Sabtu, 21 Juli 2007

Omi Rebah di Keharibaan Sunyi

Oleh Muhidin M Dahlan


Song of Silence. Judul artikel yang ditulisnya sekira 2004 itu menjadi kunci dari keseluruhan putaran hidup Omi Intan Naomi. Ia tutup buku tutup katalog di Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta pada 5 November 2006 pukul 19.40.

Nama yang lahir pada 26 Oktober 1970 di Denpasar ini memang pernah menghentak publik dan deretan penulis kebudayaan Indonesia. Tulisan-tulisannya tajam. Ia munculkan kosakata kebudayaan yang diasupnya dari bacaan luas. Tatkala menerjemahkan, penulis buku asli seakan lenyap; karena kita membaca buku terjemahan itu seperti membaca buku dan karakter tulis/pikir keseluruhan Omi sendiri. Dan Omi, suka sekali mengurung dan membubuh tanda petik pada banyak kata bersayap. Ciri itu menandai bahwa Omi adalah salah satu anak kandung (wacana) kebudayaan pascamodernisme.

Omi adalah penulis budaya yang tangguh dan bertalenta. Mungkin titisan ayahnya yang juga seorang budayawan dan penyair terkemuka, Darmanto Jatman. Tapi sekiranya ini kita tanyakan kepadanya, Omi pasti berontak. Karena menulis bukan soal genitas melainkan usaha berdarah-darah, walau tak bisa dimungkiri faktor lingkungan turut membesarkannya.

Ia pilih jurusan komunikasi di Universitas Gadjah Mada. Ia memang kemudian tak menjadi wartawan profesional atau pegawai telekomunikasi yang memungkinkan bisa hidup gentayangan di negeri-negeri orang. Ia menjadi penulis kebudayaan dalam arti yang luas. Dirambahnya apa saja yang memungkinkan ia bebas mengepakkan sayapnya.

Ia mamah ilmu komunikasi politik, disusurnya ilmu sejarah, ditakziminya budaya Jepang, budaya samurai, animasi, dan komik manga, dan ditekuninya studi semiotika budaya. Lalu dengan kefasihannya berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, ia menjadi penerjemah.

Ini pun bukan profesi Omi sesungguhnya. Sebab yang ia cari adalah bagaimana melingkupi dunia dan sekaligus mengabarkan kepada dunia apa yang terjadi dalam kebudayaannya.

Tapi Omi tak memilih jalan ramai. Jalan selebritas. Jalan berkoar-koar menepuk dada siapa aku, siapa saya. Sebab sedari kecil hingga remaja sampai mahasiswa tingkat pertama ia sudah lewati jalan keramaian, jalan kegairahan meluap-luap di dunia gemerlap, di cafe-cafe Jogja yang jumlahnya masih itungan sebelah jari tangan.

Omi sejatinya punya potensi menjadi penulis seleb. Wajah cantik. Daya intelek dan keterampilan menulis di atas rata-rata. Menulis fiksi, baik puisi dan prosa, juga tangguh, walau tak intensif. Esai oke. Ditambah lagi kemampuan berbahasa Inggris nyaris sempurna, baik lisan maupun tulisan, yang merupakan hasil rintisan dirinya sendiri dan sumbangsih dari ibu terkasihnya di Manahan Solo.

Jika Omi mau, tentu ia bisa menikmati seluruh glamour dan fantasi-fantasi yang digerakkan industri media. Dan glamour itu akan berbinar-binar jika ditambah dia sadar dan sudi tinggal di ibukota.

Namun Omi tidak memilih jalan itu. Ia tetap tinggal di sebuah pojok dusun di gang lengang Sidorejo Jogjakarta; yang mungkin tak terjamah peta. Di kamarnya yang tak terlalu besar ia berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun menempa suluk dan jalani hayat tirakat. Hanya sesekali ia keluar untuk beli sayur atau jalan-jalan sejenak melepas penat ke mall. Tapi setelah itu si wiku muda ini kembali tenggelam dalam arus sepi kamar.

Hanya tulisannya yang hadir, tapi raganya menghilang. Ia bukan pembicara seminar, walau ia mula-mula sering. Ia bukanlah aktivis yang selalu memaksakan diri memantap diri di ruang publik. Ia berkelana di bilik pedalamannya sendiri. Hanya orang dekatnya yang jumlahnya sangat terbatas yang tahu apa yang sedang dilakukannya.

Jika buku-buku terjemahannya tiada hadir, pasti ia sudah dilupa. Jika esai-esai dan puisi-puisinya tiada hadir, pasti orang sudah tak mau tahu tentang dia. Namanya terkutip di buku Sastrawan Angkatan 2000 yang disusun Korrie Layun Rampan. Tapi cuma itu. Omi tak jua muncul di permukaan dan menjadi pemberi komentar lisan dan bercuap-cuap atas perkembangan dunia susastra dan budaya di pementasan-pemenatasan atau koran-koran nasional. Mereka yang akrab dengan katalog-katalog pameran seni sesekali akan menemukan sepenggal nama Omi di sana sebagai penerjemah.

Nyaris semua hidup Omi sedasawarsa terakhir tinggal sendiri memeluk sunyi satu-satu. Entah pengalaman apa yang menyentuh dan membantingnya hingga ia memilih jalan sunyi nyenyat ini sebagai pilihan kreatif.

Di usianya yang perlahan merambat melewati 30, ia tak memilih berkeluarga yang langgeng. Pada 1999 ia sempat memutuskan nikah dengan seorang berkebangsaan Jerman. Namun betah hanya 2 tahun. Lalu ia kembali menikmati dunia sunyinya dalam kamar.

Hingga sunyi itu pun datang pada dini hari yang menyumpal napasnya hingga koma hingga titik habis di umur 36 tahun. “Ibu, aku duluan meninggal,” katanya pada ibunya, Noel Susenowati, setengah bercanda seperti dituturkan kembali Bunga Jeruk, adiknya, kepada Ibuku.

Orang pun kaget. Tak ada yang menyangka bahwa Omi akan pergi secepat itu. Orang kaget bukan hanya kepergiannya, tapi begitu lama mereka tak mendengar kabar Omi, namun kabar yang datang tiba-tiba itu—dan satunya-satunya—adalah kabar bahwa ia sudah berangkat sendiri untuk selamanya.

Kalau bukan karena kematian itu, orang tak akan tahu bahwa dalam sunyinya Omi mencari jalan keluar dan berkelana sendiri menerobos belantara dunia.

Kalau bukan karena kematian itu, saya, yang sejak mahasiswa selalu berusaha mencari dan menemuinya, tapi tak pernah bertemu akibat kekaguman atas pengantar-pengantar buku terjemahannya, tak akan tahu bahwa sejak 1996 Omi sudah bertugu di dunia maya, di dunia alus.

Jangan bayangkan saat itu gairah berinternet dan ber-blog ria atau ber-friendster ria muncrat ke mana-mana seperti sekarang ini. Di tahun itu internet sungguh mewah, serupa privelese orang punya ponsel. Hanya segelintir aktivis yang mengakrabi dunia internet. Semuanya pingin beradu otak dalam diskusi, semuanya ingin berlaga di jalan demonstrasi. Dan Omi berada di kamarnya mengisi setiap saat situs-situs peliharaannya, seperti "nobukaze" "rainforestwind". Untuk kebudayaan Jawa ada "omimachi".

Di dunia alus itu Omi punya nama: Nina Wilhelmina atau dipanggil NIN. Di dunia alus itu ia mencari dan membincangkan banyak hal dengan teman-temannya di seluruh dunia dengan bermodal pada saling percaya saja.

O, dengan kematian itu pula, saya kemudian tahu bahwa Omi berdoa tiap malam hingga pagi di situs-situs itu. Setiap hari. Di sini rupanya Omi mengabarkan budaya Jawa dan huruf-hurufnya dan tari-tarinya dan dandanannya, mengabarkan Indonesia beserta makanan-makanan tradisionalnya yang dilapis daun pisang. Juga tentu saja sastra-sastra dan politik budayanya.

Segala remeh-temeh tentang Indonesia dia tulis. Mungkin ini usaha diam-diam yang dilakukan Omi bagaimana “menjual” penemuan-penemuan budaya Indonesia itu ke dunia.

Omi memang bukan duta wisata maupun budaya yang ditunjuk Departemen Pariwisata DIY. Dia melakukan itu dengan kesadaran individu yang liat. Bahwa bukan cuma tugas negara yang berusaha memperkenalkan Indonesia, tapi seluruh warga. Dan ia melakukannya sendiri dalam sunyi yang tak diganggu hiruk-pikuk aktivis sastra dan budaya yang tiap hari menyebarkan gosip dan berantem satu sama lainnya di koran maupun di forum-forum pertemuan.

Omi adalah perempuan yang menghikmati benar apa arti hening apa arti sirep. Lebih-lebih lagi bagaimana memperlakukan hening itu untuk terus berkarya walau ia sepenuh sadar bahwa usianya hanya sebentar. Radang selaput otak atau miningitis mengirim Omi berangkat selama-lamanya.

6 komentar:

Kurniadi Bulhani mengatakan...

ada yang menarik malam ini,jalan hidup yang omi lewati adalah suratan yang menyisakan banyak keinginan untuk hidup selamanya,omi menerima kepergiannya karena dia bukan untuk dimiliki dunia,tetapi pergi untuk menjamu indahnya alam lain yang telah disuratkan ilahi...

Wafi mengatakan...

nice post sob...
jujur, gw suka nieh ...

Ade Agung Rachmadi mengatakan...

apakah aku boleh menangis dan tersenyum untuk Omi...

Pramoe mengatakan...

sungguh sangat luar biasa prestasi yang di lahirkan oleh Omi. bersembunyi dari hiruk pikuk kehidupan demi untuk mengenalkan kreatifitasnya. Walaupun tanpa tidak terdengar oleh publik tapi sejarh yang akan memberikan apresiasi kepadanya..

Pramoe mengatakan...

sungguh sangat luar biasa prestasi yang di lahirkan oleh Omi. bersembunyi dari hiruk pikuk kehidupan demi untuk mengenalkan kreatifitasnya. Walaupun tanpa tidak terdengar oleh publik tapi sejarh yang akan memberikan apresiasi kepadanya...

Teater Rumah Mata mengatakan...

kisahnya sangat mengispirasi aku