu tidak sehat. Tekanan darahnya tinggi juga masih sering minta dibelikan daging kambing; dia tidak menghindarinya. Dia juga sering mengkritik orang yang terlalu memperhatikan makan dan khawatir kalau-kalau sakit. Buat dia sakit ya sakit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Lalu selama ini apa yang dia kerjakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Di rumah saja. Nggak ke mana-mana. Dia itu terus-terusan menulis, tidak pernah berhenti. Menulis apa saja. Dia kan punya situs pribadi, jadi punya ide apa langsung ditulis dan di upload di situsnya. Jadi memang tidak dipublikasikan di media cetak. Teman-temannya kebanyakan juga komunitas online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Sejak kapan dia memelihara situsnya itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Wah sudah lama sekali, sejak dia kenal internet, sekitar 1996. Dia waktu itu masih sering ke warnet dekat UGM... Itu lho warnet dekat Samirono (di depan Gedung Olahraga UNY—red). Situsnya macam-macam tidak cuma satu. Dia juga pernah bikin situs baru tentang Jawa dalam bahasa Inggris. Isinya mulai dari pakaian, kalau orang menikah bagaimana, terus apa bedanya Solo sama Yogya, terus ada resep makanan Jawa; memang begitulah dia karena niatnya senang nulis. Selain itu supaya orang asing secara tidak langsung tahu budaya Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Jadi, selama ini Mbak Omi menghabiskan waktu lebih banyak di kamar ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Di rumahnya itu ada tiga kamar, satu untuk ruang kerja, satu untuk kamar tidur, satu lagi kosong diisi kursi-kursi. Dia jarang keluar, kalau ada apa-apa, butuh sesuatu biasanya minta tolong orang, kalaupun keluar ya cuma belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Waktu masih bekerja sebagai editor dan penerjemah di Pustaka Pelajar apa dia masuk kantor?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Tidak, di rumah juga. Menerjemahkan itu bisa dikerjakan di rumah setelah selesai baru dibawa ke kantor. Dia di depan komputer menulis hampir 24 jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Kadang seharian tidak bicara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Ya paling sms. Kalau pun sedang bersama dalam satu rumah, kadang-kadang ngobrol tapi ya kebanyakan dia menulis saya melukis. Kadang ngobrol tapi ya setelah itu dia kembali ke komputernya dan saya kembali ke kanvas, tapi kalau pisah rumah cuma sms. Kadang hal-hal kecil dia sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Apa sifat penyendiri Mbak Omi itu sejak kecil?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Sebetulnya tidak, dia dari kecil orangnya gaul, punya banyak teman, waktu kecil sudah mengajar teman-temannya bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I: Atau dia menyendiri karena kesal dengan Bapak (Darmanto Jatman, red)?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BJ: Oh kalau itu dia memang tak pernah akur sama Bapak. Sudah lama sekali. Apalagi Bapak kan kawin lagi. Hampir tak ada ketemunya. Lagi pula Bapak juga sibuk.&lt;br 
