Senin, 20 April 2009

PRAM: Buku yang tak Pernah Selesai Dibaca

Oleh Muhidin M Dahlan

“Buku dan pengarangnya adalah sebuah negara tersendiri” -- Alexander Solzhenitsyn

PRAMOEDYA ANANTA TOER adalah buku. Buku yang seutuh-utuhnya buku. Karena ia buku yang besar, meluas, dan berwibawa, maka ia abadi: scripta manent verba volant (tulisan itu abadi, sementara lisan cepat berlalu bersama derai angin). Pram memang telah berangkat dengan kereta api pagi pada Ahad (30/4/2006, 08.55) tiga tahun yang lampau—dua hari setelah hari pergi penyair Chairil Anwar—di usia 81 tahun 84 hari. Tapi Pram sangat yakin bahwa ia akan abadi. Dan keyakinan itu sudah ia tuliskan dalam sebuah artefak utuh tanpa ragu di halaman 356 kuartet keempat Buru, Rumah Kaca:

“Menulislah, jika tak menulis, maka kamu akan ditinggalkan sejarah.”

Pram memang bukanlah buku yang biasa. Buku yang datang tergesa-gesa, cepat, dan setelah itu dilupakan orang. Pram juga bukan buku cengeng, picisan, dan penuh cekikikan. Sebab hidup Pram adalah hidup yang selalu sepi, sunyi, disiakan, sekaligus keras dan berjelaga. Nasib dan respons kehidupan yang tak memanjakan membawanya menjadi buku yang selalu tegak menantang cadas atau apa pun yang mengganggu otonomi tubuh dan pikiran dan ideologinya.

Bahkan kesadaran melawan yang berkobar itu tetap ia perlihatkan hingga ajalnya menjemput. Bagaimana Pram seusai lolos dari maut yang datang menggerayanginya di ICU St Carolus Jakarta pada Sabtu sore (29 April 2006 pukul 16.37)—16 jam sebelum keberangkatannya—ia langsung meminta pulang dan berusaha melepaskan semua selang-selang infus yang meliliti tubuhnya dan menusuk-nusuk kulitnya.

Seberapa pun usaha dokter dan keluarga mencegahnya, tetap saja tak berhasil. Dan itulah Pram. Ia akan menolak apa pun yang asing baginya, yang mengisap dan mencucupi keyakinannya. Ia adalah Pramis; individu yang percaya akan kemampuannya dan karena itu ia lampaui otoritas dari siapa pun. Termasuk dokter dan rumah sakit. Sebab yang tahu diri manusia itu adalah dirinya sendiri. Pram sungguh sadar dengan konsepsi itu. “Bahkan dengan Tuhan pun aku tak mau meminta,” katanya.

Mungkin, karena sikap konsistensi yang bertumpu pada diri sendiri itu, ia kerap disalahpahami sebagai buku yang kaku, keras, dan sama sekali tak menarik. Mochtar Lubis, lawan politik sastranya, berkata tatkala ditanyai tentang kesannya dengan Bumi Manusia oleh Denny JA: “Buku apaan itu. Datar. Tak menarik. Hanya dua halaman saya tahan membacanya.” Ajib Rosyidi berkata: “Jangan harap karya Pram ada adegan seks yang menegangkan. Membaca percintaan antara Minke dan Annelis saya sama sekali tak terangsang. Malah lucu menurut saya.”

Pram memang bukan buku yang lemah, gemulai, dan menebar senyum. Ia adalah buku yang tegak menantang siapa pun. Tapi ia berdiri tidak dengan segerombolan serdadu dengan samurai terhunus, tapi menantang dengan senjata bernama buku. Tak ada apa pun selain itu. Pram sendiri kita tahu adalah pribadi yang introvert, tak gaul, dan rendah diri. Bukulah yang membuatnya menyala. Serupa api yang menjilat-jilat. Dan ia datang memang untuk membakar dan melecut semangat perlawanan kalangan muda dan juga dirinya sendiri.

Bagi Pram, menulis adalah melawan. Dan Pram yakin bahwa perlawanan itu bisa dilakukan dengan menulis buku, seperti halnya ia lakukan. Bagi Pram, buku adalah visi, sekaligus sikap. Perjuangan tanpa visi adalah perjuangan yang hanya menanti mati disalip kekuasaan pragmatis setelah riuh pasar malam perjuangan usai diteriakkan. Bukulah yang membuat Pram tidak menjadi massa atau gabus yang dipermainkan ombak di tengah samudera sejarah dan setelah itu takluk terhempas jadi sampah di pantai.

Buku adalah obor, sekaligus kemudi bagi sejarah. Lihatlah, dengan buku Pram menawarkan sejarah yang dipahaminya. Celakanya, sejarah yang dikandung buku Pram adalah sejarah yang selalu bertabrakan muka dengan sejarah resmi yang dikreasi negara.

Dan dengan buku pula, Pram kemudian membangun presepsi yang sama sekali baru tentang apa arti Indonesia, Nusantara, peradaban-peradabannya, serta sejarah orang-orang yang bergolak di dalamnya yang bertarung dalam pusaran sejarah. Terutama sejarah anonim dari orang-orang yang dilindas sejarah.

Dengan begitu, lewat buku Pram menawarkan dunia. Dunia yang diyakininya benar. Dunia orang-orang yang disepelekan sejarah. Orang-orang menyebut usaha ini adalah usaha penulisan sejarah senyap. Yakni, sejarah orang-orang tak terdengarkan. Jika saja bukan usaha Pram menuliskan kembali biografi Tirto Adhi Surjo, mungkin tokoh sentral lahirnya kelompok cendekia yang menulis di awal abad 20-an akan terhapus dari sejarah. Lalu kisah orang-orang anonim, tapi penting dalam proses pembentukan kota, peradaban, dan karakter-karakter yang dikandungnya dibasahi Pram dalam bentuk karya imajinasi. Jadilah dunia dalam buku Pram menjadi dunia tersendiri, merdeka, dan sekaligus merangsang pikiran untuk mendudukkan Indonesia dalam konteks yang lebih khusus.

Dengan cara menulis buku itulah Pram menawarkan Indonesia kepada dunia. Tak ada yang lain cara efektif yang dipahami Pram selain dengan buku. Terlalu serak dan pendek umur ucapan sebuah pidato atau semua teriakan. Buku yang punya usia memanjang. Buku adalah arsip. Dan arsip adalah nyawa sebuah bangsa, lengkap dengan segerbong kisah-kisah kemenangan dan kekalahannya. Karena itu novelis eksil Ceko, Milan Kundera, menjadi benar ketika berseru: “Untuk menghancurkan sebuah bangsa, bumihangus buku-bukunya. Niscaya bangsa itu akan lupa. Dan saat itulah ia akan hancur.”

Tak hanya itu, dengan buku itu pula Pram memperkenalkan sekaligus memaklumkan dirinya di hadapan publik dunia. Bagi peradaban maju, usaha-usaha yang dilakukan pribadi-pribadi seperti Pram ini mendapat apresiasi dan kedudukan yang sangat tinggi. Oleh karena peradaban disebut tinggi tatkala masyarakatnya menghormati kerja-kerja arsip dan penulisan. Kerja-kerja itu adalah kerja pengabadian ingatan. Dan Pram melakukan itu dengan tekun dan sungguh-sungguh. Lalu menjelmalah ia menjadi suara lain Indonesia; suara yang tak seragam sebagaimana yang diyakini rezim yang melingkupinya.

Pram memang berambisi besar menjelaskan Indonesia secara tuntas. Maka dia baca buku-buku sejarah, lalu dia tafsir, dan tafsirnya itu berbuah novel. Namanya novel sejarah. Pram juga tak berkutat pada novel untuk menjelaskan Indonesia. Lalu ia memilih menggunting koran sebagai sebuah kegiatan untuk merangkum Indonesia dalam dunia paling pribadi dan intim Pram. Ia membuat kronik, ia membuat ensiklopedia yang mencitrakan kawasan Indonesia yang beragam, indah, dan kaya tetapi diperintah oleh penguasa-penguasa yang bebal dan jahat.

Kegiatan menulis buku yang setebal-tebal bantal itu dilakukan Pram bukan usaha angin-anginan atau iseng-isengan untuk kebutuhan diri sendiri, tapi diniatkan sebagai tugas nasional. Secara pribadi dan tanpa disokong serta diperhatikan pemerintah, ia bekerja sendiri melakukan itu. Ia bangun sendiri koleksinya, ia rancang sendiri waktu kerjanya dengan kedisiplinan yang luar biasa.

Karena semangat kerja yang dingin, sepi sunyi, dan sendirian itu ia menjadi terlihat sangat individualis dan sekaligus menjadi buku polemis. Sebab ia tak mau menurut dengan asumsi umum yang lazim karena memang masyarakat umum dan pemerintah tak mau tahu dengan dirinya. Dan karakter Pram seperti itu yang menjadikan karakter bukunya menjadi keras dan ofensif.

Sejarah telah mencatat serapi-rapinya bagaimana sikap Pram yang tak mau tunduk kepada aliran kawan-kawan yang dulunya seperjuangan di Gelanggang Merdeka yang juga di sana ia pernah berperan. Ketika ia ditunjuk untuk menjadi pengasuh Lentera, lembar kebudayaan Harian Bintang Timoer yang berafiliasi secara sikap dan mata ideologi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), ia gigih melakukan polemik dan menantang siapa pun di luar posisi dan sikap yang dibangunnya. Salah satu esainya yang keras, panas, dan menantang: “Jang Dibabat dan Jang Tumbuh”, adalah bukti dari mendidihnya polemik. Dan Pram adalah buku yang berada di titik bara itu.

“Dalam menulis saya harus menciptakan kebebasan diri sendiri,” tegasnya. Dan kebebasan itu memang ia ambil. Tak tanggung-tanggung kata-katanya yang ofensif menyeru-nyerukan serangan kepada setiap kelembekan sikap dan ketakjelasan posisi yang itu bisa menghalau jalannya revolusi yang diyakininya membawa Indonesia ke jalur yang benar. Benar atau salah sikap yang diambil Pram dalam irama politik yang menghentak dan meraung-raung waktu itu, Pram dengan kebebasannya sudah memilih posisi dan sikap. Dan pilihan itu mengantarkannya dalam penderitaan yang panjang dan melelahkan.

Dalam acara bedah buku Pram pada 2003, ziarawan Taufik Rahzen mengandaikan tiga tali simpul dari karya-karya Pramoedya. Simpul kesatu adalah kebenaran. Kebenaran bukan kekuasaan. Kebenaran menuntun sementara kekuasaan memerintah. Kebenaran seperti halnya traktat sejarah adalah tempat orang melanglangi dunia. Kebenaran adalah asas adalah lentera ke mana seseorang melangkah. Dengan kebenaran seseorang jadi tahu dari mana ia berangkat dan mengikuti ke mana pendulum tujuannya bergerak.

Simpul kedua adalah keadilan. Kebenaran harus ditabrakkan dengan kenyataan sosial dalam sirkulasi yang dialektis. Kebenaran yang tidak menyata dan memperjuangkan keadilan bukanlah ajaran, melainkan penjara langit. Di simpul keadilan ini kebenaran diuji dalam golak sejarah, baik di ranah struktural (kekuasaan politik) maupun kultural (strategi kebudayaan). Pertautan antara kebenaran dan keadilan itu yang melahirkan simpul ketiga, yakni keindahan.

Keindahan yang dipahami Pramoedya tidak sama dengan keindahan yang dikonsepsikan oleh kalangan Balai Pustaka dan pewarisnya, yakni kemahiran mengutak-atik bahasa. Bagi Pramoedya, keindahan terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan.

Lalu ia pun dituduh komunis karena “keindahan” yang diyakininya itu. Dengan simpul keyakinan berkaryanya Pram menjadi buku yang mengambil sikap menolak tuduhan sebagai komunis walau ada beberapa sikap kesastraannya bertemu secara khusus, seperti menulis bukanlah kerja salon para pesolek yang bersunyi-sunyi ria bahasa sastranya, tapi kerja dalam pusaran perikehidupan rakyat banyak yang tertindas.

Posisinya pun bisa disamakan dengan John Steinbeck. Steinbeck adalah pengarang yang memperjuangkan nasib buruh tani di California dengan melukiskan kesengsaraan mereka. Seperti halnya Pram, ia menuliskan keadaan manusia yang dilupakan, yang ditindas, atau dianggap sampah oleh masyarakat. Karyanya The Graps of Wrath sempat menimbulkan reaksi dari masyarakat termasuk anggota Konggres AS. Dan tak main-main, buku ini mengantarkan Steinbeck menyandang stigma sebagai “komunis”.

Dan Pram juga bernasib sama; hanya karena ia dan buku-bukunya menyeru, menyeru, menyeru, karena revolusi menghendaki semua-mua pengorbanan.

Pram adalah buku yang sendiri yang secara kebetulan atau tidak memang condong ke kiri. Mengacu pada ucapan Njoto, salah seorang otak teks Manifesto Kebudayaan Wiratmo Sukito mengatakan bahwa Pram termasuk orang paling berbahaya, kekiri-kirian, dan akan datang masanya menjadi marabahaya bagi organisasi (Lekra atau lebih luas PKI). Pram bukannya tak sadar dengan ucapan Njoto itu dengan bukti sejumlah sinisme yang dilontarkan lewat Pojok Harian Rakjat, yang memang hanya diketahui oleh kalangan internal dalam jumlah terbatas.

Pertama-tama Lekra mengucilkan Pram dengan sejumlah prakarsanya yang tak pernah ditanggapi, bahkan diterima dengan dingin, yang sebenarnya terlalu banyak untuk diperinci.

Pram juga merasa mulai tersudut dalam organisasi ketika Lekra merasa perlu menempatkan tenaga dari Jawa Tengah untuk “membantu” kerjaan Pram yang Pram tahu betul sosok itu tak lain daripada melakukan tugas sebagai anjing pelacak, sedang di luar kehadiran Pram, “pembantu” itu melancarkan propaganda yang mendiskreditkannya. Bahkan ketika Pram berada dalam tahanan Salemba di Jakarta. “Ini merupakan kesadaran terlambat yang sungguh-sungguh pahit, mengingat, bahwa saya bersedia menerima pengangkatan jadi anggota pimpinan Lekra untuk diajar berorganisasi, dididik. Apa yang saya harapkan tidak pernah terpenuhi. Sampai sekarang tetap seorang individualis, dan pengalaman-pengalaman besar belakangan semakin memperkuat individualisme saya.”

Ya, Pram memang buku yang kukuh dengan sikap individualitasnya yang menjulang. Ia ingin merangkum segalanya dalam dirinya. Termasuk persepsi tentang negara, pemerintah, perilaku pembesar-pembesarnya, erangan manusia-manusia yang dibekuk olokan sebagai sampah-sampah dalam masyarakat. Ia adalah buku yang bersikap, mandiri, dan konsisten. Jasad Pram telah turun ke liang gelap. Pram tiada. Tapi bukunya tetap hadir. Pikirannya gentayangan.

Surga pun mungkin tak ada buat Pram, sebab ia memang tak hadir di sana. Pram hadir dan tertinggal di setiap nadi pembacanya yang mencintai sepenuhnya sosok-sosok yang mengembara dalam buku Pram; bahkan pembaca-pembaca terjauh yang tak pernah Pram bayangkan sosoknya.

Di hati jutaan pembacanya itulah surga terindah Pram. Dan di surga itu, Pram hadir dan suaranya menggema serta terus menyeru, menyeru, menyeru: “Angkatan muda harus bisa melahirkan pemimpin dan jangan jadi ternak saja yang sibuk mengurus diri sendiri. Angkatan muda harus bekerja dan berproduksi. Jangan jadi pengonsumsi. Negara ini sudah terpuruk karena konsumsi terus-terusan. Bahkan tusuk gigi pun harus diimpor. Memalukan.”
[+baca-]

Pram, Angkatan Muda, dan Revolusi

Oleh Muhidin M Dahlan

“Angkatan muda harus punya keberanian. Kalau tidak punya, sama saja dengan ternak yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri.”
--Pramoedya Ananta Toer

“Suara itu tak bisa dipenjarakan/ di sana bersemayam kemerdekaan/ apabila engkau memaksa diam/ aku siapkan untukmu: pemberontakan!”
--Wiji Thukul, Sajak Suara

Hingga hayat menjadi mayat, siapa kalangan yang paling dirindukan Pramoedya Ananta Toer?

Keluarga? Bukan! Pram merindukan angkatan muda yang harus terlahir dan mengisi perut sejarah. Kerinduan yang tentu saja tak mengada-ada—sebagaimana Bung Karno pernah meretorikakan bahwa dengan hanya 100 angkatan muda di sekelilingnya ia bisa melakukan apa pun, bahkan menggeser gunung yang kokoh sekalipun.

Telah ditancapkan Pram hasrat kerinduan itu dalam karya tulisnya dan juga pengalaman pahitnya mereguk nyinyirnya pekat derita. “Apa yang tidak dirampas dari saya. Naskah saya. Hidup saya. Masa muda saya yang kreatif. Semuanya.”

Sebuah kerinduan akan kemudaan yang wajar. Sebab dalam diri angkatan muda telah terpacak dan tersemayamkan ruh heroisme, gairah yang meletup, dan kreativitas yang tak terbatas. Tapi rezim-rezim diktator umumnya tidak suka dengan heroisme itu, letupan gairah itu, kreativitas itu. Hubungan hambar keduanya tergambar dengan apik dalam bait puisi Thukul, “Bunga dan Tembok”: “Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki tumbuh/ Engkau lebih suka membangun/ Rumah dan merampas tanah// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang tak/ Kau kehendaki adanya/ Engkau lebih suka membangun/ Jalan raya dan pagar besi// Seumpama bunga/ Kami adalah bunga yang/ Dirontokkan di bumi kami sendiri// Jika kami bunga/ Engkau adalah tembok/ Tapi di tubuh tembok itu/ Telah kami sebar biji-biji/ Suatu saat kami akan tumbuh bersama/ Dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ Dalam keyakinan kami/ Di mana pun tirani harus tumbang!”

Namun, dengan segala kekuatan aparatusnya, rezim diktator hampir selalu “berhasil” menyumpal keberingasan angkatan muda dan mencampakkan “bunga yang tak dikehendaki” itu ke tong-tong sampah kebudayaan.

Penyumpalan itu, bila berhasil, biasanya melahirkan angkatan muda yang kerdil, ngambang, omongnya banyak isi otaknya sedikit, tahunya hanya obat-obatan terlarang, dan kreativitasnya hanya melulu di selangkangan. Generasi seperti itu sebetulnya yang diinginkan oleh rezim diktator di mana pun. Adapun generasi yang berpartisipasi membangun negeri dengan pikiran cerdas dan kritisnya dianggap sebagai parasit.

Karena dianggap parasit, mereka pun wajib basmi. Pada akhirnya, jangankan berharap menjadi pahlawan, mereka sebaliknya dipandang tak ubahnya bromocorah.

“Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada yang peduli di tanah air kita ini… dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa menjadi bintang. Sekarang, bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan,” ujar Pram dalam sebuah perbincangan dengan penyair Eka Budianta. (Temanku Pujangga, 1986: 18)

Pram adalah salah satu bintang yang dipadamkan itu. Hampir separuh hidupnya terpaksa ia habiskan dalam gelap pekatnya penjara—sebuah wajah semesta paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru tanpa proses pengadilan. Walaupun pada 21 Desember 1979 Pram mendapat sepucuk surat pembebasan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S/PKI, toh ia tetap dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara, hingga 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama dua tahun.

Boleh jadi sosok Pram memang sengketa. Sosok yang berlumur noda bagi lawan-lawan politik berkeseniannya. Tapi keyakinan Pram akan kedahsyatan angkatan muda memutar turbin sejarah tak pernah surut. Di halaman-halaman ceritanya keyakinan itu kita baca dengan lugasnya. Tetralogi Pulau Buru, khususnya Rumah Kaca (2000: 145-146, 149), keyakinan itu sudah terpancang dalam-dalam: “Salamku pada Raden Mas Minke. Pada kalian aku berpesan, hendaknya ia jangan dilupakan. Dialah sang pemula, karena dialah orang pertama-tama yang menyuluhi bangsanya dan memimpin kalian… belum pernah dalam seratus tahun ini seorang pribumi karena kepribadiannya, kemauan baik, dan pengetahuannya dapat mempersatukan ribuan orang tanpa mengatasnamakan raja, nabi, wali, tokoh, wayang atau iblis.

Minke adalah tokoh utama novel itu. Seorang anak muda terpelajar yang sadar akan posisi politik bangsanya di pusaran politik dunia. Di pundak anak muda ini juga feodalisme dicungkil sedemikian rupa yang menjadi salah satu akar-sebab mengapa manusia nusantara sekian abad berjiwa jajahan, jongos, babu, dan hamba. Menurut Pram, punahnya manusia berjiwa merdeka disebabkan oleh keyakinan feodal bahwa di alam ini hanya ada satu matahari, satu bulan, satu bumi, satu raja, satu bangsa, yakni bangsa Jawa.

“Aku mengangkat sembah sebagaimana aku lihat dilakukan punggawa terhadap terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu.... Sembah—pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” (Bumi Manusia, 2000: 132)

Angkatan Muda dan Pembajakan Revolusi

Angkatan muda dan revolusi adalah dua mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Dalam kacamata para ideolog maupun sosiolog, revolusi selalu berarti manifestasi perubahan sosial yang paling spektakuler. Menyambangi kutipan dari pelbagai teori perubahan sosial, Jalaluddin Rakhmat dalam Rekayasa Sosial (2000: 199-201) memetakan secara simplifikatif namun cerdas definisi revolusi dalam tiga kelompok cara pandang.

Kelompok kesatu melihat revolusi sebagai transformasi masyarakat yang fundamental dan berskala luas. Inti revolusi terletak pada keluasan dan kedalaman perubahan. Meliputi segala bidang. Di sini, revolusi yang biasanya bersifat “sudden” dan “radical” menjadi lawan dari reformasi yang biasanya “slow” dan “partial”. Perubahan yang gradual, setahap demi setahap.

Kelompok kedua mendefinisikan revolusi dengan titik berat pada penggunaan kekerasan dan perjuangan, serta kecepatan perubahan. Di sini revolusi adalah lawan dari evolusi. Dan kelompok ketiga mencoba menggabungkan kedua definisi ini. Revolusi terpahami sebagai “perubahan domestik yang cepat, fundamental, dan penuh kekerasan dalam nilai-nilai dominan dan mitos masyarakat, dalam institusi politik, struktur sosial, kepemimpinan, dan kebijakan serta kegiatan pemerintahan” (Huntington, 1968: 264); “transformasi yang cepat, mendasar dari keadaan masyarakat dan struktur kelas… disertai atau sebagian dilakukan melalui pemberontakan dari bawah, berdasarkan kepentingan kelas” (Skockpol, 1979: 4).

Jadi, selain perubahan yang fundamental, komprehensif, dan menyeluruh, revolusi juga melibatkan mobilitas massa yang bergerak secara revolusioner. Dan umumnya disertai dengan koersi atau kekerasan. Untuk ciri yang terakhir ini kita bisa menampiknya dengan contoh lain. Sebab ada revolusi, walau tidak banyak jenisnya, sama sekali tidak memakai jalan kekerasan, seperti Gandhisme di India dan gerakan yang mendorong jatuhnya komunisme di sebagian negara Eropa Timur.

Dan semangat perubahan yang bergolak-golak itu hanya bisa ditampung dalam jiwa angkatan muda dan bukan angkatan tua. “Angkatan mudalah yang membuat revolusi,” yakin Pram. Dan tentu saja dengan segala pengorbanan yang dikehendakinya, sebagaimana termaktub dalam sepenggal kalimat tokoh muda Samaän di Keluarga Gerilya (2004: 254): “Revolusi menghendaki segala-galanya… menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini… jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu… agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan.”

Pram tidak sedang berangan-angan. Sebab sejarah membuktikan, bahwa hampir semua babakan perubahan sejarah yang terjadi di negeri ini diinisiatifi oleh angkatan muda—walaupun di kemudian hari kita ketahui sejarah itu (selalu) dibajak dan dikemplang oleh pihak-pihak di luar mereka.

Pada 1904 muncul Syarekat Priyayi yang menjadi perintis pergerakan dengan membawa setumpuk proposal awal kebangkitan kesadaran nasional. Motor utamanya adalah Tirto Adhi Surjo, seorang aktivis dan jurnalis muda, yang disebut Pram sebagai “Sang Pemula yang pertama-tama di garis terdepan dan sendirian menyuluhi bangsanya dan sekaligus memimpinnya”. Di situlah revolusi pertama bermula, yakni revolusi kebudayaan dengan menitikberatkan pada isu-isu pendidikan dan keinsyafan kemanusiaan di kalangan priyayi, ulama, dan intelektual.

Lalu pada 1928. Menyatunya kesadaran berbangsa angkatan muda yang kemudian melahirkan sumpah pemuda merupakan buah dari tersatukannya kekuatan kebudayaan yang terserak dari pelbagai daerah dan etnik.

Tahun-tahun sebelum 1945, aktivis-aktivis muda telah mempersiapkan sedini mungkin kemerdekaan bangsa dengan memunculkan GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia). Mereka membuat Kongres Indonesia Raya atau Indonesia berparlemen yang diselenggarakan di Bandung pada 1938. Yang terjadi sepanjang 1939-1945 itu sebetulnya revolusi politik yang kemudian melahirkan revolusi militer atau yang kita sebut dengan revolusi kemerdekaan. Tapi pada akhirnya revolusi yang digerakkan angkatan muda itu dibajak. Di situ angkatan muda dianggap sebagai tokoh-tokoh yang tak diperhitungkan, tokoh-tokoh anonim yang cenderung disepelekan. Yang keluar bukanlah angkatan muda, tapi agen-agen yang dikuasai militer, dalam hal ini Angkatan Darat.

Kondisi yang hampir sama terjadi lagi pada 1968. Walaupun pada 1966 angkatan muda terlihat bergerak, tapi pergerakan mereka adalah pergerakan yang bimbang. Arus besar yang massif itu adalah arus “pesanan”. Ada Angkatan Darat yang menyetir dan menggembalakan gerakan angkatan muda ’66 itu. Akibatnya, seusai peralihan licik kekuasaan dilakukan, roda pemerintahan kembali dikuasai oleh militer. Tapi militer yang muncul—meminjam jargon kurator politik, Mochtar Pabotinggi—adalah militer yang berdagang dan bukan militer yang ksatria. Militer yang berdagang adalah militer yang tak pernah menang perang, dan hanya bisa menghantam dan menembak rakyatnya sendiri.

Dan pada 1998, tentara yang berdagang ini pada akhirnya juga jatuh oleh soal ekonomi. Bom atom krisis ekonomi yang terjadi 1997 dan meletuskan revolusi angkatan muda 1998 menjatuhkan rezim militer yang berdagang ini. Tapi lagi-lagi sejarah itu dibajak. Angkatan muda lagi-lagi terbenam di pusaran tanah ketiadaan peran. Kunci-kunci penting jalannya roda pemerintahan kembali jatuh ke tangan—kali ini bukan militer—tapi angkatan-angkatan tua yang korup yang dulunya kebanyakan disuapi oleh orde “militer yang berdagang”. Fenomena yang menggenapi sebutan ironis bahwa negeri ini benar-benar negeri para tersangka.

Dengan suara kasar sedikit galak, Pram pada akhirnya jatuh pada kesimpulan bahwa angkatan tua-lah yang sebetulnya menjadi biang kerok kehancuran zaman yang kemarin-kemarin itu dan hari ini. Dalam novel Larasati (2003: 22) Pram menulis, “Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi.” Dalam novel Anak Semua Bangsa (2000: 66) Pram menulis, “Semua percuma kalau toh harus diperintah Angkatan Tua yang bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma, Tuan. Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan.”

Kini, di usia tuanya yang sepi, di atas kursi sandarnya sambil mengisap dalam-dalam rokok kretek favoritnya, matanya kerap menerawang. Bertanya-tanya, ke mana saja anak muda itu kini. Kenapa revolusi terganti oleh reformasi yang pada akhirnya mandek.
Namun barangkali ia tak usah terlampau sewot dengan pembajakan dan pengemplangan revolusi itu. Sebab berulangnya peristiwa itu sudah sejak awal diketahuinya lewat informasi dari timbunan arsip sejarah di perpustakaan pribadinya yang kemudian dituangkannya dalam lembar-lembar kisah novelnya. Bukankah pembajakan dan pengemplangan awal sudah terjadi bahkan sejak zaman Arok di abad 12 dan akan terus berulang entah sampai kapan akhirnya?

Angkatan Muda dan Proposal Indonesia Muda

Sejarah sudah dan sedang berlangsung. Tak ada satu pun kekuatan yang menghentikan lajunya. Manusia-manusia di dalamnya terus bergerak. Terus bergegas. Revolusi datang dan pergi tanpa pernah terduga. Melenyapkan tiran dan melahirkan tiran-tiran baru. Angkatan muda terus bermunculan tanpa henti dari rahim-rahim sejarah ibundanya.

Pergerakan dan penggantian itu seperti hukum alam yang tak bisa ditampik. Cuma, di tengah setiap kelahiran tiran dan berkuasanya angkatan tua yang korup itu, tampaknya angkatan muda memerlukan lentera yang bisa terus menyulut obor semangat mereka merawat asa untuk terus waspada dengan pergerakan dan perubahan zaman dari caplokan tangan angkatan tua yang pragmatis dan tak tahu diri.

Di titik ini Pram telah menunaikan tugasnya. Tulisan-tulisannya yang tak pernah terkubur oleh lupa yang disusuk mesin kuasa, akan selalu memanggil-manggil semangat kemudaan itu. “Jangan lupakan anak muda. Mereka sedang melahirkan sejarah!”

Kata-kata itu hendak meneguhkan kredo bahwa proposal perubahan masa depan selalu berada di tangan angkatan muda. Sebagai kekuatan yang menggerakkan, angkatan ini bangkit menjadi pemutar baling-baling sejarah masa depan. Di jiwa merekalah terteken sebuah kehidupan yang baru. Sebuah Indonesia Muda.

Tapi angkatan muda yang diharapkan Pram untuk melahirkan Indonesia Muda adalah angkatan muda yang kreatif, bangga diri karena punya semangat untuk bekerja dan berkarya, dan memiliki keberanian hidup. Sebagaimana kegigihan dan keberanian yang telah ditampilkan sederetan tokoh-tokoh dalam novelnya: Minke, Saäman, Midah, Gadis Pantai, Farid, Larasati, Galeng-Idayu, dan seterusnya.

“Kalau mati dengan berani. Kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada—itulah sebabnya semua bangsa asing bisa jajah kita.”
[+baca-]

9 Karya Pram Pilihan Indonesia Buku

Oleh Editor

Ada yang bagus, ada yang buruk. Ada yang kualitasnya menjulang langit, ada yang datar-datar saja. Dari sekira 40 judul karya Pramoedya, Indonesia Buku memilih 9 yang terbaik. Barangkali Anda tak setuju. Tak apa.

BUMI MANUSIA
Bagian pertama dari Kuartet Buru. Bumi Manusia bisa kita sebut saja sebagai periode penyemaian dan kegelisahan. Dalam Bumi Manusia, Minke, sang aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka. Dengan jalan apa? Dengan jalan pendidikan. Pendidikan, oleh Minke, menjadi senjata dengan mata mengarah pada dua titik utama. Mata pertama mengarah pada usaha menusuk jantung kepriyayian dan kejawaannya biar mampus dan kedua membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

ANAK SEMUA BANGSA
Bagian kedua dari Kuartet Buru. Anak Semua Bangsa adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

RUMAH KACA
Bagian terakhir dari Kuartet Buru. Rumah Kaca agak unik dibandingkan dengan tiga seri sebelumnya yang memberi porsi kepada Minke untuk bergerak leluasa. Pada bagian ini, tokoh utamanya adalah peranakan Belanda yang bernama Pangemanann. Di dalamnya terlukis bagaimana sistem pengarsipan ditujukan untuk meninjau semua sudut pergerakan manusia-manusia Indonesia. Dan Rumah Kaca pun menjadi metafora pascakolonial bagaimana kita dikuasai sampai ke tulang sumsum oleh konspirasi internasional hingga tak ada lagi disembunyikan. Di titik ini, para aktivis pergerakan hanya termangu menanti bui dan ajal.

BUKAN PASAR MALAM
Menurut Romo Mangunwidjaya, inilah novel Pram yang paling menonjol dan paling disukainya. Sebabnya sederhana: belum tersentuh oleh tangan-tangan politik penulisnya. Novel ini pun sangat manis dan liris karena ia mengangkat hal-ihwal sehari-hari dan jauh dari tema besar bergebyar-gebyar. Sejatinya novel ini adalah novel biografis penulisnya di hari-hari jelang ayahnya wafat di Blora. Ia mampu menyajikan dialog-dialog yang menyentuh. Juga tentang renungan soal hakikat hidup dan kematian manusia yang bukan seperti pasar malam.

CERITA DARI BLORA
Jika ingin melihat kehidupan keluarga Pram di kampung, bacalah buku ini. Buku ini memotret dengan jeli bagaimana kehidupan keluarga Pram: hiruk-pikuk karena anak-anak yang hadir sangat banyak di zaman ketika perlawanan disusun. Juga getirnya keluarga ini ketika bangkrut. Ke-11 cerita dari Blora ini sekaligus potret paling sederhana bagaimana sebuah keluarga mempertahankan martabatnya yang dilibas derita dan nasib suram. Cerita tentang manusia Indonesia yang telah membayar kemerdekaan dengan mahal sekali dalam dunia yang penuh ketakadilan.

ARUS BALIK
Inilah epos besar yang berkisah tentang sisa perjuangan manusia Nusantara menghalau datangnya kekuatan-kekuatan Utara (Eropa) yang hendak merayah dan mem-bedung setiap butir pasir Nusantara pada warsa-warsa awal abad 16. Pada saat itu, Nusantara yang terkenal karena kemegahan baharinya, seperti kena gulung badai dari semua penjuru laut peradaban. Kemerosotan menggumpal di mana-mana, menghantam apa saja yang tersisa. Kemerosotan itu ditandai dengan tergusurnya pemikiran tentang kelautan sebagai basis kekuatan ekonomi dan politik oleh armada darat. Dan semuanya rontok.

GADIS PANTAI
Gadis Pantai adalah novel yang tak selesai (unfinished). Sejatinya, roman ini merupakan trilogi. Disebabkan vandalisme rezim, dua novel berikutnya lenyap. Inilah roman yang mengambil kisah kehidupan nenek Pram sendiri yang selama hidupnya tak pernah ia kenal namanya. Karena itulah dinamainya Gadis Pantai. Roman ini sungguh indah dan mempesona. Ia membongkar—setidaknya memperlihatkan—kontradiksi negatif praktik feodalisme Jawa yang tak memiliki sedikit pun adab dan jiwa kemanusiaan. Roman ini menusuk feodalisme Jawa tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.

SANG PEMULA
Dalam lipatan lusuh sejarah Republik, nama Tirto Adhi Surjo memang sempat hilang dan terkubur dalam ingatan kolektif masyarakat. Padahal di pergantian abad, nama ini tampil sebagai pribumi pertama yang membebaskan diri dari manusia yang hanya menjadi budak administrasi kekuasaan kolonial. Lewat tulisannya dan perjuangan yang dilakukannya lewat lembaran koran yang diciptakannya, Medan Prijaji, disuluhnya bangsanya. Dititipkannya rasa mardika dalam hati pribumi serta digerakannya hati itu dalam mesin organisasi modern. Pram dengan kegigihannya menampilkan tokoh “anonim” ini ke pentas sejarah nasional.

PERBURUAN
Bagi Pram, novel Perburuan adalah novel pertamanya yang ditulis dengan perasaan mistis yang sulit dilupakan. Dan inilah novel yang diganjar hadiah oleh bangsanya sendiri pada tahun 50-an; satu-satunya penghargaan bangsanya hingga wafatnya datang (di luar piagam penghargaan PRD). Ditulis dalam penjara, novel ini mengambil seting cerita ketika Indonesia dalam pendudukan brutal Jepang selama Perang Dunia ke-II. Sebuah ramuan cinta eksplosif, pengkhianatan, kolaborasi, dan balas dendam. Tapi bukan aksi kemenangan militer dalam arti politik. Ia lebih merupakan kisah kontemplatif sekaligus garis kaidah untuk diri sendiri dan bagi orang lain di mana setiap hidup dan perbuatan harus diuji.
[+baca-]

Pengembaraan Anak-anak Ruhani Pram

Oleh Editor

Anak-anak rohaninya
merayap hidup tak bertepi
cerca nista fitnah durhaka
hadir bak menawar harga

-- Ben Bela, “Itulah Ia”, 9 Desember 1998

Bagi yang tak mengenalnya secara intens dan dekat, Pramoedya Ananta Toer memang terkesan sebagai pribadi yang dingin. Apalagi jika ditanyakan hal-ihwal perpustakaannya yang dibakar militer, sontak wajahnya yang tadinya sumringah akan memerah. Dan dari pita suara tuanya, keluar getaran yang terpatah-terpata. Serupa amarah yang tertahan sekian lama.

Atau bisa juga diartikan bahwa itu erangan yang tak sampai, tapi tetap ia pelihara dalam ingatan lalu dikeluhkannya kepada mereka yang hadir di depannya. Kapan pun, di mana pun. Itulah strategi Pram mengingatkan pembacanya sebuah episode di mana tempat persemaian anak-anak ruhaninya dijarah oleh tangan-tangan vandal.

Betapa pentingnya perpustakaan itu bagi Pram. Di sana bukan hanya mengendap buku koleksi-koleksinya yang dia bangun bertahun-tahun, tapi juga di sana ada keintiman dan serangkaian memori panjang tentang penciptaan. Pengarang adalah seorang pencipta. Pencipta semesta. Serupa betul dengan Tuhan. Jika Tuhan punya semesta, maka pengarang punya perpustakaan sebagai semesta persalinan.

Bagi Pram, karya-karyanya adalah anak-anak ruhaninya. Dan anak-anak itu dilahirkannya dalam perpustakaannya. Perpustakaan Pram tak hanya di rumah dalam pengertiannya secara harfiah, tapi juga dalam reruntuhan perang maupun comberan penjara (baca: Buku, Perang, dan Penjara). Di suasana perpustakaan yang demikianlah terekam dengan baik bagaimana persalinan itu terjadi. Bagaimana Pram dengan pertaruhan nyawa, erangan, sakit tak terkira, dan was-was melahirkan ratusan anak ruhani, baik yang terbit maupun yang masih berserak. Dan Pram sadar bahwa anak-anak ruhani itu berlain-lainan wataknya. Oleh sebab itu, Pram membagi cintanya.

“Tak ada yang buruk, tak ada yang bagus. Semuanya anak-anak ruhani saya. Saya perlakukan semuanya sama,” kata pram berkali-kali ketika berkali-kali orang-orang menanyakan yang manakah karya yang paling disukainya. Dan sebagai orang tua yang baik bagi anak-anaknya Pram selalu menjawabnya dengan diplomatis. “Semua karya saya punya sejarah hidup masing-masing.”

Pram hendak memastikan bahwa anak-anak ruhaninya ada yang lahir di rumah yang teduh, di medan perang, penjara, maupun kamp kerjapaksa. Maka dari itu wajar wataknya juga beda-beda. Ada yang bengal, keras kepala, sopan, romantik, militan, maupun datar-datar saja. Dan anak-anak ruhani yang berlain-lainan itu telah mengembara memutari hampir seluruh dunia.
[+baca-]

Yang Terancam Karena Anak-Ruhani Pram

Oleh Muhidin M Dahlan

"Kamu jangan takut untuk maju dan bicarakan ide-ide kamu. Sekali kamu
takut, kamu kalah."
-- Pramoedya Ananta Toer

Dulu, aktivitas membaca anak-anak ruhani Pram serupa dengan kerja menghisap ganja. Tak bisa dilakukan terang-terangan karena memang terlarang. Anak-ruhani Pram adalah barang tabu kelas-A. Membawanya harus hati-hati dan “kreatif”. Mengonsumsinya apalagi. Mesti sembunyi-sembunyi. Dan memang, anak ruhani Pram tak beda dengan ganja. Membuat pemakainya kecanduan. Membacanya seperti tak mau berhenti-berhenti.

“Bumi Manusia saya baca semalam suntuk,” aku pendiri Partai Rakyat Demokratik Budiman Soedjatmiko yang saat itu duduk di bangku SMA.

“Saya harus menyiapkan waktu dua hari cuti dari kantor untuk menyelesaikan novel Arus Balik. Sehari untuk baca, sehari untuk tidur,” kata pengamat politik Eep Saefulloh Fatah.

Novelis muda Eka Kurniawan bahkan memilih di jalur sastra karena kecanduan dengan karya Pram. “Saya hampir memutuskan berhenti di sastra. Tapi setelah membaca karya Pram membuat saya seperti diinsyafkan bahwa sastra itu bagus dan menulisnya punya guna,” katanya.

Karena serupa candu, maka transaksi novel-novel Pram harus ekstra waspada. Sebab hampir semua mata aparat diletakkan di semua sudut pelosok Indonesia. Terutama di kampus-kampus tempat para aktivis berkumpul. Buku yang beredar pun hampir tak ada yang asli. Semuanya fotokopi dan kebanyakan tak bersampul. Ia tak aman dibawa terus-terusan dalam tas. Jika ada yang berminat, maka buat dulu janjian ketemuan.

Tak syak lagi, karya Pram menjadi semacam bacaan wajib aktivis dan simbol perlawanan aktivis yang hidup 1980-an. Mereka biasa menghidupkan pelbagai forum diskusi dan kelompok.

Di UGM misalnya, berserakan kelompok diskusi mahasiswa kritis. Yang terkenal di antaranya Kelompok Studi Sosial Palagan, Dasakung, maupun Teknosofi.

Di kelompok-kelompok ini anak-ruhani Pram hadir dan hidup. Saat itu menjual karya pram adalah aktivitas heroik, dan sekaligus subversif. Apalagi Kejaksaan Agung RI sudah mengeluarkan SK pelarangan atas semua karya Pram.

Ditangkapnya tiga aktivis Yogyakarta pada 1989 menjadi jejak paling gelap bagi mereka yang keras kepala membaca dan menyebarkan anak-ruhani Pram. Ketiganya adalah Bambang Subono, Bambang Isti Nugroho, dan Bonar Tigor Naispospos. Mereka dibui dengan dakwaan melakukan tindak pidana subversi.

Bonar Naispospos mendapatkan hukuman paling berat karena dituduh sebagai aktor intelektual dalam pengedaran buku-buku Pram. Aneh bin ajaib, ia tak pernah tertangkap tangan aparat memegang langsung karya Pram. Bahkan di rumah kosnya sekalipun tatkala digeledah. Yang justru menyeretnya adalah fotokopi diktat kuliah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, tentang pemikiran Karl Marx. Diktat yang teronggok di kosnya itu ditulis Franz Magnis-Suseno. Tak pelak lagi Bonar pun dijerat pasal subversif 8 tahun 6 bulan penjara dengan delik penyebaran paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Lain dengan Bambang Subono yang ditangkap ketika masih aktif sebagai Ketua Kelompok Studi Sosial Palagan (KSSP) Yogyakarta. Ia terbukti dan sah membaca dan mengedarkan tetralogi Pram yang masih dalam bentuk fotokopi ketikan naskah aslinya. Ia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara dengan delik yang sama dengan Bonar.

Sedangkan Bambang Isti Nugroho kedapatan membawa novel Rumah Kaca dalam tasnya dalam sebuah razia. Ia pun digelandang dalam bui. Menurut Bambang Isti sebagaimana dikutip Kompas, tahun 1985 adalah tahun-tahun puncak bagaimana mereka kejar-kejaran dengan aparat. Apalagi hampir seluruh aktivis di Yogya, Bandung, dan Surabaya membaca dan memiliki tetralogi Pram. Lebih lanjut Isti Nugroho mengatakan yang digambarkan Pram dalam Rumah Kaca sangat mirip dengan suasana ketakutan aktivis penentang Soeharto seperti dirinya yang waktu itu disatroni atau dalam istilah Pram di-rumahkaca-kan.

Anak-ruhani Pram memang memiliki laci tersendiri dalam ingatan kolektif pembaca buku di Indonesia. Ia, dalam istilah mantan aktivis pers kampus Balairung UGM, M Thoriq, adalah simpul yang bisa mempersatukan aktivis anti-Soeharto. Sekarang pun, anak-anak ruhani Pram pun masih bergaung, walau tak semenakutkan ketika berada dalam masa represi Orde Baru.

Bahkan, membaca karya Pram menjadi prasyarat untuk masuk dalam kelompok tertentu. Ziarawan Taufik Rahzen misalnya. Untuk menerima calon karyawan di kantornya, ia cukup menanyai apakah sang calon itu sudah membaca karya Pram dan judul apa yang dibacanya itu. Jika sudah membaca dan bisa menjelaskan bacaan hasilnya, otomatis diloloskan.

Itu pula yang dilakukan Didik Supriyanto, salah satu senior di situs detik.com. Wartawan muda yang direkrutnya akan ditanyai tentang buku Pram. Pram pun menjadi standar dari sebuah kemajuan penguasaan wacana. Pram adalah simbol. Tak hanya keseksian wacana, tapi juga keluasan akses bacaan. Dan anak-ruhani Pram menyediakan kebutuhan itu. Membaca karya Pram sudah separuh jalan melawan.

Dan saat ini, membaca karya-karya Pram kini menjadi aktivitas yang kian seksi. Dan yang pasti, walau akses atas anak-anak-ruhani Pram itu kian mudah, masih menginspirasi banyak anak muda, mulai dari anak-anak SMU, aktivis, penyanyi, hingga artis film dan sinetron.
[+baca-]

Mata Pusaran: Yang Cacat, Yang Kembali

Oleh Muhidin M Dahlan

Dalam tahanan-alam Buru, Mata Pusaran lahir. Ia adalah trilogi kedua dari sekuel novel jatuh bangunnya kejayaan dan martabat Nusantara. Jika sekuel pertama Arok Dedes dan sekuel ketiga Arus Balik hidup tanpa cacat fisik, maka sekuel kedua Mata Pusaran lahir dengan kecacatan.

Ia tak hanya cacat, tapi juga pernah bertahun-tahun dinyatakan sebagai anak-ruhani Pram yang hilang tanpa harapan akan ditemukan kembali.

Dan kini si anak hilang itu telah ditemukan sekitar medio 1990 oleh seorang berkebangsaan Belanda di pasar buku loak Kwitang, Jakarta. Kisah Astuti Ananta Toer, kopi ketik Mata Pusaran bersama tujuh saudaranya yang lain disimpan oleh Kapten Heri di kesatuan Angkatan Laut yang kebetulan bertugas di Buru. Adapun master ketiknya dirampas Angkatan Darat dan sekarang lenyap. Tapi Kapten Heri pun tak bisa lolos dari teror. Keluarganya akan “diapa-apakan” jika tak segera menyerahkan delapan anak-ruhani Pram dalam waktu 1x24 jam.

Maka sesore itu, tutur Astuti Ananta Toer, mereka beramai-ramai mengopi naskah itu di beberapa fotokopi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Hingga pagi hari, hanya tujuh naskah yang selesai. Adapun Mata Pusaran “diikhlaskan” Pram dan keluarga lalu diambil kembali Kapten Heri untuk seterusnya pagi itu diserahkan ke pemerintah.
Hingga bertahun-tahun kemudian, anak yang terampas itu terdampar di Kwitang.

Tapi fisiknya sudah terlampau memprihatinkan dan kurus jika dibandingkan dua saudaranya yang lain yang jauh lebih gemuk. Bukan karena Pram malas menuliskannya, tapi Mata Pusaran terlalu lama tersiksa di jalanan kota jahanam dan hidup tanpa kasih dan perhatian orangtuanya karena direnggut paksa. Wajar kalau ia kembali dengan cacat bawaan yang abadi. Separuh tubuh halamannya hilang entah. Yang ada tinggal 130 halaman. Mulai dari halaman 232-362. Jadi, cerita awal dan akhir entah masih terselip di mana atau sudah terkubur mati dan tak bakal kembali.

Tapi dengan penuh kasih Pram lalu membedung anak-ruhani yang cacat tubuh itu dengan selapis selimut tebal. Dan siapa pun yang melihat motif kain bedungan anak cacat itu bakal tersenyum miris. Maklum, anak-ruhani yang hilang itu “hanya” bermantel pembungkus rokok Bentoel Royal Filter berwarna campuran kuning dan cokelat muda.

Di atas mantel sederhana itu kemudian tertulis judul dari coretan tangan: “II - Mata Pusaran”. Nama yang bertahun-tahun membikin penasaran ribuan pembaca karya Pram.
Tampangnya memang tak elegan sebagaiman buku-buku keluaran cetak mesin. Isinya masih ketik manual 1 spasi dengan kertas tipis seperti yang sering dipakai di kelurahan kalau lagi mengurus KTP atau surat pindah keluarga. Tapi ukurannya sudah seperti buku. Kertas kwarto dibagi dua, sebagaimana Pram selalu mengetik naskahnya. Header yang berisi judul buku dan nama pengarang serta nomor halaman pun sudah tertulis rapi di setiap halaman.

Karena naskah itu sudah berumur puluhan tahun, tinta ketikannya pun sudah aus dan kabur. Membacanya, mata mesti melotot awas di setiap baris ketikan dan perlu ekstrasabar untuk memamahnya.

Dalam Mata Pusaran “yang kembali” ini, hanya ada lima bab. Di mulai dari bab 10 sampai 14. Bab 10 bertitel “Arus dari Utara II” (232-262 hal), Bab 11: “Perang Lidah” (263-286 hal), Bab 12: “Bara Didalam Hati” (287-310 hal), Bab 13: “Arus dari Utara III” (311-336 hal), dan Bab 14: “Tuban” (337-362).

Memang tak sempurna dan tak laik untuk mengambil kesimpulan apa sejatinya isi novel ini. Lagi pula sebetulnya tak ada keterangan resmi bahwa novel ini kelanjutan dari Arok Dedes dan/atau novel sebelum Arus Balik selain di mantelnya tertulis: “II – Mata Pusaran”. Tapi dengan manuskrip yang cacat ini kita bisa merabai bahwa novel ini adalah sekuel kedua dengan mempertautkannya dengan urut-urutan periode sejarah Nusantara: Tumapel-Singasari (Arok Dedes), Majapahit (Mata Pusaran), dan Demak-Mataram (Arus Balik).

Dalam empat bab yang tersisa digambarkan saat-saat terakhir Majapahit meregang nyawa. Negeri yang berkuasa sangat luas bahkan sampai Burma itu harus megap-megap menahan serangan dari Utara hingga tumbang tak bersisa. Kalaupun tersisa, apa boleh buat, tinggal candi-candi yang hanya berguna untuk disembah-sembah sebagai bentuk pelarian dari kekerdilan diri yang terampas.

Dalam Arus Balik, Pram secara mengesankan berkisah bagaimana laut harus dikuasai jika ingin mengembalikan kejayaan. Sebagaimana dalam Arus Balik, maka di Mata Pusaran, Pram sudah terlihat sangat antusias membahas laut sebagai kekuatan utama menahan serangan Utara. Laut, laut, dan laut. Singasari bisa jaya dan mampu memukul armada Cina karena mampu menguasai laut. Bahkan membikin dua benteng laut yang kokoh yang kelak dinamai Dipantara. Laut, lain tidak. Laut kata kunci karena hanya dengan itu Majapahit bisa mempertahankan kejayaan leluhurnya.

Semangat itu bisa kita baca dengan jelas di lembar ketiga bab 10 Mata Pusaran, setelah Pram membinasakan tokoh Indung Mangil sang Penyihir oleh Saetu; karena irasionalitas memang harus ditumbangkan dari dalam kalau ingin menghadapi rasionalitas yang dibawa Utara dari semua jurusan laut.

“Para prajawan tak mengerti, adakah negara akan bisa bangkit kembali setelah perang lima tahun belakangan ini. Kekuasaan laut Majapahit telah ambyar bersama dengan busa. Bajak dan perompak dalam rombongan kecil merajalela di seluruh pantai. Sedang bajak dan perompak besar bergabung dengan armada pengiring dari Utara.

“Keamanan laut yang tak menentu membikin perdagangan sendat. Sisa angkatan laut yang tak seberapa dengan Laksamana Suradi ditarik untuk mempertahankan Kerajaan Majapahit atas kepulauan rempah-rempah karena dengan hilangnya kekuasaan atasnya akan berarti matinya perjuangan, matinya Gresik, dan akan membikin Majapahit kembali jadi negeri pertanian seperti pada awal berdirinya.”

Dengan demikian, Mata Pusaran adalah tafsir lain dan segar dari sejarah akhir jatuhnya Majapahit dan berdirinya Kerajaan Islam Demak yang tak disangka-sangka justru Pram memilih pusat setting pergolakan di Tuban sebagaimana kita baca di Arus Balik. Jawaban memilih Tuban itu mungkin kita dapatkan andai Mata Pusaran dibaca utuh. Tapi melihat pada bab 14 yang bertitel “Tuban” sekilas bisa memberi arah bahwa Tuban memang sudah menjadi pertimbangan pergeseran kekuasaan. Paling tidak pertahanan terakhir, walau hanya secauk pasir kejayaan.

Andai bagian tubuh Mata Pusaran itu tak ada harapan bisa kembali, tampaknya tak ada salahnya bila manuskrip yang “apa adanya” ini bisa diterbitkan. Tentu pembaca bisa memaklumi kecacatannya yang heroik dan historik ini. Inilah buku yang secara fisik dan ruhaniah digencet dan disiksa habis-habisan, sebagaimana nasib kelam yang dialami penulisnya sendiri. Tapi yakinlah, buku tak pernah bisa dihabisi oleh kekuatan zalim apa pun. Bahkan, dalam kecacatan akut seperti itu, Mata Pusaran masih sanggup memberi sejumput pencerahan.
[+baca-]

Yang Cantik Yang Tak Mudah (Di)Takluk(kan)

Oleh Muhidin M Dahlan

Pramoedya Ananta Toer dan Orde Harto ibarat air dan minyak. Bukan saja keduanya saling mendelik dingin, tapi juga melahirkan ketegangan yang rantah yang mengantarkan Pramoedya ke penjara selama 14 tahun. Tidak hanya fisiknya yang divandalisasi Orde Harto, tapi juga karya-karyanya coba dihapus dari ingatan sejarah dan publik sastra Indonesia.

Salah satu karyanya yang terlupa itu adalah Midah Simanis Bergigi Mas. Tidak seperti novel-novelnya yang lain yang sarat beban dan jalinan sejarah yang kukuh dan golak revolusi, Midah adalah novel ringan, novel remaja yang saya kira sangat pas dan uaaapik untuk dibacai murid-murid SMP dan SMU.

Novel ini ditulis Pramoedya Ananta Toer pada warsa 50-an dengan mengambil seting tempat: DJAKARTA. Novel ini—seperti nafas novel-novel lainnya—menjadikan perempuan sebagai tokoh utamanya. Nama tokoh utama itu Midah. Pendek sekali namanya. Hanya Midah. Kulitnya kuning. Wajahnya agak bulat. Kalau tersenyum, ih manisnya. Cantik parasnya, lentik suaranya, kuat hatinya.

Midah dilahirkan di tengah keluarga yang to’at beragama. Hadji Abdul nama bapaknya. Fanatik terhadap musik-musik berbau Arab. Umi Kalsum yang menjadi penyanyi favoritnya. Sampai ketika usia 9 tahun kehidupan Midah sangat enak. Ia dimanja dan dipangku-pangku. Karena memang ia anak tunggal.

Situasi berubah ketika Midah mempunyai adik yang mulai membanyak. Di rumah ia sudah mulai disepelekan. Perhatian bapaknya sudah sepenuhnya kepada adik-adiknya. Ia tak lagi dipangku-pangku. Ia tak lagi ditemani ayahnya untuk mendengarkan lagu Umi Kalsum. Midah sekarang seperti terkucil di rumahnya. Adik-adiknya telah merampas semuanya.

Karena tidak betah, Midah sering keluar rumah dan biasanya pulang sore atau bahkan malam hari. Begitu seterusnya. Tapi bapaknya cuek saja. Apalagi ibunya. Situasi tidak berubah sama sekali. Ini makin membetahkan Midah untuk bermain-main di jalanan.

Di jalanan itulah Midah kena pikat dengan pengamen keliling. Terutama lagu-lagu kroncong yang mereka bawakan. Midah senang sekali dengan keroncong. Ia ternyata sudah bosan dengan Umi Kalsum. Dibelinya beberapa piringan hitam kroncong. Sesingkat itu, Midah sudah hafal semua isinya. Saat itulah ia kepergok bapaknya. Ia dihajar habis-habisan gara-gara mendengarkan lagu haram di rumah. Di antara rasa takut berkecamuk di hati, Midah menyimpan benci kepada ayahnya ini. Ibunya juga tak bisa berbuat apa-apa. Di hadapan bapaknya, ibunya tak memiliki kekuatan.

Sampailah suatu hari ketika ayahnya ingin menikahkan Midah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Dan syaratnya: selain laki-laki itu berasal dari Cibatok, desa ayahnya, juga berharta dan to’at kepada agama. Setelah tiga bulan perkawinan, Midah lari dari lakinya, Hadji Terbus, dengan membawa beban hamil karena (ke)tahu(an) Hadji Terbus memiliki banyak bini. Ia terseret di tengah rimba kejam jalanan kota Jakarta tahun 50-an.

Dalam fase pelarian inilah Pramoedya menggambarkan perempuan muda usia ini berjuang sekeras-kerasnya dan sekuat-kuatnya untuk bertahan hidup. Midah dituturkan sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup; walaupun ia hanya menjadi penyanyi dengan panggilan “simanis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto yang lain, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga.

Dengan kandungan (hasil perkawinannya dengan Hadji Terbus) yang makin membesar dari hari ke hari, Midah memang tampak kelelahan. Lelah sangat.

Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan kita tahu Midah memang kalah (secara moral: ia menjadi penyanyi + pelacur kelas elite) dalam pertaruhan hidup itu dengan senyum.

Pram, lewat novel ringan ini, memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang humanis dan moralis. Di satu sisi Pram ingin menegaskan kekuatan seorang perempuan berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan. Seorang perempuan yang tak mudah ditaklukkan oleh apa pun. Perempuan yang melela mengarungi hidup dengan segenap keyakinan yang penuh sungguh.

Tapi di sisi lain Pramoedya juga ingin memperlihatkan kebusukan kaum moralis—lewat tokoh Hadji Trebus dan Hadji Abdul—yang hanya rajin zikir tapi miskin citarasa kemanusiaan. Dan juga serakahnya tak ketulungan. Walaupun novel ini ringan dan tipis, tapi tidak picisan.
[+baca-]

Pram, Srikandi, dan Seks

Oleh Muhidin M Dahlan

“Nenek dan ibu saya menjiwai karakter semua perempuan kuat dalam tulisan-tulisan saya. Dan mereka menjiwai semua orang yang berjuang menjadi diri sendiri.” -- Pramoedya Ananta Toer

Hampir separuh hidupnya, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan sepuh yang namanya berkali-kali masuk dalam kandidat pemenang nobel sastra, sangat dipengaruhi oleh perempuan. Betapa tidak, sepenuturannya dalam pelbagai forum diskusi dan bedah bukunya, nenek dan ibunyalah yang sangat memengaruhi etalase kepribadian dan kesadarannya. “Dari merekalah saya temukan arti harfiah dari kata pahlawan, yakni pribadi—tak perlu seorang yang besar, tapi hanya pribadi biasa—yang hidupnya bermanfaat bagi orang lain.”

Dari neneknya Pramoedya belajar bagaimana tegar menghadapi hidup walaupun kekalahan terus membayangi. Kekecewaan yang datang bertubi-tubi dan menumpuk selama bertahun-tahun mungkin mampu menghancurkan seseorang, tapi tidak neneknya. Dia adalah pribadi yang tidak bergantung pada orang lain, walaupun itu anak atau cucunya sendiri. Dia bergantung hanya dengan dirinya sendiri. Dan neneknya ini memang kalah dalam artinya yang sangat pahit: mati di tengah jalan, sendiri dan sunyi.

Keteguhan sikap neneknya itu kemudian terwaris dalam alam kesadaran ibunda Pramoedya. Dalam kenangan Pramoedya, ibunya tumbuh berkembang dengan keyakinan nasionalis yang kuat. Kemandirian untuk menjadi tuan di rumah dan di negeri sendiri menjadi seruannya. Di sisi lain dia hanyalah seorang yang harus berkuasa atas nasib dia sendiri, sehingga harus menjadi individu yang mengontrol kehidupannya sendiri.

Dialah yang mendorong Pramoedya untuk unggul di sekolah (ibunya jualah yang selalu menyemangati si sulung itu untuk tetap bertahan ketika ia ingin berhenti sekolah karena malu setelah 8 tahun selalu mendapatkan angka jeblok), hingga kelar, agar bisa mendaftar di Institut Kejuruan (semacam STM sekarang ini) di Surabaya di mana Pramoedya bisa belajar menjadi seorang operator radio.

Ibunyalah yang mengajarkan Pramoedya untuk mencintai pekerjaan apa pun yang dikerjakan selama kita tidak melakukannya untuk kepentingan kolonial karena itu sama saja dengan bekerja sama untuk menjajah bangsa sendiri. “Jangan pernah mengemis,” begitu ibunya menekankan, “jangan pernah mengemiskan sesuatu yang bukan hakmu, walau hanya sebuah buku tulis. Mencari dengan jerih-payahmu sendiri lebih baik daripada hasil pemberian.” Itulah yang mendorong Pramoedya berpikir untuk mencukupi kebutuhannya sendiri: dengan uang hasil panen yang ia jual ke pasar, ia membeli beberapa ekor ayam. Telur-telurnya lalu ia jual dan uangnya ia belikan beberapa ekor kambing. Dalam suluhan ibunya itulah Pramoedya bisa mandiri dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.

***

Karena pengaruh perempuan dalam kesehariannya itulah yang barangkali menarik Pramoedya menampilkan sosok perempuan di titik pusat karya-karyanya, sebarisan srikandi yang berenang dan bertarung dengan kekuatan sejarah. Para srikandi ini, di tangan Pramoedya menjadi kekuatan anonim yang dengan kekuatan individu yang dipunyainya coba berdiri tegar di zaman yang penuh daya dera yang menggilas, walaupun pada akhirnya mereka kalah dalam pertarungan sejarah.

Bacalah empat jilid roman Tetralogi Buru. Di sana kita dapati sebarisan srikandi yang dengan segala sungguh mengibarkan panji-panji perjuangan dan heroisme dalam arus sejarah. Sanikem, yang kemudian kita kenal dengan Nyai Ontosoroh, adalah salah satu srikandi yang kuat itu. Ia dijual oleh ayahnya sendiri yang kebelet naik pangkat dengan seorang administratur pabrik gula Sidoarjo, Herman Mellema.

Sejak saat itu ia menjadi korban tindasan sistem pergundikan mahakejam, menjadi nyai dari laki Belanda tanpa ada ikatan hukum apa pun. Namun dengan segala kegigihannya, ia berusaha sekuat-kuatnya meloloskan diri untuk tidak menjadi gundik tolol, yang serelanya menjadi jongos seksual laki-laki. Dengan menggunakan—tepatnya mencuri—pengetahuan suaminya (Barat), ia mengisi kekosongan otaknya dengan pengetahuan: belajar membaca dan menulis, berwicara dengan bahasa Belanda, menulis dengan bahasa Belanda, terampil dalam ilmu pembukuan, dan sejingkat demi sejingkat belajar mengelola perusahaan susu sambil perlahan-lahan mengumpulkan modal sendiri.

Dalam setting dialog dengan Nyai Ontosoroh ini, Minke, sang protagonis dalam roman ini, tak lebih hanya seorang pemuda lugu. Minke seakan tenggelam dalam kecerdasan alamiah dan bayang-bayang perbawa perempuan kuat dengan segudang pengetahuan ini.

Perempuan lain adalah Bunda, ibu Minke sendiri. Perempuan ini adalah perpaduan antara sikap lemah dan naif dengan kedalaman filosofi hidup yang tercerap dalam jejalan pengalaman yang luar biasa. Di satu sisi ia selalu memperingatkan Minke untuk selalu menghormati dan memberikan sumpah-sembah kepada ayahnya yang haus akan jabatan dan kekuasaan, tapi di sisi lain ia bisa mengerti dan menerima kehendak anaknya yang “emoh” menjadi bupati melainkan bersikukuh menjadi jurnalis, manusia mardika yang menyuluhi bangsanya dengan pena di jalan kebudayaan.

Yang lain adalah Ang San Mei, seorang aktivis yang dengan keteguhan hatinya dan cintanya kepada tanah airnya Tiongkok, telah menariknya ke dalam pasang-surut pergerakan dan terlabuh dalam kelupaan akan kepentingan pada diri sendiri: kepentingan merawat tubuh dan bersolek sebagaimana perempuan lazimnya. Bersama Minke, ia terlibat dalam percintaan yang aneh selama lima tahun—sangat jarang berkumpul karena Ang Mei tiap malam harus keluar menghadiri rapat-rapat pergerakan bawah tanah, sementara Minke sibuk kuliah dan mengurus korannya. Karena didera oleh penyakit, Mei pun meninggal. Hadirnya tokoh ini memberi romantika tersendiri dalam roman jilid ketiga ini (Jejak Langkah) yang sarat dengan gagasan politik besar dan isu-isu pergerakan.

Dari percakapan antara Minke dan Mei terlukis rasa cinta yang tak sepenuhnya saling memahami, tapi penuh kepercayaan satu dengan yang lainnya.

Srikandi yang lain yang berwatak sama dengan Ang Mei adalah Siti Soendari, kawan sesekolahan Minke yang tinggal di Pemalang. Dari perempuan ini tergambar sebersit tekad bagaimana seorang manusia yang selama ini direndahkan oleh adat feodal Jawa untuk kawin diusia muda berhasil menampik permintaan ayahnya untuk segera menikah dan memilih menjadi perempuan mardika yang bekerja demi cita-cita.

Ada pula Prinses van Kasiruta, seorang gadis maluku yang cantik yang kilauan mata birunya berhasil merebut hati sang pemimpin redaksi Medan Prijaji, Minke, dan mereka pun menikah. Prinses dibesarkan dalam keluarga pergerakan, berpendidikan, dan mahir bercakap dalam bahasa Sunda dan Belanda. Tidak cuma itu, ia juga terlatih secara fisik: menunggang kuda dan menembak. Dari perempuan inilah kita menemukan perpaduan manusia yang kuat dalam otak maupun otot. Nantinya, perempuan ini yang dengan keras melindungi Minke dari beberapa kali usaha percobaan pembunuhan.

Selain roman Tetralogi Buru, dalam karya Pramoedya yang mengagumkan yang lain, seperti Gadis Pantai, Midah Simanis Bergigi Emas, dan Larasati, para srikandi juga menjadi sentrum penceritaan dalam bergelut dengan kelindan peristiwa-peristiwa besar dan kemanusiaan.

Gadis Pantai disebut-sebut roman paling indah menggambarkan perlawanan seorang perempuan papah menguliti jahatnya sistem perbudakan yang diselimuti feodalisme Jawa plus dibungkusi oleh praktik agama yang disalahpahami. Dikisahkan bahwa Gadis Pantai adalah perempuan asal kampung nelayan di Jawa Tengah yang masuk dalam lingkup pemerintahan Kabupaten Rembang.

Ia adalah gadis manis yang dengan kecantikan alamiah perempuan Jawa cukup ampuh untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada (administrasi) Belanda. Dia diambil istri oleh pembesar tersebut dan menjadi apa yang dikenal dengan Mas Nganten atau Bendoro Putri. Perempuan yang melayani “kebutuhan” seks laki-laki sampai kemudian dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas dan sederajat dengannya. Dia tidur dengan pembesar itu. Membantu mengurus dan memerintah di kompleks keresidenan, paviliun, kandang-kandang, dan bahkan sebuah masjid. Perkawinan itu memberikan prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang memilikinya, tega membuangnya—setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.

Pergulatan Midah juga serupa, melawan keangkuhan dan kekuasaan patriarki seorang ayah. Ia berjuang sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ia lari ke jalanan dan berusaha menaklukkan hawa jalanan yang ganas semampu ia bisa walaupun akhir-akhirnya harus kalah. Di novel ini para lelaki tak ubahnya sosok-sosok lemah yang wajah aslinya dipampangkan sedemikian vulgar: sosok-sosok yang buta matabatinnya dalam segala anotasi kualitasnya.

Tokoh Ara dalam Larasati juga demikian. Ara merupakan representasi dari keteguhan seorang perempuan dalam golak revolusi yang dipenuhi oleh segerombolan laki-laki bersenjata dari pelbagai watak: dari yang kasar hingga yang paling gombal dan hidung belang. Dari kisah dirinya terpotret sepenggalan sejarah hiruk-pikuk revolusi.

***

Yang unik adalah terjadinya pergeseran komposisi teknik literair dari percakapan antar tokoh-tokoh perempuan dan tokoh laki-laki. Entah mengapa, perbincangan antara Minke dan tokoh perempuan selalu menyenangkan yang di setiap barik kalimatnya terlontar dan tercetak ruas ajaran dan kedalaman hidup.

Teks seakan berjalan sendiri tanpa rencana hingga menjumpai sendiri batas estetiknya. Simaklah percakapan antara Ontosoroh dan Minke—atau yang lebih indah antara Minke dan Bunda—kita akan menemukan kilatan-kilatan teks yang indah, sebagaimana tersurat dalam salah satu paragraf di Bumi Manusia (nasihat Ontosoroh kepada Minke): “Cerita, Nyo, selamanya bicara tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia…. Nyo, jangan sekali-kali menganggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput….”

Dalam Gadis Pantai, komposisi literair dari percakapan yang memikat juga bisa kita temukan. Setting percakapan yang paling indah dalam roman ini adalah di kamar Kadipaten yang dingin antara Gadis Pantai dengan Simbok. Tidak ada kelebatan teori-teori besar tersebar dari sini. Sebab Gadis Pantai hanya anak pantai yang lugu dan selalu ingin tahu, sedangkan Simbok hanya seorang bujang Kadipaten dan masih sempat menyaksikan sisa-sisa terakhir pemberontakan Dipanegara yang gagal itu. Tapi di sinilah dengan cara perlahan-lahan, kebuasan feodalisme disingkap. Sangat lambat memang, tapi membuat kita menahan nafas membacanya. Saya kira, dari percakapan dengan Simbok-lah yang kemudian memunculkan kata-kata Gadis Pantai yang sangat tajam, pedas, dan mengena yang senatiasa diingat-ingat oleh pembaca roman ini: “Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”

Tapi menjadi lain struktur teknik ketika tokoh-tokoh protagonis berbicara dengan laki-laki. Roman Tetralogi Buru adalah contoh yang paling pas dari gambaran perubahan komposisi struktur literair itu. Hampir-hampir diskusi yang berlangsung bersama segerombolan laki-laki terkesan sangat kering dan verbal. Renungan-renungan Pangemanann (dengan dua n) tak ubahnya filsafat politik dan catatan perbandingan dua kebudayaan (Jawa dan Belanda), dua moralitas (Pribumi dan Penjajah), dan dua hukum (Islam dan Barat). Perbincangan Gubernur Jenderal Van Heutz dan Minke mirip notulensi politik dan laporan jurnalistik. Dan dari percakapan Minke dengan ayahnya yang tercuap hanya melulu soal kekuasaan dan sembah-sumpah.

Dalam Arus Balik percakapan yang datar dan verbal juga kita temukan di antara deretan lelaki, misalnya antara Galeng dengan Syahbandar Tuban, Tholib Sungkar, atau dengan Adipati Tuban Arya Teja Wilwatikta. Betapa sangat berbeda percakapan antara Galeng dengan sang kamaratih Tuban, Idayu; atau keduanya (Galeng-Idayu) dengan Rama Cluring, begawan misterius, yang walaupun hanya dalam sekilatan cerita (tak sampai 10 halaman), menjadi sangat kuat dan meninggalkan kesan bagi pembaca ketimbang gelontoran kalimat pengisahan dan jubelan tokoh yang datang-pergi dalam 700 halaman yang lain.

Demikian pula dengan Bendoro dalam Gadis Pantai. Percakapan melulu berputar soal agama, jabatan, acungan telunjuk perintah dan keangkuhan khas elite Jawa yang berkuasa atas rakyatnya. Demikian pula percakapan antara Midah dengan Hadji Abdul, ayahnya, (atau Ahmad, polisi yang lari dari tanggung jawab setelah menghamilinya di jalanan) yang hampir-hampir tanpa sentuhan emosi yang humanis.

Lalu pertanyaannya—sebagaimana pernah ditanyakan Ignas Kleden dalam esainya yang bagus—mengapa ketika alur cerita berjumpa dengan sebarisan srikandi, cerita menjadi literair dan pengarang menjadi pencerita narasi yang mahir; sementara ketika alur bertemu dengan segerombolan laki-laki, cerita menjadi autorial dan pengarang menjadi komentator atas ceritanya sendiri (sebagaimana terbaca dalam Tetralogi Buru, Arus Balik, Gadis Pantai, Larasati, maupun Midah).

Barangkali salah satu sebabnya adalah karena ketika betemu dengan sebarisan srikandi, dialog yang terjadi antara dua pribadi atau beberapa pribadi (Minke dengan Annelis, Ontosoroh, Bunda, Ang Mei, Prinses van Kasiruta; Gadis Pantai dengan Simbok; Galang dengan Idayu, Siti Aisah dengan Patih Unus; Midah dengan Ibunda dan Bibi Riah [bujang di rumah Midah]). Sebaliknya, dalam dialog dengan lelaki, pembicaraan berlangsung antara dua gagasan.

***

Pertanyaan terakhir yang memburu kemudian adalah di mana letak seks dalam sederet karya Pramoedya Ananta Toer dengan sebarisan srikandi yang dihadirkannya di panggung cerita? Untuk menjawab pertanyaan itu baiknya kita kutipkan pendapat Taufik Rahzen dalam peluncuran buku “edisi perempuan” dan dialog bersama Pramoedya Ananta Toer yang dimoderatori Edy A. Effendi, 12 Agustus 2003 di Jakarta. Rahzen mengandaikan adanya tiga tali simpul dari karya-karya Pramoedya. Simpul kesatu adalah kebenaran. Kebenaran bukan kekuasaan. Kebenaran menuntun, sementara kekuasaan memerintah. Kebenaran, seperti halnya traktat sejarah, adalah tempat orang melanglangi dunia. Kebenaran adalah asas adalah lentera ke mana seseorang melangkah. Dengan kebenaran seseorang jadi tahu dari mana ia berangkat dan mengikuti ke mana pendulum tujuannya bergerak.

Simpul kedua adalah keadilan. Kebenaran harus ditabrakkan dengan kenyataan sosial dalam sirkulasi yang dialektis. Kebenaran yang tidak menyata dan memerjuangkan keadilan bukanlah ajaran, melainkan penjara langit. Di simpul keadilan ini kebenaran diuji dalam golak sejarah, baik di ranah struktural (kekuasan politik) maupun kultural (strategi kebudayaan). Pertautan antara kebenaran dan keadilan itu yang melahirkan simpul ketiga, yakni keindahan.

Keindahan yang dipahami Pramoedya tidak sama dengan keindahan yang dikonsepsikan oleh sastrawan Balai Pustaka dan para pewarisnya, yakni kemahiran mengutak-atik bahasa. Bagi Pramoedya, keindahan terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan.

Dari sini menjadi jelas bahwa cita-cita pembebasan adalah muara segala nafas cerita yang dikoreoscriptakan Pramoedya, termasuk anggitan dan gerak-gerik watak tokohnya. Maka seks (yang vulgar) menjadi sesuatu yang “tabu” dalam gulungan cita-cita pembebasan. Sebab seks vulgar di mana pertemuan dua jenis bibir anak manusia jadi tujuan dari setiap pergulatan, tegas Pramoedya dalam Realisme-Sosialis dan Sastra Indonesia, adalah khas “sastra ngak-ngik-ngok”.

Kalaupun seks kita temukan, maka jangan bayangkan pendetailannya sevulgar Ayu Utami dalam Saman dan Larung-nya yang dikomentari Pramoedya sebagai novel yang isinya seks melulu. Bacalah “making love” Minke dengan si Bunga Akhir Abad, Annelis, dalam Bumi Manusia yang mirip ritual penyembuhan dari sakit Annelis yang alih-alih membuat pembaca terangsang, malahan membuat kita tertawa dan menganggap pengarangnya sama sekali buta dengan soal-soal seks.

Selain kisah dalam Bumi Manusia itu, praktis kita kesulitan menemukan adanya seks yang romantis; yang banyak tersurat adalah adegan kekerasan seksual sebagaimana terbaca dalam Arus Balik ketika Idayu diperkosa Tholib Sungkar ataupun kisah-kisah gadis yang keperawanannya direnggut paksa oleh tentara-tentara Jepang dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Bagi Pramoedya, kekerasan seksual terhadap perempuan menjadi salah satu mandat yang harus dibela dan diatasi dalam visi besar pembebasannya.

Pungkasnya, seks dalam wacana karya-karya Pramoedya diletakkan dan disimpan rapat-rapat dalam peti ideologi dan cita-cita besar untuk menyuluhi nasionnya. Karena memang tugas mengarang bagi Pramoedya adalah semacam mandat nasional yang mau tidak mau harus bisa mencerahkan kesadaran (politik dan humanisme) masyarakatnya. Maka pahamlah kita mengapa Pramoedya dengan cukup dominan meletakkan kehendak bebas dan perjuangan sebarisan srikandi—dan bukan seks (yang vulgar)—dalam setiap halaman karyanya.
[+baca-]

Ensiklopedia Kawasan Indonesia

Oleh Muhidin M Dahlan

Memasuki perpustakaan Pram di lantai tiga rumahnya yang asri di Bojong Gede, Bogor, kita langsung dihadang sebarisan klipingan berkelok-kelok. Seperti tentara, semua klipingan itu berdiri seragam dengan mantel oranye yang menyala di atas almari buku. Tak ada satu pun tercecer dalam barisan. Rapi. Bersih. Tegap.

Barisan itulah yang selalu menjadi impian Pram sejak 1982. “Bung, bagus mana namanya: Ensiklopedi Citrawi Indonesia atau Ensiklopedi Kawasan Indonesia,“ kata Pram kepada sahabat dekatnya Mujib Hermani pada suatu hari memilih judul yang tepat.

Pram memang memiliki impian untuk bisa memandang Indonesia seutuhnya. Maka dikerjakannya proyek yang hampir mustahil itu seorang diri. “Ini saya kerjakan sebagai konsekwensi pandangan saya sendiri: untuk dapat mencintai tanahair dan bangsa secara wajar orang dituntut untuk tahu tentang yang dicintainya, tanahair dari sosio-geografinya, bangsa dari sejarahnya. Kalau tidak cintanya terhenti pada cinta monyet. Dari pengalaman selama 4 tahun ini saya jadinya bisa banyak bercerita yang aneh-aneh tentang tanahair ini. Memang belum saya bikin catatan, masih tersimpan di kepala, namun tetap tak teragukan keorisinalannya,” tulis Pram dalam suratnya kepada sosiolog Ariel Heryanto yang bertanggal 23 Maret 1986.

Caranya: setiap hari ia akan menggunting koran. Ada Kompas, Pelita, Media Indonesia, dan sebagainya. Tapi Pram hanya menggunting yang terkait dengan geografi Indonesia: desa, gunung, laut, kebudayaan, dan sebagainya. Dan itu dilakukan dengan sangat disiplin. Pram akan menggunting pada jam 8 pagi setelah kerja-badan dan akan mengelem pada malam harinya. Jika tak sedang di rumah, ia akan selalu membawa gunting, lem, pena, dan dibelinya koran-koran di jalan. Demikian dilakukannya kegiatan itu selama puluhan tahun.

Tapi bukannya Pram tak pernah disundut jenuh. Kadang ia mengeluh. “Telah hampir 4 tahun ini saya mengerjakan kamus sosio-geografi Indonesia. Tanpa pernah mengenal hari libur. Untuk itu saja 10 jam setiap hari. Beberapa jam lainnya untuk pekerjaan lain-lain. Dalam sebulan itu belum lagi mampu menyelesaikan 4 kabupaten. Soalnya orang Aceh—Aceh sebagai kesatuan administratif, bukan etnis—betul-betul tidak kreatif. Nama desanya merupakan ulangan-ulangan yang melelahkan, sama halnya dengan nama desa orang Jawa. Maka saya hentikan dan beralih pada Kab. Gorontalo. Suatu kesegaran tersendiri. Soalnya: hampir tak ada nama desa kembar di sini. Maka saya nilai kreatif. Pekerjaan ini mungkin memakan waktu 12 tahun lagi. Mengingat, mungkin dalam waktu itu saya sudah mati, maka pekerjaan saya batasi sedemikian rupa, hingga hanya menggarap bahan dasar. Agar kelak orang dapat meneruskan bila toh tubuh tak dapat dipertahan lagi. Tadinya memang saya anggap dapat diselesaikan 2-3 tahun. Itu karena pengaruh Ensiklopedi Hindia Belanda, yang melihat dunia kekuasaannya berhenti sampai di distrik. Pandangan saya sebaliknya dari bawah, desa sebagai unit administrasi terkecil, ke atas, sampai propinsi dan negara.”

Pram pun kadang berandai sekiranya menang Nobel, uangnya untuk membiayai impian terakhir hidupnya itu. Ia ingin menjadi penyedia pengetahuan yang berarti untuk masyarakat tentang apa arti ribuan pulau Indonesia yang besar dan luas ini. Andaian itu kadang terdengar melankolis.

“Saya ingin mempercepat selesainya. Tapi dengan catatan saya dibantu paling tidak 10 orang. Dan itu bisa dilakukan selama 2 tahun. Tapi uang darimana saya dapatkan untuk menggaji orang-orang ini,” keluh Pram setelah 23 tahun menggunting bahan dari koran yang terbit tiap hari.

Dan kita tahu Pram tak pernah memenangkan Nobel yang dinazarkannya untuk ensiklopedia itu.

Sadar dengan itu, tak lantas ia patah arang. Sebab bukan itu perkaranya. Ini soal cinta. Maka ia bekerja terus dengan cara-cara yang jauh dari cara kerja teknologi yang serbacepat seperti mengundu dari internet. Ia serupa dengan para rahib yang tetap bertahan di gulungan waktu. Maka senjata utama Pram hanyalah koran, gunting, lem, kertas, dan mesin tik Olympus.

Dengan perkakas manual itu, sekian tahun Pram telah menyempurnakan beberapa bagian. Terutama dasar-dasar entri ensiklopedia, semisal nama desa dan kota. Namun keterangan tentang entri dasar itu masih belum tersusun. Keterangan itu berpencar dalam 81 barisan guntingan koran yang tersusun rapi berkelok-kelok yang tebalnya kurang lebih 16 meter. Masing-masing volume sudah diberi nama entri, misalnya: Ampibabo-Aosale Ds, Harto-Hutan, IAIN-Iyukecil, Jakarta-Jalak Bali, Mahato Ds-Mamuju, Sarabua-Semanggi, dan seterusnya.

Entri paling banyak adalah Timor Timur dan Aceh. Khusus Aceh, ini mungkin sebagai permohonan maaf Pram atas ulah manusia Jawa menginvasi Aceh. Kata Pram: “Saya merasa berutang pada Aceh. Ratusan tahun Jawa mengirim pembunuh bayaran ke Aceh. Sejak zaman kumpeni Aceh punya keberanian individu, Jawa punya keberanian kelompok. Beda sekali.”

Yang paling sulit bagi Pram—dan karena itu terkumpul sedikit—adalah entri U, V, W, Y, dan Z. Entri X bahkan tak ada sama sekali. Jika tak direnggut batas hayat, mungkin Pram tak akan berhenti mengumpul bahan.

Kita jadi takjub. Mungkin malu. Bagaimana bisa dengan kebebasan yang sangat terbatas dan minimal serta memakai cara-cara manual itu, Pram seorang diri bisa membangun sebuah proyek yang hampir mustahil dilakukan dengan hanya mengandalkan dua tangan itu.

Jawabnya adalah kecintaan yang berlebih atas tanah air dan bangsa. Kecintaan itu mengabaikan semua halangan dan serbaketakmungkinan. Cinta yang begitu melahirkan asketisme. Asketisme tak berbicara uang, walau itu penting. Asketisme adalah sebuah sikap mandiri, konsisten, dan sendiri menerobos waktu untuk mencari renik demi renik pengetahuan. Dan Pram bukannya tak tahu diri, tak tahu batas. Karena itu, ia hanya menunjukkan jejak. Para pewarisnya yang bertugas melanjutkan pekerjaan raksasa yang ditinggalkannya itu.

Dua pekan sebelum berangkat, Pram masih menggunting untuk ensiklopedi impiannya. Tapi ia sudah tak setangguh seperti sediakala. Dan entah kebetulan atau tidak, entri terakhir yang diguntingnya justru adalah kerusuhan freeport di Abepura, Papua; propinsi paling timur Nusantara. “Untuk baca satu artikel Papua saja, Pram beberapa kali terbaring. Tahu kekuatannya hampir habis, Pram lalu menulis: PAPUA. Selesai. Sampai di situ saja klipingannya,” kenang Astuti Ananta Toer, puteri keempatnya.
Hah, 23 tahun Pram menjejaki Nusantara dengan koran, gunting, dan lem. Ia masuki satu demi satu dusunnya. Dan ia tahu juga bahwa perjalanan harus berakhir. Bukan di Jakarta, tapi di Abepura, Papua. Di Papua, Saudara!
[+baca-]

Menggelinding: Pram yang Berkobar-kobar

Oleh Muhidin M Dahlan

Buku gemuk ini terbit setelah usia Pram berumur sewindu. Judulnya aneh: Menggelinding. Menurut penerbitnya, Lentera Dipantara, Pram yang memberinya judul demikian. Buku itu bukan buku utuh. Lebih tepatnya gado-gado. Terdiri dari sajak, esai, cerita pendek, serta beberapa lagi pamflet dan tulisan remeh-temeh. Disusun berdasarkan tahun-tahun kapan tulisan itu dibuat di antara rentang tahun 1947 sampai 1956.

Buku ini seperti rambu petunjuk melihat sisi lain Pram di usia kepengarangannya yang masih muda. Membaca buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa Pram adalah manusia-manusia penulis muda pada umumnya. Macam-macam minatnya. Bahkan tanpa diketahui banyak kalangan, Pram juga ternyata menulis beberapa puisi (hanya 3 biji, sic!), walau sebelumnya itu tak diakuinya. Sebab katanya, “Puisi sama sekali tak bisa mengenyangkan perut.”

Membaca karya-karya awal Pram, pastilah kita akan menemukan pribadi yang putih, polos, apa adanya, dan belum terbebani oleh pesan-pesan ideologi tertentu. Ia bahkan menjadi pemuda yang minder. Bahkan di depan HB Jassin ia mengaku tak ubahnya katak yang mengibakan hujan (baca: Pecahnya Kongsi Timah Guru-Murid). Tatkala orang-orang Lekra dan Gelanggang mulai saling “melirik”, Pram, sebagaimana kita baca dalam salah satu esainya, masih kukuh memosisikan dirinya sebagai seorang penonton bebas dan bukan pemain utama dalam laga saling kemplang itu.

Di saat-saat kreasi awal ini boleh dibilang Pram tak ubahnya pengarang yang menggelinding digiring kehendak muda yang meraung-raungkan cita-cita dalam pencarian arah hidup. Di sini terlihat betul Pram menulis dengan gelora muda. Ia adalah seorang anak muda peramu isu yang lihai. Juga seorang dokumentator yang tekun serta pembaca dunia yang haus.

Maka tak heran di usia kepengarangan yang dini ini Pram telah mengenal banyak nama-nama pengarang dunia. Sebut saja antara lain Victor Hugo, Jose Rizal, Zola, Tolstoy, Gogol, Mayakovsky, Gorky, Nikolai Ostrovsky, Vsevolod Ivanov, Mikhail Sholokhov, Fyoder Gladkov, Isakovsky, Valentin Katayev, Ilya Ihrenburg, Leonid Leonov, John Steinbeck, Dostoyevsky, maupun Iganzio Silone.

Dan dengan bahasa tulisnya yang khas yang memang garang, meledak-ledak, dan cenderung tidak bertele-tele, ia menggugat banyak hal yang menurutnya tidak beres dan harus diluruskan. Salah satu yang menjadi keprihatinannya, tentu saja tugas-tugas kepengarangan yang menjauh dari masyarakat. Sejak usia kepengarangan dini, Pram sudah disadarkan lewat perkenalannya dengan karya sastra dunia bahwa pengarang adalah anak kandung masyarakat. Maka, patokan sastra pun mau tak mau bertumpu dan bersangkut dengan arus masyarakat ini.

Pram tidak ingin mematokkan diri pada definisi kesusastraan tertentu yang menurutnya membekukkan. Biarlah pembaca yang menentukan sendiri apa definisinya. Karena setiap karangan adalah proyek yang sesungguhnya penuh retak, sesuatu yang belum selesai. Dan pembaca melalui imajinasinyalah yang menyambung-nyambung retak itu dan menyelesaikannya. Sebab pada dasarnya tugas penulis hanya menulis. Tak lain tak bukan dari itu.

Karena itu, Pram seperti tidak dibebani apa pun menulis apa saja yang menurutnya perlu dituliskan. Tentang nasionalisme. Tentang dunia tentara. Tentang masa depan sastra yang diimpikannya. Tentang bahasa Indonesia. Tentang anak muda dan dunianya. Tentang romansa cinta lelaki introvert pemalu yang kandas. Tentang Tuhan. Tentang Jakarta yang kumuh. Tentang dunia cabul dan seks yang dihindari sedemikian rupa oleh Pram walau ketika berkeluarga, Pram adalah sosok yang doyan bikin anak (anaknya 9 orang. Masya Allah!).

Juga Pram berbicara tentang buku. Tentang dunia kolonial. Tentang pemerintahan yang awut-awutan. Tentang dunia pengarang yang memprihatinkan lantaran oleh penerbit dan pemerintah yang tak tahu diri dikemplang honorariumnya dan dikenai pajak yang sangat tinggi. Dan salah satu pengemplang hebat itu bernama Balai Pustaka. “Bagi pengarang yang hanya hidup dari kepengarangan, Balai Pustaka adalah penerbit yang benar-benar dihindari karena membangkrutkan pengarang,” raung Pram.

Pendeknya, Pram menulis segala hal dan apa pun yang dilihatnya, dicerapnya, dibacanya, didengarnya, atau yang diimpikannya. Semuanya dituliskannya. Sebab Pram punya prinsip bahwa, “Semuanya harus dituliskan. Apa pun… jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Walau dengan itu, kawan-kawannya seperti Idrus, M Balfas, mengatainya bahwa ia sudah gila, bahwa ia tidak lagi menulis, melainkan berak. Seorang broodschrijver, penulis yang menulis untuk sesuap nasi.

Maklumlah, ia adalah sejenis pengarang yang tidak pernah punya waktu istirahat. Di mana pun ia berada ia bekerja, apakah sewaktu menonton di bioskop, sewaktu bertukang kayu, sewaktu duduk termenung terantuk-antuk seorang diri, sewaktu sedang makan, mandi, juga sewaktu ia mimpi dalam tidurnya.

Dan satu hal lagi, Pram tak pernah menyepelekan hasil karya yang pernah dituliskannya. Seremeh temeh apa pun itu karya. Ia akan merawatnya dan mendokumentasikannya sebaik-baiknya serapi-rapinya. Bisa Anda bayangkan, bahkan tulisan yang mirip sepotong iklan anjuran minum susu dan selebaran masih sempat-sempatnya ia kliping. Sebab baginya, semuanya adalah anak-anak ruhaninya yang patut mendapatkan perhatian dan kasih yang sama.

Di usia kepengarangan muda ini kemudian lahir novel-novel awalnya yang mendapat apresiasi di jagat sastra Indonesia. Sebut saja: Bukan Pasar Malam, Keluarga Gerilya, Mereka yang Dilumpuhkan, dan sebagainya. Umumnya karya-karya itu lahir dari riak perang dan lembabnya lantai penjara (baca: Buku, Perang, dan Penjara).

Tulisan-tulisan Pram kemudian mendidih dan ganas ketika ia menjadi pengasuh rubrik “Lentera”, suplemen Harian Bintang Timur yang memiliki afiliasi kepada Soekarno. Artikel-artikelnya ofensif menyerang kalangan yang disebutnya para penyerimpung revolusi.

Artikel-artikel ofensif itu terepresentasi oleh dua artikel Pram yang memang menyeramkan: “Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun” (10 Agustus, 1 September, 7 September, 12 Oktober 1962) dan juga “Tahun 1965: Tahun Pembabatan Total” (9 Mei 1965). Ibarat permainan sepak bola, Pram merangkum dua gaya sepakbola sekaligus: membangun kuat-kuat benteng pertahanan (Cattenacio Italia) sekaligus menyerang total (Total Football Belanda) lawan-lawan politik sastranya yang saat itu ia beri sebutan “Manikebu” (akronim dari Manifesto Kebudayaan).

Dalam suasana politik “banting stir” dan “vivere colosso” seperti ini Pram mengeluarkan sebuah novelet Sekali Peristiwa di Banteng Selatan yang oleh banyak kalangan disebut karya yang gagal. Mirip dengan iklan gotong-royong. Garing dan melenceng jauh dari gaya penulisan novel Pram sebelumnya yang liris, empatik, dan humanis. Bahkan dibandingkan dengan Midah Simanis Bergigi Emas, novelet Banten Selatan tetap tak ada apa-apanya.

Tapi Pram adalah manusia yang mencari. Ia telusuri semua kemungkinan yang bisa ia masuki. Dan yang tetap tak berubah, Pram adalah seorang individualis. Ia tetap bekerja sendiri dan mengikuti bisikan hati dan pikirannya. Termasuk ketika ia diajak dengan Lekra dan bekerja dalam barisan Soekarno. Tapi sejarah berkata lain. Ideologi yang mengungkungnya justru mengantarkannya menjadi bulan-bulanan pemukulan sejarah yang coba ditafsir dan dijalaninya.

Tapi ia tak habis. Ia masih bisa berkarya. Dan karyanya justru semakin berkilau dan disegani. “Pada akhirnya,” kata Pram, “bagi seorang pengarang, bukan isme-isme yang melahirkan karyanya, tetapi semata kemampuan pribadi.”
[+baca-]

Jalan Raya Pos: Beberapa Kritik

Oleh Diana AV Sasa

Melihat kepiawaiannya mengaduk-aduk emosi pembaca melalui alur cerita yang runtut dan mengugah dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca)—yang ditulis dengan gaya tutur roman, menilik ketekunan dan kegigihannya dalam menyunting dan menyusun pelbagai sumber sejarah hingga menjadi karya Sang Pemula dan Panggil Aku Kartini Saja yang merupakan karya non fiksi—maka buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels nampaknya merupakan sebuah karya yang disusun Pramoedya Ananta Toer untuk menggabungkan gaya keduanya tapi justru kehilangan arah penulisan yang jelas.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, demikian judul yang tertera di sampul depan dengan ilustrasi sebuah latar belakang aktivitas kerja rodi, sebuah peta, dan seorang kumpeni menaiki kuda.

Pada ringkasan di sampul belakang dan pengantar penerbit di awal tulisan—entah mengapa tak ada pengantar penulis seperti pada karya-karya Pram yang lain—melalui Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini, Pram ingin menuturkan kembali sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia Pribumi itu. Sebuah upaya memberikan sumbangan catatan sejarah pada dunia dengan menjahit-jahit serangkaian catatan perjalanan, beberapa hasil wawancara singkat, buku dan jurnal sejarah, ensiklopedi, serta beberapa surat kabar. Judul yang mengusik ingatan dan pengantar yang satir ini membuat keinginan untuk segera mengetahui fakta-fakta sejarah yang akan dituturkan serasa menyeruak begitu besar.

Diawali dengan sub judul Blora-Rembang, Pram mencoba memberikan sebuah gambaran ringkas mengenai Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels. Jalan yang membentang sejauh 1000 km dari Anyer sampai Panarukan ini dibangun pada 1809 oleh Maarschalk en Gouverneur General Mr. Herman Willem Daendels melalui penjatahan pada para bupati yang wilayahnya dilalui jalan ini.

Sebenarnya Daendels tidak sepenuhnya membangun, pada beberapa ruas, dia hanya sekadar melebarkan karena jalan itu sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Selama masa pembangunan itu, ribuan nyawa warga pribumi melayang karena kelelahan, kelaparan, dan terserang malaria. Di bagian ini Pram juga menuliskan kenangan masa kecilnya seputar kota Blora-Rembang dan pengetahuan awalnya semasa sekolah mengenai jalan Daendels.

Kemudian dilanjutkan dengan sub bab Lasem, Pram mengulas lebih banyak—masih secara umum—tentang sejarah kebesaran kota Lasem, fakta-fakta mengenai Daendels-mulai dari ikhwal kedatangannya ke Indonesia yang tanpa dokumen, fakta bahwa dia adalah utusan negara Perancis yang sedang menguasai Belanda, sampai caranya memimpin yang kasar dan serampangan—gagasan awal mengapa Jalan Raya Pos dibangun, berikut tahap pembangunannya. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sub bab Anyer.

Bab ini lebih banyak mengulas mengenai kedatangan awal Daendels ke Jawa. Dilanjutkan kemudian dengan sub bab Cilegon, Banten, serang, dan kota-kota lain yang dilalui jalan Daendels sampai Panarukan. Tidak jelas mengapa pembagian bab dimulai dari Blora dan bukan Anyer seperti mula jalan ini berujung. Karena disebutkan di awal bahwa ini adalah sebuah catatan perjalanan, barangkali perjalanan itu dimulai dari Blora. Tidak jelas kemudian dilanjutkan ke mana setelahnya. Hal ini membuat kerancuan pengertian karena pada tiap bab itu tidak semuanya membahas tentang jalan Daendels secara mendalam. Ada yang hanya sekadar catatan sejarah yang berhasil diingat (dihimpun?) penulis, ada juga yang sekedar penjelasan letak geografis secara umum (sekian kilometer ke utara/barat/timur dll).

Semestinya, pembahasan mengenai Blora, Rembang, dan Lasem yang panjang lebar itu tidak berada di awal, melainkan di tengah, tepat ketika membahas jalan yang melalui kota itu. Inilah kelemahan awal buku ini.

Buku setebal 148 halaman dengan ukuran 13 x 20 cm ini disusun dengan tipografi dan layout yang tepat. Pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, jarak tiap baris, hingga jumlah baris pada tiap halaman nampak diperhitungkan betul sehingga memunculkan irama membaca yang tidak memerlukan kening berkerut atau mata menyipit. Cara bertutur Pram dalam karya ini juga sangat mudah dipahami, dan sebagai sebuah catatan sejarah, buku ini tidak terlalu berat untuk dibaca, bahkan bisa dibaca saat santai atau menjelang tidur.

Pram mengajak ingatan pembaca untuk melompat-lompat pada beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota-kota yang di lalui jalan Daendels itu. Kemudian sesekali di giring pada pengalaman pribadinya di kota itu. Terkadang Pram juga menyisipkan informasi ’unik’ yang tak ada hubungannya dengan bahasan, seperti bahwa Matahari, mata-mata yang terkenal itu ternyata lahir di Priangan (Anda pasti bingung jika tak pernah tau siapa itu Matahari).

Jika tidak terlalu serius, maka tak ada masalah dengan buku ini, tapi jika kita sedang serius dan ingin menggali data lebih banyak mengenai jalan Daendels, maka ’lompatan-lompatan’ itu akan sangat mengganggu konsistensi perunutan.

Pada halaman akhir dilampirkan beberapa sumber tulisan, sehingga nampak bahwa karya ini ilmiah. Akan tetapi sumber itu tidak benar-benar dirujuk, hanya sekadar dicantumkan saja. Jadi tidak jelas pada bagian mana sumber itu memberi kontribusi pada tulisan di dalam buku. Tidak ada foot note, apa lagi referensi. Sehingga, jika kita ingin menggali data lebih banyak, kita harus membaca sumber data itu lebih jauh-yang mayoritas berbahasa asing.

Ada juga dilampirkan sebuah peta kuno, tapi tak banyak membantu karena nyaris tak terbaca. Ketika mencoba merunutkan jalur jalan itu pada peta modern, terjadi kebingungan ketika menemukan beberapa persimpangan jalan alternatif. Jadi tidak ada gambaran jelas, apakah jalan itu masih ada mengingat perubahan luas wilayah selama kurang lebih 2 abad itu cukup signifikan.

Kota-kota seperti Anyer, Lasem, Surabaya adalah kota yang paling banyak berubah. Karena bencana, karena kondisi alam, atau juga karena pembangunan. Di Surabaya misalnya, tidak jelas yang mana Jalan Daendels yang menghubungkan Tambaklangun – Gresik - Surabaya dan Sidoarjo itu, karena memang saat ini ada beberapa jalur yang menghubungkan. Ketika disebut Wonokromo, semakin bingung dibuatnya, karena Wonokromo kini telah menjadi bagian dari Surabaya dan Tambaklangun masuk wilayah Gresik. Tidak ada informasi akurat mengenai hal ini.

Demikian pula dengan jalur Tuban-Gresik. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, dan jika merunut info dari Pram, maka jalurnya bukanlah jalan yang sering dilalui jalur trayek kendaraan umum, melainkan jalur alternatif yang melalui tanjung kodok (itu jika persepsi dan pemahaman saya benar). Ketidakjelasan ini dikarenakan, semakin ke belakang, bahasan dari tiap bab semakin seadanya, informasi mengenai jalan Daendels juga minim, lebih banyak sejarah secara umum tentang kota itu, seakan hanya apa yang terlintas di ingatan saja yang diungkapkan.

Kisah genosida yang sejak awal didengungkan, tidak banyak diungkap pada bagian-bagian akhir. Hanya secuil informasi di awal-awal penulisan bahwa pada beberapa ruas, terjadi kematian pekerja besar-besaran karena kelelahan, kelaparan, dan juga karena serangan malaria. Bupati-bupati yang tidak dapat memenuhi target pembangunan, kepalanya dipenggal dan digantung di atas pohon sepanjang jalan. Juga kekejaman Daendels dalam memaksa rakyat pribumi menyerahkan tanahnya untuk dijadikan jalan tanpa kompensasi dan kewajiban mereka untuk turut membangun, melebarkan, meninggikan jalan di wilayahnya.

Sebagai referensi sejarah, yang di dedikasikan pada dunia, kelemahan detil informasi ini bisa vital karena menyangkut informasi yang akan disampaikan pada generasi mendatang.

Dengan sebuah kalimat “saya tidak pernah berjalan di atas bumi Panarukan” Pram mengakhiri penuturannya. Sebuah akhiran yang semakin membuat rancu ketika karya ini sering disebut—dan dinyatakan sendiri oleh penyusun—sebagai catatan perjalanan. Jika catatan perjalanan, maka perjalanan dari mana ke mana. Dari Blora ke Rembang atau Lasem? Jakarta - Bogor? Anyer - Bandung? Jakarta - Surabaya? Tidak jelas. Jika yang dimaksudkan adalah perjalanan hidup Pram, maka buku ini tengah kesulitan mencari genrenya.

Terlepas dari segala kelemahan tersebut, karya Pram ini—jika benar ini adalah karya Pram dan bukan sekedar serpihan catatan Pram yang dipadukan dengan beberapa sumber—telah memberikan masukan sejarah yang berharga bagi negeri ini. Karena memang tak banyak yang peduli pada sejarah yang telah terlupakan. Dan Pram adalah satu di antara yang tidak banyak itu.

Apresiasi tetap kita berikan karena harus diakui, ini mungkin satu-satunya sumber yang membahas mengenai jalan ini dalam bahasa Indonesia. Lagipula Jalan Raya Pos, Jalan Daendels memang bukan catatan sejarah yang serius seperti Sang Pemula, ini hanya sebuah catatan dari sekumpulan data sejarah dan romantisme perjalanan.

Informasinya juga sudah cukup layak untuk dijadikan pengingat tentang kebesaran dan sejarah kota-kota yang dilaluinya. Hendaknya buku ini menjadi pijakan awal bagi generasi selanjutnya untuk menyusun literasi yang lebih komprehensif, terstruktur baik, dan ilmiah mengenai Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Sebuah jalan yang telah membawa pengaruh perubahan besar di sektor ekonomi, budaya, dan sosial bangsa ini hingga sekarang. Sehingga nanti akan ada sebuah literasi sejarah yang bisa lebih layak untuk dijadikan referensi pelajaran sejarah formal yang selama ini hanya berpaku pada satu sumber. Maka anak cucu kita akan mendapat informasi yang tepat mengenai sejarah bangsanya. Dan tidak sekali-sekali melupakannya.

* Diana AV Sasa, pencinta buku dan bagian dari klub KUBUGIL (Kutu Buku Gila). Tinggal di Surabaya.



[+baca-]

Nyanyi Sunyi Pram di Perpustakaan Yogya

Oleh Fahri Salam

Hingga Pram meninggal, karya-karyanya masih seperti sayup suara yang lerai di rumah-bahasanya sendiri.

“Saya punya minat khusus dengan dia karena dia realistis,” kata Sujiyati, merujuk alasannya mencintai karya-karya Pram, dengan mimik serius dan nada tegas.

Sujiyati mengajar bahasa Indonesia di kelas tiga SMU Negeri 3 Yogyakarta di jalan Kota Baru. Ibu ini berusia paruh baya, kulit hitam coklat, senada dengan setelan jas dan pantolan hitam keabu-abuan yang dia kenakan saat saya menemuinya awal Mei silam.
Kami duduk di atas kursi kayu berlapis busa di ruangan hall depan. Di hadapan bagian informasi di sayap timur. Di bawah kipas yang tergantung di langit-langit ruangan yang tinggi.

Pintu masuk sekolah ini menghadap ke arah jalan di sisi selatan. Melewati lorong beberapa langkah. Bertemu ruangan luas yang langsung terhubung halaman lapang di tengah-tengah gedung. Pohon-pohon besar yang rimbun terpacak di situ. Deretan bangku dari beton. Para siswa yang sedang duduk mengobrol dan terdengar berisik, menerobos tanpa penghalang, ke telinga kami.

Hal itu bikin suara Sujiyati timbul-tenggelam. Sesekali saya perlu minta padanya untuk mengulangi apa yang dia katakan.

Sujiyati tampak serius ketika disinggung nasib kepengarangan Pram. Dalam kurikulum sastra yang dikenalkan pada siswa sekolah menengah, nama Pram, katanya, sampai sekarang tak sekalipun tercatat, baik untuk referensi maupun soal ujian. Lebih karena minat khusus Sujiyati dan atas inisiatif sendiri nama Pram terlontar di ruang kelas. Tak jarang Sujiyati menyuruh siswanya membaca karya Pram.

Pernah satu kejadian dia bikin soal ujian yang menyangkut karya Pram. Kawan mengajarnya terheran-heran. Sujiyati tanya alasannya. Si kawan menjawab dengan menghubungkan Pram dan “komunis”.

Sujiyati memang tampak masygul ketika saya meminta berkisah bagaimana dia menyarankan anak didiknya membaca karya Pram. dia memang melakukannya. Tapi muridnya bertanya-tanya lantaran tak paham dan mungkin banyak tak mengenal. Dan di antara mereka ada juga yang sudah membuat cerita dengan gaya dan bahasa pergaulan setingkat usia mereka, yang bikin Sujiyati bangga sekaligus miris, lebih karena gempuran novel-novel chiklit dan teenlit yang belakangan marak di tanah penerbitan Jawa.

Sujiyati menjawab dengan amat singkat. Dalam karya yang pernah dia baca, terutama karya Buru, Pram memperlihatkan, seperti ungkapan Sujiyati, ”Kemampuan mengubah musibah jadi berkah.”

PERPUSTAKAAN pusat pemerintah daerah Yogya terletak di sisi Jalan Malioboro di jantung kota Yogya. Terhimpit toko-toko yang berderet sepanjang tepi jalan. Kios-kios kecil kaki lima menutupi tampangnya yang kusut. Pada bibir jalan raya, tertancap papan nama bertulis keterangan nama perpustakaan dengan tinta hitam tebal di atas balok kayu bercat putih.

Penampilan perpustakaan ini muram. Dari kejauhan terlihat gelap dan gugup dengan toko di samping kiri-kanan yang berkilau-kilau. Kala tiba di mulut pintu, bau apek dari udara ruangan pengap langsung menyergap hidung yang membikin sesak dada.
Pengunjung langsung bersitatap dengan meja panjang petugas administrasi yang terletak di muka pintu. Meja ini juga sebagai pembatas yang memungkinkan orang tak gampang mencuri koleksi. Ada lemari loker yang merapat di sisi dinding depan, menyisakan jalan keluar-masuk bagi pengunjung, di sebelah kiri pintu masuk. Laci katalog merapat di sudut tembok kanan, dekat dengan tangga yang menghubungkan lantai dua yang berisi buku-buku pelajaran, kamus, dan buku-buku tentang Yogya.

Di sepanjang tepi tembok berjejer rak-rak berisi kliping koran. Umumnya bertarikh tengahan 60-an. Di tengah-tengah ruangan diisi rak buku sastra dan bundelan majalah. Koleksi sastra Indonesia menempati rak paling dekat membelakangi meja petugas. Butiran-butiran tablet karbol putih bertamburan di atas rak-rak.

Saya perlu mencari karya Pram di situ. Dalam katalog pengarang, yang masih pakai cara manual, saya langsung tertuju pada nama berinisial TOE. Tapi di sana tak jumpai kartu bertuliskan Pramoedya Ananta Toer. Mungkin saja terselip. Mungkin saja hilang. Atau mungkin saja tak pernah ada. Tetapi saya diyakinkan seorang ibu petugas bahwa ada buku Pram. Ia pernah melihatnya. Ia menunjuk pada rak yang biasa menjadi tempat buku-buku Pram.

”Coba lihat di situ, Mas,” katanya sambil menuding ke arah rak tersebut.
Apa yang saya bayangkan secara muluk rupanya bertolak-belakang. Bahkan, jauh dari batas ukuran sederhana. Sugito Prabowo, seorang petugas di situ, mengatakan pada saya koleksi buku Pram hanya ada dua, Anak Semua Bangsa dan Arus Balik.

Saya datang ketika kedua buku itu sedang dipinjam. Sugito bilang pada saya kenapa tidak mencari di Perpustakaan Nasional di Jakarta. Dia pernah bekerja di situ, sebelum jadi petugas perpustakaan daerah Yogya.

Lelaki berusia 40-an ini orangnya hangat. Tetapi kehangatannya ini, dengan mengajak saya ngobrol, bikin saya bependapat bahwa dia tak mengenal Pramoedya.

”Pramoedya… Pramoedya… ehm… Atanta….”

”Pramoedya Ananta Toer,” kata saya.

”Yang lahir di Jepara?” katanya, tak yakin. ”Bukan,” jawab saya, ”Blora….”

Sugito duduk di belakang meja di dekat loker. Ia memakai safari biru, kancing atas terbuka, berkeringat. Tubuhnya menahan udara yang panas dalam gedung.

Siang itu perpustakaan bakal ditutup, tepat pada pukul 12 di hari Sabtu.

Di perpustakaan ini saya juga melihat-lihat katalog dua pengarang asing yang dikagumi Pramoedya, Maxim Gorki dan John Steinbeck. Karya kedua pengarang ini diterjemahkan Pram. Pada 1950 Pram menerjemahkan Tikus dan Manusia Steinbeck dari bahasa Inggris, lalu Ibunda Gorki pada 1955 dari gabungan Inggris dan Belanda. Pram juga menerjemahkan satu karya Leo Tostoy, Kembali pada Tjinta Kasihmu, dari Belanda Huwelijksgeluk pada 1950. Ketiga terjemahan ini belakangan dicetak ulang.

Saya melihat kartu pengarang Gorki dan Steinbeck di laci katalog. Karya mereka yang diterjemahkan Pram pun tersimpan. Tapi tentu saja bukan saduran kerja Pram. Semuanya masih bahasa asing.

Ini bikin saya lucu, geli, dan agak gemas. Koleksi karya Gorki di perpustakaan Yogya itu ada sebelas. Pram cuma dua. Mereka ini dihubungkan oleh satu keyakinan bahwa karya sastra mesti bertumpu pada aliran realisme sosialis.

”Saya suka realisme sosialis, karena itu suatu realisme yang berhubungan dengan masalah tanggungjawab sosial,” kata Pram di buku wawancara Saya Terbakar Amarah Sendirian.

Kondisi perpustakaan milik pemerintah daerah Yogya itu amat kontras dengan perpustakaan Kolosani Ignatius yang saya sambangi kemudian. Tidak sebatas segi fisik bangunan, kebersihan, kenyamanan, maupun pelayanan. Tetapi juga menyangkut koleksi buku-buku Pram.

Kolosani terletak sekitar satu kilometer ke arah timur dari perpustakaan pemerintah Yogya. Para pengunjung yang datang mencatatkan nama terlebih dulu di buku tamu di atas meja petugas jaga di samping mulut pintu. Ada sofa merapat ke tembok berjendela di samping kanan pintu. Ruang perpustakaannya menjorok lebih ke samping, satu unit gedung tersendiri, dihubungkan atap dan dibatasi jalan masuk buat kendaraan dari ruangan tamu di pintu masuk.

Perpustakaan ini sudah pakai komputer buat daftar katalog buku. Jumlahnya delapan plus tujuh mesin printer. Mereka berada di atas meja-meja yang disusun berjejer setinggi dada, membelakangi ruang baca, bertentang meja petugas berbentuk siku panjang yang membatasi para pengunjung sekaligus sebagai loker.

Ada dua kursi berlapis busa di samping pintu, merapat ke tembok, mengapit meja bertaplak kain putih berajut bunga berjaring-jaring, dan pot berisi daun-daun imitasi di atasnya. Di sampingnya ada lemari duduk berlapis kaca, berisi empat majalah dengan halaman yang terbuka, memperlihatkan foto-foto yang bercerita ihwal teologi.

Ruang baca ada di sebelah sayap kanan. Sebelum masuk ke ruang baca tersebut ada sebuah meja yang tampaknya sengaja dipasang petugas sebagai penghalang. Di atasnya, selain ditaruh pot bunga sebagai pemanis, ada kertas yang menempel berisi kalimat pengumuman bahwa buku yang habis dibaca selayaknya mendapat kepercayaan para pengunjung.

Sekali ini setelah lama tak mengujungi lagi perpustakaan tersebut, yang sempat jadi rutinitas kehidupan saya di Yogya, hanya perubahan kecil itu yang bikin saya tersenyum sekaligus sedikit terkejut. Perubahan lainnya ada pada letak lembaran kertas pemesanan kopian buku yang ditempatkan di dalam ruang baca. Sebelum ini ia biasa berada di meja petugas, di dalam keranjang kecil hijau dari plastik, bersisian dengan kertas peminjaman buku.

Saya mendekati satu monitor di ujung kanan. Memencet entri pengarang dan menuliskan inisial “Toer”. Di layar monitor deretan karya-karya Pram terhampar.
Semuanya berjumlah 41. Ada karya yang terbit sebelum dan sesudah 1998. Ada karya yang diterjemahkan ke bahasa asing. Beberapa di antaranya dari judul yang sama, cuma beda penerbit, terutama untuk karya Tetralogi Buru macam Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ia juga menyimpan beberapa buku kajian tentang karya Pram.

Ada Kelurga Gerilja terbitan 1955. Perburuan (1955). Tjerita Tjalon Arang (1957). Tempo Doeloe (1982). Arus Balik (1995). Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995 & 1997). Terbitan pasca 1998 lebih banyak lagi seperti Arok Dedes, Bukan Pasar Malam, Cerita dari Blora, Drama Mangir, Sang Pemula. Penerbitnya macam-macam. Dari Pembangunan, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Bara Budaya, Hasta Mitra, hingga Lentera Dipantara.
Dipastikan, perpustakaan Kolosani merupakan perpustakaan umum di Yogya yang menyimpan karya-karya Pram terlengkap!

Hal yang menarik sebenarnya lebih banyak datang dari saudara jauh Kolosani: Universitas Sanata Dharma. Kita tahu dua tempat ini di bawah satu naungan Yayasan Sarikat Jesuit. Saya perlu mendatangi USD di gedung perpustakaannya di jalan raya Gejayan.

Tempatnya tenang. Saya mengelilingi ruangan dari lantai bawah hingga lantai dua. Saya tak tahu kalau di luar hujan sangat deras. Begitu keluar dari pintu kaca yang tertutup rapat, suara hujan menyergap dan saya benar-benar terkejut.

Di perpustakaan itu buku-buku Pram berjumlah 38. Banyak terbitan sebelum 1998. Kita bisa membuka-buka lembaran buku dengan ejaan lama macam Panggil Aku Kartini Sadja (1962), Mereka Jang Dilumpuhkan (1956 & 1961), Keluarga Gerilja (1955), hingga Hoa Kiau di Indonesia (1960) yang bikin Pram berkenalan dengan penjara setahun di era Soekarno.

Saya melihat-lihat daftar karya Pram lewat komputer. Sayangnya, saat saya datang ke situ, buku-buku yang ada tengah dipinjam. Marsudi, wakil kepala perpustakaan, bilang pada saya banyak peneliti yang datang ke sini.

Dia bercerita buku-buku Pram sempat disimpan di almari dan terkunci sewaktu pemerintah melarangnya. Ketika 90-an ada pergantian kepala perpustakaan, dia bersama yang lain menyarankan pada kepala baru untuk membuka buku-buku Pram. Mereka sepakat.
”Waktu itu hanya boleh dibaca di tempat,” katanya tersenyum.

JIKA Jorge Luis Borges, sastrawan Iberia dari Argentina, menulis bahwa sebuah literatur berbeda dari literatur lain—sebelum maupun sesudahnya—bukan karena teksnya, melainkan karena cara ia dibaca, tak salah kalau senarai kalimat itu saya tujukan buat buku-buku Pram. Saya menempatkan ini atas kajian skripsi sarjana-sarjana sastra yang saya tengok di dua kampus di Yogya: UGM dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Saya datang ke perpustakan kedua kampus tersebut seraya melihat-lihat juga koleksi buku-buku Pram yang mereka simpan. Di UGM saya mendatangi gedung perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya. Saya menuju laci katalog yang terletak di sudut tembok di mulut tangga.

Gedung ini berada di sebelah barat dari pintu masuk. Kita harus melewati loket petugas perpustakaan yang menghadap ke lapangan terbuka. Suasananya ramai. Penuh lalu-lalang para mahasiswa yang tengah beraktivitas.

Sekitar tujuh skripsi yang tersimpan di laci yang membahas karya Pram. Subjek karya dan analisisnya macam-macam. Gadis pantai untuk analisis Stantonian. Sosiologi sastra buat Bukan Pasar Malam dan Larasati. Anak Semua Bangsa dari segi tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Dua pembedahan strukturalisme genetik dan kritik sastra feminis untuk Bumi Manusia. Terakhir, Drama Mangir dilihat dari intertekstual plot dan tokoh.

Kebanyakan anak-anak lulusan 2004. Saya kira daftar itu bisa bertambah dari tahun lulusan sebelum 2000 dan kemungkinan terbuka untuk waktu-waktu setelah ini.
Perpustakaan fakultas ini juga menyimpan 19 buku karya Pram. Di antaranya empat koleksi sebelum 90-an. Anak Semua Bangsa (1981), Rumah Kaca (1988), Tjerita dari Blora (1952), Tjerita dari Djakarta (1957).

Jumlah skripsi yang sama saya dapatkan di perpustakaan sastra UNY. Empat untuk Bumi Manusia dan masing-masing satu Gadis Pantai, Jejak Langkah, dan Arus Balik. Koleksi buku Pram sebanyak 27 judul. Kebanyakan baru. Ada satu Cerita dari Blora terbitan 1994.

Saya banyak menemukan saran pada lembaran penutup skripsi para mahasiswa itu bahwa karya Pram dapat menjadi bahan pengajaran sastra di sekolah. Mereka juga mengusulkan agar buku Pram bisa menjadi koleksi di perpustakaan sekolah menengah.
Saat membaca itu saya teringat Max Lane, penerjemah karya Pram ke bahasa Inggris dan salah satu kolega Pram yang paling serius mendalami pokok-pokok pemikiran Pram. Ia juga menjadi penyambung buku-buku Pram ke publik dunia.

Dalam suatu acara ulang tahun penghabisan Pramoedya Ananta Toer di Taman Ismail Marzuki, 6 Februari silam, dia datang dengan sosok tinggi-besar, kulit merah terbakar, pakai kemeja putih. Dia yang menenangkan perdebatan anak-anak muda yang hadir di acara tersebut yang belum terima Bumi Manusia bakal dibikin film dan Pram memperoleh royalti yang besar. Max Lane bilang kesempatan ini harusnya dijadikan suara bersama mendorong pemerintah agar buku-buku Pram jadi bacaan wajib sekolah dasar hingga universitas dan diajarkan di kelas-kelas.

Tepuk tangan bergemuruh. Saya kira semua orang di dalam ruangan itu setuju.


KARTONO pengajar kelas bahasa Indonesia di SMA Kolese De Britto. Dia kolumnis isu-isu pendidikan di harian Kompas. Orangnya bersahabat. Energik. Mudah tersenyum.
Saya menemuinya di suatu siang yang terik di tempatnya mengajar. Dia memakai kemeja biru bergaris, mendatangi saya di ruangan administrasi, dan kami duduk di meja tamu di tepi lorong terbuka menghadap halaman tengah sekolah. Semilir angin berhembus sejuk.

Kartono termasuk penggemar Pram. Ia berkenalan dengan karya Pram semasih mahasiswa sastra Indonesia di USD pada 80-an. Alex Sudewo, dosen yang ia kagumi, berjasa besar membawanya ke pintu masuk buku-buku Pram.

Dia bercerita saat kelas kritik sastra dia diminta Sudewo untuk bahas tiga novel Pram berdasar garis lokus tempat: Gadis Pantai, Larasati, dan Midah Si Manis Bergigi Emas. Ini mengantarkan Kartono kemudian pada fase akhir studi sarjananya. Dalam kajian skripsi pada 1989 dia mengambil studi perbandingan latar sosial karya Korupsi Pram dan Ladang Perminus Ramadhan KH.

Saat itu dia kesulitan mengakses satu buku Pram tersebut di perpustakaan. Dia mendatangi Alex Sudewo yang sekaligus jadi pembimbing skripsinya. Profesor itu bilang pada Kartono untuk mengambilnya. ”Ini kajian akademis. Saya yang menjaminnya,” kenang Kartono. Alex Sudewo sekarang mukim di Jakarta. Kondisinya sakit-sakitan lantaran sudah tua.

Dari pembacaan kedua karya pengarang Indonesia itu, Kartono punya penilaian secara khusus terhadap karya Pram. ”Realisme sosialnya khas. Pram menangkap peristiwa-peristiwa sosial yang tak ditangkap pengarang lain.”

Kini, giliran Kartono memperkenalkan Pram pada murid-muridnya.

Pada akhir 1999, Kartono mendapat undangan mengajar di Australia bagian selatan. Dia terperanjat saat melihat murid-murid di sana memegang dan membaca buku The Girl from the Coast (Gadis Pantai). Menjadi kajian di kelas-kelas. Guru-guru di sana memandang aneh pada Kartono yang bercerita penuh keheranan. ”Memangnya kenapa?” tanya mereka. Kartono berkata karya Pram tak diajarkan di sekolah kami. Mereka lebih tergeragap.
Saya bilang kepada Kartono bahwa Pram jarang mendapat penghargaan dari dalam negeri. Seraya main-main bagaimana kalau De Britto memberi penghargaan pada Pram. Kartono terbahak.

”Bagaimana menurut Anda jika Pram diajarkan di sekolah?” Kali ini saya serius.
Kartono diam sejenak. ”Harus ada pemahaman dari guru-guru. Mereka diberi pemahaman akan konteks seorang Pram,” katanya. Secara pribadi dia setuju.

”Bagaimanapun sikap politik seseorang, dia tetap pengarang terbesar. Pram telah banyak menyumbangkan Indonesia ke dunia internasional. Dia dibesarkan oleh penindasan. Dia anak jaman,” kata Kartono.

”Buku itu ya Pram sendiri. Pram itu sebagai buku itu sendiri.”

Kartono sudah jadi bagian dari apa yang disebut Pram “anak-anak rohaninya”. Banyak orang yang sudah ikut barisan para Pramis ini. Saya kira karya-karya Pram tetap mengelana dari generasi ke generasi. Tetapi saya tak tahu sampai kapan negara masih menutup mata terhadap Pram. bahkan setelah ia pergi selama-lamanya.

”Di Indonesia orang masih saja membicarakan tentang pribadi saya, bukan karya saya. Sebagai penulis, saya tidak selalui diakui. Banyak sekali buku tentang karya sastra Indonesia yang bahkan tidak mencantumkan nama saya….”

* Fahri Salam, wartawan dan penulis



[+baca-]