Sabtu, 04 Agustus 2007

Membelah Perut Pun Ada Seninya

Oleh Fadila Fikriani Armadita

Ini bukan pelajaran praktik bagaimana membunuh dengan sebilah pisau dan mencincang peurt sang korban. Ini adalah buku ajar seorang calon dokter bagaimana seni melakukan bedah terhadap tubuh manusia. Sama-sama melakukan ‘mutilasi’ atau mencincang tubuh manusia, namun pembunuh melakukannya dengan cara yang sembrono, sementara sang (calon) dokter melakukannya dengan prosedur dan aturan yang ketat.

Ilmu bedah memiliki sejarah kemunculannya bersamaan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Itulah yang ditulis dalam bagian awal buku ini. Fielding H. Barisson dalam buku ini mencatat setidaknya ada tiga nama yang pantas disebut dalam sejarah ilmu beda mula-mula. Mereka adalah Ambroise Pare, John Hunter, dan Joseph Lister. Dari ketiganya ilmu bedah di kenal di seluruh dunia.

Bagian awal buku ini menyoroti dan meriwayatkan para ahli bedah terkemuka serta mereka yang punya andil besar pada asal mula sampai pada perkembangan ilmu bedah itu sendiri.

Natal 1809, di sebuah pedesaan yang lengang Kentucky Mc Dowwel berhasil mengeluarkan tumor ovarium yang ukurannya lumayan besar dari rahim seorang pasien, dan operasi itu cukup berhasil. Tebukti dengan pulihnya si pasien tanpa adanya gangguan dan dapat bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Mc Dowwel adalah contoh dari dokter yang berhasil melakukan praktek bedah pada masa awal kemunculannya.

Selain bercerita tentang sejarah dan perkembangan ilmu bedah dalam buku ini juga dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan pembedahan sebelum masuk pada praktek atau tatacara pembedahan itu sendiri.

Sudah semestinya dokter mengetahu setiap inchi tubuh manusia. Pun buku ini menjelaskan secara detail setiap inci tubuh manusia sampai pada bagian yang tak tertangkap oleh mata telanjang. Mereka juga mesti tahu berapa volume cairan normal yang semestinya ada dalam tubuh manusia; bukan saja yang berbentuk air tetapi ada batas normal volume darah yang dimiliki. Di situ baru diketahui apa seseorang bisa menjalani operasi atau tidak. Jika ada yang tidak sesuai dengan jumlah volume, maka seseorang bisa gagal menjalani pembedahan.

Barangkali ada benarnya pepatah yang mengatakan kalau pengalaman adalah guru terbaik. Beberapa hal yang dilakukan praoperasi bukan saja persiapan secara fisik saja, pemeriksaan secara mental pun mutlak diperlukan. Itulah yang kemudian disebut komunikasi antardokter dan pasien. Jika fase ini tak dilakukan bisa fatal akibatnya.

Bedah adalah pelajaran ‘seni’ bagi orang kedokteran. Yang diperlukan bukan hanya ketelitian dan pengetahuan tentangnya tetapi juga komunikasi antar dokter dan pasien, salah-salah bisa terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman. Pasien haruslah benar-benar mengerti apa penyakitnya dan kenapa ia harus menjalani pembedahan.

Ibaratnya jika kita hendak mengganti sparepart motor, kita harus benar-benar tahu pasti bagian mana yang mesti diganti atau diservis. Jika harus diganti kita harus benar-benar tahu apa yang membuat bagian tersebut diganti.

Penderita anemia, atau kekurangan darah misalnya. Pasien yang mengidap anemia tak bisa langsung menjalankan pembedahan tanpa adanya persiapan khusus. Penderita anemia memiliki risiko yang cukup tinggi, maka diperlukan persediaan darah yang cukup banyak.

Buku Ajar Bedah ini juga memberikan secara jelas bagian-bagian tubuh manusia, serta pengobatannya. Disertai beberapa gambar selaku penguat pada uraian tentang proses bedah dan bagian-bagian apa saja yang dibisa dibedah. Buku ini juga menjelaskan setiap bagian tubuh yang dibedah beserta pengobatan, dan langkah-langkah apa saja yang seharusnya dilakukan pascaoperasi.

Dalam dunia bedah bukan saja ilmu yang harus dikuasai akan tetapi juga pengalaman, yang lebih penting dari semuanya Tuhan yang menentukan. Seperti yang diujarkan oleh Joseph Lister, satu di antara tiga ahli bedah yang cukup mendunia. Ahli bedah Prancis ini berkata dalam bahasa Prancis, “ Je le pansay,m Dieu le Guarit (Saya yang membaut, Tuhan yang menyembuhkannya).

Judul: Buku Ajar Bedah
Penulis : Sabiston
Penerbit: EGC Penerbit Buku Kedokteran
Cetakan: Kedua, 1995

Tidak ada komentar: