Sabtu, 21 Juli 2007

Ngintip Omi dari Lubang Kecil Puisinya

Oleh Binhad Nurrohmat

berapa umur bumi ketika Kutulis
cintaKu padamu?
Omi Intan Naomi (1970-2006)

Tak terkecuali penyair Omi Intan Naomi, cinta dan kesedihan menjadi urusan semua orang dan jelmaan “bentuk rasa” fundamental dan universal bagi umat manusia. Rasa cinta dan kesedihan merupakan naluri amat tua dan primitif dalam diri manusia. Dengan cinta dan kesedihan, setidaknya, manusia yang sebusuk dan seburuk apa pun bisa membedakan eksistensi kemakhlukannya yang “lebih tinggi” ketimbang seonggok robot manusia yang termolek dan tercanggih sekalipun, sebab robot tak bisa jatuh cinta kepada gadis tetangga atau merasa nelangsa.

Kepenyairan di belahan dunia mana dan kapan pun, tak terkecuali Omi Intan Naomi, tak kuasa mengelak dari “bentuk rasa” fundamental dan universal maupun naluri amat tua dan primitif dalam diri manusia itu. Bahkan rasa cinta dan kesedihan menjadi urusan abadi kepenyairan yang tak habis-habisnya dilibati, direnungkan, dan ditafsirkan dalam pengertian personal, sosial, spiritual, maupun teologis.

Rasa cinta dan kesedihan menjadi kata-kata kunci kodrati yang tak terceraikan dari kesadaran dan kepekaan kepenyairan dan kemanusiaan, tak terhegemoni aliran politik atau agama dan tak terbatasi warna kulit atau jenis kelamin. Dan, dalam agama dan kepercayaan, Tuhan diyakini sebagai lambang dan hakikat Cinta tertinggi.

Tak terkecuali Omi Intan Naomi, kepenyairan di negeri ini dari masa ke masa, dari generasi penyair sebelum dan setelah Kemerdekaan, tak pernah absen dari urusan cinta dan kesedihan. Cinta yang nasionalistik (Muhamad Yamin), cinta yang ketuhanan (Amir Hamzah), maupun cinta yang kemanusiaan (Chairil Anwar) menjadi urusan yang mengilhami lahirnya puisi-puisi cemerlang dalam khazanah perpuisian modern Indonesia.

Bahkan puisi dan cinta dicap dengan semacam “mitos” tersendiri yang sulit dihapuskan: puisi dianggap sebagai ekspresi paling menyentuh untuk menyatakan perasaan cinta. Cinta adalah puitis, begitulah kira-kira.

Sedangkan urusan kesedihan (spiritual, sosial, maupun personal) merupakan warna utama khazanah perpuisian modern Indonesia sejak masa Balai Pustaka, Pujangga Baru, hingga hari ini. Saya kira kepenyairan modern Indonesia merupakan gambaran dunia yang jauh dari rasa bahagia, cenderung murung dan muram. Bahkan ketika sedang bicara urusan cinta sekalipun.

Puisi Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” agaknya menjadi “suara pendahulu” yang terus terngiang dalam telinga kepenyairan modern Indonesia hingga kini tentang cinta kepada seseorang yang lekat dengan keseduan mendalam dan mencekam. Misalnya puisi Nirwan Dewanto ini: Cinta adalah teror yang mengambang malam hari/Menggembungkan baju dan selimutmu waktu kau tidur./Telah kaudengar pasangan-pasangan bersumpah/Demi laut dan planet/Sampai bibir-bibir mereka terbakar./

Tapi cinta dalam puisi Omi Intan Naomi tak diperuntukkan kepada yang bukan semata kepada seseorang:

SAJAK CINTA SOLO II

aku mencintaimu tanpa pernah berpaling
dan membandingkan kamu dengan yang lain.
sebab udara yang kuhirupi itu ada di sini
air yang mengalir itu di sini
dan nyawaku tertanam di sini
entah kapan - tapi pasti.

aku mencintaimu tanpa pernah berhenti
mencintai setiap sudut jalan
dan segala jenis kere kota ini.
mencintai segala jenis makhluk yang ada –
dari pelacur sampai walikota
dari pengusaha sampai sopir biskota
aku mencintai karena aku mengerti

1987

Puisi itu menampakan cinta yang melampaui urusan personal, meluas, dan merengkuh tak sebatas untuk seseorang, bahkan “mencintai segala makhluk yang ada”. Cinta itu ditujukan untuk “setiap sudut jalan dan segala kere kota ini” juga “pelacur sampai walikota” dan “pengusaha sampai sopir biskota”. Kota dan seisinya menjadi sesosok makhluk hidup yang “udara yang kuhirupi itu ada di sini/air yang mengalir itu di sini/dan nyawaku tertanam di sini/entah kapan - tapi pasti.

Cinta dalam puisi Omi Intan Naomi itu semacam wujud rasa terima kasih lantaran adanya kesadaran dan kepekaan cinta yang tak sempit dan menjadi sebentuk rasa cinta yang total: aku mencintaimu tanpa pernah berpaling/dan membandingkan kamu dengan yang lain. Cinta yang total itu serupa puisi Muhammad Yamin “Indonesia Tumpah Darahku” yang mengagungkan bangsa melalui alam dan manusianya itu: Semenjak diri lahir ke ke bumi/Sampai bercerai badan dan nyawa,/Karena kita sedarah-sebangsa/Bertanah air Indonesia.
Rasa cinta yang total itu rawan mengundang kesedihan, sebab ikatan rasa yang tertanam begitu kuat dan dalam membuat—meminjam puisi Sutardji Calzoum Bacri—yang tertusuk padamu berdarah padaku. Omi Intan Naomi pun menuliskan pengakuan kesedihannya untuk kota yang dicintainya: tak pernah berubah cintaku padamu/walau kamu tak pernah lebih cantik dari lagu-lagu./aku di sini menyumpahi keruh sungai-sungaimu/mengumpat timbunan lalat di sampahmu/memaki sesak asap udaramu./tapi bila aku jauh,/astaga: di manapun/ ternyata aku kehilangan kamu. (“Sajak Cinta Solo I, 1987)

Kesedihan karena adanya rasa cinta yang total bisa terasa sangat tragis dan meluapkan amarah yang “menyumpahi keruh sungai-sungaimu mengumpat timbunan lalat di sampahmu memaki sesak asap udaramu.” Bahkan kesedihan semacam itu sanggup berubah menjelma kesinisan yang mencengangkan dalam puisi Omi Intan Naomi:

DI TUGU

sedang dijual: sebuah kota
saat mataku sedang dirampok
dari cakrawala yang biasa
makin benarlah yang dibenarkan!

umbul-umbul sebuah obrolan::
dunia lagi cuci gudang. aku tak akrab!
pak dirman kepanasan dalam jas hujan
aku sedang kapan? waktu mogok di musium.

habisi! habisi!
belilah kota kami.

yogya, 1991: senisono

Urusan cinta dan kesedihan yang “diintip” dari sebagian kecil puisi Omi Intan Naomi itu menampakkan kecenderungan yang ekstrim karena ironi-ironi yang tak terenyahkan dan mengeram di dalamnya serta memantik kesadaran dan kepekaan kepenyairannya lantaran “aku mencintaimu karena aku mengerti”.

* Binhad Nurrohmat, penyair


1 komentar:

doddi Ahmad Fauji mengatakan...

Pernah diajukan pertanyaan kepada saya, tapi saya benar-benar lupa siapa nama penanyanya, ia mahasiswa Rusia yang belajar peradaban bangsa-bangsa Timur, termasuk Nusantara di dalamnya, mengapa puisi Indonesia cenderung menggunakan diksi kemurungan, sekalipun menuliskan tentang keriaan, atau cinta yang bahagia?
Jawab saya, karena penyair sekalipun tidak pernah didoktrin, salah satu tugasnya adalah mewakili peradaban. Bangsa kami masih terkurung, dan jiwa-jiwa kami belum benar merdeka, amsih terkungkung, penyair mengucapkan kepedihan itu lewat puisinya, jadilah puisi yang menyayat kalnu, menggelitik hati, kata saya, waktu itu tahun 2004. Pernyataan saya sejalan dengan pikiran dalam tulisan Binhad